Jasadmu Telah Tiada, Tapi Nasihatmu Tetap Tersua

0
471

KHASKEMPEK.COM – Bagi kebanyakan santri, termasuk saya, hari libur adalah kado terindah semasa mondok. Jika sudah mendekati liburan, melihat kalender seolah hanya nampak satu angka yang sudah dilingkari dengan keterangan di sampingnya “LIBURAN”. Dicetak tebal dengan huruf kapital.

Bahkan sudah alumni pun atmosfir itu masih lekat dalam kenang. Menjelma rindu yang terlalu berat untuk dilewatkan. Jika Tuhan mengizinkan, ingin rasanya masa itu terulang. Biarlah menjadi cerita indah masa mondok dulu. Benar begitu, bukan?

Bagaimama saat-saat merapihkan pakaian ke ransel, merancang agenda selama di rumah, saat sowan izin ke kiai untuk berlibur, saat melunasi rindu sanak-saudra. Ah, semua itu terlalu indah untuk dilupakan.

Dulu saat penulis masih di Kempek, salah satu yang paling dikenang adalah ketika sowan ke kiai pamit izin liburan. Pasti ada saja nasihat sebagai bekal untuk liburan di rumah. Bagi saya, dan santri pada umumya, nasihat kiai adalah titah sakral yang ultraparadoks.

Hal demikian juga berlaku bagi sosok panutan almarhum KH Ja’far Shodiq ‘Aqil. Memang saat penulis di Kempek tidak merasakan ngaji langsung ke beliau. Karena saat beliau masih hidup, penulis masih kelas bawah, yang ngaji ke kiai langsung biasanya kelas atas, termasuk ke Abuya, sapaan akrab sang kiai bagi santrinya.

Namun untuk sowan langsung ke kiai menjelang pulang liburan, tentu semua santri merasakannya. Dari santri santri junior sampai yang paling senior. Termasuk saat sowan ke Abuya.

Ada nasihat yang selalu diberikan Abuya pada para santri saat sowan pamit liburan. Sejauh yang penulis amati, nasihat yang beliau pada para santri saat momen itu selalu sama. Kurang lebih seperti ini.

Abuya selalu berpesan agar jangan sekali-kali menatap wajah orang tua, meskipun saat ngobrol empat mata. Bagi Abuya, memandang muka orang tua, apalagi menatap matanya secara lagsung adalah etika yang kurang baik. Diusahakan selalu menunduk saat berhadapan dengan orang tua.

“Jangan sekali-kali menatap wajah orang tua,” tegas Abuya.

Bayangkan, menatap wajahnya saja tidak boleh. Apalagi berkata kasar atau yang lebih dari itu. Saat di luar sana banyak degradasi moral anak terhadap orang tuanya sendiri. Bahkan ada kasus anak membunuh ibu kandungnya. Sungguh pendidikan moral yang sederhana tapi begitu luas maknanya.

Abuya juga selalu berpesan pada santri-santri yang hendak pulang agar tetap mengormati gurunya. Entah itu guru dulu waktu di sekolah dasar atau guru ngaji iqro waktu di rumah sebelum mesantren.

“Kalau kalian naik sepeda, ketemu guru SD. Turun, jangan naiki sepedanya. Itu tetap guru kalian, bukan mantan guru,” tegas putra pertama KH ‘Aqil Siroj (pendiri Ponpes KHAS Kempek Cirebon).

Sederhana memang. Tapi inilah Abuya. Seorang kiai yang berpandangan jauh ke depan. Coba anda lihat sekarang, banyak kasus murid mengintimidasi guru sendiri.

Belum lagi yang kemarin sempat viral, beberapa anak didik yang sudah sukses dan memamerkan kesuksesannya dengan menunjukkan nada merendahkan guru yang dulu mendidiknya. Na’udzubillah. Apakah lupa dulu guru yang mengajarinya belajar mengeja aksara demi aksara?

Hari ini, tepat 01 Jumadil Akhir 1435 H. Kiai yang terkenal disiplin tinggi dan tegas itu meninggalkan para santri dan segenap keluarga. Meski jasadmu telah tiada, nasihatmu tetap tersua. Tertulis jelas dalam kenang menjelma. Menuntun detak langkah para santri dan orang-orang yang merindu gulana. Rinduku abadi, Abuya.

Alfatihah buat Abuya KH Ja’far Shodiq ‘Aqil.

(KHASMedia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here