Perjuangan Khotimin Alfiyah Ibnu Malik Ponpes KHAS Kempek

0
132
Khotimin Alfiyah KHAS Kempek
Khotimin Alfiyah Ibnu Malik Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon sedang berpose bersama di depan Rusunawa Hubbul Wathon Al-Ghadier (Foto: KHASMedia)

KEMPEK – Madrasah Tahdzibul Mutsaqqofien (MTM) Putra, Pondok Pesantren KHAS Kempek akan menggelar Haflah Khotmil Alfiyah Ibnu Malik, Ad-Durus Al-Muqorroroh, Juz ‘Amma dan Muwaada’ah pada hari Ahad malam Senin, tanggal 21 April 2019 M, bertepatan dengan tanggal 15 Sya’ban 1440 H.

Khotimin Alfiyah Ibnu Malik tahun sekarang sebanyak 81 anak. Seperti yang sudah dikhabarkan sebelumnya, mereka do’a khotmil Alfiyah sebanyak tiga kali. Pertama, do’a bersama Mbah Moen, kedua, bersama KH. Ni’amillah Aqiel Siroj dan terakhir do’a bersama KH. M. Musthofa Aqiel Siroj. Sungguh penuh barokah.

Perjuangan mereka dalam mengkaji kitab Alfiyah dan menghafal bait-bait Alfiyah sungguh sangat berat sekali. Rasa jenuh dan bosan terkadang menghampiri mereka, tapi mereka tetap bertahan, semangat dan penuh optimis. Selama dua tahun mereka mengkaji kitab Grammatical Arabic yang terkenal sulit di pesantren ini, namun akhirnya, mereka bisa mengkhatamkannya.

Ada lima syarat yang bisa mengantarkan seseorang (thalibul ‘ilmi) pada derajat yang tinggi. Hal ini seperti yang dikutip dari laman NU Online, Lima point tersebut yang nantinya akan membedakan antara thalibul ‘ilmi yang taat dan tidak. Hal itu beliau torehkan dalam bait syair Alfiyah-nya yang berbunyi:

Bil jarri wat tanwini wan nida wa al # wa musnadin lil ismi tamyizun hashal

Artinya, seorang thalibul ‘ilmi harus mempunyai dan sifat-sifat sebagai berikut:

Pertama, jar. Dalam artian tunduk dan tawadduk terhadap semua perintah (baik dari Allah SWT maupun pemerintah). Sesuai dengan apa yang difirmankan Allah swt. yang berbunyi, “athi’ullaha wa athi’ur rasul wa ulil amri minkum”.

Kedua, tanwin. Artinya kemampuan (baca: niat) yang tinggi mencari ridha Allah SWT. Dengan adanya kemauan yang tinggi seorang thalibul ‘ilmi akan mencapai apa yang ia inginkan. Sesuai dengan apa yang di sabdakan nabi Muhammad saw. yang datangnya dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Khattab r.a. bahwa nabi Muhammad saw. pernah bersabda yang bunyinya, “innamal a’malu binniyati, wa innama likullimriin ma nawa… (al-Hadits)”.

Ketiga, nida’. Artinya dzikir. Setelah adanya niat yang baik untuk mencapai tempat yang layak di sisi Allah swt., seorang thalibul ‘ilmi diharapkan berdzikir mengingat-Nya. Dengan ini, niat awal tidak akan menjadi ‘ashi (bis safar/fis safar).

Keempat, al, yang berarti berfikir. Karena berfikir manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi dari makhluk Allah lainnya. Maka dari itu, setidaknya seseorang yang ingin menggapai sesuatu seyogyanya menggunakan akal pikirannya sebaik mungkin, dengan tidak menggunakannya pada jalan yang salah, tidak berpikiran licik. Tidak seperti apa yang jamak dilakukan para aktivis yang kadang menggunakan akal pikirannya untuk mengkorup uang bawahannya, instansi, dan sejenisnya.

Kelima, musnad ilaih. Beramal nyata (ikhlas). Cara yang kelima ini merupakan puncak dari semuanya. Dengan ikhlas semuanya akan gampang. Terakhir, semoga Khotimin Alfiyah Ibnu Malik ke-44 Tahun 2019, Pondok Pesantren KHAS Kempek akan mendapatkan ilmu yang bermanfaat sehingga bisa mengamalkan ilmunya pada masyarakat. Amin…

KHASMedia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here