Jalan tengah antara Ilmu dan Iman

Pengetahuan bukan satu-satunya kebenaran,
namun dengan petunjuk Tuhan
pengetahuan bisa mengantarkan manusia
menemui kebenaran .

Dari sudut basyar, manusia sama seperti binatang. Basyar itu adalah mâ ruiya basyaratuhu, (sesuatu yang dilihat kulitnya), berkaitan dengan fisik. Kalau dilihat dari fisik, manusia sama dengan binatang. Manusia punya tangan binatangpun punya, manusia punya mata, binatangpun punya, manusia punya kaki, binatangpun punya. Apa bedanya manusia dan binatang jika dipandang dari fisik? Tidak ada yang membedakan keduanya. Oleh karenanya para pakar mendefiniskan manusia adalah al ĥayawan an nâthiq (binatang yang berpikir). Manusia sama seperti binatang,sifat nâthiq inilah yang membedakannya. Sifat berpikirnya inilah yang membedakan antara keduanya. Bukan hanya sekedar berpikir, tetapi berpikir yang menghantarkannya menangkap kebenaran (baca: iman), karena betapa ia telah hebat berpikir, sebelum ia beriman, sejatinya ia tetaplah binatang.

Itulah mengapa kemudian muncul ungkapan; Pengetahuan bukan satu-satunya kebenaran. Karena pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang tidak menjamin orang tersebut bisa menerima cahaya keimanan, justeru sebaliknya, pengetahuan itu _banyak_malah menjadi penghalang orang tersebut untuk menerima cahaya keimanan, al îmn maĥjŭbun bi al ‘ilmi. Pengetahuan yang dimiliki, ilmu yang dimiliki, dimata Allah SWT justeru menjadikan mereka seperti binatang bahkan lebih sesat dari binatang, bal hum adlal! Kenapa bisa demikian? Jawabnya karena binatang tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan, sementara ‘mereka’ mengetahui namun pengetahuan yang mereka miliki dijadikan penghalang untuk menerima kebenaran; iman.

Sementara iman adalah mutlak hak Allah SWT. Tidak ada seorangpun yang bisa meng-intervensi-Nya, untuk diberikan kepada siapa dan dianugerahkan kepada siapa. Allah SWT tidak bisa disuap, tidak bisa dirayu, apalagi dipaksa, masalah iman murni hak prerogatif Allah SWT. Iman diberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki, laysa ‘alayka hudâhum walakinallâhu yahdî man yasyâ! (Bukanlah kewajibanmu_Muhammad_ menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya).

Inilah salah satu hikmah yang dapat dipetik dari ‘manuver-manuver’ ahli kitab (baca: Yahudi dan Nasrani) sewaktu mendengar seruan Nabi Muhammad Saw. Mereka melakukan itu bukan karena mereka tidak tahu (baca: tidak memiliki ilmu) karena nyatanya mereka mengetahui dari kitab-kitab mereka, mereka melakukan itu karena tujuan politis (baca; sesuatu yang menguntungkan diri mereka sendiri) agar anak-anak mereka tidak terbujuk seruan Nabi Muhamad Saw.

Manuver yang mereka lakukan antara lain dengan merubah al Kitab, (Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka Mengetahui).

Sebagian ahli kitab merubah al Kitab, semestinya A mereka rubah menjadi B, terutama masalah sifat Rasulullah Saw (na’t ar rasŭl). Sifat-sifatnya Nabi Saw dirubah, karena mereka sadar, kalau orang-orang Arab mendengar sifat Nabi_yang sebenarnya_hati mereka pasti bergetar (baca: oleh kebenaran). Oleh karena itu salah satu cara agar orang-orang Arab tidak masuk Islam adalah melarang mereka membaca sifat-sifat Nabi Saw. Lâ tasma’ŭ lihadza al Qur’âni walghaw! Jangan dengarkan al Qur’an, tinggalkan! Sebab kalau kamu mendengar al Qur’an, nantinya kamu akan iman!_maksudnya orang-orang Arab yang memiliki rasa bahasa al Qur’an. Bukan kita yang ‘tidak’ memiliki rasa bahasa al Qur’an_. Begitupula jangan dengar sifat Nabi, kalau kamu dengarkan nantinya kamu iman!

Khalid bin Walid _radliyallâhu ‘anhu_ masuk islam karena keengganannya menyakiti Nabi Saw dalam persitiwa Hudaibiyah. Karena tidak mau menyakiti Nabi Saw_tentunya karena ia mengerti bahwa Nabi Saw memiliki sifat-sifat mulia_ ia mendapatkan keimanan. Seorang Yahudi bernama Ka’ab al Akhbar masuk Islam ketika ‘Umar bin Khattab al Faruq _radliyallâhu ‘anhu_ menjadi khalifah. Sebenarnya Ka’ab al Akhbar mendengar tentang Muhammad (baca: Nabi Saw) yang menyerukan agama Islam sudah lama. Mendengar kabar itu ia tidak masuk Islam, setelah Nabi Saw wafat dan Abu Bakar as shidiq _radliyallâhu ‘anhu_ mengganti (khalîfah) iapun belum masuk Islam. Ia belum mau masuk Islam ingin membuktikan apakah benar kekuasaan Nabi Saw akan sampai ke tanah Syam. Begitu sahabat ‘Umar ibn Khattab al Faruq _radliyallâhu ‘anhu_ menjadi khalifah dan kekuasaanya meliputi tanah Syam_artinya Islam benar-benar sampai ke Syam seperti yang ia dengar_ Ka’ab al Akhbar baru mau masuk Islam.

Ketika masuk Islam ia bercerita (baca: tentang Islam sampai ke Syam); ‘Ketika kecil saya diajari Taurat oleh ayah saya kecuali satu lembar. Selembar kertas itu disobek dari kitab Taurat dan dimasukkan ke dalam peti dengan gembok pengunci. Ayah saya sangat galak dan melarang untuk membuka peti itu. Jangan dilihat! Jangan dibaca! Kenapa? Jangan tanya! Apa sebabnya? Jangan tanya! Pokoknya kamu jangan membacanya!

Sifat alami manusia, kalau dilarang akan semakin menimbulkan penasaran. Oleh karena itu masih mudah menyuruh orang berbuat baik (amar ma’rŭf) daripada mencegah berbuat buruk (nahyu ‘an al munkar). Nabi Adam as ketika berada di dalam syurga itu yang tidak tahan_sehingga membuatnya terusir_ adalah larangan untuk berbuat buruk, yakni larangan agar tidak mendekati pohon apel yang terlarang. Yang terberat itu adalah mencegah berbuat munkar, di Indonesia yang namanya perintah untuk berbuat baik sudah sangat tumpah ruah banyaknya, muballigh di tv-tv yang ‘pencilakan’ juga banyak. Itu hanya sebatas amar ma’rŭf, sementara nahy ‘an al munkar-nya belum ada (baca: belum tersentuh).

Ka’ab al Akhbar dilarang membuka peti tersebut, karena dilarang, ia semakin penasaran apa isi lembaran dari kitab Taurat itu? Kenapa harus dilarang? Kalau tidak dilarang mungkin Ka’ab tidak akan penasaran. Akhirnya sang ayah meninggal, setelah ayahnya meninggal ia membuka peti dan membaca lembaran terlarang tersebut yang ternyata isinya tentang sejarah Nabi akhir zaman_sifat-sifat dan biografi beliau Saw_, mawliduhŭ bi makkah, wa hijratuhŭ bi al madînah, wa sulthânuhŭ bi as syâm. Karena itulah ia dilarang membacanya, karena ayahnya tahu kalau ia membaca cerita Nabi Saw ia akan beriman. Orang yang membaca cerita tentang Nabi Saw merasakan ‘getaran ruhani’ (baca: getaran keimanan). Disinilah rekayasa-rekayasa yang dilakukan ahli kitab

Mereka merubah kalimat-kalimat dari yang semestinya, yuĥarrifŭna al kalima ‘an mawâdli’ih. Dan yang mereka rubah adalah kitab Allah SWT yakni Taurat. Kenapa mereka merubah kitab Allah SWT, tidak membuat kitab sendiri sesuai yang mereka inginkan? Bukankah dengan membuat kitab sendiri justru mereka lebih leluasa menuangkan segala isi hati dan pikiran-pikiran mereka? Jawabnya karena kitab Taurat memiliki legitimasi (baca: pengakuan) dari Allah SWT, hadzâ min ‘indillâh wamâ huwa min ‘indillâh!.Pengakuan itu memiliki nilai tersendiri, walaupun sebenarnya Taurat yang telah mereka rubah itu tidak lagi dari Allah SWT, gubahan-gubahan mereka dimasukkan dengan ‘mendompleng’ legitimasi Allah SWT agar laku dan dipercaya oleh orang-orang Arab.

