Syaghaf

kencintaan yang teramat sangat membuatku takut untuk kehilangan. Bagai rambu-rambu kehidupan, perjalan cintaku tak selalu mulus. kadangkala seperti  lampu hijau, kemudian kuning bahkan berwarna merah. Seperti saat ini, cintaku tengah  bereda diposisi rambu-rambu  berwarna merah. Sulit dinyana

dalam logikaku. cinta yang sudah terbentuk sejak  tujuh tahun silam,kini harus berubah petaka. Entah apa masalahnya? Namun yang jelas bukan dari pihak ketiga, keempat  ataupun kelima. Ini murni dari diri diri masing –masing.

Salman, lelaki lugu yang dulu pernah berhasil mencuri serpihan-serpihan hatiku yang sengaja ku tabur dalam jurang cinta. Kini Dia ubahnya lelaki dewasa yang suka membingungkan. Kadang ku berpikir apakah Dia sudah mulai jenuh menghadapiku? Tapi …… sejauh perjalan cinta ini, rasa Aku belum pernah membuat skandal dengan hubungan kami, bahkan Aku cenderung menjaganya dengan sangat baik. Aku rasa pula, bukan karena Aku sudah tak telihat menarik lagi dimatanya. Aku belum tua, dan Aku masih single karena masih terus dalam penantian. Menunggunya yang kelak akan mempertemukan ku pada kehidupan yang lebih lengkap. Ya, Dia tak main-main dengan hubungan  ini.

Namun, senyuman yang  dulu kurindukan kini terasa mahal untuk terus tersungging dihapanku. Huft, kenapa Aku terus diperlakukan begini?  apa yang senarnya kini ada dalam benaknya?

“Salman………”, panggilku pada suatu hari saat Aku nekat berkunjung kerumahnya.dia hanya menatapku tanpa seulas senyum seinci pun. Aku membenarkan cadarku yang bergerak-gerak terkena angin.

Cuaca mendung menghiasi siang ini yang terasa semu. Aku berdiri agak jauh semester darinya , diatas yang terletak tak jauh dari rumahnya. Disinilah dulu cinta ini bermula. Saat Aku menunggu ayahku pulang dari pelayaran. Yah, ayahku memang seorang pelaut. Meski Aku sendiri tak tahu pasti apa yang tengah dicari oleh ayahku dilaut yang luas itu. Ikankah? Atau mungkin mutiara-mutiara kerang didasar laut. Tapiku yakin ayah takkan seceroboh itu untuk menenggelam diri demi sebuah kerang mutiara.karena kutahu ayah tak punya kostum penyelam hanya saja ayah pandai berenang. Itulah yang membuat ku kagum padanya.

Cinta itu bermula persis saat aku pun tengah  berdiri disini menanti ayahku yang akan berlabuh usai pelayaran yang panjang dan Dia yang saat itu tiba-tiba mengahampiriku. Mungkin Dia agak heran karena melihat  penampilanku yang seperti orang arab. Bercadar dan alas penutup tangan dan telapak kaki hingga nyaris sekujur tubuhku tak dapat terlihat kecuali kelopak mataku yang berhiaskan celak warna hitam yang sesekali terlihat berkedip.

Namun setelah Ia menyadari aku asli setanah air, maka Dia pun memberanikan diri untuk menyapaku dan mengajakku berbicara. Saat itu Aku sangat malu-malu sekali menjawab setiap pertanyaan yang selalu Dia ajukan. Namun dari situlah komunikasi  bermula dan untuk pertemuan yang kedua kami pun mulai merajut hubungan ini. Sampai sekarang.

Angin semilir kembali menerpa cadarku yang mau tak mau harus terkibar karenanya. Sesekali kulirik Dia yang tatapanya tak pernah lepas dari kapal-kapal yang tengah berlabuh. Sesekali kudengar Dia menghela napas dalam-dalam. Kami pun masih terdiam.

