Pengumuman Kelas XII MA KHAS Kempek

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Diberitahukan kepada siswa-siswi kelas XII MA KHAS Kempek Palimanan Kab. Cirebon Tahun Pelajaran 2014/2015 bahwa:

  1. Pengumuman Kelulusan Siswa (Siswa Dinyatakan Lulus) Berdasarkan Rapat Seluruh Dewan Guru MA KHAS Kempek yang akan dilaksanakan setelah pengumuman hasil Ujian Nasional (UN);
    2. Lulus Ujian Nasional (UN) tidak menjamin siswa Lulus Sekolah karena Kelulusan Siswa ditetapakn berdasarkan Rapat Seluruh Dewan Guru MA KHAS Kempek (seperti pada diktum 1)
    3. Pengumuman Kelulusan Siswa Bertepatan dengan Perpisahan Kelas XII MA KHAS Kempek hari Senin, 25 Mei 2015 dari pukul 09.00 s.d. 15.00 WIB.
    4. Bagi yang membaca dan mengetahui pengumuman ini mohon disebar luaskan kepada yang berkepentingan.

Demikian, mohon perhatian dan mohon maklum.
Wassalam.

Palimanan, 13 Mei 2015
Kepala Madrasah,

ttd.

XII IPS 1AHMAD ZAENI DAHLAN, Lc., M.Phil.

HASIL SELEKSI SNMPTN 2015 MA KHAS KEMPEK

SELAMAT !
HASIL SELEKSI SNMPTN 2015
MAS Khas Kempek
Hasil Seleksi SNMPTN 2015
No. Pendaftaran Nama Siswa Jurusan/Kelas PTN Program Studi
1. 4150202908 AMNA NUR YAKINA IPA/XII IPA 2 UNIVERSITAS NEGERI MALANG ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
2. 4150306238 AYU SEFTIANI IPS/XII IPS 3 UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
3. 4150303113 DYAN AYU NABILAH IPA/XII IPA 3 UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA PSIKOLOGI
4. 4150202648 LAELATUL BADRIYAH IPA/XII IPA 3 UNIVERSITAS ISLAM NEGERI JAKARTA SOSIAL EKONOMI PERTANIAN / AGRIBISNIS
5. 4150098594 LELA NURMALASARI IPA/XII IPA 3 UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
6. 4150138406 MUHAMAD SYAHRUL MUBAROK IPS/XII IPS 1 UNIVERSITAS NEGERI MALANG ILMU SEJARAH
7. 4150188415 OPIE OLIVIA WIDIANA IPA/XII IPA 2 UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI HUKUM PIDANA ISLAM
8. 4150202730 YULI MAULIDAH IPA/XII IPA 3 UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN GUNUNG DJATI BAHASA DAN SASTRA INGGRIS
Panitia SELEKSI NASIONAL MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI © 2012 – 2015

Syaikh Fadhil Jilani, Ziarohi Kang Ahsin

Belum kering air maSyaikh Fadil bersama Kg Mu Syaikh Fadil berziaroh di Makbaroh KH.Ahsin Syifa Aqiel SIrojta ini karena ditinggal Guru tercinta KH.Ahsin Syifa Aqiel Siroj (Wafat, 12 April 2015), kini kita harus menangis terharu karena Keturunan Syaikh Abdul Qodir Al Jilani yakni Sayyid.Prof.Dr.M.Fadhil Al Jilani al Hasani dari Istanbul Turki menyempatkan diri berziaroh di makbaroh KH.Ahsin Syifa Aqiel Siroj Kempek Cirebon pagi ini (08/05/15) dalam sambutannya beliau mengatakan “Saya datang jauh-jauh dari Istanbul Turki ke Indonesia hanya untuk bertakziah dan berziarah ke makam Waliyullah Ahsin” sungguh penghormatan luar biasa; Ulama Internasional keturunan Sayyidul Aulia, menyebut Kang Ahsin sebagai Wali, padahal semasa hidupnya beliau jarang bergaul dengan banyak orang, mobilitasnya hanya Mengaji, Berjama’ah dan Ziaroh. namun hari ini kita menyaksikan bahwa, beliau (KH.Ahsin Syifa Aqiel Siroj) adalah Waliyullah seperti yang dikatakan oleh beliau Syaikh Fadil al Jilani…
Dengan berita ini, semoga kita semua menjadi lebih bangga menjadi santrinya, bisa meneladani dan melaksanakan semua amanatnya serta meneruskan perjuangan dakwah beliau,,,Amiiin,,
(Berikut Foto Syaikh Fadil Al Jilani sedang berziaroh didepan makbaroh KH.Ahsin Syifa Aqil bersama KH.M.Musthofa Aqiel Siroj dan para santri)

KUNJUNGAN MAHASISWA UIN BANDUNG

Ratusan MaIMG_0201hasiswa UIN Bandung berduyun-duyun mendatangi ponpes KHAS Kempek, Cirebon (25/4). Tujuan Mereka adalah untuk studi banding sekaligus bersilaturahmi.