Walhasil, pengetahuan yang dimiliki seseorang harus dibarengi upaya untuk menerima kebenaran, bukan justeru sebaliknya menjadikannya penghalang untuk menerima kebenaran. Khalid bin Walid menerima kebenaran karena ia mengetahui dengan detail sifat-sifat Nabi Saw yang begitu mulia, ketidaktegaannya menyakiti Nabi Saw inilah kemudian yang mengantarkannya menerima cahaya iman. Sementara orang-orang ahli kitab justeru menjadikan pengetahuan mereka sebagai penghalang masuknya cahaya keimanan hanya karena tujuan politis praktis (baca: tidak ada lagi kaum yang memberikan hadiah terhadap mereka, dan beralih kepada Muhammad). Semoga Allah SWT membuka hati kita untuk menerima kebenaran-kebenaran-Nya. Dan semoga kita dimasukkan ke dalam golongan orang yang beriman. Wallâhu a’lam bisshawâb.[]

Kempek, 23 Maret 2015

oleh: Yusuf Ilyas. NH

Filosofi basmalah, konsep tasawuf tentang ilmu, akhirat dan peran ulama sebagai pewaris para Nabi

Filosofi basmalah

Lafadz Bismillâhirraĥmânirraĥîm mengandung isyarah memberikan pelajaran tentang tawassul, kita belum bisa langsung billâh melainkan harus bismillâh. Itupun harus melalui  syarat, yakni kha, ĥa dan jim.

Kha adalah isyarah dari takhalliy ‘an as shifât al madzmŭmât (menghilangkan  sifat-sifat tercela) seperti takabur, ‘ujub, riya, iri dengki, putus asa. Semua sifat tercela harus dibuang, salah satunya yang paling mendasar dan merupakan dosa pertama kepada Allah SWT adalah takabbur; “Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”

Sifat mendasar manusia adalah mencintai dirinya sendiri, karena terlalu mencintai dirinya sendiri manusia selalu ingin tampil sempurna dari ujung rambut sampai ujung kaki. Nah, ketika manusia sibuk mengurusi dirinya sendiri, apakah urusannya akan tuntas? Jawabannya tidak, urusannya tidak akan habis, justru akan semakin bertambah. Kemudian kalau urusannya tidak pernah habis dan dirinya sibuk mengurusi urusannya dirinya sendiri, apakah ia mau mengurusi urusan orang lain? Tentulah ia enggan. Sikap enggan memperdulikan orang lain ini adalah sifat takabbur.

Satu-satunya yang memiliki raĥmat li al ‘âlamîn (rasa kasih sayang kepada seluruh alam) adalah Rasulullah SAW, artinya beliau SAW mengorbankan dirinya sendiri. Sementara kita  jarang bisa memberikan apa tapi yang banyak kita mendapatkan apa.

Suatu ketika Rasulullah SAW melaksanakan shalat isya’, kemudian selesai shalat beliau SAW buru-buru masuk ke dalam rumah dan lama tidak keluar-keluar. Begitu keluar, para sahabat saling bertanya. Apa yang terjadi dengan Rasulullah SAW? Beliau SAW bersabda: Saya terburu-buru masuk rumah karena teringat masih ada emas di dalam rumah, saya tidak mau ada emas bermalam di rumah saya. Subĥnallâh!

Itulah beliau Rasulullah SAW yang tidak mau menyimpan emas di dalam rumahnya dan buru-buru membagikan kepada para fakir. Beliau SAW mendahulukan kepentingan orang lain, urusan orang lain daripada urusan dan kepentingan pribadi beliau SAW sendiri. Hidup beliau SAW untuk orang lain! Karena itulah beliau SAW mendapatkan kedudukan yang mulia disisi-Nya dan di kalangan para sahabat. Kalau kita ingin hidup mulia hiduplah untuk orang lain, kalau tidak bisa semuanya separuh saja, kalau tidak bisa seperempat, kalau tidak bisa seperlima, lima persen saja ada untuk orang lain, disitulah pada hakikatnya letak kemuliaanmu. Khayr an nâs anfa’uhum li an nâs!

Sifat takabbur membuat orang buta akan kebenaran. Nikmatnya ibadah dan indahnya taqarrub tidak akan terlihat karena terhalang sifat takabbur. Salah satu sifat takabur selain yang telah disinggung di atas adalah melihat sesuatu pertama kali diukur dengan dirinya sendiri. Ketika Allah SWT bertanya kepada iblis, apakah yang menghalanginya untuk bersujud (kepada Adam) sewaktu diperintah? Iblis menjawab: ana khayrun minhu. (Saya lebih baik daripadanya). Kalimat ana adalah nadzr li an nafs, memandang dirinya sendiri; saya lebih baik dari anda. Dari kalimat saya inilah muncul takabbur. Dari dahulu iblis serba menggunakan saya; qâla ana khayrun minhu, khalaqtanî min nâr wa khalaqtahu min at thîn (saya lebih baik dari dia, saya Engkau ciptakan dari api dan dia Engkau ciptakan dari tanah). Filosofinya, kobaran api (asal penciptaan iblis) selalu ke atas, sementara tanah (asal penciptaan Adam) selalu terbenam dalam dataran. Iblis menduga api lebih mulia daripada tanah, padahal sejatinya tidak. Justru kalau kita tinjau lebih detaill, tanah lebih mulia daripada api karena tanah mengandung berbagai macam sumber kehidupan.

Sifat takabur ini digambarkan dengan huruf alief (ا), bi [i]smillah. Huruf Alief selama-lamanya tetap tegak tak bergeming (baca: tidak mau menerima kebaikan dan kebenaran). Aliefnya harus dibuang, itu adalah isyarah takhalliy.

Setelah takhalliy harus ĥa, yang merupakan singkatan dari taĥalliy bi as shifât al maĥmŭdât  (menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji) seperti tawadlu’, maĥabbah, sabar, syukur, ridla. Semua sifat terpuji dimasukkan, salah satunya yang paling dasar dan merupakan antonim dari takabur yakni tawadlu, maka dibuatlah huruf ba (بِ). Huruf ba titiknya berada di bawah dan selama-lamanya dibaca kasrah (bi), ini merupakan isyarah tawadlu (baca: merendahkan diri). Sifat ini tercermin dalam kehidupan baginda Rasulullah SAW; sehingga Syeikh ‘Abdul Qadir al Jilaniy menyebutkan; Muĥammad nuqthatu bai al basmalah (Muhammad SAW adalah titiknya huruf ba basmalah).

Tidak mungkin seseorang langsung kepada Allah SWT, tanpa melalui ba (baca: tawadlu). Allah SWT berfirman; Wasjud waqtarib, dengan sujud meletakkan anggota tubuh yang paling mulia ke tanah (sebagai bentuk tawadlu’) justru dekat dengan Allah SWT.

Setelah seseorang mampu takhalliy yakni menghilangkan semua sifat-sifat terceladan taĥalliy yakni mengisinya dengan sifat-sifat terpuji barulah ia mampu ‘kontak’ dengan Allah SWT  bismilâh itulah yang disebut tajalliy.

Falammâ tajallâ rabbuhŭ li al jabali ja’alahŭ dakkan wa kharra mŭsa sha’iqâ (Tatkala Rab-nya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa AS pun jatuh pingsan).

Ketika  mencapai tajalli, melihat kebesaran Allah SWT  kita  menjadi fana, hancur, tidak eksis. Kita ini tidak ada, yang ada hanyalah Allah SWT! Pada maqam ini, apapun yang dilihat, apapun yang kita rasakan adalah Allah SWT! Terlepas tentang polemik teori fana atau teori waĥdah al wujŭd, yang jelas ketika sampai maqam tajalliy kita tidak berarti apa-apa. Sehingga digambarkan ketika Allah SWT ‘tajalliy’, gunung-gunung hancur luluh dan Musa AS pingsan, artinya selain Allah SWT itu fana, selain Allah SWT itu hancur, selain Allah SWT itu tidak ada tinggallah Allah SWT yang ada.

Konsep tasawwuf tentang ilmu

Allah SWT memerintah tazkiyat an nafs (menyucikan jiwa) terlebih dahulu sebelum mengisinya dengan ilmu. Ilmu itu laksana air, sementara hati atau jiwa itu laksana bejana; Sebening apapun air jika bejananya kotor maka airnya akan menjadi kotor. Sebanyak apapun ilmu, kalau hatinya tidak bersih, kalau jiwanya tidak suci, maka ilmunya tidak akan bermanfaat. Oleh karena itulah al Qur’an menuturkan; “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”. Dalam ayat tersebut Allah SWT memerintah pensucian diri (wa yuzakkîhim) lebih dulu, kemudian  pengajaran ilmu pengetahuan (wa yu’allimuhum).

