Lelaki pilihan ibu

Lelaki pilihan ibu

Oleh: Yusuf. E. Purnomo*

           

            PAGI, hari anyar baru akan dimulai. Kabut sisa jejak peri semalaman masih tersisa di lereng Lawu membatasi jarak pandang. Daun-daun tertindih embun basah,  mendaulat alam menjadi gelaran permadani hijau yang menyejukan. Sepagi itu Dini tengah duduk di bangku pelataran rumah seorang diri, kertas kanvas dengan seraut wajah yang belum selesai di gambar tergeletak disampingnya bersama kuas, cat yang berserakan teranggurkan. Pandangannya menerawang memikirkan lelaki yang semalam hadir kembali dalam mimpinya. Lelaki itu telah mengusik hatinya, benar-benar mengusik, membuatnya tak dapat berpaling.

            Ia jadi suka menyendiri, mengingat wajah lelaki itu untuk dilukis. Perasaannya mendesak, hatinya memberontak meminta pelampiasan. Pikiran dan perasaanya yang kalut itu tercurahkan dalam lukisan-lukisan. Serautwajah yang belum ia rampungkan pagi ini, adalah lukisan kesekian kalinya yang semuanya tidak pernah sanggup ia rampung.

            “Kenapa, Ni?” Tanya ibunya yang tiba-tiba telah hadir disampingnya.

            “Em, cuma ingin melukis matahari lawu, bu.” Jawabnya berbohong.

            Ibunya melangkah ke depan berusaha melihat lukisan Dini, namun dengan cepat Dini menghalangi langkah ibunya sambil menunduk.

            “Lukisannya belum jadi, bu.” Ucapnya pelan tidak berani menatap wajah ibunya.

            Ibunya tersenyum penuh arti. Ia mengusap pundak Dini sambil berbalik pergi.

            Ia tidak mungkin bercerita jujur tentang lelaki yang kerap hadir dalam mimpinya. Selama ini tabu baginya memikirkan lelaki, meskipun usianya sudah tidak muda lagi, ia masih belum terpikirkan tentang lelaki. Beberapa kali ibunya berusaha membujuk untuk segera menikah, menjaga omongan orang luaran yang mulai mempertanyakan Dini yang masih suka hidup sendiri. Tapi ia menolak bujukan ibu, termasuk lelaki-lelaki tetangga yang datang meminangnya.

            Namun, entah apa yang tengah menimpanya, beberapa hari ini hatinya terusik oleh lelaki dalam mimpi. Awalnya ia menganggap sebagai bunga tidur saja, atau mungkin pikirannya yang sedang  tak karuan karena dipaksa segera nikah oleh ibu. Namun mimpi ini berbeda, mimpi ini terus terjadi dengan seorang yang sama. Seorang lelaki yang menawan hatinya. Kehadirannya membawa rasa indah yang tak bisa ia pungkiri lagi, jujur, ia kerap menanti untuk bertemu dengan lelaki itu, tidak di dunia mimpi, namun dalam dunia yang nyata, dunia yang sebenarnya. Ia tak mengerti darimana asal lelaki itu, tetapi dalam mimpi dengan jelas ia memanggil Aryo Pengarep.

            “Uhf,” desahnya berusaha melupakan keanehan yang ia alami beberapa malam terkahir ini.

            Tanpa setahu Dini yang masih termenung, ibunya memperhatikan tingkah puteri semata wayangnya itu dari balik jendela. Ia mengangguk-angguk pelan, seperti telah mengerti semua yang tengah terjadi.

            KAMAR Dini masih tertutup, entah apa yang ia lakukan di dalam sana. Orang-orang resah menunggu di luaran karena sebentar lagi mempelai pria akan datang. Tak ada seorangpun yang berani mengetuk pintu, mereka hanya menatap nanar ke arah pintu sambil menduga-duga apa yang sedang terjadi. Yang mereka tahu, seperti permintaan Dini; ia ingin berdo’a seorang diri sebelum melepas kehidupan lajangnya. Ia perlu menit-menit terakhir untuk memantapkan hati hidup bersama pria pilihan orang tuanya dan menjadi seorang isteri. Sudah satu jam-an ia masuk ke dalam kamar, orang-orang semakin resah. Padahal hari baru dimulai, namun gerah dalam ruangan itu seperti saat siang hari, keringat membulir di kening para keluarga dan tamu. Bayangan pernikahan akan batal  begitu jelas terbersit di benak.