Dalam kunjungannya tersebut disambut hangat oleh pengasuh Ponpes KHAS Kempek, K.H. Muhammad Mushtofa aqiel siradj. Bahkan pengasuh merasa senang dengan kunjungan tersebut, karena beliau bisa berbagiilmu kepapa para mahasiswa mengenai apa dan bagaimana pesantren.

“Pesantren tidak hanya mendidik para santrinya untuk pintar, tapi juga untuk berahlaq”, tutur K.H. Muhammad Mushtofa aqil.

Dalam studi banding tersebut diisi dengan muhadarah amah, ceramah umum yang disampaikan langsung oleh pengasuh Ponpes KHAS Kempek. Mereka -Mahasiswa- terlihat begitu khusyu saat mendengarkan ceramah beliau, bahkan sesekali mereka bertepuk tangan karena kekaguman terhadap sebuah pesantren yang dipaparkan oleh Pengasuh.

“Mahasiswa dan mahasiswi kalau bayar ongkos naik mobil hanya separuh, tapi kalau santri bayar penuh. Ini namanya diskriminasi, padahal sama, santri juga bayar pajak. lantas pernahkah anda mendengar ada santri demo?” lanjut adik Prof Dr K.H. Said aqiel siradj itu.

Para mahasiswa semakin terkagum-kagum akan pribadi seorang santri, bagaimana seorang santri begitu taatnya kepada kyainya, dan hal itulah yang membuat santri tidak bertindak anarkis.

“Santri itu nurut apa kata Kyainya, kata kyainya NKRI itu yang membuat hidup kita para santri dan kyai tentram, sehingga santri tidak bertindak anarkis” lanjut K.H. Muhammad Mushtofa aqiel.

 

Oleh; M. Abror.

PESANTREN KHAS BERDUKA ATAS WAFATNYA KH. AHSIN SYIFA AQIEL SIROJ

“Kullu nafsin dzaiqotul maut tsumma ilaina turja’un”. Pesantren KHAS Kempek Cirebon DSC_0043kembali berduka, karena salah satu pengasuhnya kembali dipanggil Sang Khaliq. Beliau adalah KH. AHSIN SYIFA AQIEL SIROJ ( putra ke-4 dari KH. AQIEL SIROJ) yang tak lain adik kandung Kang Said (Ketum PBNU) di kediamannya, Pesantren KHAS Kempek, desa Kempek kecamatan Gempol kabupaten Cirebon. 12/4/15. Jam 4 pagi.

Pada mulanya ketika hari jum’at (10/4) pagi, Kiai Ahsin mengontrol sawahnya yang sedang dipanen oleh para santri di komplek al-Jadied. Sepulangnya dari sawah, kondisi kesehatan Kiai Ahsin turun dan pihak keluarga menyarankan agar tidak usah melaksanakan shalat jum’at di masjid, namun Kiai menolak dan bersikukuh untuk tetap melaksanakan shalat jum’at. “ke sawah berangkat, masa jum’atan tidak berangkat. Saya malu dengan Allah” dan wafatnya pun dengan niat hendak melakukan jamaah shalat shubuh dengan para santri” jelas  KH. MUSTHOFA AQIEL dalam isyhad jenazah sambil meneteskan air mata mengenang ucapan Kiai Ahsin.

KH.SAID AQIEL SIROJ juga sedikit bercerita bahwa dari kelima anak Kiai Aqiel yang tidak mondok ke mana-mana hanya Kiai Ahsin. Ilmu beliau murni dari ayahanda Kiai Aqiel. “tapi tidak jarang justru saya kakak-kakaknya yang selalu bertanya padanya. Beliau sangat teliti dan cerdas”. Jelas Kang Said di depan ribuan pentakziah, alumni dan santri.

Kang Said juga memberikan penyaksian tentang pribadi Kiai Ahsin yang menurutnya tidak punya dosa. Betapa tidak, dalam benak Kiai Ahsin tidak pernah terbesit untuk kaya, dan selalu merasa cukup dan selalu bersyukur atas semua yang telah Allah berikan padanya.

