Oleh: Sobih Adnan
Fa in dzakaranî fi nafsihi, dzakartuhu fi nafsî. Siapa yang mengingat-Ku di dalam hati, maka akan kusimpan namanya di dalam “sanubari” (Hadits Qudsi).

Kiai Muh, begitu kebanyakan orang menyapanya. Putra ketiga Mbah Aqil Siroj Kempek Cirebon, Jawa Barat ini punya tempat tersendiri di benak para santri dan alumni.

KH Muhammad Musthofa Aqil Siroj, menjelma pujaan banyak hati. Terlebih, bagi santri yang memiliki angan-angan untuk menjadi mubalig atau dai.

Suaranya merdu, intonasinya empuk, redaksi rapi, guyonan yang renyah, serta retorika nan gagah menjadi ciri khas dakwah pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon ini. Ditambah kecerdasan tema yang melulu baru, membuat nama Kiai Muh bak tiada tandingannya.

Alhasil, amatlah wajar jika angka-angka dalam kalender Kiai Muh nyaris terlingkari setahun penuh. Hanya saja, banyak pula yang penasaran, bagaimana cara Kiai Muh membagi jiwa dan badan dalam seabrek pengabdian?

Ragam amal, satu tujuan

Menyampaikan tausiyah, bukan satu-satunya amanah. Kiai Muh memiliki banyak tanggung jawab yang tak sekali-dua mesti memprioritaskan satu ketimbang yang lainnya.

Selain mengasuh ribuan santri, Kiai Muh juga mengemban tugas tak sederhana sebagai salah satu rais syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Belum lagi, dalam dua tahun terakhir, ia dipercaya memimpin Majelis Dzikir Hubbul Wathan (MDHW), komunitas pemecah rekor yang mampu melaksanakan dzikir dan selawat massal pertama di Istana Negara.

Sekali waktu, penulis mendapatkan keberkahan lantaran berkesempatan semobil dalam sebabak perjalanan. Iseng-iseng, kepada Kiai Muh penulis bertanya, bagaimana cara seseorang agar tetap mampu menjaga kepekaan di tengah hiruk-pikuk dunia yang kian dipenuhi kesemrawutan.

Pertanyaan ini meluncur bukan tanpa sebab. Penulis merasa perlu mengajukan itu karena pengalaman pribadi sekian tahun hidup di Jakarta terasa makin menantang dan menggoyahkan rasa kepedulian.

Mendengar itu, dengan penuh senyum Kiai Muh dawuh; tak ada yang salah untuk selalu mengikuti ritme dan tuntutan kehidupan. Ibarat jalan, apa yang ditekuni dalam keseharian memang beragam. Yang terpenting tetap pada satu tujuan, yakni, kata Kiai Muh, selalu diniatkan meraih keridaan Allah subhanahu wata’ala.

“Apa pun profesi dan bidang yang dilakoni, asal tak lepas mengingat ayat-ayat Tuhan, niscaya selamat dunia akhirat,” nasihat Kiai Muh, menggenapi.

Dalam kesimpulannya, masing-masing orang punya kewajiban mensyukuri hal-hal yang sudah ditakdirkan baik dalam kehidupannya. Namun usaha untuk menggapai kerelaan Tuhan niscaya tak boleh lepas dikandung badan.

Ada banyak cara mensyukuri takdir. Ambil misal, kata Kiai Muh, seseorang yang ditakdirkan sebagai santri tak perlu memikirkan jalan dzikir yang lain-lain. Jalan dzikir santri cukup sederhana. Yaitu, melakukan sesuatu yang bisa kian meningkatkan amalan dan status yang dikandungnya.

Persisnya, Kiai Muh berpesan, dzikir santri adalah cukup dengan mendaras Al-Qur’an dan menelaah kitab kuning tak berkesudahan.

Silaturahmi sebagai laku spiritual

Banyak yang membagi, selain sebagai makhluk spiritual yang mengemban penghambaan penuh kepada Tuhan, manusia juga makhluk sosial. Namun menurut Kiai Muh, tidak. Niat baik yang mendasari kerja-kerja sosial itu justru akan mengembalikan seseorang kepada laku spiritual.

Gemar bersilaturahmi, misalnya, nilai ibadahnya bisa besar tak terkira. Asalkan memenuhi satu syarat, yakni selalu ditekadkan untuk melaksanakan mandat manusia sebagai khalifah. Yang sudah barang tentu, berkewajiban penuh untuk menjaga nilai-nilai persaudaraan antarsesama manusia.

Bukan sekadar nasihat. Ihwal wejangan Kiai Muh satu ini, bolehlah diuji dengan sekali waktu sowan ke Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon. Bagi siapa pun yang pernah berkunjung, niscaya akan mendapatkan kesan sambutan dan penerimaan yang begitu hangat.

Kiai Muh, akan memperlakukan dengan baik setiap yang datang. Siapa pun, lepas dari urusan kelas sosial, profesi, maupun latar-belakang.

Pada Oktober lalu, penulis berkesempatan merekam kesan beberapa “orang kota” yang -tidak memiliki banyak pengalaman bersentuhan dengan pesantren- sepulang diantar sowan ke Kiai Muh. Berulang kali mereka mengaku terkagum, tradisi pesantren yang di luar terdengar kering dan kaku, ternyata menyimpan kehangatan dan semangat kekeluargaan tiada tara.

Jelas saja. Karena penulis ingat betul, sewaktu kami tiba dan menunggu beberapa waktu di beranda rumah, Kiai Muh menyambut para tamunya dengan semringah. Sekali-dua obrolan pun tak lupa disisipi kelakar, menjadikan suasana kian cair dan menambah keakraban.

Inilah jalan dzikir dunia pesantren. Laku keislaman khas Indonesia yang tak banyak dimiliki belahan dunia lainnya. Tak ada lagi pemisah kala manusia berperan dalam ruang domestik atau pun sosial. Kuncinya di dalam niat, semua yang dilakukan harus bernilai kebaikan.

Penulis adalah Sekretaris Jenderal Pengurus Ikatan Alumnus Pondok Pesantren KHAS (Ikhwan KHAS) Kempek Cirebon. Bekerja sebagai editor konten di Metro TV dan redaktur Medcom.ID

Sumber:
http://www.nu.or.id/…/101240/jalan-dzikir-kiai-musthofa-aqil