Pesan Menristekdikti Untuk Santri Pondok Pesantren KHAS Kempek

0
107
Menristekdikti sedang memberi sambutan dalam acara Peresmian STIKES KHAS Kempek, Tasyakkur Kelulusan Siswa dan Ikhtitam Kutub Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon (Foto: KHASMedia)

Dalam acara Peresmian STIKES KHAS Kempek, Tasyakkur Kelulusan Siswa dan Ikhtitam Kutub Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, dihadapan masyayik dan para santri Menristekdikti RI, Prof. H. Mohamad Nasir, PH.D., AK memberikan pesan untuk memotivasi para santri, Rabu (22/5).

Dalam sambutannya beliau mengatakan, Alhamdulillah pada malam hari ini saya bisa sowan kembali di Pondok Pesantren KHAS Kempek. Alhamdulillah Yai saya sudah tiga kali. Mudah-mudahan kedatangan saya disini sekaligus mendapatkan sebuah sanad dari kitab-kitab yang dikaji. Subhanallah, luarbiasa.

Hal ini mengingatkan saya empat puluh tahun yang lalu waktu di pondok. Tapi sekarang saya sudah banyak yang lupa karena sudah tidak melihat kitab lagi. Mohon kalau ada yang salah ingatkan saya karena setiap harinya saya sudah tidak bergelut membaca kitab.

Tapi saya hanya mengingatkan kepada para santri. Santri itu harus pintar. Tidak boleh bodoh. Kalau urusan ngaji Isya Allah, Pondok Pesantren Kempek, urusan ngaji Al-Qur’an sudah khatam dan pinter-pinter. Mungkin untuk kitabnya insya Allah sudah pinter semua. Insya Allah finish semua.

Inilah pentingnya pendidikan. Urusan agama itu kata Imam Ghazali mengatakan: Al-Ilmu ilmani ilmul adyan wa ilmu abdan. “Ilmu yang berurusan dengan agama dan ilmu yang berurusan dengan dunia atau badan.”

Urusan dengan agama, Insya Allah para santri ini semua sudah selesai. Paling tidak dalam satu bulan ini sampai tanggal 17 bulan Ramadhan sudah mengkhatamkan 30 kitab. Ini luar biasa. Luar biasa para santri. Disambut tepuk tangan oleh para santri.

Kemudian beliau menyebutkan satu bait Alfiyah yang berbunyi: “Wa qoddimil akhosso fittisholi # wa qoddiman maa syi’ta finfisholi.” Kalau kita cerita disitu masalah dlomir tapi ini adalah tentang kita. Apa yang berurusan dengan agama itu harus sudah selesai dipertama.

Kita kalau belajar ilmu matematika itu dari Aljabar yang merupakan orang Islam. Kita harus kembalikan kejayaannya. Maka dari anda-andalah karena kedepan anda adalah calon pemimpin. Urusan bangsa dan negara ada pada pundak kalian. Maju dan mundurnya tergantung kalian. Ini menjadi sangat penting, tidak cukup hanya hafal Alfiyah. Tidak cukup.

Dengan cara apa? Kerja keras. Belajar yang rajin. Saya tidak pernah membayangkan akan menjadi menteri. Ketika saya mondok, saya harus pinter, saya harus pinter. Di pondok tidak ada sekolah. Akhirnya saya sekolah. Alhamdulillah saya bisa kuliah. Setelah kuliah S1 saya lanjut S2 dan S3. Tidak cukup saya jadi doktor saya harus profesor. Jadi semuanya butuh kerja keras.

Dalam jabatan juga begitu, saya tidak membayangkan bisa menjadi seorang dosen. Kemudian saya ditunjuk menjadi wakil rektor. Setelah itu ditunjuk menjadi dekan. Setelah itu ditunjuk menjadi rektor. Eh tiba-tiba saya menjadi menteri.

“La tahtakir man dunaka falikulli syaiin maziyyatun. Jangan menghina orang yang lebih rendah dari kamu, karena segala sesuatu itu mempunyai keistimewaan.”  “Jangan menghina orang yang dibawah (Jangan menghina kaum santri) karena setiap orang pasti punya keistimewaan,” tegas beliau.

Jadi itu perjuangan yang harus dilakukan. Insya Allah, kalau ini bisa berjalan saya yakin bisa, yang penting santri harus belajar dan belajar. Disamping belajar, harus tirakat juga, puasa. Kalau anda tirakat Insya Allah, Allah akan memberikan kemudahan. Insya Allah, Allah akan memberikan jalan untuk menuju ke surga sana.

Disamping itu beliau juga memberi tips sukses kepada para santri. Satu, kerja keras. Maaf, santri satu hari satu malam anda tidurnya berapa jam? Kalau tidurnya cuma tiga jam. Itu baru. Tapi dari tidur yang tiga jam tadi, sisanya untuk belajar atau ngobrol? Dianalisa nih. Eh ternyata banyak yang ngobrol. Apakah pegang hp terus? Jadi tidak boleh. Santri harus belajar.

Berikutnya kalau sudah pinter jangan jadi keminter alias sombong. Jadi kita harus rendah hati, makin tawadlu’ dan sopan. Pertanyaan saya, adakah orang jadi santri pintar tapi kurang ajar? Tidak pernah menghormati pada guru, kiai dan para petinggi? Kalau anda ilmunya ingin yang bermanfaat dan barokah, maka sampai kapan pun dengan guru, dengan kiai harus hormat. Walaupun seorang guru hanya mengajarkan alif, ba dan ta’ sedangkan anda lebih tahu segalanya tapi tetap anda harus hormat pada guru yang mengajarkan.

Yang kedua adalah kerja cerdas dan yang ketiga adalah kerja ikhlas. Para santri kalau diberi tugas oleh bapak guru dan kiai, ikhlas tidak? Harus ikhlas. Jadi kalau tiga hal itu kalian lakukan, Insya Allah santri pasti bisa menghadapi perubahan informasi yang begitu cepat dalam era industri 4.0 ini.

Mudah-mudahan bagi para santri, saya sekarang datang tahun 2019 dan nanti 2024 saya datang kesini lagi, santrinya sudah luar biasa sekali. Insya Allah. Siapa tahu nanti kedepan menteri kesehatan adalah alumni Pondok Pesantren KHAS Kempek.

KHASMedia