Kiai Said Aqil Kembali Bicara Soal Hubbul Wathon

0
90

KHASKEMPEK.COM – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), K.H. Said Aqil Siroj kembali berbicara soal hubbul wathan. Nahdlatul Ulama (NU) telah mengajarkan hal ini melalui cikal bakal dan habituasinya. Demikian seperti yang dikutip dari laman Dakwah NU.

Membaca sejarah 95 tahun yang lalu, K.H. Hasyim Asy’ari, kakek Gus Dur mendirikan organisasi Islam bernama Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926. Prinsip NU adalah Islam moderat dan Islam toleran dan mempunyai cita-cita memperkuat tiga persaudaraan. Pertama, persaudaraan sesama umat Islam lintas aliran lintas mazhab. Kedua, persaudaraan sebangsa se-tanah air, lintas budaya, suku, dan agama. Ketiga, persaudaraan sesama umat manusia, lintas bangsa dan lintas negara.

Didirikannya NU di bumi Indonesia terlepas dari bentuk negara Indonesia yang bukan negara Islam, NU tidak melihat hal itu. Indonesia adalah negara darussalam, negara yang damai. Semua komponen ada di dalamnya  sebagai saudara sebangsa se-tanah air. Artinya, NU telah menerima konsep nasionalisme sejak sebelum Indonesia merdeka karena nasionalisme tidak bertentangan dengan Islam. Hubbul wathan minal iman. Ajaran dari Hadratussyaikh Hasyim yang tercantum dalam bait lagu Ya lal Wathan tersebut, menghubungkan antara agama, ideologi, dengan politik kebangsaan menjadi suatu keharmonisan.

“Anda seorang yang nasionalis harus beriman kepada Tuhan, beragama. Anda seorang yang beriman beragama harus nasionalis, kira-kira begitu, kesimpulannya begitu,” tutur Kiai Said menyimpulkan.

Mencintai dan membela tanah air hukumnya wajib. Sampai-sampai Hadratussyaikh Hasyim mengatakan, “Barang siapa mengkhianati tanah airnya maka orang itu boleh dibunuh.”

Islam Cinta Damai
Masuknya Islam ke Nusantara tidak lepas dari peranan Walisongo. Bukan dengan cara kekerasan maupun peperangan, melainkan dengan pendekatan budaya. Sehingga masyarakat Nusantara yang masih mewarisi adat istiadat nenek moyang menjadi tertarik memeluk agama Islam. Prinsip inilah yang diteruskan oleh NU.

Oleh sebab itu, NU menolak radikalisme, ekstrimisme, dan sikap kekerasan lainnya yang mengatasnamakan agama Islam.

“Kekerasan dengan mengatasnamakan agama Islam merupakan kezaliman pengkhianatan,” tegas Kiai Said.

Nabi Muhammad SAW ketika menjadi pemimpin di Madinah dengan masyarakat yang heterogen, beliau berlaku adil. Semuanya mendapat hak dan kewajiban sama, kedudukan di depan hukum juga tidak pandang bulu. Rasulullah Saw bersabda,

وَلاَ عُدْوَانَ أِلاَّ عَلَى الظَّلِمِيْن

Tidak boleh ada permusuhan kecuali yang melanggar hukum.

Madinah adalah negara yang berperadaban dan berbudaya. Rasulullah SAW tidak pernah mendeklarasikan negara Islam dan negara Arab atas Madinah. Semua warga negara dihormati dan dihargai tanpa melihat latar belakang agama, suku, dan budaya.

Dukungan NU
Kiai Said menyampaikan bahwa NU hadir di seluruh lapisan masyarakat. Ada 34 cabang NU di luar negeri. Di dalam negeri sampai ke dusun-dusun ada NUBahkan wilayah minoritas muslim seperti Papua dan NTT ada NU. Jika ditotal, Indonesia memiliki 91,4% warga Nahdliyin tersebar di berbagai penjuru negeri.

Melalui lembaga pendidikan independen NU yang disebut pesantren, lahirlah generasi muslim yang toleran dan berakhlak mulia. Sebanyak 22 ribu pesantren NU di Indonesia mendidik generasi penerus bangsa untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang beradab.

Walaupun NU mayoritas, namun tidak menindas kaum minoritas, tetapi melindunginya. NU menghormati dan melindungi semua pemeluk agama, suku-suku kecil, kelompok-kelompok kecil, dan semua elemen masyarakat tanpa terkecuali.

“Semua adalah sodara saya, sodara Nahdlatul Ulama,” ucap Pengasuh Ponpes Kyai Haji Said Aqil Siroj (KHAS) Cirebon itu.

NU berpandangan bahwa Islam dan semangat nasionalisme adalah sebuah harmonisasi. Itulah sebabnya NU berhasil mempertahankan keselamatan negara politik Indonesia.

“Bandingkan dengan negara-negara Islam di  Timur Tengah. Di sana selalu konflik, perang saudara, kenapa? Karena belum harmonis antara Islam dan nasionalisme,” terangnya.

Dalam menangani pandemi Covid-19 ini, NU ikut andil memberi bantuan kepada masyarakat yang terdampak tanpa melihat agama dan suku mereka, “Kita bantu semaksimal mungkin dan alhamdulillah berjalan dengan baik,” ujarnya.

Kiai Said mengatakan bahwa NU sering membantu peribadatan agama lain melalui satuan keamanan pemuda Ansor.

“Kami bantu. Semua, hari raya Hindu, hari raya Buddha, hari raya Konghuchu, hari raya Katolik Kristen, Natal, kita ikut serta mengamankan resepsi agama itu,” paparnya.

Sikap saling toleran seperti ini juga pernah dicontohkan oleh K.H. Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur. Beliau mengakui agama Konghuchu sebagai agama resmi di Indonesia yang sebelumnya dilarang untuk mempertahankan eksistensinya. Menurut Kiai Said, Islam seperti itulah yang benar, sesuai dengan misi Rasulullah SAW. Islam yang toleran, moderat akan abadi sampai hari kemudian.

“Kami selalu menjaga itu semuanya, dan NU akan selalu ada sebagai kekuatan civic society di negara Indoenesia ini.” ucap Kiai Said memungkasi. (fqh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here