Cerpen Santri (Edisi 2), Pesan Kiai Ahsin

0
59

KHASKEMPEK.COM – Setelah menyelesaikan pendidikan di Pesantren Kempek, Cirebon, Raka kembali ke kampung halamannya, di daerah kaki Gunung Slamet, Tegal.

Di desanya, Raka membantu orang tuanya menggarap sawah sambil berternak kambing dan ayam di pekarangan belakang rumah. Malamnya mengisi pengajian di musala depan rumahnya yang asri. Pagi hari setelah subuh ia mengajari membaca Al-Qur’an pada beberapa anak saudara dan tetangga.

Hari demi hari dilalui Raka dengan rutinitas tetap. Tanpa terasa, sudah hampir satu tahun ia berada di rumah. Hingga suatu saat, orang tuanya yang sudah sepuh, memintanya merantau ke kota, mencari kerja untuk membantu membiayai pendidikan kelima adiknya.

“Bismillahirrahmanirrahim…” kata Raka keluar rumah, meninggalkan desanya. Hari itu ia berangkat ke kota mencari kerja, demi membantu kedua orang tuanya.

Tempat pertama yang ia datangi adalah sebuah perusahaan swasta milik konglomerat asal luar negeri. Tempatnya cukup besar, gerbang masuknya saja sangat lebar dan tinggi dengan pos keamanan yang dilengkapi kamera CCTV.

Oleh satpam, ia diantar ke bagian administrasi. Di sana diterima staf bagian personalia. Sesudah menyampaikan maksud dan tujuan, ia diminta menunggu panggilan resmi esok hari. Saat hendak pamit, Raka menanyakan musala karyawan, mau ikut buang hajat kecil.

“Silahkan pake kolah tamu saja, di sebelah kanan gerbang masuk. Di sini tidak ada musala” ujar staf tadi dengan ramah.

Raka segera ke tempat yang dimaksud. Selesai buang hajat, ia penasaran dengan perkataan staf kantor tadi. Mana mungkin, perusahaan sebesar ini, dengan ratusan karyawan tidak memilliki tempat untuk ibadah. Sengaja menanyakan pada satpam ketika hendak pulang.

“Memang di sini gak ada musala, Mas” jawab satpam kepada Raka.
“Kalau karyawan mau salat di mana, Pak?” tanya Raka masih penasaran.
“Disana, Mas. Sekitar tujuh menit dari sini kalau naik motor” satpam menunjuk arah yang lumayan jauh.

Raka tertegun. Teringat pesan Kiai Ahsin, gurunya di pesantren: “aja luruh pegawean sing gawe anggel ngelakoni sholat” (jangan mencari pekerjaan yang membuat susah melaksanakan salat).

Raka langsung menggambil keputusan, tidak akan menerima panggilan. Meski peluang diterima bekerja diperusahaan cukup besar, karena ada pegawai yang baru diberhentikan.

Hari berikutnya, Raka melamar di sebuah perusahan biro pengantaran barang mewah antar provinsi. Oleh pegawai yang menerimanya, Raka mendapatkan informasi seputar rute dan jam pemberangkatan.

Tiba-tiba terpikir olehnya menanyakan bagaimana waktu istirahat dan salat. Mendapatkan pertanyaan demikian, pegawai nampak terkejut, sebelum akhirnya menjawab, kalau istirahat dan salat disesuaikan dengan kondisi perjalanan, mengikuti rute dan jam. Tidak ada waktu tetap untuk salat. Karena semua harus dikerjakan dengan cepat. Perusahaan sangat mengutamakan ketepatan waktu. Keterlambatan akan menjadikan konsumen beralih pada jasa perusahaan saingan. Karenanya, ada pemotongan gaji bagi setiap keterlambatan.

Raka merenung. Menimbang-nimbang kemampuan dirinya. Ia merasa berat. Lagi-lagi teringat pesan Kiai Ahsin. Segera ia meninggalkan ruangan mewah ber-AC itu. Mantan lurah pondok itu yakin, di luar sana, pasti ada pekerjaan yang sesuai pesan gurunya.

Hari berikutnya, Raka mendatangi perusahaan yang bergerak di bidang kelautan. Sebuah perusahaan milik negara tetangga. Ia takjub dengan deretan kapal laut yang berukuran besar dengan tiang tinggi menjulang, berjajar rapi di dekat gedung tinggi berarsitek unik.

Raka bertemu bagian informasi. Bertanya kesana kemari, ia mendapatkan keadaan yang sama. Bahkan lebih parah. Ia bisa berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan di laut.

