Mem-Buyakan Santri dan Alumni di Tengah Globalisasi

0
192

KHASKEMPEK.COM – Era globalisasi adalah proses sesuatu yang mendunia, baik dari sisi informasi, pemikiran, gaya hidup, maupun teknologi. Santri sebagai komoditas dan masyarakat yang dapat mengakses pengetahuan di luar pesantren menjadi niscaya ‘tersenggol’ arus globalisasi. Kemajuan digital juga ikut mendorongnya mengenal pemikiran dan gaya hidup non pesantren, bahkan non Islam Indonesia sekalipun.

Era globalisasi menuntut santri untuk meningkatkan daya saing global, memperluas wawasan, memahami perbedaan dan membangun jaringan serta sadar akan perubahan global. Nasrullah Nurdin menilai, Kiai saja bisa dikatakan gaptek (gagap teknologi) jika tidak mengikuti zaman, apalagi santri. Alih-alih ingin ‘fokus’ belajar di penjara suci, santri harus pelan-pelan terbuka dengan arus globalisasi.

Buya Ja’far Shodiq dikenal sebagai Kiai yang bukan saja progresif, tetapi juga selalu memiliki visi dan misi ke depan untuk menghadapi globalisasi. Didirikannya sekolah formal di lingkungan Pondok Pesantren Kempek cukup menjadi salah satu bukti visinya yang melampaui zaman. Di tengah keyakinan yang mengakar bahwa Pondok Pesantren Kempek ialah pondok salaf, yang ‘hanya’ harus fokus pada kitab dan Al-Qur’an, Buya menerobos lorong waktu. Berani pasang badan untuk mendirikan sekolah umum di tengah tanah salafiyah Kempek.

Ayunan perjuangan menjawab globalisasi yang digerakkan Buya Ja’far kental dengan kemanfaatan untuk banyak orang, bukan untuk kepentingan pribadi atau golongannya saja. Murni untuk kemaslahatan orang banyak. Sebagaimana cita mulianya mendirikan sekolah umum agar para santri dapat melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Buya juga menjawab globalisasi lepas dari tuntunan kapitalisme yang sering membelenggu praktik kehidupan di era tersebut. Sejalan dengan gagasan Calvin Riclefs, santri dan kiai akan hidup memberi manfaat kepada masyarakat, bukan untuk kepentingan pribadi. Demikian nalar globalisasi Buya Ja’far.

Keterbukaan pemikiran menjadi salah satu cara Abuya Ja’far menjawab globalisasi di pesantren. Savran Billahi dalam tesisnya menyebut, sudah saatnya kiai dan santri kooperatif dengan siapa saja, termasuk dengan pemerintah. Sudah bukan zamannya kiai mengisolasi diri dari keterbukaan pemikiran dengan tokoh-tokoh di luar pesantren. Demikian apa yang digalakkan Abuya Ja’far. Sependek penulis ketahui, Abuya amat terbuka dengan siapapun, apakah dengan orang yang pilihan politiknya berbeda, partainya berbeda, pemikiran Islamnya tidak sama, bahkan agamanya yang berbeda sekalipun. Abuya menerima dan berdiri di atas semua golongan.

Namun demikian, prinsip yang selalu dipegangnya ialah kemanfaatan untuk orang banyak. Dawuhnya yang amat masyhur di telinga santri Khas Kempek ialah “aja bulit; jangan pelit”. Dengan piawai, Abuya memiliki sifat tidak pelit yang cukup kentara. Salah satu di antaranya, ketika Abuya memilih calon Gubernur Heryawan (Aher) sebagai Gubernur Jabar, kiai-kiai lain tidak sama memilihnya, dengan alasan ia merupakan kader PKS. Buya, waktu itu, kekeuh dengan pilihannya mendukung Aher. Dan, ketika Aher terpilih, dukungan pemerintah Jabar kepada pesantren Kempek pun cukup baik. Namun Buya tidak pelit, beliau selalu mengatakan kepada Aher agar juga membantu pesantren-pesantren lain, meskipun mereka yang tidak memilihnya saat Pilgub.

Dari sisi informasi, Abuya selalu mencintai santri-santrinya yang pandai berbahasa asing. Di dalam serangkaian Haul Kiai Aqil Siraj, Abuya Ja’far kerap membanggakan santri yang memiliki prestasi kebahasaan asing kepada para wakil rakyat dan atau pemerintah baik pusat maupun daerah yang datang di acara haul. Apalagi kalau tujuannya bukan supaya santri juga memiliki wawasan global, dapat membaca tantangan zaman yang serba mendunia, dan melek akan persaingan global baik di kancah nasional maupun internasional.

Hari ini adalah haul ke-7 Abuya Ja’far Shodiq, pasca kepulangannya ke rahmatullah 2014 silam dengan tangisan ribuan santri dan masyarakat. Selain mendoakan, membaca Al-Qur’an, zikir, tahlil untuk beliau, yang juga penting adalah meneladani dan mengambil inspirasi progresifitas pergerakan Buya Ja’far di tengah arus globalisasi. Tidak sekadar menjawab, tetapi harus sejalan dengan prinsip kemanfaatan untuk orang banyak sebagaimana Abuya Ja’far memberi teladan itu dengan cukup apik.

Kita semua yakin, Abuya akan senang bilamana santri dan alumninya mampu menjawab tantangan global, menempati pos-pos strategis di negeri ini, dan menjadi problem silver kemelut kebangsaan yang akhir-akhir ini terus memanas. Kita semua yakin, Abuya di alam sana selalu meminta kepada Allah agar santri dan alumninya sadar perubahan global dan menjawab tantangan-tantangan masa depan bangsa. Kita semua yakin, dengan santri dan alumninya melakukan itu, Abuya akan selalu tersenyum di alam ketenangan sana. Untuk Abuya, Alfâtihah…[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here