Pendidikan Pesantren; Sinergi Antara Tarbiyah dan Khidmah

0
61
Santri Putri Ponpes KHAS Kempek. Prinsipnya di pesantren antara khidmah dan ta'allum harus sinergi. Keduanya merupakan kunci keberhasilan seorang santri. (Foto: KHASMedia)

Pendidikan pesantren punya ciri khas tersendiri jika dibandingkan dengan pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi. Ada satu prinsip yang membedakan dengan pola pendidikan di luar pesantren.

Pendidikan di pesantren tidak hanya sebatas ta’lim, tapi juga menekankan aspek tarbiyahnya. Perbedaan prinsip ini yang membedakan pesantren dengan lembaga pendidikan lainnya.

KH Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus mengatakan, tarbiyah dalam pesantren langsung dicontohkan oleh Kiainya. Kiai berperan bukan hanya mentransfer ilmu secara lisan, melainkan langsung dipraktekkan dalam laku hidupnya kiai.

Santri di pesantren dapat menyerap ilmu agama dari kiai sekaligus meneladani apa yang dilakukan kiainya. Sebab, ia menyaksikan langsung bagaimana cara sang kiai menghormati tamu, cara beribadah dengan baik, atau membina hubungan dengan masyarakat.

Berbeda dengan pola pendidikan di sekolah formal atau lainnya yang menitik beratkan pada aspek “ta’ lim” semata. Di mana guru mempunyai tanggungjawab transfer ilmu saja. Selepas belajar usai, hubungan antara siswa dan guru juga selesai.

Ikatan guru dan murid terbatas ruang dan waktu. Sehingga, terkadang tidak tercipta ikatan yang kuat antara keduanya. Akibatnya, kurang kontrol terjadap murid-muridnya.

Lain halnya dengan pola pendidikan di pesantren. Hubungan antara kiai dan santri terjalin hampir 24 jam. Dengan demikian, santri tahu bagaimana laku hidupnya sang kiai dari bangun pagi hingga malam.

Sinergi antara ta’alum dan khidmah

Pendidikan pesantren itu unik dan mungkin hanya ada di pesantren yakni kepercayaan akan berkah dari pengkhidmahan santri terhadap ilmu dan kiai begitu besar pengaruhnya. “al-Barokah bil khidmah Wal Ilmu bitta’alallmum”, begitulah ungakapan bernahasa Arab yang sering penulis dengar di pesantren dulu.

Santri di pesantren menyakini bahwa kesuksesan mencari ilmu dapat dicapai dengan belajar yang rajin. Sedangkan usaha meraih keberkahan dengan khidmah kepada ilmu dan ahlul ilmi.

Terkadang di pesantren ada santri yang kehidupannya biasa biasa saja bahkan ketika masih di pesantren sulit untuk menguasai ilmu tapi setelah pulang jadi kiai besar. Dan ada pulanyang di pesantrenya terkenal pintar dan menguasai ilmu tapi sepulangnya jadi orang biasa.

Prinsipnya di pesantren antara khidmah dan ta’allum harus sinergi. Keduanya merupakan kunci keberhasilan seorang santri. Sehingga, santri kelak berpengatahuan luas dan bermanfaat bagi dirinya, keluarga dan bangsa. Aamiin

Penulis adalah alumni KHAS Kempek dan Wakil Sekretaris Pengurus Cabang GP Ansor Kab. Cirebon