Nyai Jazilah Yusuf dan Kisah Sedih Anak Yatim di Hari Raya Idul Fitri

0
121
Ny. Hj. Jazilah Yusuf pengasuh Ponpes Putri Al-Munawwiroh Kempek Cirebon (Foto: KHASMedia)

Hari Raya Idul Fitri adalah hari bahagia yang ditunggu-tunggu oleh kita semua, umat Islam di dunia, setelah selama sebulan penuh kita menjalankan ibadah puasa.  Dimana dalam bulan Ramadhan kita harus bisa menjaga diri dari hal-hal yang bisa membatalkan puasa termasuk menahan hawa nafsu. Sebaliknya, kita dianjurkan untuk banyak beribadah, seperti puasa, tarawih dan bersedekah.

Berbicara mengenai sedekah, kita mengenal sosok Nyai Hj. Jazilah Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Putri Al-Munawwiroh, Kempek, Cirebon yang mempunyai jiwa semangat dalam bersedekah. Beliau selalu istiqamah untuk bersedekah, kapan pun dan dimana pun, terutama di bulan Ramadhan yang mulia.

Setiap pagi dengan menggunakan kursi roda yang didorong oleh seorang santri putra dan ditemani santri putri, beliau keliling kampung untuk jalan-jalan pagi sekaligus bersedekah kepada setiap orang yang dikehendakinya. Setelah selesai, beliau pulang ke rumah untuk beristirahat. Karena sudah sepuh, beliau sudah tidak kuat berlama-lama diluar rumah.

Menjelang lebaran, beliau selalu mengundang anak-anak yatim piatu yang berada di desa Kempek untuk datang ke rumah kemudian memberikan bantuan berupa uang, pakaian dan bingkisan makanan. Bahkan beliau sampai mengutus santri untuk memberikan santunan itu kepada anak yatim di desa tetangga, yaitu desa Pegagan.

Sungguh Nyai Jazilah menjadi inspirasi bagi kita semua untuk bisa berbagi kepada sesama, khususnya anak-anak yatim. Kasih sayang dan kepedulian beliau terhadap mereka ini mengingatkan kita pada sebuah kisah sedih seorang anak yatim yang ditemui oleh Nabi Muhammad SAW di Hari Raya Idul Fitri.

Diriwayatkan ketika Nabi Muhammad SAW keluar rumah untuk menunaikan ibadah shalat Idul Fitri, beliau melihat anak-anak yang sedang bermain dengan gembira di jalan. Tetapi ada satu anak kecil yang diam menyendiri dengan berpakaian yang sangat sederhana dan tampak sedih sambil menangis.

Kemudian dengan segera Nabi menghampiri anak itu dan menyapanya, “Kenapa kamu menangis dan tidak bermain dengan mereka?” Nabi bertanya. Anak kecil itu tidak tahu bahwa orang tersebut adalah Nabi, kemudian ia menjawab, “Paman, ayahku ikut perang bersama Nabi melawan musuh, tetapi ayahku gugur dalam peperangan tersebut.”

Lebih lanjut anak itu bercerita, “Ibuku menikah lagi, ia mengambil harta warisan dari ayahku dan suaminya mengusir aku. Sekarang aku tidak punya apa-apa, makanan, minuman, pakaian dan tempat tinggal. Aku melihat teman-temanku bergembira merayakan hari raya bersama ayah mereka, sedangkan aku merasa hampa tanpa kehadiran seorang ayah. Oleh karena itu aku menangis.”

Mendengar hal itu, Nabi Muhammad merasa sedih, karena ada anak-anak dari sahabatnya yang telah gugur di medan perang mempunyai nasib yang kurang beruntung seperti itu. Kemudian Nabi menggenggam tangan anak tersebut, sambil berkata, “Nak, Maukah bila aku menjadi ayahmu, Aisyah menjadi ibumu, Ali menjadi pamanmu, Hasan dan Husain menjadi saudaramu serta Fatimah menjadi saudara perempuanmu?” Tanya Nabi.

Setelah itu, anak tersebut akhirnya sadar bahwa orang yang ada dihadapannya adalah Nabi Muhammad SAW, sehingga ia langsung menerima tawaran itu dengan senang hati. Kemudian Nabi membawa anak tersebut pulang dan memberikan pakaian yang bagus serta mempesilakan anak itu makan sekenyangnya.

Setelah itu, ia keluar dari rumah Nabi dengan senyum dan wajah bahagia. Dimana hal ini membuat teman-temannya heran kemudian bertanya, “Kenapa kamu sekarang tampak bahagia padahal sebelumnya kamu merasa sedih?” Tanya teman-temnannya.

“Benar temanku, dulu aku kelaparan, sekarang aku tidak lapar lagi, aku sudah kenyang. Dulu aku tidak punya pakaian tapi lihatlah sekarang pakaianku bagus. Dulu aku adalah anak yatim tetapi sekarang aku punya keluarga  yang sangat sayang dan perhatian. Nabi Muhammad adalah ayahku, Aisyah ibuku, Hasan dan Husain saudaraku, Ali pamanku, dan Fatimah adalah saudara perempuanku. Apakah aku tidak bahagia?” jawabnya.

Mendengar hal itu, teman-temannya menginginkan nasib yang sama, “Aduh, seandainya ayah kita juga wafat dalam peperangan itu, sehingga kita semua diangkat menjadi anak Nabi Muhammad SAW.”

Wallahu a’lam, sekian dan semoga bermanfaat. Amin…

KHASMedia