Maulid Nabi, Ini Pujian Indah Amir al Syu’ara Kepada Rasulullah SAW

0
159

KHASKEMPEK.COM – Puisi pujian kepada Nabi (al Madaih al Nabawiyah), termasuk kajian sastra Arab kebanyakan lahir dari rahim para sufi. Adalah bentuk ekpresi semangat beragama, dan cerminan etika luhur, karena pujian itu muncul hanya dari jiwa-jiwa yang dipenuhi cahaya kebenaran, keikhlasan, dan cinta yang tulus kepada Nabi Muhammad SAW.

Dalam literasi bahasa Arab, puisi pujian Nabi memadati halaman buku-buku, sehingga cahayanya menerangi jiwa para perindu dan pencari Tuhan. Sepanjang waktu, cahaya itu akan terus menerangi jalan dikegelapan zaman menuju Tuhan yang maha esa.

Kajian sastra menyebutkan jika pujian diarahkan kepada seseorang yang sudah tiada maka disebut ritsa bukan madh. Namun hal ini tidak berlaku kepada Nabi, walaupun Nabi telah wafat, puisi pujian kepada Nabi tetap disebut al Madh.

Puisi pujian kepada Nabi sudah ada sejak beliau masih hidup, sahabat Ka’ab bin Zuheir, al A’sya, Hassan bin Tsabit membuat puisi pujian untuk beliau, hingga pada generasi berikutnya seperti al Farazdaq, al Syarif al Radhi. Puncakya pada zaman Sayidul Madihin al A’zdam yaitu Imam al Bushairi.

Dalam rentan waktu cukup lama, kejayaan puisi pujian Nabi (Qashidah Burdah) milik al Bushairi tak tergantikan, sampai munculnya penyair besar bergelar Amir al Syu’ara Ahmad Syauqi. Syauqi berhasil mengulang kembali kejayaan puisi pujian Nabi (al Madaih al Nabawiyah) hingga menghantarkannya pada abad modern.

Puisi pujian Nabi (Qashidah Hamziyyah) karya Ahmad Syauqi

Telah lahir sang nur Ilahi, semesta berpendar cahaya abadi.
Zaman tak henti tersenyum, menebar puja-puji serta kagum.

Jibril serta para malaikat mengelilinginya.
Dunia masa kini dan masa depan bersuka cita.

Singgasana kerjaan Tuhan menjulang megah.
Puncak alam raya pun bergelimang cahaya.

Wahyu lantas menitik, mengalir bagai air mata.
Dalam lembar mushaf, pena menggurat hikmah wahyu, indah dan mengharu.

Wahai manusia yang sempurna akhlaknya, hadirmu sungguh mulia.
Para Nabi pun turut melantunkan, salam penghormatan.

Langit bergetar atas kabar lahirmu, berias diri demi menyambutmu.
Begitu pula bumi, memguapkan harum, misik parfum.

Ketika engkau terlahir, indah perangaimu tanpa tabir.
Wajahmu bersinar, di keningmu cahaya hidayah dan kehidupan berbinar.

Kala Muhammad terlahir di dunia, alam raya merona, dalam cahaya anbiya.
Cahaya yang memancar, dari pilar-pilar kebenaran wahyu Ibrahim, itulah wujud keagungannya.

Di hari Rasulullah lahir, surya pagi merekah, bersyukur atas agung berkah.
Demikian pula sinar senja memancar, pada ia yang terlahir, sebagai nabi akhir.

Ya Muhammad, kelahiranmu adalah kemenangan bagi seluruh kerajaan.
Dari panji milikmu Rasulullah, tiada yang lebih tinggi, dari bala tentaramu Rasulullah, tiada yang pernah kalah.

Keajaiban demi keajaiban tercipta, dalam peradaban kita.
Dan Jibril, lihatlah!
Senantiasa membawa, kuasa mukjizat kepadanya.

Di masa kanak, jujur dan amanah, bertabur dalam dunianya.
Siapa yang tidak memandang?
Gelar al Shadiq al Amin yang ia sandang?.

Wahai engkau, pemilik hati dan budi yang luhur.
Kaum hebat pun mendamba sifat, dalam dirimu.

Meski engkau tidak menyebar agama, cukuplah akhlak muliamu.
Menjelma pelita yang memberi hidayah pada manusia.

Wahai engkau sang rupawan oleh akhlak yang menawan.
Akhlak yang didamba, orang-orang mulia.

Kala engkau berderma, kemurahanmu tak terhingga.
Tiada yang menandingi, bahkan bintang dan awan yang mencurahkan hujan.

Bila engkau adalah kasih sayang, maka engkau laksana ayah dan bunda.
Sebab merekalah, wujud murni cinta kasih.

Bila engkau murka, itu demi kebenaran semata.
Bukan atas dengki maupun benci.

Bila engkau memberi atau berjanji.
Maka janjimu pastilah ditepati.

Shollu ‘Ala al Nabi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here