Persoalan pertama bagi orang yang ingin berbicara tasawwuf, wushŭl ilallâh (‘kontak’ dengan Allah SWT), adalah masalah tentang tazkyat an nafs. Bagaimana bisa melakukan ‘kontak’ dengan Allah SWT yang Maha Suci sementara  diri kita maha kotor?

Dalam setiap kitab yang membahas tentang kajian tasawwuf  dan berkaitan dengan hati selalu dimulai dengan bab taubat. Karena taubat adalah cara membersihkan hati, bahkan lebih dari itu, taubat adalah  kalimat pertama yang diturunkan Allah SWT kepada manusia untuk bisa wushul dengan-Nya.

Ketika Adam AS diusir dari syurga karena terbujuk rayuan iblis memakan buah apel terlarang dan Adam as ingin kembali ke syurga, Allah SWT memberikan kalimat; “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”Para mufassir menafsiri kalimat tersebut adalah; rabbanâ dzalamnâ angfusanâ wa inllam taghfirlanâ wa tarĥamnâ lanakŭnanna min al khâsirîn (Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi). Kalimat tersebut tidak lain adalah permohonan taubat, tazkiyat an nafs, ingin agar dirinya dibersihkan dari dosa dan dosa-dosanya dihilangkan. Inilah yang pertama kali harus diketahui oleh orang yang ingin mendalami tasawwuf.

Tercatat dalam sirah, sebelum Rasulullah SAW menerima wahyu dada beliau SAW dibedah dan dihilangkan semua sifat-sifat tercelanya. Setelah itu beliau SAW memiliki rutinitas taĥannuts (beribadah menyendiri di tempat terpencil yang tidak diketahui orang dan kontaminasi persoalan-persoalan duniawi) di gua hira.

Itulah metode yang dilakukan seorang kyai dalam mendidik santrinya dalam pondok pesantren. Zaman dulu, pondok pesantren Kempek setiap santri baru wajib plontos, sehingga banyak santri yang tidak jadi mondok untuk menghindari plontos. Ternyata peraturan wajib plontos itu memiliki faedah supaya santri tidak memikirkan persolan luar, karena mau keluar dari pondok pesantren malu. Itulah tahapan taĥnnuts, dilarang keluar, tidak kenal dari orang dan menyepi dari keramaian. Tidak hanya itu, di dalam pondok pesantren diperintah untuk menyapu, membersihkan halaman, roan (istiah untuk kerja bakti dalam kalangan santri), mengolah sawah milik kyai, menimba air untuk mengisi bak mandi, semua itu adalah bentuk tazkiyat an nafs (meskipun disayangkan_dan mungkin sebuah kritikan_kini rutinitas itu tidak ditemukan lagi di pondok pesantren).

Walhasil, dari kacamata tasawwuf, tazkiyat an nafs lebih didahulukan dari ta’lîm. Membersihkan bejana dari segala kotoran lebih didahulukan daripada mengisikan air ke dalam bejana yang kotor. Belakangan pakar pendidikan di negara kita mengganti kurikulum 2013 dengan kurikulum berbasis karakter. Wujud dari pelaksanaan kurikulum itu adalah ditambahkannya waktu jam pelajaran agama di sekolah-sekolah negeri. Harapannya  agar menyeleraskan antara pengetahuan dan agama (baca: karakter) kemudian menghasilkan output atau lulusan yang tidak hanya benar akan tetapi baik dan indah. Meskipun mindset tersebut terhitung telat, kita harus tetap mengacungi jempul dan salut, semoga apa yang diharapkan bisa menjadi kenyataan.

Konsep tasawwuf tentang akhirat

Orang sering menganggap akhirat itu jauh, sangat  lama sehingga sering mengatakan; nanti di akhirat, kelak di akhirat.  Padahal akhirat tidak jauh, akhirat itu dekat, akhirat berada di hadapan kita.  Dalam kajian tasawwuf akhirat dibahasakan  al âkhirat muqbilah (akhirat berada di depan) sementara ad dunya mudbirah (dunia berada di belakang). Artinya setiap detik, setiap menit, setiap jam kita hidup di dunia ini menghadap akhirat (baca: mendekati akhirat) dan membelakangi dunia (baca: semakin jauh dengan akhirat).

Tetapi falsafah kita kadang-kadang terbalik; dunia di depan dan akhirat di belakang. Sehingga maksud ungkapan; ‘masa depan’ yang gemilang, menurut kita (baca: kebanyakan kita) adalah hidup sukses di dunia bukan sukses di akhirat. Padahal yang namanya masa depan itu pasti berada hadapan kita bukan sesuatu yang berada di belakang kita (alangkah menggelikan kalau memaknai masa depan adalah masa yang ada di belakang kita (baca: dunia)),  sejatinya yang berada di hadapan kita dan menjadi masa depan kita adalah akhirat.

Lantas, yang benar akhirat di depan atau di belakang? Jawabnya, tergantung bagaimana engkau menghadap. Kalau engkau menuju akhirat berarti akhirat berada di depan, kalau engkau menuju dunia berarti  dunia berada di depan. Itu hanyalah pilihan yang tentunya memiliki konsekuensi masing-masing.

Yang sukar adalah menuju akhirat dan menganggap akhirat sebagai masa depan kita. Kita terlampau sibuk dengan urusan dunia, menganggap dunia adalah masa depan kita dan ketika kita menganggap dunia ada di hadapan kita maka akhirat ada di belakang kita.

Peran ulama sebagai pewaris para Nabi

Ilmu dan amal yang tidak untuk Allah SWT (khâlish lillâh) tertolak. Sebanyak apapun ilmu, sebanyak apapun amal yang tidak untuk Allah SWT tidak memiliki makna ta’abbud (penghambaan kepada Allah SWT). Tidak mendapatkan apa di akhirat. Sebagai contoh, Albert Einstein yang dianggap semua orang sebagai orang jenius di dunia ini, semua orang mengetahui teori relativismenya, bagaimanakah akhir hidupnya? Ia mati bunuh diri! Ini sangat ironi, karena antara ilmu dan mati bunuh diri itu terpisah sangat jauh. Orang sejenius Einstein mati bunuh diri, bunuh diri itu perilakunya orang bodoh. Jika ada orang sejenius dia bunuh diri maka ia termasuk orang bodoh! (huwa wal jâhilu sawâ).

Ini memberikan kita perhatian bahwa ilmu tidak menjadikan seseorang sadar dan benar, bahkan terkadang al’amal wa al îmân maĥjŭb bi al ‘ilmi (perbuatan dan iman terhalangi oleh pengetahuan). Disinilah dibutuhkan peran ‘ulama, syeikh, mursyid, kyai selaku pewaris para Nabi, karena tanpa mereka semua akan sangat menyukarkan mengarungi kehidupan di dunia yang penuh dengan godaan yang menggiurkan.

al ‘ulamâ waratsat al anbiyâ (‘ulama adalah pewaris para Nabi). Redaksi yang digunakan adalah redaksi plural (anbiyâ) bukan bentuk singular (nabiy) ini memberikan pengertian bahwa ulama adalah pewaris para Nabi bukan hanya satu Nabi. Rasulullah SAW bersabda; ‘Ulamanya umatku seperti para Nabi bani Israil. Nabi itu macam-macam, ada Nabi yang kaya seperti Nabi Sulaiman as, jadi kalau ada kyai yang kaya berarti mewarisi Nabi Sulaiman as. Kalau ada kyai yang miskin berarti mewarisi Nabi Isa as. Bahkan ada Nabi yang ‘rewel’ seperti Nabi Musa as, jadi kalau ada kyai yang suka rewel berarti mewarisi Nabi Musa as. Mereka semua adalah para Nabi yang diperintahkan oleh Allah SWT menyampaikan risalah kerasulan kepada kaumnya untuk memeluk agama tauhid.

Namun sayangnya zaman sekarang_bukan lagi sebagai fenomena tetapi sudah menjadi rahasia umum_  para ulama yang disebut sebagai pewaris para Nabi itu ‘hampir punah’ _kalau tidak mau disebut tidak ada_, kecuali pakaian saja, tinggal orang-orang yang pura-pura menjadi ‘ulama, berpenampilan seperti ‘ulama (mutarassimŭn). Banyak orang yang mementingkan kulit tetapi lupa akan isi. Tanpa mengesampingkan kulit, pakaian juga penting, penampilan juga perlu diperhatikan tetapi jangan sampai melupakan isi, esensi dan tanggungjawab seorang ulama. Tidak hanya tanggungjawab terhadap diri sendiri tetapi juga tanggungjawab terhadap Allah SWT. Bukankah Rasulullah Saw telah bersabda; “Siksa yang paling pedih di hari kiyamat akan menimpa orang alim yang ilmunya tidak manfaat.”? Ilmu yang tidak manfaat itu adalah ilmu yang tidak diamalkan, apa yang  diucapkan hanya sebatas retorika dan teori belaka, tidak pernah diamalkan dan diimplementasikan, persis seperti sifat orang munafik yang lidah mereka mengaku iman tetapi hati mereka berpaling dan kufur.

