La Tahzan

0
66

Oleh: Puspa Andini*

Mentari bersinar terik siang ini. Panas matahari menusuk sampai kulit, membuat para siswa lebih memilih nongkrong di koridor sekolah. Bising suara siswa-siswi membuat suasana siang itu jadi kacau tak karuan.


“Cewek mata satu!” Teriak salah seorang siswa, begitu perempuan itu berjalan pelan menyusuri koridor.

“Cewek mata satu!” Sahut siswa yang lain, diteruskan gema murid-murid di sekitar koridor.


Plak. Sebuah telur terlempar ke arah perempuan itu. Crooot. Disusul semprotan saus ikan. Perempuan itu menunduk pasrah, tak melawan.


“Stop!” Aisyah menyibak kerumunan siswa yang merundung perempuan itu.

Seluruh isi koridor hening. Mereka terdiam sambil memperhatikan adegan dua orang di hadapannya. Aisyah coba membantu membersihkan rambut perempuan itu yang penuh dengan pecahan kulit telur. Bau amis saus ikan melekat di tubuhnya.


“Kenapa kalian melakukan hal ini kepada Marsa?” Seru Aisyah beringas. Dua matanya membulat, menyiratkan ketegasan.


Tidak ada jawaban. Hanya isakan Marsa yang samar-samar terdengar. Tiba-tiba,
“Alah, enggak usah sok jadi pahlawan kamu, Ais!” Seloroh Aghita, ketua geng yang hobi sekali merundung Marsa.


Aisyah hendak maju, tangannya gatal ingin menarik rambut Aghita. Daripada mengatainya sok pahlawan, tidak kah ia tahu bahwa yang dilakukannya kepada Marsa adalah perbuatan tak terpuji?
“Jangan, Ais.” Kata Marsa sambil menahan tangan Aisyah.


Aisyah bungkam, menahan diri. Kejadian ini bukan pertama kali di sekolah ini. Tidak hanya Marsa, banyak murid lain yang memiliki cacat fisik pun jadi objek perundungan. Ia pun heran, bagaimana siswa-siswa di sekolahnya mulai kehilangan rasa kemanusiaan mereka.
Aisyah menarik Marsa, “Ayo, Sa. Kita pergi saja.”


***


“Kamu enggak apa-apa, Sa?”
Marsa mendongak, menatap wajah Aisyah dengan tatapan sendu. Ketika ia dirundung teman-teman sekolah, hanya Aisyahlah orang yang mau berdiri di depan dan menolongnya. Ia selalu membantu tanpa pamrih. Meski Aisyah tahu bahwa Marsa tidak sempurna. Dari lahir Marsa hanya dikaruniai satu mata kanan. Mata kirinya tertutup kulit.

Namun, Aisyah tetap memperlakukannya sebagaimana orang normal. Bukan seperti murid-murid lain yang memperlakukannya selayaknya binatang. Lebih dari seorang sahabat, Aisyah adalah pahlawan bagi Marsa.


Air mata jatuh menuruni pipi Marsa. “Sasa sakit hati dengan perlakuan mereka, Ais.”


Aisyah yang tidak tega langsung membawa Marsha ke dalam pelukannya. Membiarkannya menumpahkan sesak yang tak lagi terbendung di hati Marsa.
“Tuhan begitu tidak adil, Ais.”


“Hus!” seloroh Aisyah. Hatinya tersentil dengar kalimat itu keluar dari mulut Marsha, sosok yang ia kenal selalu tegar dan tabah dalam menghadapi rundungan murid-murid sekolah. “Tuhan menciptakan kita dengan derajat yang sama. Apa yang membedakan hanyalah isi hati mereka, Sa.” Kata Aisyah menghibur.


“Kita punya kelebihan dan kekurangan. Jangan merasa jadi manusia yang hanya memiliki kekurangan tapi tak memiliki kelebihan. Sekali-kali kamu melihat ke bawah,di sana ada orang yang mempunyai kekurangan fisik lebih parah dari pada kamu. Fisik sempurna seorang perempuan tidak ada harganya jika mereka tidak memiliki hati yang sempurna juga, Sa.”


Marsa semakin tenggelam dalam isak tangis, “Maafkan Sasa, Ais. Terima kasih sudah mau menasehati Sasa.”
“Tetap angkat wajahmu, Sa. La tahzan.” Ucap Aisyah, sebagai penyemangat pamungkas.


Tak terasa bel masuk sekolah berbunyi. Dua anak itu pun berjalan beriringan menuju kelas sambil menyunggingkan senyum merekah di kedua wajah mereka.

*Penulis adalah siswi kelas X Perbankan Syariah SMK KHAS Kempek

(KHASMedia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here