Cerpen Santri, Ada Itu Ada Sebelum Kata Ada Itu Ada

0
97

KHASKEMPEK.COM – “Ada itu ada sebelum kata ada itu ada,” kata Sang Kiai kepada salah satu muridnya tentang hakikat adanya Allah SWT.

“Dan adanya Allah itu tidak didahului oleh ketidaktiadaan. Kenapa demikian? Karena jika adanya Allah itu didahului oleh ketidaktiadaan, berarti Allah itu ada permulaannya,” Kata Sang Kiai lagi.

“Maksud permulaan itu bagaimana, Kiai?” tanya Kang Santri dengan sopan.

“Awal keberadaan. Awal sesuatu itu ada. Seperti awal kita tercipta, dari tidak ada menjadi ada.”

“Contohnya bagaimana, Kiai?”

“Kamu lahir kapan?”

“Rabu, 8 Mei 1979, Kiai.”

“Nah, itu adalah permulaan kamu. Artinya, sebelum tanggal 8 Mei 1979, kamu belum ada. Belum lahir. Ini menunjukan bahwa keberadaan kamu di dunia ini didahului oleh ketidaktiadaan. Kamu ada permulaannya. Ada awalnya. Nah, Allah itu tidak ada permulaan atau awalnya.”

“Kenapa Allah tidak ada permulaannya, Kiai?”

“Sebab jika Allah ada permulaannya, maka akan sama dengan mahluknya. Sama dengan kamu. Sama dengan yang diciptakannya. Dan itu mustahil. Kenapa mustahil? Karena setiap yang ada, dan adanya didahului oleh permulaan, maka pasti butuh pada yang mengadakan agar menjadi ada. Jika Allah ada permulaannya, berarti Allah butuh pada yang menciptakan dirinya, agar bisa menjadi ada. Berarti Allah tercipta oleh yang lain. Sementara selain Allah hanya ada alam, yang sudah pasti alam itu diciptakan oleh Allah. Disitulah letak kemustahilannya. Karena akan terjadi yang namanya daur tassalsul.”

“Apa itu daur tassalsul, Kiai?”

“Daur itu perputaran: Allah tercipta oleh yang lain, sementara selain Allah hannya ada alam yang sudah jelas diciptakan oleh Allah. Berarti ada satu identitas atau dzat dengan dua predikat: sebagai mahluq sekaligus sebagai kholiq. Yang diciptakan juga yang menciptakan. Kalau diumpamakan: A diciptakan oleh B, sedangkan B merupakan ciptaan A. Jelas ini mustahil.”

“Semantara tassalsul itu artinya berantai. Kalau Allah ada permulaannya, berarti Allah butuh pada yang menciptakan dirinya, agar Allah menjadi ada. Sementara yang menciptakan Allah, diciptakan oleh yang lainya lagi. Sampai terus tak berujung. Kalau dicontohkan: A diciptakan oleh B, dan B diciptakan oleh C, sementara C diciptakan oleh D, dan seterusnya. Ini juga mustahil.”

“Terjadinya daur tassalsul, selain mustahil juga akan menunjukan kelemahan Allah. Jika Allah diciptakan, berarti Allah tidak bisa menciptakan. Karena setiap yang diciptakan, tidak akan bisa menciptakan. Berarti Allah tidak bisa menciptakan alam ini. Tetapi Allah tidak bisa menciptakan alam batal atau tertolak. Karena alam sudah tercipta. Maka adanya Allah butuh pada yang menciptakan dirinya menjadi mustahil,” kata Sang Kiai menjelaskan.

“Perlu kamu ketahui dan yakini, bahwa selain adanya Allah tanpa didahului permulaan, adanya Allah juga tidak akan bertemu dengan akhir,” Sang Kiai melanjutkan.

“Maksudnya bertemu akhir bagimana, Kiai?” tanya Kang Santri tidak mengerti.

“Menjadi tidak ada kemudian. Seperti keberadaan kita sekarang. Pasti suatu saat nanti kita akan meninggal. Saat itulah, kita semua kembali kepada ketidaktiadaan.” Jelas Sang Kiai.

“Kamu tahu kenapa Allah itu adanya tanpa permulaan dan tidak akan bertemu dengan akhir?”

“Maaf, tidak tahu, Kiai.”

“Karena Allah itu dzat yang wajib wujudnya. Artinya, Allah tidak mungkin tidak ada. Allah wajib adanya. Sedangkan selain Allah itu wujudnya “wujud jaiz”. Artinya, sebelum wujud atau ada, sesuatu yang jaiz itu bisa ada, bisa juga tidak ada.

Jika kemudian Allah menghendaki tercipta, maka ia akan ada. Seperti alam dan isinya ini. Semua tercipta atas kehendak Allah. Bumi, langit, surga, neraka, jin, malaikat, manusia dan sebagainya. Semua itu tercipta oleh dzat yang wajib wujudnya, yang adanya tidak didahului oleh permulaan dan tidak akan bertemu dengan ketidaktiadaan, yaitu Allah SWT.”

Penulis: MANSUR JAMHURI, Alumni MTM Ponpes KHAS Kempek – Cirebon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here