Keseharian Kiai Ahsin hanya mengajar dan berjamaah dengan para santri dan jarang bepergian keluar rumah, “kalau pun ada (dosa), itu paling (dosa) yang tidak disengaja dan yang saya kagumi darinya adalah keistiqomahannya dalam beribadah dan mengajar para santri” ujarnya.

:: KH.Ahsin Syifa Aqiel Siroj wafat dalam usia 55 tahun, meninggalkan seorang istri bernama Nyai Hj. Iin Muhsinah dan dua orang putri bernama Aniqoh Dina dan Dzikro.

Sungguh kita sangat kehilangan figur guru seperti Kiai Ahsin yang selalu istiqomah dan tak kenal lelah mengajarkan para santri tentang arti kesederhanaan dan keikhlasan.

 

Oleh: Siroj Achmad

RALAT INFO HAUL BUYA JA’FAR

Assalamu’alikum.wr.wb.
Sehubungan dengan padatnya rutinitas Pengasuh Yayasan dan kesepakatan bersama keluarga KHAS, maka HAUL BUYA JA’FAR Ke-1 yang dijadwalkan Tgl 02 April 2015 dirubah dan In SYa Allah akan dilaksanakan pada :
Hari & tanggal    : Ahad Malam Senin, 29 Maret 2015
Pukul                 :19.00 sampai selsai
Tempat             : Dalem Buya Ja’far (Komplek al Jadid PP.KHAS Kempek)

dengan perubahan ini harap dimaklum, demi lancar dan suksesnya acara diatas, mari kita SEBARKAN kepada Alumni dan Simpatisan PP. KHAS Kempek.
Atas segala kontribusinya kami haturkan terima kasih.
Wassalamu’alaikum.wr.wb.
Atas nama Keluarga KHAS :
Ttd
H.Muhammad BJ, Lc, S.Pd.I

(NO HP : 0821 2857 1118)

Kang Said Restui berdirinya FORSASPEK

KHAS KEMPEKBerawal dari kegundahan alumni-alumni Kempek yang sedang menimba ilmu  di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, terhadap tidak adanya wadah atau perkumpulan yang bisa meberikan wadah bagi setiap santri atau alumni yang pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Kempek Cirebon.

Dengan kegundahan yang secara terus-menerus menumpuk, dengan tanpa ada celah untuk merekfleksikan atau menyalurkan setiap kegundahan tersebut, sehingga lama-kelamaan akan menjadi bom waktu atas kegundahan tersebut, maka secara perlahan bom waktu itu pun benar-benar meledak pada tanggal 26 Oktober 2014, dengan di adakannya kumpulan di daerah Ciputat yang dihadiri oleh  sebagian alumni-alumni kempek yang berada di Jakarta, tepatnya di Masjid Fathullah depan kampus Uin Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada pertemuan tersebut, pembicaraan masih berkisar tentang penting-tidaknya membuat sebuah perkumpulan baru bagi para alumni-alumni yang berdpmisili di Jakarta, yang tujuannya adalah tidak lain sebagai ajang untuk merajut silaturahim antar sesama alumni.

Pada pertemuan tersebut, akhirnya lahirlah sebuah embrio untuk mendirikan perkumpulan yang ruang lingkupnya tidak hanya mencakup santri-santri yang berstatus mahasiswa saja, karena dominasi alumni pesantren Kempek yang berada di Jakarta dan sekitarnya lebih menjurus kepada bidang profesi pekerja dan pedagang, dan oleh karena itu untuk mengelaborasi realita tersebut, maka perkumpulan yang nantinya akan dibentuk itu bukan khusus hanya mahasiswa saja. Maka sebuah keharusan untuk membuat kumpulan atau nama baru yang bisa merangkul semua kalangan, baik mahasiswa, pedagang, pekerja dan lain sebagainya, dengan tetap menginduk terhadap perkumpulan santri dan alumni yang sudah berdiri sejak lama seperti  IMSAK (Ikatan Mahasiswa Santri Kempek).

