Kiai Said Jelaskan 3 Hal yang Diperlukan dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara

0
43

KHASKEMPEK.COM, JAKARTA – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kiai Said Aqil Siroj menjelaskan 3 hal yang diperlukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hal ini beliau sampaikan pada acara Pelantikan Dai Kamtibmas dan Ceramah Wawasan Kebangsaan yang diselenggarakan secara virtual, Selasa (5/1/2021).

Dikutip dari dakwahnu.id, Kiai Said Aqil menjelaskan bahwa tiga hal yang diperlukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah akhlak, budaya dan moral, bukan syariat. “Walaupun syariat nya benar, aqidahnya benar, kalau moral budayanya ambruk, martabatnya hancur,” jelasnya.

Sebaliknya, beliau mengatakan walaupun agama tidak pandai sekali, namun memiliki akhlak tinggi, maka budaya dan martabat pasti ikut maju. Hal ini sudah dibuktikan dengan Negara China.

“Mari kita selamatkan Indonesia, bukan dari geografi, ya geografi itu pasti, budaya akhlak moral, bahasa Indonesia harus kita pertahankan. Itu paling penting. Umat itu martabatnya tergantung akhlak budayanya. Budayanya hancur, hancurlah martabatnya bukan agamanya,” tegas Kiai Said.

Kepada seluruh masyarakat, beliau berpesan agar selalu berhati-hati dalam bergaul. Semua diperbolehkan sekolah di Amerika, Eropa ataupun Timur Tengah. Namun, hanya ilmu dan teknologi yang boleh dibawa pulang ke Indonesia, bukan budaya.

Hal ini disebabkan, menurut beliau budaya Indonesia lebih tinggi dibandingkan budaya negara lain. “Budaya kita lebih mulia dari budaya Amerika, Eropa, Arab, dan Timur Tengah. Budaya yang brengsek jangan dibawa kemari, kita lebih baik,” tuturnya.

Kemudian, beliau menekankan kembali 3 prinsip ukhuwah yang dimiliki NU, yaitu ukhuwah islamiyah (kerjasama dengan umat), ukhuwah wathoniyah (kerjasama dengan manusia), ukhuwah insaniyah (persaudaraan antar manusia).

Religius-Nasionalis, Nasionalis-Religius
Penyebaran Islam di Indonesia, tidak terlepas dari peran sembilan wali, yang biasa disebut Walisongo. Islam masuk ke Indonesia melalui berbagai perantara, salah satunya melalui perkawinan.

Hal ini pertama kali terjadi antara Prabu Siliwangi dengan salah satu murid Hasanuddin (ulama China), bernama Subanglarang. Keduanya dikaruniai seorang anak bernama Prabu Kian Santang, yang selanjutnya berhasil mengislamkan seluruh Jawa Barat.

“Itulah cara mengislamkan Jawa Barat, hanya dengan satu cara, kutilang (kuning, tinggi langsing),” jelas Kiai said sambil tertawa.

Dari dulu, dakwah Islam tidak pernah dengan kekerasan, darah ataupun perang, melainkan dengan cara bijak menggunakan akhlakul karimah, membangun pergaulan yang baik, interaksi yang mulia, serta kebersamaan yang baik.

Selanjutnya, Kiai Said menyebutkan bahwa sejak tahun 1617, K.H. Hasyim Asy’ari telah meletakkan prinsip Hubbul Wathon Minal Iman, yang artinya nasionalisme bagian dari iman. “Itu artinya Kiai Hasyim berusaha agar teologi yang dari langit menyatu harmonis dengan politik kebangsaan (nasionalisme), sehingga orang Indonesia nasionalis religius, regius nasionalisme,” jelasnya.

Di akhir, tidak lupa Kiai Said ikut mendoakan jajaran kepolisian agar selalu dimudahkan dalam mengemban tugas-tugasnya. “Mudah-mudahan Allah memberikan kuat lahir batin terutama kepada jajaran polri, dalam pengabdiannya menjaga, mengawal dan merawat kemanaan bangsa ini, baik lintas agama, lintas negara dan lintas budaya,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here