Semua tergoda dengan kesenangan sementara, dan kepentingan sesaat.       Ilmu akhirat dan ilmu yang digeluti para ulama salaf seperti tauhid, ushul, fiqih, hikmah, rusyd, ilmu-ilmu yang mendekatkan diri kepada Allah SWT tidak pernah dilirik lagi, keberadaannya telah dilupakan (nasyan mansiyya).  Sehingga mereka membalikkan persoalan yang baik menjadi buruk dan buruk menjadi baik sesuai dengan pemesannya. Sehingga keluhuran agama dipenjuru dunia tenggelam dalam kehinaan. Sehingga ketika semuanya telah campur baur, bekecamuk antara kepentingan, ilmu pengetahuan, juga kebodohan, fatwa yang dilegalkan oleh penegak hukum dan dijadikan peraturan adalah fatwa al ĥukŭmah (keputusan pemerintah)bukan lagi ilmu ‘ulamâ’ (ilmu para ulama).

Para ‘ulama, syeikh, mursyid, kyai, yang terlepas dari kepentingan sesaat itulah yang menjadi pewaris para Nabi  dan menuntukan kita semua kepada kebenaran, merekalah yang menjadi penghubung mata rantai kita kepada Rasulullah SAW. Merekalah ‘ulama yang menerapkan konsep kha, ha, lantas jim, yakni senantiasa menjauhi sifat-sifat tercela, mengisinya dengan sifat-sifat terpuji agar bisa wushŭl  kepada Allah SWT. Semoga kita bisa tetap berada di jalan kebenaran dengan berpegang teguh terhadap tuntunan mereka semua yang merupakan pewaris para Nabi. Inysaallah. Wallâhu a’lam bisshawâb.[] Indramayu, 15 Maret 2015

Yusuf Ilyas NH*
* Peserta Program kaderisasi ‘Ulama ma’had al Ghazier, Kempek

Lelaki pilihan ibu

Lelaki pilihan ibu

Oleh: Yusuf. E. Purnomo*

           

            PAGI, hari anyar baru akan dimulai. Kabut sisa jejak peri semalaman masih tersisa di lereng Lawu membatasi jarak pandang. Daun-daun tertindih embun basah,  mendaulat alam menjadi gelaran permadani hijau yang menyejukan. Sepagi itu Dini tengah duduk di bangku pelataran rumah seorang diri, kertas kanvas dengan seraut wajah yang belum selesai di gambar tergeletak disampingnya bersama kuas, cat yang berserakan teranggurkan. Pandangannya menerawang memikirkan lelaki yang semalam hadir kembali dalam mimpinya. Lelaki itu telah mengusik hatinya, benar-benar mengusik, membuatnya tak dapat berpaling.

            Ia jadi suka menyendiri, mengingat wajah lelaki itu untuk dilukis. Perasaannya mendesak, hatinya memberontak meminta pelampiasan. Pikiran dan perasaanya yang kalut itu tercurahkan dalam lukisan-lukisan. Serautwajah yang belum ia rampungkan pagi ini, adalah lukisan kesekian kalinya yang semuanya tidak pernah sanggup ia rampung.

            “Kenapa, Ni?” Tanya ibunya yang tiba-tiba telah hadir disampingnya.

            “Em, cuma ingin melukis matahari lawu, bu.” Jawabnya berbohong.

            Ibunya melangkah ke depan berusaha melihat lukisan Dini, namun dengan cepat Dini menghalangi langkah ibunya sambil menunduk.

            “Lukisannya belum jadi, bu.” Ucapnya pelan tidak berani menatap wajah ibunya.

            Ibunya tersenyum penuh arti. Ia mengusap pundak Dini sambil berbalik pergi.

            Ia tidak mungkin bercerita jujur tentang lelaki yang kerap hadir dalam mimpinya. Selama ini tabu baginya memikirkan lelaki, meskipun usianya sudah tidak muda lagi, ia masih belum terpikirkan tentang lelaki. Beberapa kali ibunya berusaha membujuk untuk segera menikah, menjaga omongan orang luaran yang mulai mempertanyakan Dini yang masih suka hidup sendiri. Tapi ia menolak bujukan ibu, termasuk lelaki-lelaki tetangga yang datang meminangnya.

            Namun, entah apa yang tengah menimpanya, beberapa hari ini hatinya terusik oleh lelaki dalam mimpi. Awalnya ia menganggap sebagai bunga tidur saja, atau mungkin pikirannya yang sedang  tak karuan karena dipaksa segera nikah oleh ibu. Namun mimpi ini berbeda, mimpi ini terus terjadi dengan seorang yang sama. Seorang lelaki yang menawan hatinya. Kehadirannya membawa rasa indah yang tak bisa ia pungkiri lagi, jujur, ia kerap menanti untuk bertemu dengan lelaki itu, tidak di dunia mimpi, namun dalam dunia yang nyata, dunia yang sebenarnya. Ia tak mengerti darimana asal lelaki itu, tetapi dalam mimpi dengan jelas ia memanggil Aryo Pengarep.

            “Uhf,” desahnya berusaha melupakan keanehan yang ia alami beberapa malam terkahir ini.

            Tanpa setahu Dini yang masih termenung, ibunya memperhatikan tingkah puteri semata wayangnya itu dari balik jendela. Ia mengangguk-angguk pelan, seperti telah mengerti semua yang tengah terjadi.

            KAMAR Dini masih tertutup, entah apa yang ia lakukan di dalam sana. Orang-orang resah menunggu di luaran karena sebentar lagi mempelai pria akan datang. Tak ada seorangpun yang berani mengetuk pintu, mereka hanya menatap nanar ke arah pintu sambil menduga-duga apa yang sedang terjadi. Yang mereka tahu, seperti permintaan Dini; ia ingin berdo’a seorang diri sebelum melepas kehidupan lajangnya. Ia perlu menit-menit terakhir untuk memantapkan hati hidup bersama pria pilihan orang tuanya dan menjadi seorang isteri. Sudah satu jam-an ia masuk ke dalam kamar, orang-orang semakin resah. Padahal hari baru dimulai, namun gerah dalam ruangan itu seperti saat siang hari, keringat membulir di kening para keluarga dan tamu. Bayangan pernikahan akan batal  begitu jelas terbersit di benak.

            “Cerita Siti Nurbaya kembali berulang,”  ucap para tamu berbisik.

             ROMBONGAN pengantin pria telah tiba diiringi musik pesta pernikahan. Orang-orang di luar semakin bertambah resah, namun mereka tidak ada yang berani mengetuk pintu. Di dalam kamar Dinitengah berbaring di atas ranjang, berusaha terlelap. Ia merasa harus pamitan dengan lelaki dalam mimpinya. Sekarang adalah kesempatan terakhirnya untuk bertemu lelaki itu sebelum ia menjadi isteri orang lain. Ia tidak bisa menolak terus menerus lamaran orang yang datang, usianya sudah pantas untuk nikah, orang tuanya resah kalau ia jadi omongan tetangga sebagai perawan tua. Ia sebenarnya tak pernah menginginkan itu terjadi, namun, ia tidak mampu. Ia telah terpaut dengan lelaki yang kerap hadir dalam mimpinya, sehingga hatinya menolak semua pinangan lelaki.

            …Orang-orang ramai berada di rumahnya. Janur-janur terpasang di depan gerbang layaknya acara pernikahan. Ia baru saja sampai rumah, setelah libur sebulan entah pergi kemana. Ada yang aneh, ia adalah anak tunggal di rumah ini, tapi sama sekali ia tidak mengerti acara pernikahan ini. Siapakah yang sedang melansungkan pernikahan? Apakah ibunya menikah? Bukankah masih ada ayah?

Di depan rumah ramai oleh para tamu undangan, Dini masuk rumah melalui jalan belakang. Ada jalan setapak kecil menuju belakang rumahnya yang biasa di gunakan jalan orang, ia memalui jalan itu. Baru membuka pintu, Ibunya  yang tengah menangis memeluknya erat,

“Sekeluarga telah lama menanti, Ni,” ibunya berucap demikian membuatnya bingung.

Seisi ruangan gembira dengan kedatangannya. Ia masuk ke dalam kamar yang telah penuh hiasan kembang-kembang. Juru rias menggandengnya ke bangku dan menyuruhnya segera berganti baju.  Ibunya datang dengan beberapa perempuan yang telah siap menjadi dayang-dayang. Dini heran, bungkam tak bisa berbicara.