Raka bertanya-tanya dalam hati. Bagaimana kalau ada ombak besar? Atau kapalnya rusak dan tenggelam? Apa yang terjadi kalau ia sakit atau meninggal di kapal? Adakah yang mau mensalatinya? Dikubur di mana? Ah, jangan-jangan malah dilempar ke laut. Buru-buru Raka meninggalkan kantor megah dan luks tersebut.


Malam itu, dipinggiran kota, seperti biasa, Raka istirahat di rumah neneknya. Sambil tiduran, membaca nadzom alfiyah ibnu malik yang selalu ia bawa. Kitab kecil itu telah menjadi semacam ‘jimat’, yang selalu mengingatkan dirinya sebagai seorang santri. Ia tersenyum sendiri. Mengingat kenangan indah belasan tahun menimba ilmu di ‘penjara suci’. Terbayang wajah guru-gurunya ‘Kiai Pandawa Lima’, yang sangat sabar dan disiplin mengajarkan berbagai pelajaran dalam kitab kuning kepada santri-santrinya.

Raka masih ingat, saat harus menempuh pendidikan SLTP dan SLTA secara paket, karena jadwal mengajinya di pondok sangat padat. Dengan modal ijazah paket inilah, ia bisa kuliah di perguruan tinggi di Cirebon, sambil terus mengabdi, berkhidmah kepada kiai di pondok pesantren. Dan ijazah kuliah inilah yang sekarang dibawa kemana-mana untuk melamar pekerjaan.


Pagi-pagi sekali, Raka kembali ke kota. Kali ini menuju daerah kawasan industri terpadu. Satu persatu, dengan sabar didatangi, berharap ada peluang kerja. Namun hasilnya tetap sama. Raka kemudian ke daerah perkantoran. Pusat bisnis dan tempat berbagai jenis usaha menengah para pengusaha muda. Namun, lagi-lagi tanpa hasil.
Raka melihat jam tanganya. Sudah masuk waktu zuhur. Ia segera menuju musala kecil di sudut kota. Selesai salat, Raka beristirahat melepas penat, sambil menikmati secangkir kopi dan rokok di warung dekat musala.

“Permisi, bawa korek gak, Mas?”
Lelaki paruh baya mengangetkan Raka.
“Silahkan..”
“Terimakasih. Mas bukan orang sini, ya?
“Iya Pak. Saya dari kampung”
“Oh, mau kemana, Mas?”
“Lagi cari pekerjaan, Pak”
“Maaf, apa sudah dapat?”
“Hemm… belum Pak. Sudah muter-muter beberapa hari tapi gak dapat juga”
Lelaki itu diam sejenak.
“Mau gak kerja di luar negeri, Mas?”
Raka kaget.
“Dimama, Pak?”
“Arab, Mas”
“Bapak penyalur tenaga kerja, ya?”
“Oh bukan. Ponakan dan tetangga saya banyak yang kerja di sana. Bulan depan adik saya juga menyusul. Gajinya gede banget, Mas” Katanya antusias.
“Saya pengen kerjanya di sini aja, Pak. Kurang tertarik ke luar negeri”
“Kenapa, Mas?”
“Biar sering pulang kampung, Pak” jawabnya singkat.
“Saya sudah terlalu lama jauh dari keluarga” kata Raka menambahkan.
“Mas, tadinya pernah kerja di luar negeri?”
“Belum pernah, pak. Kebetulan saya lama tinggal di pesantren. Jadi jarang kumpul bareng keluarga”
“Oh. Kalau kerja di luar negeri, tapi masih dekat dengan Indonesia, mau gak?”
“Dimana, Pak?”
Lelaki itu menyebutkan sebuah negara asia yang sangat maju, yang terkenal dengan budaya popnya.
“Bapak punya informasinya?”
“Kebetulan teman saya masih kerja di sana” katanya kepada Raka.
Lelaki itu mengeluarkan hape dan memperlihatkan foto temannya yang sedang bekerja.
“Cuma kayaknya gak cocok buat Mas”
“Lho kenapa, Pak?”
Ia bingung menjawabnya.
“Ko diam, Pak?”
“Hehe… ia binggung”
“Binggung kenapa?”
“Mas, kan santri”
“Iya, terus kenapa?” tanya Raka merasa aneh dengan pertanyaan lelaki paruh baya itu.
“Kata teman saya, disana salatnya ‘disate’..”
“Maksudnya?” kini Raka yang bingung.
“Iya disate” jawabnya mengulang.
Raka masih tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Bapak yang ada dihadapanya itu.
“Saya ga paham, Pak” Raka meminta penjelasan.
“Maksudnya begini, di sana, tempat kerjanya tidak menyediakan tempat salat, mas. Juga tidak ada waktu untuk salat. Aturannya tegas dan jelas, jam istirahat hanya untuk istirahat”
“Lalu?”
“Mereka baru bisa salat setelah pulang kerja. Salat duhur, ashar dan magrib dilaksanakan sekali waktu. Jadi salat beberapa waktu dilaksanakan dalam satu waktu”
“Astaghfirullah..!” Raka kaget.
“Ternyata sungguh berat mencari pekerjaan, tanpa meninggalkan salat” kata Raka dalam hati.


