Kurikulum Itu Bernama Buya Ja’far

0
458

Oleh: Sobih Adnan*

Sebelumnya, tulisan ini dimuat di NU Online | Situs Resmi Nahdlatul Ulama

Riuh tepuk tangan menggema di gedung olah raga yang baru dua kali menjadi tempat perhelatan tahunan ini. Kiai Musthofa Aqil, seperti –entah sengaja atau tidak- menekan saklar bunyi tersebut, menggetarkan ribuan hati yang hadir, dan bagi para alumni,  menenggelamkan pada ingatan masing-masing.

“Jika saja tidak berkat Buya Ja’far, maka pesantren ini tidak akan seperti sekarang,” begitu, Kiai Musthofa, memberi penghargaan kepada kakaknya, Buya KH Ja’far Aqil Siroj.

Buya KH Ja’far Aqil Siroj -selanjutnya, Buya Ja’far-, merupakan nama paling sulung dari kelima putra KH Aqil Siroj, tokoh pendiri Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM) Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat. Secara berurutan, kelima putra tersebut disusul KH Said Aqil Siroj, KH Musthofa Aqil Siroj, KH Ahsin Syifa Aqil Siroj, serta paling akhir, KH Niamillah Aqil Siroj.

Kembali soal tepuk riuh penghargaan pada malam puncak peringatan Haul Almaghfurlah KH Aqil Siroj Ke-24 yang berlangsung hari Sabtu, 14 Desember 2013 yang lalu di Gedung Olah Raga (GOR) KHAS Kempek Cirebon itu, tentu tidak tanpa sebab. Selama 23 tahun, semenjak didaulat menggantikan ayahnya di tahun 1990, Buya Ja’far dikenal sebagai sosok yang gigih, istiqamah, penuh dedikasi dan semangat pengabdian yang tinggi.

Banyak kenangan bersama Buya Ja’far, konon, komentar antar  alumni saat berkesempatan saling sapa di acara haul. Hampir sama, katanya, hari-hari bersama Buya Ja’far adalah hari-hari melatih jantung untuk berdetak keras sejak pagi  buta.

Bangun pagi, tak boleh telat, sudah siap setoran nazam? Atau, akankah namanya disebut untuk giliran membaca keterangan kitab Alfiyah Ibnu Malik yang njlimet itu? Seperti itulah rasanya menghabiskan dua tahun bersama Buya Ja’far, dari kelas Alfiyah Ula dan Alfiyah Tsani di pesantren yang terletak di wilayah Cirebon bagian barat ini.

Buya Ja’far tidak akrab dengan waktu senggang, selain sebagai seorang pengasuh pesantren, dua periode dipercaya sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cirebon membuat langkah dan nafasnya seolah sama-sama menjadi derap semangat, tak kenal lelah, apalagi putus asa. Pukul 3 pagi, kata seorang putranya, Buya Ja’far sudah bangun untuk sembahyang barang dua rakaat. Subuh pun tiba, memimpin jamaah, mengajari santri kelas sorogan Al-Quran, disambung dengan pengajian Alfiyah Ibnu Malik mulai pukul enam.

Jika matahari sudah sedikit terangkat, usai sarapan, Buya Ja’far langsung berangkat memenuhi undangan masyarakat, atau siapa pun yang membutuhkan kehadirannya. Bukan sekadar urusan-urusan besar, Buya Ja’far tak sungkan menjadi wali nikah bagi siapa pun yang pernah mengaji kepadanya, atau saat  diminta menghadiri acara selametan, tahlil, begitu pun kendurian, di kampung-kampung sekitarnya.

Jelang sore hari, Buya Ja’far kembali ke kediaman, selalu begitu, tepat waktu, terkecuali saat terpaksa berada di luar kota untuk mengikuti agenda-agenda tertentu.

Boleh di bilang, pesantren Kempek Cirebon merupakan pesantren dengan basis pengajaran Al-Quran serta sepasang fan yang dikenal dengan istilah ilmu alat, Nahwu dan Sharaf. Maka di setiap jenjang kelasnya, para santri selalu disajikan pelajaran  dengan bingkai yang serupa. Puncaknya, dua tahun sebelum usai, santri harus bersama Buya Ja’far untuk mengkhatamkan Al-Quran, juga melunasi sebanyak 1002 bait nazam Alfiyah dalam bentuk hafalan.

Boleh dibilang juga, -di mata santri- Buya Ja’far adalah sosok yang galak, terlebih bagi kelas pengajian Alfiyah. Dalam mengaji, pertama-tama, paling tidak Buya Ja’far membacakan 2 sampai 5 nazam perhari, berikut keterangannya, besoknya, 2 sampai 3 nama akan disebut untuk membacakan nazam dan keterangan sesuai dengan apa yang Buya Ja’far berikan sebelumnya.

Yang menarik adalah, Buya Ja’far masih menggunakan kitab yang ia afsahi semasa menempuh pendidikan di Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur puluhan tahun lalu, juga, santrinya, tidak diperkenankan untuk menganggap remeh dalam hal mengafsahi makna kitab, harus lengkap, tak boleh asal rujukan, jika hal-hal itu diabaikan, maka bersiaplah untuk menerima hukuman mencabuti rumput di lapangan asrama putri, berdiri 3 jam lebih, atau jika terlampau salah, tangkai kipas bambu mendarat di punggung telapak tangan, setidaknya, dua kali pukulan.

Tak sebatas itu, di mata Buya Ja’far, ilmu, berikut kemanfaatannya tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan ingatan dan daya nalar. Kebersihan adalah utama, hati, badan dan pakaian. Tak jarang, santri yang diketahuinya tak sempat mandi saat mengaji, akan dipaksa keluar dan pulang ke kamar. Maka wajar, jika hari-hari bersama Buya Ja’far dianggap sebagai hari-hari menegangkan, hari-hari melatih jantung untuk berdetak keras sejak pagi  buta.

Lalu apa yang menjadikan alumni Kempek terasa begitu tersekap rindu untuk selalu bertemu Buya Ja’far? Entahlah. Selain banyak hal yang tak bisa diungkapkan, paling tidak, ada beberapa poin yang karenanya bisa dianggap sebagai manfaat;

1.    Buya Ja’far pernah berkata; “Jangan berharap jadi orang sukses jika tidak mau capek dan lelah,”

2.    Mengaji kepada Buya Ja’far berarti menelusuri jalan panjang tentang pengabdian, kedisiplinan, keistiqamahan, dan kebersihan. Sesuatu yang kerap dibutuhkan santri sebagai modal dan tanggung jawab di tengah masyarakat.

3.    Kecintaan terhadap shalawat digambarkan dalam perkataan Buya Ja’far; “Dengan rajin bershalawat kepada Nabi, apapun yang dicita-citakan oleh kita, Insyaallah tercapai. Itulah sebabnya mengapa saya menekankan kepada para santri untuk rajin-rajin bershalawat,” [NU Online, 19/1/2013]

Dan masih banyak lagi yang oleh penulis sendiri layak dianggap sebagai kurikulum Buya Ja’far dalam mendidik dan mencita-citakan santrinya sebagai sosok yang tangguh, tahan banting, pekerja keras, tidak malas, namun tetap santun. []

*Sobih Adnan, khatimin Alfiyah angkatan 2009, Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM) Pesantren Kempek, Cirebon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here