“Bagaimana dengan hubungan ini?”, Tanyaku membuka percakapan. Ia beralih manatapku namun sesaat. Aku pun menunudukan wajahku. Cuaca yang mendung membuat raut wajahnya terlihat seakan dingin dan sayu.

“bagaimana menerutmu?”, ujarnya balik bertanya. Aku terperangah mendengar ucapannya yang seakan acuh tak acuh menangggapinya.

“Aku lelah jika terus menanti. Kau selalu mendiamkanku……..,”  ucapku kemudian. Dia tersenyum namun terlihat masam.

“cinta kita itu seperti i’rob, Zahra. Terkadang Dia seprti khofad yang sewaktu-waktu bisa berubah karena melemahnya cinta dan menerunya rasa kepercaan pada masing-masing pihak. Akan tetapi, terkadang cinta itu seperti nasob yang berada dipuncaknya maghligai  saat cinta itu begitu besar dan meluap sehingga suasana itu begitu terasa indah dan menggebu. Begitupun dengan rofa’, Kau tau makna dlomah yang bepijak diatas lam fi’il?”, Tanya salman. Aku menggeleng

“dlomah itu diartikan sebagai sebuah masalah yang begitu suka. Masalah yang sepele namun sulit dipecahkan. Itulah cinta kita saat ini. Coba saja Kau perhatikan dan pahami bentuk dlomah iitu….,” ujarnya. Aku menekan batin ku yang seakan terasa semakin sesak. “namun, Aku tak pernah menghendaki cinta kita itu dijazemkan atau mati tak bernafas …..,” ucapnya lagi. Kali ini Aku sudah benar-benar tak dapat mengendalikan perasaanku lagi.

“ Stop Salman…..”,sangkalku. “ kau selalu menyamakan cinta dengan nahwu dan shorofmu. Apa

Kau tak menggerti bahwa ku selama ini seperti maf’ul mu yang terkadang tidak kau butuhkan? Apakah ini yang namanya cinta? Saat ragaku mulai letih menanti, namun kau tak kunjung memberi kepastian padaku .  Aku  bukan amil ma’nawimu  yang hanya  bisa  Kau rasakan namun tak pernah terlihat oleh matamu. Aku dzohir salman. Ada!”,segahku deanga segenap gejolak dalam hatiku. Hingga kurasakan bibirku bergetar saat mengatakan kalimat itu. Suara halilintar terdengar saling bersautan bertan hujan akan segera turun.

“Zahra, Kau adalah jawab bagi syaratku, khobar bagi mubtadaku, dan takan kubiarkan amil-amil nawasih mengusik hubungan kita. Apa Kau tak percaya bahwa Aku setia da Aku benar-bener bersunggu menjalani hubungan ini? Diam ku bukan berarti munfashil bagi cintamu, akan tetapi muttashil. Hatiku selalu melekat dengan hatimu. Ini cinta yang haqiqi. Syaghaf …..,” tegas salman yang kali ini menatap ku lekat-lekat. Hujan mulai turun dengan sangat derasnya, namun kami tak berusaha untuk manghindari, kami tepap berdiam disini. Diatas demaga yamg seolah menjadi saksi atas percakapan kami. Aku tertegun mendengar  ucapanya yang meneduhkan. Ku tatap lekat-lekat wajahnya ynag mulai basah oleh air hujan.

“…..dan kau adalah fa’il bagi fi’ilku. Saat Kau tiada maka apa artinya diririku. Dan takan pernah naibul fa’il yang mampuh mengganitikanmu dalam hatiku,” ucapku. “begitupiun maf’ul min ajlih lainnya….”, ujarku lagi

Kini Aku semakin semakin yakin akan penantianku. Salman, kekasihku. Masih teguh dengan cintanya Dia hanya ingin waktu ruang untuk menata kembali  ruang hatinya, namun Dia tak pernah mencoba  berpaling. Inilah cintaku dan cintanya yang mendalam. Hanya bisa terukir oleh tinta-tinta kesetiaan yang mampu menjadi benteng bagi cinta kami.      

 Sekian

Oleh: Tisya avrila