“Penghulu dan pengantin pria sudah lama menunggu di luar, cepat dandan!” seru ibunya. Dayang-dayang yang ia tatap tersenyum mengiyakan. Ia pasrah saat Juru rias menyapukan bedak ke wajahnya, mulai merias seperti seorang putri yang cantik. Ia mematut wajah di depan cermin, ia masih kenal dengan wajahnya sendiri; sepasang alis yang tajam menghias mata yang bundar, bibir tipis membingkai barisan gigi yang rapi juga sepasang lesung di pipi. Tapi tingkah orang-orang di sekelilingnya membuatnya asing.

“Aryo…cepat kemari…” bisik Dini  dalam hati.

“Aku akan jadi pengantin, akan jadi isteri orang. Bawa aku kabur dan kita berdua bersama ke telaga itu. Aku hanya ingin bersamamu Aryo!”  jeritannya pilu. Tak ada orang yang mendengar. Ibunya ia lihat tengah menyiapkan baju pengantin yang akan ia kenakan, putih warna baju itu bertaburan bunga melati wangi semerbak.

Pintu kamar di buka, ayah masuk memberi isyarat untuk segera keluar. Dini menatap wajah ayah, meminta keadilan. Lelaki itu adalah pilihan ayah, bukan pilihannya. Ia tidak mengenal lelaki yang akan menjadi suaminya seumur hidup, ini tidak adil.

Riasan telah rampung. Dini menatap bayangannya di depan cermin. Cantik, apalagi saat ia berusaha tersenyum. Ia berusaha keras agar tak terisak meski hatinya hancur.

“Kenapa semendadak ini, bu,” ucap Dini meminta pengertian.

“Bukan mendadak, Ni. Kamu sendiri yang ingin cepat menikah dengan lelaki itu. Tak kira bapak sama ibu cuma menuruti permintaan kamu saja,” ucap ibunya.

“Hidup sendiri itu tidak enak, Ni. Butuh teman untuk tempat keluh kesah, senang, bahagia dan duka di rasakan bersama. Ibu tahu, kamu akhir-akhir ini kerap murung. Perempuan seusiamu butuh lelaki Ni, biar tenang.”

“I…ya, tapi bukan begini caranya, bu. Dini tidak kenal lelaki itu, mana mungkin Dini bisa hidup bahagia!”

“Lho, bukankah ini pilihan keras hatimu sendiri?” Ibunyaberucap demikian mulai tak sabar.

 Dini patuh ketika ibunya menarik tangannya untuk menuju ruang tamu. Disana telah banyak orang menanti kedatangannya. Pertama kali yang ia tuju adalah lelaki di depan penghulu. Pandangannya menatap lekat lelaki itu. Ia tidakdapat dengan jelas,wajahnya samar tertutup selendang pengantin. Dini terpaksaduduk di samping lelaki sambil menahan isak tangis.

Berdekatan dengan lelaki itu, Dini merasakan keakraban yang tiba-tiba membuatnya tercekat, hatinya menduga-duga. Ia berusaha mengingat keakraban itu berasal darimana dan tentang siapa. Belum sempat berpikir ia terkejut oleh ucap penghulu.

“Aryo, siap?”

“Siap…”

Mendengar jawabanbergetar yang selama ini sangat akrab itu Dini terkesiap. Ia menatap tubuh di sampingnya sambil mengintip dari celah selendang. Ia amati wajah lelaki  itu.

“Aryo…” ucapnya tergetar seperti orang berbisik.

Lelaki disampingnya berpaling memberi senyum. Ini seperti mimpi. Kejutan yang di berikan Aryo membuatnya terhenyak. Bukankah Aryo, lelaki yang selama ini telah memikah hatinya hanya hadir di dalam mimpi?

“Tok….tok….tok.” Ketukan pintu membuat Dini terbangun.

“Keluar nak, para tamu semakin resah menunggu,” suara ibunya terdengar dari luar.

“Iya, bu.” Ucapnya sambil merapikan baju pengantin.

PINTU kamar terbuka, orang-orang bernafas lega, terutamanyacalon pengantin pria. Dini melangkah keluar, yang pertama ia tuju adalah lelaki  gagah yang tengah duduk di hadapan penghulu.

Hatinya berdebar kencang, bibirnya bergetar, kelu tak mampu berucap setelah melihat ternyata lelaki yang selalu menjadi bunga tidurnya itu tengah sama menatap ke arahnya. Dini tertegun beberapa detik mengartikan sesuatu yang berdesir dalam hati; ternyata lelaki pilihan ibu itu adalah lelaki yang kerap hadir dalam mimpi.

Semarang, 2011

*Penikmat Sastra yang lahir di Barito Timur 16 September 1989 Kalimantan Tengah. Lulusan sarjana pendidikan Bahasa Arab di UIN Semarang. Pernah menjadi ketua komunitas sastra saat masa-masa kuliah, menerbitkan majalah sastra dan menjadi pengisi sekolah sastra di beberapa sekolah, pernah diundang Institut Ibn Rusyd Lampung. Sesekali membacakan puisi dan cerpen di komunitas beranda sastra Semarang dan teater Beta. Saat ini tinggal dan mengikuti program khusus Kaderisasi Ulama di Kempek. Email; This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
.

 

 

 

 

 

 

 

 

KIAMAT BAINAL SUGRO WAL KUBRO

Cerita ini diangkat dari kisah nyata. Cocogan kitab (membaca kitab dengan disimak teman) merupakan tradisi yang masih eksis khususnya di daerah pesantren, kegiatan ini bisanya dilakukan ba’da musyawarah (pembahasan pelajaran ngaji  dengan system diskusi) yang bertepatan pukul  22.30 WIB.

Di salah satu asrama tardengar begitu ramai para santri cocogan kitab, kebetulan kali ini ketua asrama langsung yang menyimak, kegiatan ini nampaknya sudah berlangsung cukup lama, biasanya bagi anak yang tidak bisa –mungkin karena malas belajar- akan dikasih sangsi langsung dari ketua asrama. Dan nyata saja kali ini ada empat anak yang tidak bisa, ke empat anak ini memang sudah langganan, kontan saja hal ini membuat ketua asrama naik pitam, tanpa basa- basi  “ hukuman kalian sekarang nyebokin kucing !”, tegas ketua asrama. Spontan ke empat anak langsung berpencar mencari kucing.

Singkat cerita masing-masing dari mereka berhasil mendapatkan satu kucing walau gelapnya malam cukup menyulitkan, tampak empat kucing itu gemuk-gemuk dan kuku serta taringnya  tampak panjang-panjang yang menandakan kucing pemburu liar, entah dengan cara apa anak-anak itu tangkap, tapi tampak dari raut wajah mereka  yang begitu kelelahan. Sebelum kucing2 itu diceboki terlebih dahulu diperlihatkan kepada ketua asrama. Di asrama yang agak luas terdapat para santri sedang beristirahat, tak disangka ke empat kucing lepas begitu saja, dan melakukan pertarungan yang sengit, sehinngga kiamat sugro bainal kubropun tak bisa dihindari, semua santri panik, sampe-sampe ada yang naik diatas lemari, ada yang lari tunggang langgang dan ada hanya berputar-putar sambil menjeri-jerit kepanikan. Ditengah-tengah kacau bulau pemicu galau ketua asrama berteriak, “kalau ke empat kucing itu tertangkap akan kami panggang buat mayoran anak-anak se-asrama !

oleh: M. Abror

 

OSIS MA KHAS ADAKAN BAKSOS BERSAMA KEMENSOS

Cirebon- Jumat, 6/2/2015 Gandeng Kemeneterian Sosial Provinsi Jawa Barat Wilayah Kabuapten Cirebon Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) MA KHAS Kempek Palimanan Kabupaten Cirebon adakan kegiatan Bakti Sosial (Baksos) bersama puluhan fakir miskin, anak yatim, anak jalanan, dan pemulung di salah satu titik pemukiman keluarga tidak mampu dari enam titik binaan Kementerian Sosia Jalan Dukuh Semar Gang Merah Anggrek Sekitar Terminal Harjamukti Kota Cirebon.

Di pemukiman ini merupakan pemukiman pembinaan yang paling bersih dan paling berhasil menjalankan program-program Kementerian Sosial seperti penanggulangan anak putus sekolah, kebersihan lingkungan, dan kesadaran masyarakat dalam mencari pekerjaan yang pantas.

Dana yang diperoleh oleh sembilan belas anggota OSIS adalah  dari sumbangsih sukarela ratusan siswa MA KHAS Kempek ditambah bantuan dana dari yayasan dan sekolah untuk dibelikan sembako seperti beras, mie instan, makanan ringan, dan minuman ringan serta ditambah beberapa dus besar berisi pakaian bekas yang dikumpulkan dari  santri-santri Pondok Pesantren Kyai Haji Aqiel Siroj (KHAS) Kempek Cirebon yang sudah tidak terpakai.

