KETELADAN MBAH YAI AQIL SIROJ

0
205
Kiai Aqiel bersama istri dan kelima anak-anaknya, menantu serta cucu. Foto: Dokumen KHAS Kempek

Salah seorang kiai kampung dari Cirebon, KH. Aqil Siroj yang wafat tahun 90-an. Kiai yang menjadi pendiri Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM) Pondok Pesantren Kempek itu dikarunia 5 orang anak, semuanya laki-laki. Berkat kegigihannya dalam mendidik dan merawat anak, kelima anaknya itu berhasil menjadi panutan di tengah-tengah umat. Mereka adalah:

1. KH. Ja’far Sodiq Aqil Siroj (Alm)
2. Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA
3. KH. Musthafa Aqil Siroj
4. KH. Ahsin Syifa Aqil Siroj (Alm)
5. KH. Ni’amillah Aqil Siroj

“Belum tentu saya memiliki anak-anak seperti saya, yang Profesor dan Doktor,” tutur Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj yang akrab disapa Kang Said. “Ayah saya jangankan punya sepeda ontel, beli rokok pun tak mampu. Dulu setelah ayah memanen kacang hijau, pergilah ia ke pasar di Cirebon. Zaman dulu yang namanya mobil transportasi itu sangat jarang dan hanya ada pada jam-jam tertentu,” lanjut Kang Said menceritakan keadaan ayah semasa hidupnya.

Suatu hari Kiai Aqil hendak membelikan perhiasan emas untuk istrinya. Hidupnya yang teramat sederhana, maka suatu keistimewaan bagi beliau bisa membelikan emas untuk istri tercintanya. Setelah kacang hijau hasil panenannya dijual dan mendapatkan sejumlah uang yang cukup untuk dibelikan emas, pergilah ia ke toko emas. Akhirnya dibelilah emas itu dan siap-siap untuk dibawa pulang.

Ia harus menaiki becak terlebih dahulu sebelum akhirnya naik mobil angkutan umum agar bisa sampai ke kediamannya di Kempek. Begitu mobil melintas di depannya, langsung saja beliau segera turun dari becak. Tidak mau ketinggalan kesempatan, karena untuk bisa menaiki mobil angkot perlu berjam-jam lamanya.

Sampailah Kiai Aqil Siroj di Kempek. Begitu masuk ke dalam rumah, istrinya yang menunggu sedari tadi langsung bertanya: “Bah, mana emas yang Abah beli dari pasar tadi?” Ternyata emasnya sudah hilang. Mungkin terjatuh saat perjalanan pulang. Dan Kiai Aqil Menyikapi nya biasa saja. Seperti tidak terjadi apa apa. Padahal beliau telah kehilangan emas. Subhanallah…

Sumber: Teras Kiai Said

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here