Catatan Santri: Makna di Balik Dawuh ‘Aja Luruh Wah, Tapi Luruh Woh’

3
84

KHASKEMPEK.COM – “Aja luru wah, tapi luru woh.” Mungkin itu salah satu dawuh Romo KH Umar Sholeh Kempek kepada ribuan santrinya.

Penulis sendiri mendengar nasihat itu dari teman yang mesantren di Kempek, lebih tepatnya di Pondok Pesantren bagian utara desa Kempek atau lebih dikenal oleh para santri kempek dengan laqob “PU” Pondok Utara.

Ketika mendengar nasihat itu, agak janggal. Apa arti “wah” dan “woh” Walaupun waktu itu, teman penulis sudah memberikan bayan (penjelasan).

Bahkan sampai penulis sendiri pulang ke asrama (MTM) yang berbeda yayasan tapi masih satu desa, kebingungan masih menyelimuti tentang arti kedua kata tersebut. Padahal, cuma berbeda huruf tengah pada kedua kata tersebut makna bisa berbeda. Ini mengingatkanku akan pepeling dari Syaikhina KH Muh. Mushtofa Aqiel Siroj, kurang lebih seperti ini:

“Cung, maca kitab iku angel, kudu teliti, contohe lafadz من bisa diwaca “min” maknae “saking”, bisa diwaca “man” maknae “sapa”, bisa maning diwaca “manna” maknae “ngupahi anugrah”. Makane mondok e kang temenan, mumpung masih ng pondok,” tutur Bapa Muh.

Setelah 3 tahun di pesantren ini, penulis mulai sedikit paham akan 2 kata tersebut. Makna dawuhnya romo K.H Umar Sholeh “aja luru Wah, tapi luru Woh”. Mungkin kurang lebih seperti ini, “mengajilah dengan tekun, bukan karna untuk mencari popularitas (ke-Wah-an). Tapi, untuk mencarinya hasilnya (Woh) seperti mencari ridlo Alloh, menghilangkan kebodohan dll”.

Guru kami K.H Khoiron Syatibi pernah mengatakan “mondok sing temenan lan sing prihatin. Aja ngarep dadi apa-apa, mengko ari ora dadi apa-apa, malah dadi e getun”.

Ini mengingatkanku pada buku “Samudra Kezuhudan Gus Dur” yang ditulis ulama yang terkenal asal cirebon K.H Husein Muhammad, beliau menukil kata mutiara Ibn Athaillah al-Sakandari Mesir yang menyandungkan puisi “idfin” dalam “al-Hikam” nya.

إدفن وجودك فی ارض الخمول فما نبت مما لم یدفن لا یتم نتاجه “

Tanamlah eksistensimu pada tanah yang tak dikenal. Sebab, sesuatu yang tumbuh dari biji yang tak ditanam, tak berbuah matang”.

Buya Husein (sapaan K.H Husein Muhammad) memberi komentar atasnya: “simpanlah hasratmu akan popularitas, karena hasrat yang demikian tak akan membuat dirimu tumbuh dan berkembang sempurna”.

Masih menurut buya Husein “Hasrat akan kemasyhuran akan menyibukkan diri pada urusan-urusan yang tak berguna dan mengabaikan kerja-kerja yang bermanfaat bagi manusia. Cinta pada kemasyhuran mendorong orang untuk mengurusi dirinya sendiri dan tak peduli orang lain”.

Pada hakikatnya mencari keridloan manusia (popularitas mengandung ingin dipuji) itu sangat mustahil. Sebelum dewasa sekarang ini, jauh sebelum kita, Syeikh Ali Thantowi menyandungkan kalam hikmah yang menjadi pegangan guru kami Prof. Dr. K.H Said Aqiel Sirajd, MA.

یکفیك رضا الله عنك، رضا الناس غایة لا تدرك، ورضا الله غایة لا تترك، فاترك ما لا یدرك، وادرك ما لا یترك

“Cukuplah dengan ridho Alloh bagi kita, sungguh mencari ridho manusia adalah tujuan yang tak pernah tergapai. Sedangkan ridlo Alloh, destinasi yang pasti sampai, maka tinggalkan segala upaya mencari keridhaan manusia, dan fokus saja pada ridho Alloh”. Wallohu A’lam

Penulis: Adiansyah Pratama, Santri Pondok Pesantren Khas Kempek Cirebon

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here