Kiai Ahsin Aqil; Dari Mulai Tidak Mau Dicium Tangannya Sampai Sandal Japit Depan Rumah

1
479

KHASKEMPEK.COM – Nama Kiai Ahsin tidak semasyhur nama kakak-kakak beliau, Kiai Ja’far Aqil, Kiai Said Aqil, dan Kiai Musthofa Aqil, semua orang tau siapa beliau bertiga. Kiai Ahsin hanya dikenal oleh santrinya dan semua penduduk langit. Kiai Ahsin lahir pada 24 Juni 1960 M di desa Kempek, Kecamatan Gempol, Kabupaten Cirebon.

Secara umum semua Kiai memiliki keistimewaan masing-masing, pun dalam diri Kiai Ahsin Aqil. Beliau adalah sosok Kiai yang alim dan juga zuhud, kesehariannya yang hanya disibukkan dengan mendidik santri menjadikan beliau sebagai tauladan bagi para santri, bukan sebatas bagaimana meneladani kealiman beliau, tapi juga perilaku keseharian beliau yang penuh dengan kesederhanaan.

Dimata santri Kempek, khususnya warga al-Qodim ada dua hal dari sekian banyaknya kesederhanaan Kiai Ahsin Aqil yang membuat beliau semakin disegani oleh semua santri dan masyarakat sekitar.

Pertama, Kiai Ahsin tidak pernah mau dicium tangannya oleh siapapun. Tamu dari luar, alumni, santri lama ataupun santri baru, dan dalam acara apapun. Haul, khotmil al-Qur’an, juz ‘amma maupun alfiyyah. Hanya ada satu kesempatan untuk bisa mencium tangan Kiai Ahsin, yaitu setelah jama’ah subuh. Sehingga wajar, jika setelah jama’ah subuh, banyak santri yang ikut duduk berbaris demi bisa mencium tangan kiai Ahsin, meskipun si santri tidak ikut jama’ah, seperti yang sering dilakukan oleh penulis.

Sikap Kiai Ahsin yang seperti itu, sangat layak bagi kita para santri untuk menirunya. Kiai Ahsin mengajarkan untuk tidak berbesar diri dengan ilmu yang dimiliki, ingin dihormati oleh semua kalangan dengan menunduk dan mencium tangan kita, dan beliau juga mengajarkan untuk tetap memiliki sikap percaya diri terhadap ilmu yang dimiliki tanpa berlebihan.

Mencium tangan ulama, tidaklah dilarang, bahkan disunnahkan. Banyak riwayat yang menjelaskan kebolehan mencium tangan ulama atau orang salih, diantaranya hadith yang diriwayatkan oleh Ibn Umar:

وَرُوِيَ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ فِي سَرِيَّةٍ مِنْ سَرَايَا رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ قِصَّةً قَال : فَدَنَوْنَامِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَدَهُ

Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA bahwa ia pernah ikut dalam salah satu pasukan infantri Rasulullah SAW kemudian ia menuturkan sebuah kisah dan berkata: “Kemudian kami mendekati Nabi SAW dan mengecup tangannya.

Dalam kitab majmu’ syarah muhaddzab, dijelaskan,

يُسْتَحَبُّ تَقْبِيلُ يَدِ الرَّجُلِ الصَّالِحِ وَالزَّاهِدِ وَالْعَالِمِ وَنَحْوِهِمْ مِنْ اَهْلِ الآخِرَةِ وَأَمَّا تَقْبِيلُ يَدِهِ لِغِنَاهُ وَدُنْيَاهُ وَشَوْكَتِهِ وَوَجَاهَتِهِ عِنْدَأَهْلِ الدُّنْيَا بِالدُّنْيَا وَنَحْوِ ذَلِكَ فَمَكْرُوهٌ شَدِيدَ الْكَرَاهَةِ
Disunahkan mencium tangan laki-laki yang saleh, zuhud, alim, dan yang semisalnya dari ahli akhirat. Sementara mencium tangan seseorang karena kekayaannya, kekuasaan dan kedudukannya di hadapan ahli dunia dan semisalnya, hukumnya adalah makruh dan sangat dimakruhkan.