Untuk mematangkan pembicaraan tentang pembentukan sebuah perkumpulan santri dan alumni, maka dua minggu setelah kumpulan pertama tepatnya pada hari Minggu tanggal 9 November 2014, penulis kembali mengadakan kumpulan yang bertempat di Kota Tua Jakarta Utara  untuk menindaklanjuti pembicaraan yang sudah di mulai ketika dulu di Ciputat. Akhirnya pada tanggal 9 November 2014 tepat jam 01:00 siang, di bentuklah forum perkumpulan alumni santri yang menaungi seluruh santri dan alumni Kempek yang berada di daerah JABODETABEK dengan nama kala itu FORRESPEK (Forum Rembug Santri Kempek) dengan sama-sama merumuskan landasan dasarnya, tujuan pembentukannya, dan misi kedepannya. Pertemuan yang keduapun dihadiri oleh 10 perwakilan santri dan para alumni diantaranya, Ahmad Nizar, Ja’far Shodiq, A. Ja’far S, Lufaefi, Munshorif, Makrus, Siti Rohmah, Siti Masitoh dan Nasriyatul wara al-hasyim.

Salah satu hasil keputusan pada pertemuan di Kota Tua, penulis di daulat sebagai Ketua dari FORRESPEK dengan di bantu Sekretaris: Siti Rohmah, Bendahara: Lufaefi dan Humas: Makrus. Dengan pertimbangan belum banyaknya alumni yang bergabung dengan FORRESPEK maka strukturalisasinya masih sebatas ketua, skretaris, bendahara dan humas saja.

Adapun sebagai sarana  untuk mendapatkan keberkahan, maka penulis berusaha untuk menghadap kepada salah satu masyayikh kempek yang berdomisili di Jakarta, Prof. Dr KH Said Aqiel Said Siroj, untuk meminta restu dan pengarahan atas berdirinya forum bagi santri dan alumni kempek yang berdomisili di Jakarta. Namun ternyata di luar dugaan nama FORRESPEK yang awalnya sudah di tetapkan sebagai nama forum kurang di setujui oleh  kang Said -sapaan akrab bagi beliau-, karena beliau lebih setuju dengan menggunakan kata “silaturahim” bukan kata “rembug”, lalu pada jam 01:18 dini hari,  tanggal 17-November 2014 di CIGANJUR, ditetapkanlah nama forum bagi santri dan alumni Kempek yang berdomisili di JABODETABEK (Jakarta, Bogor, depok, Tanggerang dan Bekasi) adalah FORSASPEK (Forum Silaturahm Alumni Santri Kempek), dan akhirnya, alhamdulillah nama itu secara perlahan semakin akrab dengan kami, para Alumni Kempek.

Salah satu kegiatan rutintias yang selalu mewarnai perjalanan FORSASPEK adalah Kajian Bulanan dan temu Alumni yang Alhamdulillah sudah berjalan selama 3 bulan berturut-turut dan bertempat di pondok pesantren Luhur-al-Tsaqafah (Pesantrennya kang Said).

Harapan dan Tujuan dengan adanya Forum FORSAPEK ini, bisa terus terjalin ukhuwwah atau persaudaraan antara sesama alumni untuk sama-sama berkhidmah kepada pesantren yang dulu pernah mendidik dan mengajari kita berbagai macam ilmu. Oleh karena itu, atas nama pribadi saya sebagai Ketua FORSASPEK meminta doa, dukungan, dan dorongan dari semua pihak agar bisa memperkenalkan pesantren KEMPEK kepada seluruh masyarakat Jakarta dan sekitarnya.

AHMAD NIZAR IDRIS SUBHI*

*Penulis bisa dihubungi lewat email, neizerdakhil@gmail.com, atau twiiter Nizar_Presto, atau Facebook Nizar Presto.

Jalan tengah antara Ilmu dan Iman

Pengetahuan bukan satu-satunya kebenaran,
namun dengan petunjuk Tuhan
pengetahuan bisa mengantarkan manusia
menemui kebenaran .

Dari sudut basyar, manusia sama seperti binatang. Basyar itu adalah mâ ruiya basyaratuhu, (sesuatu yang dilihat kulitnya), berkaitan dengan fisik. Kalau dilihat dari fisik, manusia sama dengan binatang. Manusia punya tangan binatangpun punya, manusia punya mata, binatangpun punya, manusia punya kaki, binatangpun punya. Apa bedanya manusia dan binatang jika dipandang dari fisik? Tidak ada yang membedakan keduanya. Oleh karenanya para pakar mendefiniskan manusia adalah al ĥayawan an nâthiq (binatang yang berpikir). Manusia sama seperti binatang,sifat nâthiq inilah yang membedakannya. Sifat berpikirnya inilah yang membedakan antara keduanya. Bukan hanya sekedar berpikir, tetapi berpikir yang menghantarkannya menangkap kebenaran (baca: iman), karena betapa ia telah hebat berpikir, sebelum ia beriman, sejatinya ia tetaplah binatang.

