MTM Al-Qodiem, Awal Keberkahan dan Penuh Kenangan (Bagian 2 Habis)

1
413

KHASKEMPEK.COM – Ungkapan keluarga besar Masyayikh Kempek yang begitu elok dan bersahaja terhadap kemuliaan MTM Al-Qodiem dalam bagian pertama tulisan ini telah memberikan kesan mberkahi dan penuh dengan esensi makna yang dalam.

Mungkin tidak salah jika penulis mencoba mencari sedikit kenangan dengan bantuan “mesin medsos” dari santri yang pernah tabarrukanandon ngliwet” di tempat tertua di Pesantren Khas Kempek ini.

Dikutip dari komentar-komentar akun FB @Thoah Jafar milik Bunda Hj. Tho’atillah Ja’far, Pembina Asrama Putri An-Nashir Al-Manshur setelah memposting foto bersama Dzuriyyah usai rapat keluarga di Al-Qodiem, diantaranya sebagai berikut:

“Selama saya nyantri ke Mbah Kiai Aqiel Siroj, Kempek belum megah seperti sekarang ini, tapi betah di sana. Minum langsung dari timba sumur, makan encung se-eblek bersama dan jalan sore ke Pegagan sambil ngapal tasrifan adalah kenangan terindah mondok di Kempek..

“Dibangunan itu (versi lama) saya tinggal, di suatu sore sedang tengah ngaji dengan Kiai Aqiel, datang rombongan keluarga dari Mekah, pengajian pun berhenti…” Itulah kedatangan pertama Kiai Said Aqiel ke Indonesia dari perantauan di Mekah…masih teringat di kepala.”

“Semoga semua keluarga Khas Kempek diberkahi Allah Swt wabil bangga menjadi ” santri ” Kempek…. i love u Kempek.”

Itulah yang ditulis Kiai Imam Jazuli, Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia dalam akun FB @Imam Jazuli.

Ditambahkan oleh Bunda Tho’ah atas komentarnya: “Leres dulu santri Kempek kalau sore jalan kaki ke pematang sawah sambil ngapali Juz ‘Amma atau Tasrifan nggih Yai Imam Jazuli! Njenengan menangi pas Ami Said datang, saat Mbah sedang mengaji lalu menangis saking bahagianya, karena datang tiba-tiba dan suara menangis kedengeran dari speaker. “

Bangunan tingkat itu juga masih versi lama, tingkatnya bukan dari cor2an semen tapi masih kayu papan. Amien berkah doa njenengan Kiai.

Sedang akun @Kang Zarruq milik Kiai Idris Sholeh, Pimpinan Pesantren Luhur Al-Tsaqofah Jaksel hanya berkomentar pendek: “Wah.., itu bekas kamarku… ya salam…”

“Kelingan lg ngaji Alfiyah ning Buya baka durung bisa murodi ngajie ning jaba Musholla bokat kon maca hehe…”
Itulah kesan Kang Syator dengan akun @Ahmad Syatori asli orang Kempek yang sekarang menjadi akademisi, dulu mengaji Alfiyah pada Buya Ja’far Aqiel.

Berbeda dengan seniornya, Kang Nawawi Majalengka menulis sedikit panjang di akun @Ahmad Nawawi Aqiel bahwa: Kalau ada riwayat dan silsilah dalam dunia hewan bernama TINGGI (kutu busuk), sangat mungkin hari ini masih tersisa generasi ke sekian ratus hewan yang pernah berkonflik dengan saya di kamar 11 Kompleks Imam Zamakhsyari.

Mereka bergerilya di balik sela-sela papan lantai kayu, dan kami berburu mereka dengan mulut mecucu karena mereka meneror tidur kami. Seringkali perburuan dan keributan itu mengganggu juga tidur senior Kang Zarruq dilantai bawah.

Meski akhirnya saya melakukan gencatan senjata dan tidak terganggu lagi karena sudah kebal berkah minum air sumur Al-Qodiem..
“Duh.. jadi baper..”

Dan paling tidak ada dua komentar dari alumni yang terbilang belum lama yaitu: Ustadz Syibro di akun @Syibro Malisi Syadzali, menulis “Kulo teng kamer 5 IBNU MALIK waktos nembe mondok sampe ngaos Mutammimah, ngerok ngerok kastrol demi untuk mendapatkan makan sorga( SOreng seGA) alias intif.

Dan Kang Shoban di akun @Zahir Ahmed berkomentar: “Halaman Al-Qodiem tempat terakhir acara Muwaada’ah tahun 2000 khataman Juz ‘Amma kulo..tahun berikutnya acara dipindah teng halaman mburie komplek Ibnu Malik.” #IBM #kamar07

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here