Karakteristik Orang yang Memakmurkan Masjid Menurut Kiai Said Aqil

0
256

KHASKEMPEK.COM – Orang yang meramaikan masjid adalah orang yang mempunyai kepedulian dan keprihatinan sosial. Demikian Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA yang merupakan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sekaligus Penasihat Yayasan Khas Kempek Cirebon menjelaskan tentang sifat-sifat orang yang memakmurkan masjid.

Berikut ini karakteristik orang yang memakmurkan masjid menurut Kiai Said Aqil yang dikutip dari sambutan beliau pada acara Peresmian Masjid An-Nahdloh dan Ground Breaking Asrama Santri Pondok Pesantren An-Nahdliyah Desa Padamulya Kecamatan Maleber Kabupaten Kuningan, Ahad, 22 November 2020.

Dalam QS. At-Taubah ayat 18 Allah Swt berfirman yang berbunyi:


إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Pertama, orang yang meramaikan masjid adalah orang yang beriman kepada Allah Swt. Iman bahwa Allah adalah kholiquna, mudabbiruna, muqoddiruna. Allah adalah rofi’una, khofiduna, mu’izzuna wa mudzilluna, muhyina wa mumituna, roziquna wa qobiduna. Allah adalah mughnina. Allah adalah malikuna dzul jalali wal ikrom. Itulah orang yang beriman, kata Kiai Said, harus yakin bahwa segalanya Allah. Itu namanya tauhid rububiyah.

Setelah kita yakin bahwa Allah segalanya yang menentukan, mentakdirkan, memberi rizki, memberi kehidupan, kekuatan, yang mengangkat, yang menurunkan. Maka konsekwensinya, laa ma’buuda illa Allah. Laa mathluuba illa Allah. Laa maqshuuda illa Allah. Laa marghuuba illah Allah. Laa wujuuda illa Allah. Haqiqi, haqiqotan.

Kalau sudah yakin bahwa Allah segalanya yang menentukan kita, maka konsekwensinya kita tidak akan menyembah kecuali Allah. Kita tidak akan menuju kecuali Allah. Kita tidak akan takut kecuali kepada Allah. Kita tidak akan berharap kecuali kepada Allah. Karena Allah lah wujud yang hakiki.

Kalau kita ini diwujudkan. Allah wujud. Kalau kita diwujudkan oleh yang wujud. Kita ini diadakan oleh yang ada. Yang ada hanya Allah. Itulah orang yang beriman seperti ini orang yang akan meramaikan, memakmurkan masjid. Kalau orang yang tidak punya iman seperti ini, berat rasanya untuk meramaikan masjid.

Kedua, orang yang meramaikan masjid adalah orang yang beriman bahwa nanti ada kehidupan akhirat. Iman kepada hari akhir menimbulkan kita mempunyai murokobah, mempunyai misi yang sangat jauh. Kalau kita mempunyai rencana untuk lima tahun yang akan datang, sepuluh tahun atau agenda dua lima tahun yang akan datang, pasti mempunyai rencana, kita mempersiapkan masa yang akan datang sampai yaumil akhir.

Itulah visi misi yang harus kita bangun iman bil akhir, maka kita akan punya murokobah dengan harapan optimis kita akan menjadi ahli jannah. wal tandhur nafsum ma qoddamat lighod.

Ketiga, wa aqoomus sholah. Orang yang meramaikan masjid adalah orang yang iqoomus sholah. Apa bedanya adaaus sholah, menjalankan sholat dengan iqoomus sholah, mendirikan sholat?

Kalau addaus sholah, kita sholat, sudah selesai. Namun yang diperintah Allah bukan addus sholah, tetapi iqoomus sholah, mendirikan sholat. Saya sholat, istri saya sholat, anak sholat, menantu sholat, cucu sholat dan tetangga juga sholat. Itu namanya iqoomus sholah.

Kita sholat dan istri sholat tapi anak tidak sholat, maka belum iqoomus sholah. Kita sholat, istri sholat dan anak sholat tapi menantu tidak sholat, maka belum iqoomus sholah. Kita sholat, istri sholat, anak sholat dan menantu sholat tapi tetangga tidak sholat, maka belum iqoomus sholah. Makanya bukan adaaus sholah tapi iqoomus sholah. Beda antara adaa dengan iqoom.

Keempat, wa aataz zakah. Orang yang meramaikan masjid adalah orang yang punya komitmen sosial yang tinggi, tidak membiarkan tetangganya kelaparan, tidak tegah melihat temannya kelaparan, maka pasti dia akan membayar zakat. Syukur tidak hanya zakat tapi lebih dari zakat.

Orang yang meramaikan masjid itu mempunyai kepedulian dan keprihatinan sosial. Bukan umatku kalau dia tidur kenyang, tetangganya kelaparan. Bukan umatku kalau tidak peduli dengan nasib sesama.

Jadi kalau masjidnya sudah bagus, maka masyarakat sekitar juga harus sejahtera. Ada masjid bagus dua lantai tapi kanan kirinya kumuh, becek, anak kecil telanjang dan tidak sekolah, orang-orangnya kurus-kurus dan tidak bergizi, percuma itu masjidnya bagus. Maka masjid diramaikan dengan semangat aataz zakah. Semangat kepedulian sosialnya maksimal.

Terakhir, wa lam yakhsya illa Allah. Orang yang meramaikan masjid adalah orang yang tidak merasa takut kecuali kepada Allah. Sekarang kita sedang butuh orang yang seperti ini. Orang yang tidak peduli dengan apapun kecuali takut kepada Allah. Kita mengatakan iya ketika harus iya, kita mengatakan tidak terhadap kebatilan.


إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.

Amanat apa yang alam semesta, langit, bumi dan gunung menolak ketakuran tapi manusia menerima? Amanat apakah itu?Amanat berani mengatakan iya ketika di hadapan yang benar dan berani mengatakan tidak terhadap yang batil.


وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ

لِّـكَيۡلَا تَاۡسَوۡا عَلٰى مَا فَاتَكُمۡ وَلَا تَفۡرَحُوۡا بِمَاۤ اٰتٰٮكُمۡ‌ؕ

Tidak peduli dengan komentar orang, tidak peduli dengan bully dari manapun. Ketika kamu sukses, tidak sombong dan ketika kamu gagal, tidak minder. Ketika kamu banyak yang memuji, tidak sombong. Ketika kamu banyak yang mencaci maki tidak minder. Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here