PERKENANKAN KAMI MENJADI TITIK DALAM GARISMU

 Jika segenap rasa dapat kami wakilkan dalam sebuah garis,
mungkin kami akan membuat sebuah garis yang sangat panjang
Dan kami tak akan pernah berhenti membuat garis itu
hingga segenap rasa dalam jiwa ini akan mengisi penuh garis itu

Garis itu begitu lurus!
Tak peduli jika garis itu menaiki gunung, menurunu lembah,
melintasi sungai, menyambangi muara,
bahkan mengarungi samudera

Garis itu begitu jelas, nyata dan tak mungkin sirna
karena garis itu begitu membekas dan meresap dalam jiwa
gerak lakumu, desah nafasmu, hingga sorot matamu yang selalu menyala

Garis itu adalah seluruh peristiwa dan kisah yang pernah singgah
yang bercerita tentang seorang lelaki yang tak hanya indah,
tapi juga sederhana namun tetap gagah

Engkaulah garis lurus itu,buya
Garis lurus itu adalah cemeti yang dipenuhi cinta demi mencambuk kesalahanku
Garis lurus itu adalah teriakan yang dipenuhi kesungguhan dapat menampar kesalahanku
Garis lurus itu adalah sorot mata kasih sayangmu yang akan membuat diri kami membeku

Engkaulah garis itu,buya
Garis lurus yang selama ini hanya kupahami sebagai amarahmu
Garis lurus yang selama ini hanya kumengerti sebagai kebencianmu
Garis lurus yang selama ini hanya kusadari sebagai tabiatmu
Ternyata, semua anggapan kami keliru
Betapa semua itu adalah tanda cinta darimu

Engkaulah garis itu, buya
Seperti tongkat yang mendampingi bacaan Al-quran yang selalu kau ajarkan
Seperti terompah yang menemani setiap langkahmu dalam menyulam masa depan
Seperti kopyah yang menungi setiap gundah lalu kau berdiri untuk menuntaskan

Buya,
Jika seluruh rasa kami adalah garis,
Pasti garis yang kami buat akan sangat panjang
Karena melukiskan segenap rasa tentangmu,
tak akan cukup dalam balutan waktu dan ruang
Rasa rindu menanti tatapan matamu
Rasa bahagia melihat senyum sederhanamu
Rasa hanyut mendapati semangat perhatianmu
Rasa haru melukiskan perjuanganmu
Rasa bangga menyaksikan kehebatanmu
Rasa hening mendengarkan bacaan Qur”anmu
Rasa khusyuk menajdi makmum dalam shalatmu
Rasa sepi menantikan bacaan tahlilmu
Dan rasa duka menyadari kepergianmu
Rasanya, suara menggetar darimu masih terasa,
Betapa engkau selalu yakin, seyakin-yakinnya
Seperti keyakinan matahari yang terbit dari timur menebarkan cahaya

Buya,
Mungkin kami tidak akan pernah mampu sepertimu
yang berani bertindak di saat yang lain masih ragu
yang berani berteriak di saat yang lain memilih bungkam
yang berani terus melangkah di saat yang lain menyerah pasrah

Buya,
Engkau bukan hanya mengajari kami tentang kesempurnaa bacaan
Tapi engkau tuntun kami untuk waspada menghadapi kehidupan
Buya,
Engkau bukan hanya melatih kami untuk bersemangat dalam perjuangan
Tapi engkau bimbing kami dalam menekuni kesabaran

Buya,
Engkau bukan hanya meminta kami untuk selalu bersyukur
Tapi engkau antar kami untuk tetap jernih dalam tafakkur
Buya,
engkau bukan hanya membacakan deretan tawasul dan tahlilan
Tapi engkau layani kami agar hidup dalan kerukunan dan keadilan
Buya,
kepada canda dan tawamu, kami akan selalu rindu
kepada hangat penyambutanmu, kami akan selalu rindu
kepada ketulusan dan kasih sayangmu, kami akan selalu rindu
kepada tarhiman yang engkau panjatkan dujung malam, kami akan selalu rindu
Kepada setiap gerak gerik tubuhmu, kami akan selalu rindu
kepada……
garis lurus yang telah engkau guraytkan, kami akan selalu rindu

buya
Kami sangat yakin, betapa engkau tak akan pernah pergi
Karena jejak dan karyamu terlihat nyata di setiap sudut ini
Terima kasih, buya
tanpa lelah, tanpa menyerah,
segenap waktumu telah engkau habiskan untuk mengajari kami yang selalu gelisah tanpa kesedihan dan rasa bosan,
sisa usiamu telah engkau sempurnakan dalam memberi uswah tentang pengabdian
buya,
Meskipun langkah kami tertatih-tatih
Kami akan terus menyusuri jalan terjal berliku
Demi menemukan wajahmu, di setiap sudut waktu
buya,
Jika memang masih ada sisa waktu,
Perkenankan kami
menjadi
diantara titik
dalam garis lurusmu…….
(dari anakmu yang selalu merindu)