Imam al-Zaila’i dalam Tabyῑn al-Haqᾱiq Sharah Kanzu al-Daqᾱiq, mengatakan;

وَرَخَّصَ الشَّيْخُ الْإِمَامُ شَمْسُ الْأَئِمَّةِ السَّرَخْسِيُّ وَبَعْضُ الْمُتَأَخِّرِينَ تَقْبِيلَ يَدِ الْعَالِمِ أو الْمُتَوَرِّعِ على سَبِيلِ التَّبَرُّكِوَقَبَّلَ أَبُو بَكْرٍ بَيْنَ عَيْنَيْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَمَا قُبِضَ ، وَقَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ تَقْبِيلُ يَدِ الْعَالِمِ أَوْ يَدِ السُّلْطَانِ الْعَادِلِ سُنَّةٌ فَقَامَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ فَقَبَّلَ رَأْسَهُ

Disunahkan mencium tangan laki-laki yang saleh, zuhud, alim, dan yang semisalnya dari ahli akhirat. Sementara mencium tangan seseorang karena kekayaannya, kekuasaan dan kedudukannya di hadapan ahli dunia dan semisalnya, hukumnya adalah makruh dan sangat dimakruhkan.

Dari semua redaksi di atas menunjukan kebolehan mencium tangan orang salih, alim dengan tujuan mengambil barokah. Kiai Ahsin termasuk orang alim yang layak diambil barokahnya oleh para santri dengan mencium tangan beliau.

Namun, kerendahan hati Kiai Ahsin membuat dirinya tidak mau dicium tangannya oleh siapapun dan dalam rangkaian acara apapun kecuali setelah jama’ah subuh, itupun khusus bagi mereka yang mau duduk berbaris di Mushola al-Qodim.

Kedua, dari kesederhanaan Kiai Ahsin adalah dua pasang sandal japit yang selalu ada diteras rumah beliau. Dua pasang sandal japit itu menjadi pemandangan indah bagi para santri. Sandal yang selalu beliau kenakan ketika hendak mengimami shalat, mengajar, melihat sawah, kebun, dan toko beliau yang ada dikawasan al-Jadid, yaitu toko laisa illa.

Pakaian adalah salah satu alat kesombongan bagi manusia, oleh karenanya manusia akan dikumpulkan di akhirat dalam keadaan telanjang sebagai tanda bahwa semuanya sama dan tidak ada yang patut disombongkan. Ada juga riwayat tentang al-Ghazali dalam pengembaraan mencari ilmu.

Pada satu kesempatan, saat al-Ghazali ingin berguru, beliau disuruh untuk membersihkan kotoran hewan yang ada di depan rumah sang guru. Saat itu al-Ghazali menyisikan lengannya agar jubah yang dikenakan tidak terkena kotoran, namun sang guru berkata, jangan kau sisikan lenganmu biarkan jubahmu kotor.

Sekali lagi, Kiai Ahsin mengajarkan kepada para santri untuk tidak sombong dengan apa yang dimiliki di dunia ini. Pakaian, kendaraan, tempat tinggal dan apapun yang hanya bersifat sementara, terlebih hal yang berbau duniawi. Kita, para santri sangat paham betul bahwa al-Dunya Jifah, bahwa dunia ini adalah bangkai. Ada juga riwayat yang mengatakan; Allah berfirman; kalau saja dunia itu ada sedikit kebaikan, maka akan kuberikan padamu wahai Muhammad.

Begitu hinanya dunia, sehingga sangat tidak layak untuk dipamerkan. Kiai Ahsin memberikan pelajaran bagi kita untuk biasa saja dalam berpenampilan, sederhana dalam menjalani kehidupan. Masih banyak kesederhanaan sosok Kiai Ahsin yang harus kita pelajari. Bukan hanya dua hal itu saja. Diantara yang lainnya adalah Kiai Ahsin mandi di kamar mandi santri.

Bagaimana kita membayangkan sosok Kiai Ahsin, pengasuh pesantren, mandi di kamar mandi santri. Ini sebagai teguran keras bagi para santri, terlebih santri yang sudah lama di pesantren dan merasa ingin selalu diistimewakan dalam mendapatkan fasilitas pesantren.

Bagaimana bisa, santri lama, ingin mendapatkan keistimewaan dalam mendapatkan fasilitas pesantren, sedangkan Kiai Ahsin, sebagai pengasuh pesantren, mau mandi di kamar mandi santri. Alhamdulillah penulis pernah menyaksikan dengan mata kepala, Kiai Ahsin keluar dari kamar mandi santri. Peristiwa itu akan selalu penulis kenang sebagai pengingat agar tidak sombong dan tidak ingin diperlakukan istimewa oleh siapapun dan dalam kondisi menjabat apapun.

Lima tahun sudah Kiai Ahsin meninggalkan kita para santrinya. Jasad beliau sudah tidak lagi menemani kita, namun ruh dan ajaran beliau selalu ada di sekitar kita, di pesantren KHAS Kempek. Tidak ada harapan besar dalam peringatan haul Kiai Ahsin selain bisa meneladani ilmu dan ahwal beliau dalam mendidik santri dan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Penulis: Muhammad Muzakki, Alumni Khas Kempek tahun 2015

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here