Akhlak Dulu, Baru Ilmu

0
103

KHASKEMPEK.COM “Zaman sekarang orang lebih mementingkan ilmunya dibanding akhlaknya.” KH. Muh Musthofa ‘Aqiel Siroj.

Seorang santri pastinya dituntut untuk menguasai bidang ilmu kepesantrenan, seperti nahwu, shorof, mantiq, balaghah. Namun, tidak luput dari itu bahwa yang paling utama dari ilmu adalah akhlak. Oleh karenanya tidak jarang di berbagai pondok pesantren manapun tahapan pengajian yang paling mendasar adalah akhlak. Banyak sekali kajian-kajian pesantren yang mengajarkan tentang akhlak. Seperti hal nya di Pondok Pesantren KHAS Kempek, kitab yang dianggap wajib untuk dipelajari pertama kali adalah kitab akhlak, mulai dari kitab akhlakul lil banin/banat ada pula kitab Ta’lim Muta’allim dan nadzom terkait akhlak yakni nadzom alala. Karena merupakan dasar maka hal ini pastinya dijadikan landasan yang bertujuan untuk membangun adab atau etika seorang santri.

Para nabi mempunyai ciri dominan yang juga diwarisi oleh para pewarisnya, yaitu antara lain: takwa kepada Allah; penuh kasih sayang terhadap umat dan menjadi contoh yang baik untuk umatnya. Allah SWT memberikan contoh kepada kita dalam kitab suci-Nya, “Wazkur ‘ibaadanaaa ibroohiima wa is-haaqo wa ya’quuba ulil-aidii wal-abshoor” (QS. 38: 45). “Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang mempunyai kekuatan-kekuatan yang besar dan ilmu-ilmu (yang tinggi).” Kemudian dilanjutkan dengan “innaaa akhlashnaahum bikhoolishotin zikrod-daar” (QS. 38: 46). “Sungguh, Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan) akhlak yang tinggi kepadanya yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.” Dan ayat selanjutnya menjelaskan “Wa innahum ‘indanaa laminal-mushthofainal-akhyaar” (QS. 38: 47). “Dan sungguh, di sisi Kami mereka termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.”

Di samping sekian banyak kemampuan manusia telah mencapai tingkat kecepatan yang sangat maju, yang memberinya kesempatan untuk menjangkau jauh ke dalam lautan dengan menggunakan akal pikirannya. Namun, perlu kiranya kita melihat betapa rusak dan sengsara yang berkelanjutan akibat penyelewengan naluri manusia. Maka yang harus dibenarkan dari perilaku tersebut adalah akhlak dan juga nilai-nilai kerohanian, suatu peradaban akan dikatakan seimbang jika akhlak telah maju bersama akal pikiran manusia.

Merupakan hal yang sia-sia apabila kita mempunyai ilmu yang mumpuni namun mengesampingkan etika terhadap sesama, sebuah pengetahuan jika dicampuri dengan nafsu duniawi maka akan mengancam rohani manusia dan dari sini lah timbul penyakit berbahaya seperti sombong, ria, iri dan lain sebagainya. Sudah sepatutnya kita menyadari betapa pentingnya akhlak. Nasihat dari Masyayikh di atas merupakan pengingat bagi kita semua, agar supaya lebih bisa mengaplikasikan akhlak dalam kehidupan sehari-hari.

Meskipun seorang santri sudah tidak lagi mukim di pondok pesantren, namun ajaran dan pengetahuan yang didapat dari pesantren merupakan bekal untuk melanjutkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Santri harus terbiasa bersikap rendah hati, sopan santun dan hal lain yang berkaitan dengan akhlakul karimah, karena akhlak mengajarkan kita untuk menghargai sesama dan memanusiakan manusia.[Rizik Fajri Tsani]
Wallahu a’lam.

Cirebon, 29 Juli 2019 M.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here