Al-Qodiem, Asrama Tertua di Pesantren KHAS Kempek

0
731

KHASKEMPEK.COM – Pondok pesantren Kempek adalah salah satu pesantren yang ada di wilayah Cirebon Barat, tepatnya di desa Kempek Kecamatan Gempol. Pesantren ini berdiri pada tahun 1908, yang didirikan oleh KH Harun Abdul Jalil. Salah satu putri beliau yang bernama Nyai Hj. Afifah Harun dijodohkan dengan KH Aqil Siroj dari Gedongan, yang menjadi cikal bakal tumbuhnya pesantren KHAS Kempek.

Beliau merupakan salah satu santri Kempek yang luar biasa sampai bisa dijadikan menantu oleh sang guru. Beliau juga terkenal sebagai penyusun kitab nahwu Zubdatun Naqiyyah ‘ala Tarjamah al-Ajurumiyah. Kealiman Kiai Aqil, membuat para santri banyak berguru kepadanya, hingga akhirnya beliau memutuskan untuk membuat majlis sebagai tempat mengaji bagi para santri yang hendak mengaji kepada beliau.

Saat itu beliau tidak berani mendirikan pesantren lantaran taadduban kepada sang guru sekaligus orang tua beliau, namun semakin banyaknya santri yang ikut mengaji, akhirnya pada tahun 1960 dibangunlah dua kamar yang saat ini menjadi komplek Imam Ibnu Hisyam, kemudian dinamai dengan nama Majlis Tarbiyatul Mubtadien, yang biasa dikenal dengan MTM.

MTM adalah nama pesantren yang dibangun oleh KH Aqil Siroj, berawal dari dua kamar hingga menjadi lima komplek, yaitu komplek Imam Ibnu Hisyam, Imam Ibnu Malik, Imam Zamakhsyari, Imam Sibawaih, dan Imam Akhfasy. Komplek Imam Ibnu Hisyam terdiri dari tiga kamar, Imam Ibnu Malik terdiri dari empat kamar, Imam Zamakhsyari terdiri dari tiga kamar, Imam Sibaweah terdiri dari empat kamar, dan Imam Akhfasy terdiri dari empat kamar. Yang selanjutnya wilayah ini diberi nama al-Qodiem.

Sebagai wilayah tertua, tentunya layak untuk dikatakan bahwa al-Qodiem adalah pondasi dari pesantren MTM Kempek, yang sekarang menjadi pesantren KHAS Kempek dibawah asuhan KH M. Musthofa Aqil Siroj. Secara desain, wilayah al-Qodiem sangat menampakkan keklasikan sebuah bangunan. Hal ini terlihat dari bangunan tingkat yang hanya menggunakan kayu papan, bukan cor-coran. Saat masuk ke wilayah al-Qodiem, akan mendapatkan pemandangan pohon mangga yang ada ditengah pelataran, ada kentongan musholla yang dijadikan sebagai tanda dimulainya shalat jama’ah, kegiatan pondok, dan tanda ta’ziran bagi para santri yang melanggar.

Uniknya, para santri KHAS Kempek sudah paham betul akan tanda bunyi kentongan tersebut. Berapa kali dipukul, sebagai tanda apa pukulan tersebut. Tiga pukulan kentongan sebagai tanda dimulainya shalat jama’ah, dua pukulan kentongan sebagai tanda bersiap-siap untuk melakukan kegiatan pondok, dan satu pukulan adalah tanda yang paling horor, yaitu tanda ada santri yang ditakzir, yang membuat para santri penasaran untuk melihat siapa yang kena takzir dan apa hukuman takzirannya. Kentongan adalah salah satu warisan nusantara yang memiliki banyak fungsi. Salah satunya adalah media berdakwah. Seperti apa yang ada diwilayah al-Qodiem, saat hendak melaksanakan sholat jamaah, terlebih dahulu memukul kentongan sebanyak tiga kali.