Ketika hampir menyerah dengan usahanya, Raka berjumpa dengan pamannya yang sedang berkunjung ke rumah neneknya. Ia menawarkan sebuah peluang kerja di perusahaan milik kenalannya.

Hari itu juga, ia diajak ke perusahaan yang baru diceritakan oleh pamanya. Tempatnya cukup luas. Raka melihat ratusan kendaraan besar keluar masuk dari gedung utama. Didalamnya berbagai jenis pakaian, seperti kaus, jaket, celana panjang dan baju olah raga, siap dikirim dalam jumlah sangat banyak ke berbagai kota. Tercatat ada 10 outlet tetap. Seperti Jakarta, Bandung, Bogor, Cirebon, dan Tegal.

Rupanya, sang paman cukup dekat dengan pemilik perusahaan yang sedang berkembang pesat ini. Raka langsung diwawancara dan ditawarkan kesiapan kerja dibagian divisi umum. Raka cukup senang, apalagi pemilik perusahaan secara khusus meminta dirinya mengurus musala perusahaan. Ia resmi jadi karyawan.

Totalitas dalam bekerja dan sikapnya yang ramah membuat dirinya cepat diterima oleh karyawan lain. Di tempat kerjanya, Raka sangat menjaga salatnya, lima waktu dan tepat waktu. Kabar dirinya lulusan pesantren sampai ke telinga Ibu majikan. Hingga akhirnya, setiap bakda magrib, Raka diminta mengajari anak-anaknya mengaji.

Dengan alasan agar tidak bolak-balik dari tempat kosnya, Raka diberi kamar khusus, bekas gudang di belakang rumah. Sejak itu, Raka hidup bersama keluarga tuannya yang kaya raya. Raka kini sering diminta membantu pekerjaan rumah dan keperluan pribadi keluarga. Mulai dari belanja keperluan dapur, sampai menemani anaknya ke luar kota. Bosnya juga mulai mempercayakan beberapa urusan belanja kebutuhan perusahaan kepadanya.

Semakin hari, direktur perusahaan semakin kagum dengan kepribadian Raka. Selain sederhana dan sopan, ia juga sangat jujur. Beberapa kali sisa uang belanja yang tidak seberapa dikembalikan. Ia juga menolak jika diberi uang lebih, karena merasa sudah diberi gaji, kamar khusus dan makan gratis setiap hari di rumah. Semua itu membuat pemilik perusaahan semakin mempercayai Raka, yang kebetulan merupakan keponakan dari sahabat baiknya.

Hingga pada suatu ketika, ia dipanggil di ruang kerja bosnya.
“Raka, mulai minggu depan, kamu saya angkat jadi wakil bendahara perusahaan. Menggantikan anaku. Dimas” kata majikannya. Raka kaget.
“Tapi bagaimana dengan anak Bapak?”
“Dimas, mau melanjutkan kuliah S2 di Australia. Besok kamu yang mengantarkan ke Bandara” Perintahnya.
Sejak itu, hidup Raka mulai berubah. Dengan gaji yang besar dan berbagai fasilitas yang diterimanya, ia bisa membantu orang tuanya di rumah dan membiayai pendidikan adik-adiknya.


Raka kini telah menjadi pemuda yang mapan dan sukses secara materi. Segera ia merencanakan masa depannya yang masih sendiri. Ia ingin menikah. Tapi Raka belum punya calon. Kehidupan dan tempatnya di pesantren, membuat dirinya tidak sempat mengenal perempuan secara dekat.

Tiba – tiba Raka teringat pesan Kiai Ahsin, ketika masih mengaji di kelas amrity. “Getia bojo, sing waktu durung dinikahi bli gelem diemek” (carilah istri, yang sebelum dinikahi, tidak mau disentuh atau dipegang). Sungguh, pesan ini sama beratnya dari pesan Kiai Ahsin yang pertama.

“Wahai angin malam, beritakan kepadaku, di mana adanya bidadari, yang seperti kriteria guruku, untuk kupinang menjadi istri” kata Raka sambil memandang foto gurunya, Kiai Ahsin Syifa Aqil Siroj.

Penulis: MANSUR JAMHURI, Pengurus Ponpes KHAS Kempek – Cirebon

Didedikasikan untuk “Sang Zahid” almaghfurlah KH. Ahsin Syifa Aqil Siroj. Lahul-Faatihah..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here