Kajian Tafsir Jalalain, Iqtibas 5 Surat Al Maidah Ayat 3: Arti Nikmat

0
78

KHASKEMPEK.COM – Pada hari ini, di samping Allah telah menyempurnakan Agama ini bagi orang-orang mukmin, Allah juga telah mencukupkan nikmat-Nya kepada mereka. Allah berfirman: وأتممت عليكم نعمتي (dan telah Aku cukupkan bagimu ni’mat-Ku).

Yang dimaksud nikmat di sini adalah menjadikan perjuangan Nabi Muhammad dan para sahabat telah mencapai pada tahap di mana keberadaan orang-orang kafir sudah bukan lagi menjadi ancaman yang perlu ditakuti. Penduduk kota Mekkah dan sekitarnya yang semula memusuhi mereka dan menghambat perjuangan dakwah mereka, sekarang sudah menjadi pengikut-pengikut yang setia dari Agama ini.

Allah pun telah menetapkan rambu-rambu yang lebih jelas tentang hal-hal yang diperbolehkan dan hal-hal yang terlarang dari tradisi-tradisi masyarakat Arab saat itu. Sehingga dengan demikian orang-orang mukmin dapat menunaikan ibadah haji dengan lebih baik tanpa rasa takut terhadap musuh yang mengancam, dan tanpa harus merasa risih dan sungkan dicampuri oleh praktik-praktik terlarang yang kerap dilakukan oleh orang-orang musyrik sebelum itu.

Ini semua adalah merupakan nikmat yang telah Allah anugrahkan kepada orang-orang mukmin, untuk melangkapi nikmat-nikmat yang lain yang sudah banyak diberikan kepada mereka. Dan di masa depan pun, Allah senantiasa memberikan mereka nikmat-nikmat-Nya yang lain.

Ayat ini menggunakan kata أكمل (akmala) ketika menjelaskan tentang kesempurnaan agama dan أتم (atamma) ketika menjelaskan tentang kesempurnaan nikmat. Kenapa dibedakan? Apa kesamaan dan perbedaan antara keduanya?

Para ulama telah banyak menjelaskan hal ini. Salah satu yang dianggap paling konsisten dengan penggunaan kata-kata tersebut di tempat lain di dalam Al Qur’an adalah bahwa kedua-duanya menunjukkan makna menyempurnakan, yaitu sebuah proses yang menjadikan suatu objek tertentu menjadi lengkap tak kurang satu apa pun. Perbedaannya adalah bahwa أكمل (akmala) prosesnya tidak harus bersambung terus menerus, artinya ia bisa dilakukan secara bertahap, sebagian dahulu kemudian berhenti, dan kemudian dilanjut kembali, dan seterusnya sampai menjedi lengkap. Sedangkan أتم (atamma) prosesnya bersambung, tidak terputus sampai ia selesai dan lengkap.

Maka kesempurnaan agama yang dalam ayat ini menggunakan أكمل (akmala) dicapai melalui proses yang bertahap, antara satu ketetapan dan ketetapan yang lainnya sering kali dipotong dengan jeda waktu yang cukup lama. Kalau kita artikan دين (diin) disini dengan kewajiban beribadah maka antara satu kewajiban dengan kewajiban yang lainnya tidak dijelaskan secara bersambung. Sholat misalnya diwajibkan sebelum hijrah, puasa diwajibkan di tahun ketiga hijrah kemudian disusul dengan zakat dan terkhir haji diwajibkan di tahun ke tujuh hijrah. Antara satu kewajiban dengan kewajiban lainya terpisah dalam waktu yg panjang.

Berbeda dengan kesempurnaan nikmat yang dalam ayat ini mengunakan أتم (atamma). Ia adalah merupakan proses yang tidak terputus karena seperti kita tahu bahwa manusia tidak akan sekejap pun bisa lepas dari nikmat Allah. Dalam mengartikan kesempurnaan nikmat dalam ayat ini berarti nikmat-nikmat yang dirasakan orang-orang mukmin hari ini merupakan kelanjutan dan keberlangsungan dari nikmat-nikmat yang telah Allah anugrahkan kepada orang-orang mukmin sebelumnya. Nikmat-nikmat Allah akan senantiasa terlimpahkan atas mereka, mengalir seperti aliran air yang tidak mengenal kata putus, bahkan di tengah-tengah keterpurukan dan kekalahan pun, nikmat dan karunia Allah senantiasa hadir untuk mereka.

Para ulama juga menjelaskan hikmah dan rahasia di balik kata دين (diin) yang disandarkan pada كم (kum, dhomir jama’ mukhatob) yang berarti kalian, sedangkan kata nikmat disandarkan pada ي (ya, dhomir mutakallim wahdah) yang berarti saya. Rahasianya adalah karena agama merupakan seperangkat nilai dan tata cara yang seorang lakukan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Maka urusan agama, meski ia sejatinya datang dari Allah, adalah urusan penganut agama. Sedangkan nikmat, meski yang merasakannya adalah manusia, sepenuhnya merupakan otoritas dan milik Allah, Dia memberikanya kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here