Nilai Moral di Balik Tradisi Menata Sandal Kiai

0
149

Dalam dunia pesantren seorang kiai adalah figur yang paling disegani dan ditaati, label “kualat” siap dialamatkan kepada siapa saja yang tidak patuh atau membangkang kiai.

Hal demikian tidak ada di instansi mana pun, bahkan di kampus elite mana pun dan seperti apa pun, hampir tidak ada mahasiswa sungkem ke rektor sendiri saat hari raya.

Berbeda dengan santri, sejauh mana pun kaki melangkah, kiai adalah sosok paling idola yang selalu dirindukan. Hubungan batin kiai santri lebih kuat.

Ini bukti pesantren memiliki kualitas moral yang tidak bisa ditandingi dengan instansi pendidikan paling favorit sekalipun di negeri ini.

Jika anda seorang santri, atau kalau tidak pernah main ke pesantren, pasti melihat sendiri bagaimana unggah-ungguh para santri terhadap seorang kiai. Diantaranya adalah menata sandal kiai, malah tidak jarang sandal kiai menjadi buruan yang sering diperebutkan para santri.

Begitu kiai hendak masuk ke rumah atau tempat pengajian, biasanya sudah ada beberapa santri yang mengintai dan mengawasi dimana letak sandal pak kiai. Begitu pak kiai sudah masuk, langsung siapa yang sigap dialah yang berhasil menata sandal kiai.

Tujuan ditata adalah supaya saat kiai hendak memakai kembali sandal tadi tidak kesulitan.

Biasanya ada rasa bangga tersendiri di hati santri tersebut, seperti mendapat apa gitu.

Dalam sebuah kitab yang berjudul “al-Fawaid al-Mukhtar li Saliki Thoriq al-akhirah” halaman 570, Habib Zain bin Ibrahim bin Smith menjelaskan:

التبركُ بالنعلين من الولي أفضلٌ منه بغيرهما لأنهما يحملان الجثة كلها، أو ما هذا معناه

“Memburu berkah melalui sandal seorang wali amalan yang utama. Karena sandal digunakan untuk membawa jasad seutuhnya.”

Ini bisa jadi alasan mengapa antusias para santri terhadap tabarukan menata sandal kiai begitu tinggi, bahkan menjadi tradisi turun temurun yang mewarnai suasana takdzim pesantren.

Semoga instansi pendidikan di negeri ini bisa meniru moral yang diterapkan di pesantren, instansi yang sederhana tapi tidak hanya mendidik kader-kader intelektual, tapi juga bermoral dan berbudi pekerti tinggi.

KHASMedia