“Mereka sangat kreatif dengan mengusung kegiatan yang bertema Tali Kasih mengumpulkan dana dari ratusan siswa MA KHAS Kempek yang kemudian dibelikan sembako seperti beras, mie instan, makanan ringan, minuman ringan, dan lebih mengagumkannya lagi mereka juga mengumpulkan pakian bekas dari para santri Pondok Pesantren KHAS Kempek kemudian dicuci, disetrika serta dilipat dan dimasukkan dalam dus dengan sangat rapi,” ungkap Pembina OSIS Akromi, S.Hi., S.Pd.I.

Akromi juga memaparkan bahwa kegiatan ini diprakarsai oleh aktivis di bidang sosial Kementerian Sosial yang juga salah satu guru di MA KHAS Kempek Ibu Siti Fatimah, A.Ks. sebagai salah satu kegiatan tahunan OSIS di bidang bakti sosial.

Disamping itu, kegiatan yang baru pertama kali diadakan ini juga untuk memberikan pelajaran kepada mereka bahwa pentingnya kebersamaan dan berbagi tanpa membedakan-bedakan antara orang kaya dan miskin atau status sosial, serta mudah-mudahan rasa kasih sayang mereka kepada sesama akan lebih tinggi serta berharap akan berlangsung minimal satu tahun sekali, tegas guru yang juga menjabat sebagai Kesiswaan ini.

Dengan mengakhiri pembicaraan, pesan dan harapan terbesar darinya yang mendampingi OSIS saat kegiatan berlangsung adalah kegiatan ini sangat baik, sehingga ke depan akan lebih mendapatkan dukungan dari berbagai pihak terutama tambahan dana yang lebih besar dari yayasan dan sekolah serta semoga kegiatan ini akan diikuti oleh sekolah-sekolah lain dilingkungan Kabuapten Cirebon. (Saqiya_96)

 

Syaghaf

kencintaan yang teramat sangat membuatku takut untuk kehilangan. Bagai rambu-rambu kehidupan, perjalan cintaku tak selalu mulus. kadangkala seperti  lampu hijau, kemudian kuning bahkan berwarna merah. Seperti saat ini, cintaku tengah  bereda diposisi rambu-rambu  berwarna merah. Sulit dinyana

dalam logikaku. cinta yang sudah terbentuk sejak  tujuh tahun silam,kini harus berubah petaka. Entah apa masalahnya? Namun yang jelas bukan dari pihak ketiga, keempat  ataupun kelima. Ini murni dari diri diri masing –masing.

Salman, lelaki lugu yang dulu pernah berhasil mencuri serpihan-serpihan hatiku yang sengaja ku tabur dalam jurang cinta. Kini Dia ubahnya lelaki dewasa yang suka membingungkan. Kadang ku berpikir apakah Dia sudah mulai jenuh menghadapiku? Tapi …… sejauh perjalan cinta ini, rasa Aku belum pernah membuat skandal dengan hubungan kami, bahkan Aku cenderung menjaganya dengan sangat baik. Aku rasa pula, bukan karena Aku sudah tak telihat menarik lagi dimatanya. Aku belum tua, dan Aku masih single karena masih terus dalam penantian. Menunggunya yang kelak akan mempertemukan ku pada kehidupan yang lebih lengkap. Ya, Dia tak main-main dengan hubungan  ini.

Namun, senyuman yang  dulu kurindukan kini terasa mahal untuk terus tersungging dihapanku. Huft, kenapa Aku terus diperlakukan begini?  apa yang senarnya kini ada dalam benaknya?

“Salman………”, panggilku pada suatu hari saat Aku nekat berkunjung kerumahnya.dia hanya menatapku tanpa seulas senyum seinci pun. Aku membenarkan cadarku yang bergerak-gerak terkena angin.

Cuaca mendung menghiasi siang ini yang terasa semu. Aku berdiri agak jauh semester darinya , diatas yang terletak tak jauh dari rumahnya. Disinilah dulu cinta ini bermula. Saat Aku menunggu ayahku pulang dari pelayaran. Yah, ayahku memang seorang pelaut. Meski Aku sendiri tak tahu pasti apa yang tengah dicari oleh ayahku dilaut yang luas itu. Ikankah? Atau mungkin mutiara-mutiara kerang didasar laut. Tapiku yakin ayah takkan seceroboh itu untuk menenggelam diri demi sebuah kerang mutiara.karena kutahu ayah tak punya kostum penyelam hanya saja ayah pandai berenang. Itulah yang membuat ku kagum padanya.

Cinta itu bermula persis saat aku pun tengah  berdiri disini menanti ayahku yang akan berlabuh usai pelayaran yang panjang dan Dia yang saat itu tiba-tiba mengahampiriku. Mungkin Dia agak heran karena melihat  penampilanku yang seperti orang arab. Bercadar dan alas penutup tangan dan telapak kaki hingga nyaris sekujur tubuhku tak dapat terlihat kecuali kelopak mataku yang berhiaskan celak warna hitam yang sesekali terlihat berkedip.

Namun setelah Ia menyadari aku asli setanah air, maka Dia pun memberanikan diri untuk menyapaku dan mengajakku berbicara. Saat itu Aku sangat malu-malu sekali menjawab setiap pertanyaan yang selalu Dia ajukan. Namun dari situlah komunikasi  bermula dan untuk pertemuan yang kedua kami pun mulai merajut hubungan ini. Sampai sekarang.

Angin semilir kembali menerpa cadarku yang mau tak mau harus terkibar karenanya. Sesekali kulirik Dia yang tatapanya tak pernah lepas dari kapal-kapal yang tengah berlabuh. Sesekali kudengar Dia menghela napas dalam-dalam. Kami pun masih terdiam.

“Bagaimana dengan hubungan ini?”, Tanyaku membuka percakapan. Ia beralih manatapku namun sesaat. Aku pun menunudukan wajahku. Cuaca yang mendung membuat raut wajahnya terlihat seakan dingin dan sayu.

“bagaimana menerutmu?”, ujarnya balik bertanya. Aku terperangah mendengar ucapannya yang seakan acuh tak acuh menangggapinya.

“Aku lelah jika terus menanti. Kau selalu mendiamkanku……..,”  ucapku kemudian. Dia tersenyum namun terlihat masam.

“cinta kita itu seperti i’rob, Zahra. Terkadang Dia seprti khofad yang sewaktu-waktu bisa berubah karena melemahnya cinta dan menerunya rasa kepercaan pada masing-masing pihak. Akan tetapi, terkadang cinta itu seperti nasob yang berada dipuncaknya maghligai  saat cinta itu begitu besar dan meluap sehingga suasana itu begitu terasa indah dan menggebu. Begitupun dengan rofa’, Kau tau makna dlomah yang bepijak diatas lam fi’il?”, Tanya salman. Aku menggeleng

“dlomah itu diartikan sebagai sebuah masalah yang begitu suka. Masalah yang sepele namun sulit dipecahkan. Itulah cinta kita saat ini. Coba saja Kau perhatikan dan pahami bentuk dlomah iitu….,” ujarnya. Aku menekan batin ku yang seakan terasa semakin sesak. “namun, Aku tak pernah menghendaki cinta kita itu dijazemkan atau mati tak bernafas …..,” ucapnya lagi. Kali ini Aku sudah benar-benar tak dapat mengendalikan perasaanku lagi.

“ Stop Salman…..”,sangkalku. “ kau selalu menyamakan cinta dengan nahwu dan shorofmu. Apa

Kau tak menggerti bahwa ku selama ini seperti maf’ul mu yang terkadang tidak kau butuhkan? Apakah ini yang namanya cinta? Saat ragaku mulai letih menanti, namun kau tak kunjung memberi kepastian padaku .  Aku  bukan amil ma’nawimu  yang hanya  bisa  Kau rasakan namun tak pernah terlihat oleh matamu. Aku dzohir salman. Ada!”,segahku deanga segenap gejolak dalam hatiku. Hingga kurasakan bibirku bergetar saat mengatakan kalimat itu. Suara halilintar terdengar saling bersautan bertan hujan akan segera turun.

“Zahra, Kau adalah jawab bagi syaratku, khobar bagi mubtadaku, dan takan kubiarkan amil-amil nawasih mengusik hubungan kita. Apa Kau tak percaya bahwa Aku setia da Aku benar-bener bersunggu menjalani hubungan ini? Diam ku bukan berarti munfashil bagi cintamu, akan tetapi muttashil. Hatiku selalu melekat dengan hatimu. Ini cinta yang haqiqi. Syaghaf …..,” tegas salman yang kali ini menatap ku lekat-lekat. Hujan mulai turun dengan sangat derasnya, namun kami tak berusaha untuk manghindari, kami tepap berdiam disini. Diatas demaga yamg seolah menjadi saksi atas percakapan kami. Aku tertegun mendengar  ucapanya yang meneduhkan. Ku tatap lekat-lekat wajahnya ynag mulai basah oleh air hujan.