Itulah mengapa kemudian muncul ungkapan; Pengetahuan bukan satu-satunya kebenaran. Karena pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang tidak menjamin orang tersebut bisa menerima cahaya keimanan, justeru sebaliknya, pengetahuan itu _banyak_malah menjadi penghalang orang tersebut untuk menerima cahaya keimanan, al îmn maĥjŭbun bi al ‘ilmi. Pengetahuan yang dimiliki, ilmu yang dimiliki, dimata Allah SWT justeru menjadikan mereka seperti binatang bahkan lebih sesat dari binatang, bal hum adlal! Kenapa bisa demikian? Jawabnya karena binatang tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan, sementara ‘mereka’ mengetahui namun pengetahuan yang mereka miliki dijadikan penghalang untuk menerima kebenaran; iman.

Sementara iman adalah mutlak hak Allah SWT. Tidak ada seorangpun yang bisa meng-intervensi-Nya, untuk diberikan kepada siapa dan dianugerahkan kepada siapa. Allah SWT tidak bisa disuap, tidak bisa dirayu, apalagi dipaksa, masalah iman murni hak prerogatif Allah SWT. Iman diberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki, laysa ‘alayka hudâhum walakinallâhu yahdî man yasyâ! (Bukanlah kewajibanmu_Muhammad_ menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya).

Inilah salah satu hikmah yang dapat dipetik dari ‘manuver-manuver’ ahli kitab (baca: Yahudi dan Nasrani) sewaktu mendengar seruan Nabi Muhammad Saw. Mereka melakukan itu bukan karena mereka tidak tahu (baca: tidak memiliki ilmu) karena nyatanya mereka mengetahui dari kitab-kitab mereka, mereka melakukan itu karena tujuan politis (baca; sesuatu yang menguntungkan diri mereka sendiri) agar anak-anak mereka tidak terbujuk seruan Nabi Muhamad Saw.

Manuver yang mereka lakukan antara lain dengan merubah al Kitab, (Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka Mengetahui).

Sebagian ahli kitab merubah al Kitab, semestinya A mereka rubah menjadi B, terutama masalah sifat Rasulullah Saw (na’t ar rasŭl). Sifat-sifatnya Nabi Saw dirubah, karena mereka sadar, kalau orang-orang Arab mendengar sifat Nabi_yang sebenarnya_hati mereka pasti bergetar (baca: oleh kebenaran). Oleh karena itu salah satu cara agar orang-orang Arab tidak masuk Islam adalah melarang mereka membaca sifat-sifat Nabi Saw. Lâ tasma’ŭ lihadza al Qur’âni walghaw! Jangan dengarkan al Qur’an, tinggalkan! Sebab kalau kamu mendengar al Qur’an, nantinya kamu akan iman!_maksudnya orang-orang Arab yang memiliki rasa bahasa al Qur’an. Bukan kita yang ‘tidak’ memiliki rasa bahasa al Qur’an_. Begitupula jangan dengar sifat Nabi, kalau kamu dengarkan nantinya kamu iman!

Khalid bin Walid _radliyallâhu ‘anhu_ masuk islam karena keengganannya menyakiti Nabi Saw dalam persitiwa Hudaibiyah. Karena tidak mau menyakiti Nabi Saw_tentunya karena ia mengerti bahwa Nabi Saw memiliki sifat-sifat mulia_ ia mendapatkan keimanan. Seorang Yahudi bernama Ka’ab al Akhbar masuk Islam ketika ‘Umar bin Khattab al Faruq _radliyallâhu ‘anhu_ menjadi khalifah. Sebenarnya Ka’ab al Akhbar mendengar tentang Muhammad (baca: Nabi Saw) yang menyerukan agama Islam sudah lama. Mendengar kabar itu ia tidak masuk Islam, setelah Nabi Saw wafat dan Abu Bakar as shidiq _radliyallâhu ‘anhu_ mengganti (khalîfah) iapun belum masuk Islam. Ia belum mau masuk Islam ingin membuktikan apakah benar kekuasaan Nabi Saw akan sampai ke tanah Syam. Begitu sahabat ‘Umar ibn Khattab al Faruq _radliyallâhu ‘anhu_ menjadi khalifah dan kekuasaanya meliputi tanah Syam_artinya Islam benar-benar sampai ke Syam seperti yang ia dengar_ Ka’ab al Akhbar baru mau masuk Islam.

