Ketika Santri Galau Pilih Alfiyah Atau Kuliah

0
156

KHASKEMPEK.COM – Memilih diantara dua pilihan kadang menjadi sesuatu yang mengundang kegalauan. Bahkan terkadang, karena dua pilihan, seseorang lebih memilih mengakhiri kehidupan. Tapi bagi santri, ada banyak cara untuk memantapkan pilihan yang paling tepat diantara dua hal yang menjadi pilihannya, seperti dengan istikharah, menghitung ayat-ayat Al-Quran yang telah ditentukan, shalat tahajud, dan lain sebagainya. Namun kadang, jawaban yang mengarahkan pilihannya itu tidak datang seketika. Tidak ‘sim salabim’ datang.

Diantara dua pilihan yang kadang dihadapi santri Pondok Pesantren KHAS Kempek adalah memilih menyelesaikan Alfiyah atau memilih kuliah. Karena di Kempek, untuk mengkaji Alfiyah tidak dibenarkan untuk sambil kuliah. Begitupun sebaliknya. Santri harus memilih satu diantara dua pilihannya agar lebih fokus. Inilah yang sering dihadapi oleh beberapa santri Kempek, dan biasanya dihadapi oleh santri yang dari rumah lulusan SMP/MTs, yang otomatis mendaftar masuk pesantren di tingkat Aliyah (MA).

Tidak sedikit santri yang mengalami kegalauan memilih Alfiyah atau kuliah itu tanpa konsultasi dengan senior pondok atau dengan Masyayikh langsung. Meskipun ada yang tetap kokoh dengan tujuan awalnya, yaitu mondok, sehingga ia memilih melanjutkan menyelesaikan Alfiyah, namun tidak sedikit dari santri yang menemui kegalauan itu kemudian memilih kuliah dan memutuskan tidak melanjutkan Alfiyah.

Tentu saja demikain itu perlu dipertimbangkan matang-matang. Karena kitab Alfiyah merupakan kitab lengkap yang mengkaji tata bahasa Arab, yang, jika dikuasai dengan baik, maka akan banyak manfaatnya, dan salah satunya seorang santri tidak bingung saat sudah terjun di masyarakat atau ketika melanjutkan pendidikan. Alfiyah dapat menjadi pionir gerak seorang santri ketika menggali hukum di masyarakat dan menjadi penuntun ketika santri mengkaji kajian Islam di perkuliahan.

Memang, ketika awal masuk di pesantren dimulai dari Aliyah, maka santri akan belajar sampai selesai Alfiyah dalam waktu enam tahun. Dan dalam tiga tahun – setelah santri menyelesaikan Aliyah – maka dipastikan ia tidak lagi sambil sekolah ataupun kuliah, dan, ia hanya mengaji. Selain itu, mungkin akan tertinggal dalam mengenyam pendidikan umum antara dua hingga tiga tahun.

Tetapi sesungguhnya itu bukan menjadi problem. Karena urgensi kitab Alfiyah melebihi apapun. Lebih baik tertunda berpendidikan umum dalam beberapa tahun dari pada tidak menghatamkan kitab Alfiyah yang di dalamnya penuh intan dan permata untuk masa depan. Karena Alfiyah akan menjadi washilah kebikan bagi santri baik di dunia masyarakat atau di dunia akademik. Dan, ribuan orang di luar pesantren mendambakan bisa menkaji Alfiyah hingga rampung.

Oleh itu, jika seorang santri mengalamai kegalauan memilih Alfiyah atau kuliah, maka alangkah baiknya diskusikanlah dengan senior pondok dan atau dengan Masyayikh. Karena yakinlah bahwa keputusan mereka adalah keputusan terbaik. Dan, memilih menyelesaikan Alfiyah adalah jalan terbaik di antara dua pilihan terbaik. Dengan memilih menyelesaikan Alfiyah, santri tetap dapat melanjutkan kuliah ditambah memiliki modal pemahaman Alfiyah yang mengandung segudang manfaat. Namun ketika memilih kuliah, santri tidak akan bisa untuk kembali menyelesaikan Alfiyah. (KHASMedia)

Baca juga: Membangun Bangsa Beragama dengan Pancasila: Catatan Inspirasi KH Said Aqil Siraj

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here