KH. Ahmad Zaeni Dahlan: Jadikan Hari Raya Idul Fitri Sebagai Sarana Evaluasi Diri

Memaknai Idul Fitri (Bagian 2)

0
295

KHASKEMPEK.COM – Di dalam makna Al-Fitr yang sudah disampaikan sebelumnya itu terdapat benang merah, yaitu bermakna mengintrupsi sesuatu yang terjadi di tengah hal-hal lain yang sedang berlangsung. Contoh ketika kita puasa kemudian kita membatalkan puasa itu, berarti ini adalah mengintrupsi saat-saat kita berpuasa. Allah misalnya: Fathiros samawati wal ardh. Allah yang menciptakan langit dan bumi.

Maka kata-kata fathir yang semula tidak ada langit dan bumi, kemudian Allah menciptakannya. Ini adalah mengintrupsi sesuatu yang sebelumnya berjalan. Maka tentunya agar hari raya Idul Fitri ini betul-betul menjadi hari bagi kesucian dan kemenangan kita.

Bagaimana hari raya ini bisa dijadikan sebagai momen di samping untuk bersukur dan mengungkapkan rasa bahagianya kita karena telah menyelesaikan puasa selama satu bulan penuh, akan tetapi hari raya Idul Fitri ini juga harus dijadikan sebagai saat-saat kita untuk mengevaluasi atau merenungkan ulang ibadah yang sudah kita lakukan selama bulan puasa ini.

Ulama salaf terdahulu, seperti yang diceritakan dalam kitab-kitab, termasuk diantaranya adalah kitab Ihya Ulumiddin mengatakan, apabila mereka telah menyelesaikan satu tugas dan ibadah tertentu, seperti ibadah puasa, maka mereka tidak langsung merasa puas dan bahagia, akan tetapi justru merasa waswas dan khawatir, barangkali ibadah puasanya tidak diterima oleh Allah SWT.

Oleh karena itu, kita lihat di dalam ajaran Islam, di mana setiap selesai ibadah itu senantiasa kita dianjurkan untuk beristighfar. Setelah shalat atau haji, kita juga dianjurkan untuk beristighfar. Ini menunjukkan bahwa kita seharusnya tidak segera merasa puas dengan ibadah yang telah kita selesaikan.

Hal ini juga yang berkaitan dengan ayat Al-Qur’an, faidza faroghta fanshob wa ila robbika farghob. Maka apabila kamu telah menyelesaikan ibadah mu, maka lakukanlah dengan baik ibadah mu yang lain. Dan hanya kepada Tuhan mu kamu bisa menaruh harapan.

Ada maqalah yang diucapkan oleh Shohibul Hikam, Ibnu Athoillah Al-Iskandari yang mengatakan bahwa,

من وجد ثمرة عمله عاجلاً فهو دليل على وجود القبول

Artinya, “Siapa yang merasakan buah dari amalnya seketika di dunia, maka itu menunjukkan Allah menerima amalnya.”

Maksud dari maqolah ini adalah bagaimana amal perbuatan kita betul-betul berpengaruh pada kualitas peningkatan ibadah kita dan berdampak positif terhadap tingkat ketakwaan kit kepada Allah SWT dan bagaimana amal ibadah ini bisa menjadikan kita sebagai pribadi yang peduli terhadap sesama.

Kita juga bisa menilai sejauh manakah ibadah kita itu bisa diterima dengan bagaimana setelah berpuasa ini dan di saat-saat hari raya Idul Fitri nanti, kita betul-betul sudah menanamkan dalam hati ini kualitas ibadah tersebut serta rasa kepedulian terhadap sesama. (KHASMedia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here