            “Cerita Siti Nurbaya kembali berulang,”  ucap para tamu berbisik.

             ROMBONGAN pengantin pria telah tiba diiringi musik pesta pernikahan. Orang-orang di luar semakin bertambah resah, namun mereka tidak ada yang berani mengetuk pintu. Di dalam kamar Dinitengah berbaring di atas ranjang, berusaha terlelap. Ia merasa harus pamitan dengan lelaki dalam mimpinya. Sekarang adalah kesempatan terakhirnya untuk bertemu lelaki itu sebelum ia menjadi isteri orang lain. Ia tidak bisa menolak terus menerus lamaran orang yang datang, usianya sudah pantas untuk nikah, orang tuanya resah kalau ia jadi omongan tetangga sebagai perawan tua. Ia sebenarnya tak pernah menginginkan itu terjadi, namun, ia tidak mampu. Ia telah terpaut dengan lelaki yang kerap hadir dalam mimpinya, sehingga hatinya menolak semua pinangan lelaki.

            …Orang-orang ramai berada di rumahnya. Janur-janur terpasang di depan gerbang layaknya acara pernikahan. Ia baru saja sampai rumah, setelah libur sebulan entah pergi kemana. Ada yang aneh, ia adalah anak tunggal di rumah ini, tapi sama sekali ia tidak mengerti acara pernikahan ini. Siapakah yang sedang melansungkan pernikahan? Apakah ibunya menikah? Bukankah masih ada ayah?

Di depan rumah ramai oleh para tamu undangan, Dini masuk rumah melalui jalan belakang. Ada jalan setapak kecil menuju belakang rumahnya yang biasa di gunakan jalan orang, ia memalui jalan itu. Baru membuka pintu, Ibunya  yang tengah menangis memeluknya erat,

“Sekeluarga telah lama menanti, Ni,” ibunya berucap demikian membuatnya bingung.

Seisi ruangan gembira dengan kedatangannya. Ia masuk ke dalam kamar yang telah penuh hiasan kembang-kembang. Juru rias menggandengnya ke bangku dan menyuruhnya segera berganti baju.  Ibunya datang dengan beberapa perempuan yang telah siap menjadi dayang-dayang. Dini heran, bungkam tak bisa berbicara.

“Penghulu dan pengantin pria sudah lama menunggu di luar, cepat dandan!” seru ibunya. Dayang-dayang yang ia tatap tersenyum mengiyakan. Ia pasrah saat Juru rias menyapukan bedak ke wajahnya, mulai merias seperti seorang putri yang cantik. Ia mematut wajah di depan cermin, ia masih kenal dengan wajahnya sendiri; sepasang alis yang tajam menghias mata yang bundar, bibir tipis membingkai barisan gigi yang rapi juga sepasang lesung di pipi. Tapi tingkah orang-orang di sekelilingnya membuatnya asing.

“Aryo…cepat kemari…” bisik Dini  dalam hati.

“Aku akan jadi pengantin, akan jadi isteri orang. Bawa aku kabur dan kita berdua bersama ke telaga itu. Aku hanya ingin bersamamu Aryo!”  jeritannya pilu. Tak ada orang yang mendengar. Ibunya ia lihat tengah menyiapkan baju pengantin yang akan ia kenakan, putih warna baju itu bertaburan bunga melati wangi semerbak.

Pintu kamar di buka, ayah masuk memberi isyarat untuk segera keluar. Dini menatap wajah ayah, meminta keadilan. Lelaki itu adalah pilihan ayah, bukan pilihannya. Ia tidak mengenal lelaki yang akan menjadi suaminya seumur hidup, ini tidak adil.

