MTM Al-Qodiem, Awal Keberkahan dan Penuh Kenangan

1
365

KHASKEMPEK.COM – Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien atau yang disingkat MTM adalah sebuah majelis tempat untuk mengaji kitab-kitab kuning yang didirikan pada tahun 1960 oleh Hadhratus Syeikh KH. Aqiel Siroj.

Beliau menamainya dengan sebutan majelis tidak menggunakan istilah pondok pesantren, hanya semata karena kesederhanaan dan rasa tawadhu‘ terhadap keluarga di lingkungan Pesantren Kempek yang sudah ada sejak 1908, demikian yang disampaikan oleh KH. M. Musthofa Aqiel Siroj yang ketika itu beliau baru berusia 1 tahun lebih.

Dan yang dimaksud MTM kala itu adalah tempat ini yang sekarang disebut Al-Qodiem. Di tempat yang mulia ini, Kiai Aqiel mengkaji spesialis bidang ilmu alat seperti nahwu-sharaf, mantiq-bayan dan lain sebagainya, meski beliau juga ahli dan mengaji kitab yang lain. Sebagaimana KH. Nashir Abu Bakar dikenal sebagai ahli Fiqih, KH. Umar Sholeh juga menekuni Al-Qur’an meskipun beliau-beliau mengaji fan ilmu yang lain.

Pengasuh melanjutkan, bahwa Al-Maghfurlah Buya Ja’far Aqiel, Kiai Said Aqiel (Ketum PBNU), KH.Musthofa Aqiel (Pengasuh sekarang) juga tinggal dan mengaji di Al-Qodiem ini, sebelum akhirnya melanjutkan ke pesantren lain.

KH. Niamillah pernah mengakui bahwa dulu beliau tinggal di kamar 5 Komplek Ibnu Malik selama sekitar 4 tahun. Bahkan Al-Maghfurlah Kiai Ahsin tidak mondok ke pesantren lain hanya mengaji dan tinggal di salah satu bilik di tempat yang penuh berkah ini.

“Seandainya dulu Kiai Aqiel tidak ngerasi (nggalaki) pada putra-putranya, mungkin kami tidak akan jadi apa-apa, tidak jadi kiai seperti sekarang ini,” kata Pengasuh.

Seiring waktu, MTM Al-Qodiem mulai banyak dihuni oleh santri yang mukim dan ikut mengaji pada Kiai Aqiel. Setelah putra-putra Muassis kembali dari pesantren lain, Buya Ja’far pulang dari Pesantren Lirboyo, membawa sistem “Musyawarah” yang dijadwal pada malam hari, sebelumnya belum ada.

Kiai Musthofa sendiri selesai dari Sarang memulai program baru yang dikenal dengan “Muhadlarah” yang sekarang menjadi Madrasah dengan sistem klasikal sesuai tingkatan kitab kajiannya. Jadi bisa dikatakan MTM ini merupakan satu kesatuan Pesantren Kempek yang tak terpisahkan.

Sepeninggal Muassis, Buya Ja’far sekitar tahun 1994 mengembangkan MTM dengan membuka wilayah baru yang disebut Al-Jadied. Jadi nama Al-Qodiem muncul karena ada pelebaran asrama baru tersebut. Lambat laun pada tahun 2009, Kiai Musthofa Aqiel membuka tempat baru untuk pesantren yang dinamakan Al-Ghadier. Sebuah istilah yang sebagian orang menganggap condong ke Syiah, artinya sendiri adalah derasnya ilmu, rezeki dan deras aliran barakahnya.

Jadi ada tiga wilayah manajemen, Al-Qodiem dalam pengawasan Kiai Ahsin, Al-Jadied dibawah tanggungjawab Buya Ja’far, dan Al-Ghadier diasuh oleh Kiai Musthofa. Semuanya adalah satu kemuliaan dalam keberkahan dari orang tua beliau-beliau yakni Kiai Aqiel Siroj.

Kiai Aqiel selama hidupnya penuh dengan tirakat, selain nderes kitab kuning, Beliau hampir tiap malam tidak pernah berhenti untuk sholat dan dzikir. Nyai Hj. Afifah istri tercintanya selalu ikut bangun sekitar pukul 03.30 dini hari untuk memasakkan air untuk mandi air hangat suaminya. Demikian Kiai Musthofa Aqiel mengenangnya.

Kiai muda, Kang H. Muhammad BJ mengatakan bahwa bukan hanya paman-pamannya yang tinggal di Al-Qodiem, ia sendiri lahir dan besar di tempat ini, di kediaman ayahnya yang dulu ditinggali Kiai Nashir bersama Nyai Mu’minah, sekarang menjadi komplek putri An-Nashir wa Al-Manshur. Kang Muhammad dulu menghuni kamar 11 Imam Zamakhsyari, menjadi lurah pondok dan mengkhatamkan Alfiyah di tempat ini.

Dulu ia kecil di Al-Qodiem dan tumbuh dewasa di Al-Jadied, layaknya tempat baru, ada tidak betah dulu, ada enak dan tidak enaknya, nanti juga para santri akan merasakannya, demikian Ang Nahdli panggilan akrab H. Ahmad BJ mengingatkan.

Mas H. Shidqi, yang dikenal dengan Gus DPR mengatakan bahwa dia tidak punya kenangan baik di sini, waktu kecil ia selalu mbanjur (nyiram) air pada santri yang lewat. Tapi sebenarnya dulu ia mengkhatamkan Juz ‘Amma mengaji bersama Kiai Ahsin juga di Al-Qodiem sebelum mondok ke Jawa Timur.

Mas Amud Shofi, yang sering menyebut sebagai menantunya Kang Kaji, mengakui bahwa dia sejak kecil hingga dewasa tinggal di Pesantren Sarang, tidak pernah di Kempek. Hanya punya kenangan setiap libur Ramadan dia pulang ke Kempek dan ikut shalat tarawih jama’ah bersama pamannya Ami Ahsin di Musholla Al-Qodiem.

Dia mengingat setiap tanggal 15 puasa keatas, shalat witirnya ditambah bertahap dari 5, 7, sampai 11 raka’at padahal sebelumnya hanya 3 saja. Melihat situasi seperti ini layaknya orang muda, ia shalat tarawihnya pindah dari Al-Qodiem ke Al-Jadied, sebagaimana Imam Syafi’i beralih dari Qaul Qodiem ke Qaul Jadied, guraunya.

Begitulah kenangan-kenangan hebat dari dzuriyyah yang diungkapkan usai acara tahlil hari Rabu sore 1.7.2020 kemarin yang bisa difahami oleh Penulis.

Sebenarnya bukan persoalan kenangan indah yang bisa kita saksikan, tetapi derasnya keberkahan yang terus mengalir sampai sekarang dari sebuah tempat yang diinisiasi dan diisi dengan ilmu dan dzikir oleh Al-Mukarrom Syeikh KH. Aqiel Siroj. Wallahu a’lam bisshowab

Bersambung…
03.07.20
Nurkholik Tawan.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here