PESANTREN DAN PENGARUHNYA DI MASYARAKAT

0
148
Pemandangan Pondok Pesantren Kempek dilihat dari atas. (Foto: Khas Media)

Latar belakang berdirinya pesantren di berbagai daerah hampir memiliki kesamaan. Yakni, keberadaan pesantren menjawab realitas yang terjadi di masyarakat: degadrasi moral.

Keberadaan Pesantren Tebuireng yang dirintis Mbah Hasyim Asy’ari, juga merupakan reaksi atas krisis moral masyarakat di sekitar pesantren. Pada waktu, Masyarakat Tebuireng sedang mengalami fase “jahiliyah”. Keberadaan pabrik gula dengan sistem ekonomi liberalnya menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi kehidupan masyarakat saat itu.

Namun, kehadiran pesantren mampu membawa nilai-nilai religiutas di tengah-tengah degradasi moral yang terjadi. Lambat laun, pola kehidupan masyarakat berubah menjadi lebih baik.

Nilai-nilai agama mendominasi di segala sendi kehidupan masyarakat. Pada titik ini, kehadiran pesantren sebagai reaksi atas buruknya moral masyarakat. Dengan begitu, pesantran menjadi titik awal transformasi masyarakat, yang membutuhkan waktu lama (Abdurrahman Wahid, 2001).

Pun demikian di Kempek. Proses transformasi masyarakat berjalan lama. Pada awal berdirinya Pesantren Kempek, masyarakat belum mengenal ajaran Islam, masih penganut kejawen. Sehingga saat Mbah Harun hendak membangun pesantren sempat mendapatkan perlawanan dari orang-orang yang tidak suka ajaran Islam.

Dalam hal ini, kehadiran pesantren menjadi antitesa dari realitas masyarakat yang terbilang hampa nilai-nilai agama. Problematika yang dihadapi pesantren di berbagai daerah, pada fase awal hampir sama, yakni berkaitan erat dengan akhlak dan budi pekerti.

Namun seiring adanya dialektika antara pesantren dengan masyarakat sekitar, hubungan pesantren dengan masyarakat semakin baik. Dalam proses dialektika tersebut, kiai dan santri menjalin interaksi dengan warga sekitar dengan mendahulukan sopan santun dan akhlak yang baik sebagai bentuk aktualisasi atas ilmunya.

Didalam pesantren, santri ditekankan untuk mengamalkan ilmu yang ia dapatkan dari sang kiai. Sebab, pendidikan di pesantren tidak hanya mengedepankan penguasaan ilmu pengetahuan. Akan tetapi pendidikan pesantren menitikberatkan pada aspek moralitas, menjungjung tinggi nilai-nilai spiritualitas dan kemanusiaan (Zamakhsyari Dhofier, 1994)

Dalam perjalanan proses interaksi, lambat laun pesantren mendapat respon dan simpati masyarakat. Kiai dan santri dapat membaur menjadi satu dengan masyarakat.

Di Kempek, peran strategis itu dilakukan Kiai Hasan, putra bungsu Kiai Harun. Beliau kerapkali blusukan untuk mengajar mengaji masyarakat Kempek secara langsung. Meskipun beliau harus membawa modal sendiri yaitu wedang (baca: teh dan gula). Ahwal beliau ini sangat berdampak bagi warga Kempek hinggga sekarang.

Dan secara tidak langsung, pesantren memberikan sumbangsih dalam mengurai probematika-problematika yang terjadi di masyarakat, baik bidang agama, sosial politik dan ekonomi.

Keberadaan madrasah diniyah menjadi salah satu bukti peran pesantren dalam bidang agama. Dalam hal pendidikan, banyak dari warga Kempek yang ikut mengaji dan sekolah di pesantren.

Sedangkan dari sisi ekonomi, keberadaan pesantren juga sangat membantu. Masyarkat sekitar ada yang membuka usaha dengan berjualan makanan, minuman sampai jasa laundry baju.

Sepuluh tahun yang lalu, sepanjang jalan al-Qodiem menuju al-Jadied masih sepi orang berjualan. Hari ini, penjual dengan beragam jajanan berderetan memenuhi ruas jalan al-Qodiem hingga al-Jadied. (Khas Media/Sh)