Selain kentongan, ada juga sumur al-Qodiem yang menjadi salah satu sarana yang ada di wilayah al-Qodiem. Sumur sebagaimana fungsinya sebagai penampung air, sangat begitu berharga bagi kehidupan warga al-Qodiem. Pasalnya, warga al-Qodiem dilarang menggunakan fasilitas air yang ada dibak mandi, kecuali hanya untuk membuang hajat. Mandi, cuci baju, semua dilakukan disumur. Hal ini bukan berarti kejam dan sangat menekan santri, melainkan littamrῑn agar biasa untuk berjuang. Kegiatan mandi dan nyuci baju yang hanya boleh disumur, mengajarkan kepada para santri tentang arti sebuah perjuangan. Bahwa untuk bisa mendapatkan kesucian tubuh, harus rela bersusah payah. Hal ini juga menggambarkan santri dalam mencari ilmu. Santri yang sedang mencari ilmu ibarat dia sedang membersihkan tubuh, baik secara fisik maupun rohani. Jiwa yang bersih tidak akan bisa didapatkan tanpa perjuangan keras.

Almarhum Buya KH Ja’far Aqil Siroj, pernah dawuh; jangan berharap jadi orang sukses jika tidak mau lelah. Disinilah warga al-Qodiem berusaha menggambarkan dawuh kiainya dengan melakukan kegiatan bersuci yang berpusat pada sumur al-Qodiem. Meskipun saat ini sumur itu sudah ditutup, namun airnya masih tetap dialirkan kekolam-kolam santri wilayah al-Qodiem. Sungguh nikmat perjuangan seorang santri, hanya sekedar untuk mandi saja rela menimba air terlebih dahulu dengan susah payah. Tentunya banyak juga cerita lucu saat mandi disumur, seperti santri yang enggan menimba dan hanya menunggu dipunggung temannya berharap ikut tersiram air, tanpa harus menimba.

Dalam mencari ilmu juga ada yang demikian. Ada santri yang enggan membaca dan belajar, dia hanya mendekati temannya yang rajin dan hanya mendengarkan apa yang dibacakan temannya, berharap bisa mendapatkan ilmu. Tubuh yang berharap ikut tersiram air dari ember yang diisi air oleh teman dan santri yang berharap bisa mendapatkan ilmu dari teman yang rajin, memang bisa saja. Namun, hasil yang didapat tidaklah bisa memuaskan seperti hasil jerih payah sendiri.

Hal yang luar biasa dan terpenting dalam wilayah a-Qodiem adalah ndalem KH Ahsin Syifa Aqil Siroj. Saat pertama masuk wilayah al-Qodiem, akan terlihat sebuah rumah yang sederhana, sejuk nan indah. Sebuah rumah yang di depan pintunya selalu ada sandal japit dan sandal rematik yang biasa digunakan kang Ahsin saat hendak mengimami shalat jama’ah. Dari dua sandal yang selalu ada didepan rumah, secara tidak langsung, beliau mengajarkan kepada santri akan sebuah kesederhanaan. Sederhana bukan berarti tidak punya, melainkan sebuah sikap untuk menunjukan bahwa apa yang ada hanyalah titipan dan sangat tidak patut untuk dipamerkan.

Banyak teladan yang bisa diambil dari KH Ahsin, sangat banyak sekali. Beliau adalah salah satu kiai yang setiap hendak mengajar selalu muthola’ah terlebih dahulu. Ada salah satu ulama yang memberikan nasihat pada santrinya, aku kalau mau mengajar, selalu muthola’ah dulu. Sebab kalau aku sendiri tidak mau belajar, khawatirnya para santri yang ngaji kepada ku juga enggan mempelajari apa yang akan dipelajari. Ini memang digambarkan oleh Kiai Ahsin saat tiap kali mengajar para santri. Beliau selalu muthola’ah diruang tamu sambil menunggu para santri. Kebiasaan Beliau yang seperti ini, tidak menyalahkan kiai lain yang ketika mengajar tanpa harus muthola’ah. Sebab semua orang punya cara sendiri dalam mengelola apa yang dipunya.

Begitulah gambaran wilayah al-Qodiem, wilayah tertua pesantren KHAS Kempek Cirebon. Saat ini wilayah al-Qodiem memang tidak seperti dulu. Namun, ruh yang sudah tertanam di wilayah tersebut masih begitu kental dan terasa begitu hangat bagi siapa saja yang pernah singgah di sana, pernah melebarkan sajadahnya sebagai alas tidur, pernah membuntel pakaian kotornya sebagai bantal, dan pernah menimba air sumur meski tangan dalam keadaan penuh cengkreng atau gudig. Wallahu A’lam. (KHASMedia)

*Penulis: Muhammad Muzakki, alumni Pesantren KHAS Kempek tahun 2015

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here