Ketika masuk Islam ia bercerita (baca: tentang Islam sampai ke Syam); ‘Ketika kecil saya diajari Taurat oleh ayah saya kecuali satu lembar. Selembar kertas itu disobek dari kitab Taurat dan dimasukkan ke dalam peti dengan gembok pengunci. Ayah saya sangat galak dan melarang untuk membuka peti itu. Jangan dilihat! Jangan dibaca! Kenapa? Jangan tanya! Apa sebabnya? Jangan tanya! Pokoknya kamu jangan membacanya!

Sifat alami manusia, kalau dilarang akan semakin menimbulkan penasaran. Oleh karena itu masih mudah menyuruh orang berbuat baik (amar ma’rŭf) daripada mencegah berbuat buruk (nahyu ‘an al munkar). Nabi Adam as ketika berada di dalam syurga itu yang tidak tahan_sehingga membuatnya terusir_ adalah larangan untuk berbuat buruk, yakni larangan agar tidak mendekati pohon apel yang terlarang. Yang terberat itu adalah mencegah berbuat munkar, di Indonesia yang namanya perintah untuk berbuat baik sudah sangat tumpah ruah banyaknya, muballigh di tv-tv yang ‘pencilakan’ juga banyak. Itu hanya sebatas amar ma’rŭf, sementara nahy ‘an al munkar-nya belum ada (baca: belum tersentuh).

Ka’ab al Akhbar dilarang membuka peti tersebut, karena dilarang, ia semakin penasaran apa isi lembaran dari kitab Taurat itu? Kenapa harus dilarang? Kalau tidak dilarang mungkin Ka’ab tidak akan penasaran. Akhirnya sang ayah meninggal, setelah ayahnya meninggal ia membuka peti dan membaca lembaran terlarang tersebut yang ternyata isinya tentang sejarah Nabi akhir zaman_sifat-sifat dan biografi beliau Saw_, mawliduhŭ bi makkah, wa hijratuhŭ bi al madînah, wa sulthânuhŭ bi as syâm. Karena itulah ia dilarang membacanya, karena ayahnya tahu kalau ia membaca cerita Nabi Saw ia akan beriman. Orang yang membaca cerita tentang Nabi Saw merasakan ‘getaran ruhani’ (baca: getaran keimanan). Disinilah rekayasa-rekayasa yang dilakukan ahli kitab

Mereka merubah kalimat-kalimat dari yang semestinya, yuĥarrifŭna al kalima ‘an mawâdli’ih. Dan yang mereka rubah adalah kitab Allah SWT yakni Taurat. Kenapa mereka merubah kitab Allah SWT, tidak membuat kitab sendiri sesuai yang mereka inginkan? Bukankah dengan membuat kitab sendiri justru mereka lebih leluasa menuangkan segala isi hati dan pikiran-pikiran mereka? Jawabnya karena kitab Taurat memiliki legitimasi (baca: pengakuan) dari Allah SWT, hadzâ min ‘indillâh wamâ huwa min ‘indillâh!.Pengakuan itu memiliki nilai tersendiri, walaupun sebenarnya Taurat yang telah mereka rubah itu tidak lagi dari Allah SWT, gubahan-gubahan mereka dimasukkan dengan ‘mendompleng’ legitimasi Allah SWT agar laku dan dipercaya oleh orang-orang Arab.

Walhasil, pengetahuan yang dimiliki seseorang harus dibarengi upaya untuk menerima kebenaran, bukan justeru sebaliknya menjadikannya penghalang untuk menerima kebenaran. Khalid bin Walid menerima kebenaran karena ia mengetahui dengan detail sifat-sifat Nabi Saw yang begitu mulia, ketidaktegaannya menyakiti Nabi Saw inilah kemudian yang mengantarkannya menerima cahaya iman. Sementara orang-orang ahli kitab justeru menjadikan pengetahuan mereka sebagai penghalang masuknya cahaya keimanan hanya karena tujuan politis praktis (baca: tidak ada lagi kaum yang memberikan hadiah terhadap mereka, dan beralih kepada Muhammad). Semoga Allah SWT membuka hati kita untuk menerima kebenaran-kebenaran-Nya. Dan semoga kita dimasukkan ke dalam golongan orang yang beriman. Wallâhu a’lam bisshawâb.[]

Kempek, 23 Maret 2015

oleh: Yusuf Ilyas. NH

1 2 3 4 5 14