“…..dan kau adalah fa’il bagi fi’ilku. Saat Kau tiada maka apa artinya diririku. Dan takan pernah naibul fa’il yang mampuh mengganitikanmu dalam hatiku,” ucapku. “begitupiun maf’ul min ajlih lainnya….”, ujarku lagi

Kini Aku semakin semakin yakin akan penantianku. Salman, kekasihku. Masih teguh dengan cintanya Dia hanya ingin waktu ruang untuk menata kembali  ruang hatinya, namun Dia tak pernah mencoba  berpaling. Inilah cintaku dan cintanya yang mendalam. Hanya bisa terukir oleh tinta-tinta kesetiaan yang mampu menjadi benteng bagi cinta kami.      

 Sekian

Oleh: Tisya avrila

 

S.A.N.T.R.I.

Langit tipis berawan cerah

Sang surya bersinar penuh gagah

Panas membawa angin gerah

Gapura pesantren yang berdiri megah.

Tak terbantah,

Meski sulit tak kenal kata pasrah

Menarik nafsu tuk mengalah

Dari semua ilmu memberi faedah

Bisu, berdoa walau tak kuasa menengandah.

-Siroj Achmad- Kempek, Juli 2010

JELANG UN DAN UAMBN SISWA KELAS XII MA KHAS KEMPEK IKUTI PRA UN DAN PRA UAMBN

Kempek- Kamis, 26/2 merupakan hari terakhir siswa kelas XII MA KHAS Kempek Palimanan Kabupaten Cirebon melaksanakan kegiatan Pra ujian nasional (UN) dan Pra ujian akhir madrasah berstandar nasional (UAMBN) yang telah dimulai sejak Minggu 22/2.

Jumlah total peserta yang mengikuti kegiatan tersebut adalah 302 siswa dari jumlah seharusnya 303 siswa. Ada satu siswa yang tidak bisa mengikuti kegiatan penting tersebut.

Pada saat dikonfirmasi,  “satu orang tidak bisa mengikuti kegiatan tersebut karena yang bersangkutan sedang sakit dan nanti setelah sembuh yang bersangkutan akan mengikuti susulan,” ungkap Kepala Tata Usaha (TU) Nurkholik.

Nurkholik juga menambahkan bahwa peserta ujian nasional tahun pelajaran 2014/2015 mengalamai kenaikan dari jumlah peserta tahun sebelumnya 248 siswa.

Menurut Waka Ur. Kurikulum kegiatan ini bertujuan untuk melatih kesiapan siswa menghadapi UAMBN yang akan dilaksanakan pada tanggal 9 – 14 Maret 2015 dan UN mulai tanggal 13-15 April 2015.

Bukan hanya itu, menurut pria yang akrab dipanggil Madrohim juga menegaskan kegiatan ini sebagai tolok ukur kemampuan siswa kelas XII mengerjakan soal-soal yang bobotnya sama dengan soal-soal UN dan UAMBN.

“Pra UN dan Pra UAMBN juga sangat perlu dilaksanakan agar siswa terbiasa mengisi identitas diri dalam lembar jawaban sehingga siswa tidak ada yang salah dan lupa pada  saat mengsi identitas diri, seperti hari kemarin masih ada beberapa siswa yang salah menuliskan tanggal ujian,” ungkap salah satu pengawas ujian Setyanto. (saqiya_96)

 

 

Kucing

Kucing 

Oleh: Yusuf. E.Purnomo*

 

HUJAN seperti jalin jemalin tidak putus-putus sejak semalam, selokan-selokan _ampong tidak sanggup lagi menampung air, jadinya tumpah mengisi dataran-dataran rendah jalanan _ampong. Aku menatap rintik hujan yang masih riwis dari balik kaca jendela. Mendung gelap masih bergayut di langit menandakan hujan masih akan terus turun. Beberapa anak berangkat sekolah membawa _ampon, berkejar-kejaran dengan aliran air yang menuju genangan-genangan. Ibu-ibu mengenakan baju _ampong dan topi-topi pandan hendak ke pasar menaiki sepeda onthel menyusuri jalanan _ampong, berleret-leret seperti jamur-jamur raksasa yang merekah di musim hujan. Atap atap rumah penduduk yang terbuat dari genting merah tanah, dipadu tempias hujan yang disapukan angin seperti lukisan indah di kanvas perkampungan yang damai. Angin berhembus membaui aroma tanah yang khas.

“Brak!” suara ember jatuh membuyarkan lamunanku.

“Kucing!” ucapku menahan geram.

Aku melempar kucing itu dengan sapu, luput, kucing itu telah mengerti kebiasaan majikan barunya. Kucing itu berlari dan menghilang di kolongan sempit rumah. Aku menumpahkan kegeraman dengan membereskan ember yang dijatuhkan dengan menggerutu. Entah sudah keberapa kalinya kucing itu membuatku geram dengan ulahnya, karena memburu tikus biasanya ia menabrak peralatan dapur dan membuatnya berantakan. Aku hanya bisa menggerutu dan esoknya kucing itu  berbuat demikian lagi. Setiap bangun pagi aku selalu diberi pekerjaan membereskan dapur yang berantakan setelah semalam di obrak-abrik kucing. 

Kucing itu telah lama tinggal di rumah yang baru beberapa bulan aku beli. Warnanya putih, sekujur tubuhnya putih seperti serakan salju. Ke empat kakinya berwarna hitam tersepuh cokelat, sekilas dilihat seperti mengenakan kaus kaki. Orang banyak menyebutnya kucing kaus kaki. Sepasang matanya biru lazuardi dan tajam menunjukkan kejantanan sebagai petarung. Suaranya sangat akrab ditelingaku karena _ampon setiap pagi kucing itu mengganggu tidurku.

Kata pemilik rumah sebelumnya, kucing itu seperti penjaga rumah bagi mereka, selain menjaga tikus-tikus yang berkeliaran saat malam hari, juga bersuara gaduh dan kacau saat ada orang mencurigakan disekitar rumah. Satu hal yang membuat kucing itu istimewa adalah selalu membangunkan saat pagi hari dengan suaranya yang khas. Cerita pemilik rumah bahwa kucing itu pernah menyelamatkan rumah dari maling menurutku hanya kebetulan saja, aku tidak pernah mau berdamai dengan kucing itu yang telah merepotkanku.

“Apapun caranya, aku harus bisa mengusir kucing sialan itu,” kataku dalam hati.

“Dia tahu jalan ke rumah ini, percuma saja di buang.” Ucap hatiku lagi.

“Aku bisa membunuhnya,” ucap hatiku ketus.

“Itu tidak akan aku lakukan. Dosa. Aku teringat cerita sunan kalijaga yang menangis tersedu-sedu ketika tanpa sengaja mencabut rumput saat ia terjatuh. Katanya mencabut rumput tanpa digunakan adalah perbuatan sia-sia dan berdosa. Rumput itu mendoakan kedamaian bagi manusia, begitu juga dengan hewan-hewan.” Ucap hatiku lagi.

“Tapi aku tidak betah.” Ucapku sebal.

PAGI baru dimulai, sementara di luaran semakin gelap oleh mendung tebal yang menggelayut, gerimis mulai menitik. Sepi semakin menggayut ketika hujan mendera bumi. Bunyi gelegar sesekali terdengar di langit dibarengi cambukan api yang membuat suasana _ampong sebentar terang kemudian kembali gelap setelah cahaya api itu lenyap. Suasana di pasar terlihat berbeda; ibu-ibu tengah asyik bercengkrama sambil menunggu hujan reda.

“Kemarin kang Karim kecelakaan,” ucap yu Leha.

“Iya, beritanya sudah nyebar dimana-mana.” Ucap yang lain menimpali.

Aku yang memang juga telah mendengar berita kecelakaan kang Karim itu diam dan hanya menyimak.

“Tapi ada berita yang tidak diketahui oleh banyak orang,” ucap yu Leha.

“Apa?” Tanya yang lainnya antusias.

“Seminggu sebelumnya saat kang Karim pulang dari kulakan beras di kecamatan, ia nabrak kucing.” Ucapnya bercerita dengan _ampo serius.

“Terus?”

“Kucing itu terlindas truknya dan mati dengan usus terburai.”

Yu Leha semakin semangat bercerita dan membuat kami penasaran.

“Kucing itu hewan yang blarati,  biasanya orang yang nabrak kucing esok atau lusanya akan mengalami kecelakaan.” Ucapnya lagi.