Riasan telah rampung. Dini menatap bayangannya di depan cermin. Cantik, apalagi saat ia berusaha tersenyum. Ia berusaha keras agar tak terisak meski hatinya hancur.

“Kenapa semendadak ini, bu,” ucap Dini meminta pengertian.

“Bukan mendadak, Ni. Kamu sendiri yang ingin cepat menikah dengan lelaki itu. Tak kira bapak sama ibu cuma menuruti permintaan kamu saja,” ucap ibunya.

“Hidup sendiri itu tidak enak, Ni. Butuh teman untuk tempat keluh kesah, senang, bahagia dan duka di rasakan bersama. Ibu tahu, kamu akhir-akhir ini kerap murung. Perempuan seusiamu butuh lelaki Ni, biar tenang.”

“I…ya, tapi bukan begini caranya, bu. Dini tidak kenal lelaki itu, mana mungkin Dini bisa hidup bahagia!”

“Lho, bukankah ini pilihan keras hatimu sendiri?” Ibunyaberucap demikian mulai tak sabar.

 Dini patuh ketika ibunya menarik tangannya untuk menuju ruang tamu. Disana telah banyak orang menanti kedatangannya. Pertama kali yang ia tuju adalah lelaki di depan penghulu. Pandangannya menatap lekat lelaki itu. Ia tidakdapat dengan jelas,wajahnya samar tertutup selendang pengantin. Dini terpaksaduduk di samping lelaki sambil menahan isak tangis.

Berdekatan dengan lelaki itu, Dini merasakan keakraban yang tiba-tiba membuatnya tercekat, hatinya menduga-duga. Ia berusaha mengingat keakraban itu berasal darimana dan tentang siapa. Belum sempat berpikir ia terkejut oleh ucap penghulu.

“Aryo, siap?”

“Siap…”

Mendengar jawabanbergetar yang selama ini sangat akrab itu Dini terkesiap. Ia menatap tubuh di sampingnya sambil mengintip dari celah selendang. Ia amati wajah lelaki  itu.

“Aryo…” ucapnya tergetar seperti orang berbisik.

Lelaki disampingnya berpaling memberi senyum. Ini seperti mimpi. Kejutan yang di berikan Aryo membuatnya terhenyak. Bukankah Aryo, lelaki yang selama ini telah memikah hatinya hanya hadir di dalam mimpi?

“Tok….tok….tok.” Ketukan pintu membuat Dini terbangun.

“Keluar nak, para tamu semakin resah menunggu,” suara ibunya terdengar dari luar.

“Iya, bu.” Ucapnya sambil merapikan baju pengantin.

PINTU kamar terbuka, orang-orang bernafas lega, terutamanyacalon pengantin pria. Dini melangkah keluar, yang pertama ia tuju adalah lelaki  gagah yang tengah duduk di hadapan penghulu.

Hatinya berdebar kencang, bibirnya bergetar, kelu tak mampu berucap setelah melihat ternyata lelaki yang selalu menjadi bunga tidurnya itu tengah sama menatap ke arahnya. Dini tertegun beberapa detik mengartikan sesuatu yang berdesir dalam hati; ternyata lelaki pilihan ibu itu adalah lelaki yang kerap hadir dalam mimpi.

Semarang, 2011

*Penikmat Sastra yang lahir di Barito Timur 16 September 1989 Kalimantan Tengah. Lulusan sarjana pendidikan Bahasa Arab di UIN Semarang. Pernah menjadi ketua komunitas sastra saat masa-masa kuliah, menerbitkan majalah sastra dan menjadi pengisi sekolah sastra di beberapa sekolah, pernah diundang Institut Ibn Rusyd Lampung. Sesekali membacakan puisi dan cerpen di komunitas beranda sastra Semarang dan teater Beta. Saat ini tinggal dan mengikuti program khusus Kaderisasi Ulama di Kempek. Email; This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
.