“Sebagian orang malah percaya kucing itu akrab dengan tukang sihir, sebagai pengantar sihir. Sepasang matanya saja menakutkan saat malam hari, seperti mata hantu.” Ucap perempuan lain.

“Setahuku kucing itu hewan kesayangan nabi,” ucap yang lainnya menimpali

Aku masih terdiam, teringat kucing di rumahku. Aku hanya mengerti bahwa kucing itu telah membuatku uring-uringan selama ini. Merusak perabotan rumah dan mengganggu tidurku. Cerita ibu-ibu di pasar itu sama sekali tak membuatku berdamai dengan kucing. 

Kekesalanku semakin memuncak ketika sampai rumah kudapati kucing itu tengah pulas tertidur di bawah kursi. Aku mengendap-endap masuk ke rumah, mengambil air segayung dari padusan. Kucing itu masih mendengkur halus, lelap dengan tidurnya. Aku siramkan air ke kucing itu dengan geram.

“Byar!!”

Kucing itu sontak terbangun dan lari terbirit-birit keluar rumah dengan tubuh kuyup, bulunya yang putih seperti salju jadi layu dan kusut, ia sempat merandeg di terasan rumah setelah dihadang hujan yang semakin deras. Tubuhnya menggigil kedinginan. Aku yang tak puas hanya membuatnya kedinginan mengejar dengan membawa sapu bersiap melemparkan kearahnya, kucing itu melarikan diri menerobos hujan dan hilang di balik pohon-pohon pisang. Aku masuk ke dalam rumah, menutup pintu dengan kemenangan. 

ESOKNYA, biasanya aku bangun pagi uring-uringan karena suara gaduh kucing, pagi tadi tidak lagi. Kucing itu tidak terlihat lagi di sekitar rumah, aku bangun kesiangan dan gedabrukan berangkat ke pasar. Di dapur banyak tahi-tahi tikus berceceran di lantai menjadi pekerjaan baruku sejak pagi ini. Semalam tikus-tikus itu dengan leluasa menyelinap ke dalam dapur. Kucing yang selama ini membuatku geram telah pergi, mungkin kejadian kemarin benar-benar membuat kucing itu kapok untuk kembali ke rumah ini. Tapi, aku berganti dibuat geram dengan keberadaan tikus-tikus yang mencuri makanan di dapur.

Sampai di pasar, hari benar-benar telah siang, para pembeli telah banyak yang pulang. Aku telat datang, pasar mulai sepi. Aku tetap berjualan meski beberapa penjual lainnya sudah bersiap-siap akan pulang. Penjual sayur memang biasa berangkat pagi-pagi untuk mendapatkan banyak pembeli. Sayur-sayur yang masih segar lebih disukai pembeli daripada sayur yang sudah layu. Karena itulah sayur-sayurku tidak banyak laku dijual, aku pulang dengan membawa sisa-sisa sayur yang masih banyak. Malamnya aku akan rendam sayur-sayur itu dalam air biar tetap segar dan esok bisa aku jual lagi di pasar dicampur dengan sayur-sayur yang baru.

Kucing itu benar-benar tidak pernah tampak lagi di sekitar rumah, aku tidak perlu uring-uringan lagi dengan kucing. Setelah merendam sayur-sayur sisa jualan di pasar aku langsung tidur dengan nyenyak tanpa suara gaduh. Aku harus bisa bangun pagi besoknya kalau tidak mau ketinggalan pembeli lagi. Udara malam yang dingin membuatku cepat terlelap, aku lupa untuk mematikan api di dapur yang masih menyala.

TENGAH MALAM aku terbangun oleh suara kucing yang meraung-raung di depan pintu kamarku. Entah darimana kucing itu bisa masuk rumah, mungkin lewat dapur  atau celah-celah dinding yang menjadi pintu rahasia kucing untuk masuk ke dalam rumah. Aku gusar merasa ada yang mengusik tidurku. Jam dinding yang menunjuk angka 4 pagi: fajar, Aku melangkah gontai membuka pintu kamar berniat akan memukul kucing yang masih bersuara gaduh dan kacau. Pintu terbuka,  api berkobar- kobar dari arah dapur. Aku terkepung dalam api yang berkobar. Kucing itu masih bersuara gaduh dan kacau, diam di dekatku. Ia tak melarikan diri seperti biasanya saat melihatku.

Di tengah ketakutan, aku lekas menangkap sesuatu yang ingin disampaikan kucing itu, ia ingin memberitahu sesuatu; menyelamatkan diri. Aku beranjak keluar kamar mengikuti kucing itu yang melompat diantara api yang membakar. Sampai pintu samping aku melompat keluar bergulingan di rerumputan. Beberapa orang _ampong mulai berdatangan berusaha memadamkan api, aku yang masih digayuti rasa takut hanya bisa terduduk lemas melihat orang _ampong yang berusaha keras memadamkan api. 

Api berhasil padam, menyisakan kayu-kayu yang hangus. Dapur rumah tak berbentuk lagi tinggal puing-puing berserakan dengan abu. Tapi untunglah tidak semua rumahku terbakar, hanya dapur yang perlu di perbaiki karena tidak bisa digunakan lagi. Lebih bersyukur lagi, aku selamat dari kebakaran tengah malam yang menakutkan itu. Suara gaduh kucing itu telah membangunkanku. 

Aku mencari kucing itu, suaranya tak terdengar lagi sejak aku melompat keluar dari kobaran api. Mungkin ia terbakar kobaran api. Aku berjalan menyusuri sisa-sisa kebakaran, mencari-cari sesuatu. Dibawah kayu yang masih mengepulkan asap, aku melihat bangkai kucing yang telah hangus. Kulitnya yang berwarna putih seperti salju itu terbakar dan mungkin telah terbang ke kastil-kastil langit. Sementara raungan gaduhnya yang menyelamatkanku dari kebakaran itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Entah, tiba-tiba saja hatiku perih jika teringat  raungannya yang menyayat saat terusir dari rumahku.

Kempek,2014

 

*Penikmat Sastra yang lahir di Barito Timur 16 September 1989 Kalimantan Tengah.

Lulusan sarjana pendidikan Bahasa Arab di UIN Semarang. Pernah menjadi ketua komunitas sastra di komunitas Beranda Sastra Semarang saat masa-masa kuliah, menerbitkan majalah sastra dan menjadi pengisi sekolah sastra di beberapa sekolah, pernah diundang Institut Ibn Rusyd Lampung. Sesekali membacakan puisi dan cerpen di komunitas beranda sastra Semarang dan teater Beta. Saat ini tinggal dan mengikuti program khusus Kaderisasi Ulama di Kempek.

Email; This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
.

 

Pensi Memacu Kreatifitas Santri Kempek

Cirebon, Sabtu (22/11), Sejak jarum jam meujukan pukul 13.00 WIB, santriwan, santriwati, alumni dan tamu udangan berjalan menuju lokasi acara. kursi yang tertata rapi di halaman MTS KHAS Kempek, Cirebon, mulai dipadati ratusan pengunjung. Terik matahari yang menyengat tidak membuat pengunjung beranjak dari kursi duduknya hingga penghujung acara.

Pentas Seni (Pensi) santri Pondok Pesantren (Pon-Pest) KHAS Kempek begitu menghibur para pengunjung. Suara tepuk tangan terdengar setiap selesai pementasan. Acara tersebut ditutup dengan pementasan alat musik tradisional gamelan.

Asep Sofyani, salah satu pengunjung, meresa terhibur dengan pementasa tersebut. Ia menilai acara pementasan secara umum bagus, namun dirasa masih bagus tahun kemarin. “ Kalau tahun kemarin menampilkan perpaduan marawis, angklunng dan recorder. ditambah alunan musik sejarah Kempek dari masa ke masa, itu lebih mengharukan, “ujar alumni 2003 tersebut.

Acara yag dipandu oleh host senior Pon-Pest KHAS Kempek, Upid Abdul Mufid dan Muhammad  Idrus, bertujuan meramaikan Haul KH. Aqil Siraj, KH. Nashir Abu Bakar dan Hj. Afifah Harun dan Tasyakur Khotmil al-Quran dan Juz ’amma. Di samping itu juga, untuk menunjukan bahwa santri Kempek bisa berkreasi dan mampu tampil di hadapan orang banyak.

Hal itu disampaikan kang Upid, panggilan akrab Upid Abdul Mupid, saat dikofirmasi setelah selesai acara. Ia menambahkan kegiatan itu juga sebagai wahana mengembangkan bakat diri para santri. Pementasan seni dari tahun ke tahun berubah-ubah.

“Pementasan tahun sekarang ada hadroh, nadzoman, puisi berantai, pianika dan gamelan. “ ujar pria lajang asal majalengka ini.

* Oleh : King Pantura

1 2 3 4 5 6 14