Kucing

Kucing 

Oleh: Yusuf. E.Purnomo*

 

HUJAN seperti jalin jemalin tidak putus-putus sejak semalam, selokan-selokan _ampong tidak sanggup lagi menampung air, jadinya tumpah mengisi dataran-dataran rendah jalanan _ampong. Aku menatap rintik hujan yang masih riwis dari balik kaca jendela. Mendung gelap masih bergayut di langit menandakan hujan masih akan terus turun. Beberapa anak berangkat sekolah membawa _ampon, berkejar-kejaran dengan aliran air yang menuju genangan-genangan. Ibu-ibu mengenakan baju _ampong dan topi-topi pandan hendak ke pasar menaiki sepeda onthel menyusuri jalanan _ampong, berleret-leret seperti jamur-jamur raksasa yang merekah di musim hujan. Atap atap rumah penduduk yang terbuat dari genting merah tanah, dipadu tempias hujan yang disapukan angin seperti lukisan indah di kanvas perkampungan yang damai. Angin berhembus membaui aroma tanah yang khas.

“Brak!” suara ember jatuh membuyarkan lamunanku.

“Kucing!” ucapku menahan geram.

Aku melempar kucing itu dengan sapu, luput, kucing itu telah mengerti kebiasaan majikan barunya. Kucing itu berlari dan menghilang di kolongan sempit rumah. Aku menumpahkan kegeraman dengan membereskan ember yang dijatuhkan dengan menggerutu. Entah sudah keberapa kalinya kucing itu membuatku geram dengan ulahnya, karena memburu tikus biasanya ia menabrak peralatan dapur dan membuatnya berantakan. Aku hanya bisa menggerutu dan esoknya kucing itu  berbuat demikian lagi. Setiap bangun pagi aku selalu diberi pekerjaan membereskan dapur yang berantakan setelah semalam di obrak-abrik kucing. 

Kucing itu telah lama tinggal di rumah yang baru beberapa bulan aku beli. Warnanya putih, sekujur tubuhnya putih seperti serakan salju. Ke empat kakinya berwarna hitam tersepuh cokelat, sekilas dilihat seperti mengenakan kaus kaki. Orang banyak menyebutnya kucing kaus kaki. Sepasang matanya biru lazuardi dan tajam menunjukkan kejantanan sebagai petarung. Suaranya sangat akrab ditelingaku karena _ampon setiap pagi kucing itu mengganggu tidurku.

Kata pemilik rumah sebelumnya, kucing itu seperti penjaga rumah bagi mereka, selain menjaga tikus-tikus yang berkeliaran saat malam hari, juga bersuara gaduh dan kacau saat ada orang mencurigakan disekitar rumah. Satu hal yang membuat kucing itu istimewa adalah selalu membangunkan saat pagi hari dengan suaranya yang khas. Cerita pemilik rumah bahwa kucing itu pernah menyelamatkan rumah dari maling menurutku hanya kebetulan saja, aku tidak pernah mau berdamai dengan kucing itu yang telah merepotkanku.

“Apapun caranya, aku harus bisa mengusir kucing sialan itu,” kataku dalam hati.

“Dia tahu jalan ke rumah ini, percuma saja di buang.” Ucap hatiku lagi.

“Aku bisa membunuhnya,” ucap hatiku ketus.

“Itu tidak akan aku lakukan. Dosa. Aku teringat cerita sunan kalijaga yang menangis tersedu-sedu ketika tanpa sengaja mencabut rumput saat ia terjatuh. Katanya mencabut rumput tanpa digunakan adalah perbuatan sia-sia dan berdosa. Rumput itu mendoakan kedamaian bagi manusia, begitu juga dengan hewan-hewan.” Ucap hatiku lagi.

“Tapi aku tidak betah.” Ucapku sebal.

PAGI baru dimulai, sementara di luaran semakin gelap oleh mendung tebal yang menggelayut, gerimis mulai menitik. Sepi semakin menggayut ketika hujan mendera bumi. Bunyi gelegar sesekali terdengar di langit dibarengi cambukan api yang membuat suasana _ampong sebentar terang kemudian kembali gelap setelah cahaya api itu lenyap. Suasana di pasar terlihat berbeda; ibu-ibu tengah asyik bercengkrama sambil menunggu hujan reda.

“Kemarin kang Karim kecelakaan,” ucap yu Leha.

“Iya, beritanya sudah nyebar dimana-mana.” Ucap yang lain menimpali.

Aku yang memang juga telah mendengar berita kecelakaan kang Karim itu diam dan hanya menyimak.

“Tapi ada berita yang tidak diketahui oleh banyak orang,” ucap yu Leha.

“Apa?” Tanya yang lainnya antusias.

“Seminggu sebelumnya saat kang Karim pulang dari kulakan beras di kecamatan, ia nabrak kucing.” Ucapnya bercerita dengan _ampo serius.

“Terus?”

“Kucing itu terlindas truknya dan mati dengan usus terburai.”

Yu Leha semakin semangat bercerita dan membuat kami penasaran.

“Kucing itu hewan yang blarati,  biasanya orang yang nabrak kucing esok atau lusanya akan mengalami kecelakaan.” Ucapnya lagi.

“Sebagian orang malah percaya kucing itu akrab dengan tukang sihir, sebagai pengantar sihir. Sepasang matanya saja menakutkan saat malam hari, seperti mata hantu.” Ucap perempuan lain.

“Setahuku kucing itu hewan kesayangan nabi,” ucap yang lainnya menimpali

Aku masih terdiam, teringat kucing di rumahku. Aku hanya mengerti bahwa kucing itu telah membuatku uring-uringan selama ini. Merusak perabotan rumah dan mengganggu tidurku. Cerita ibu-ibu di pasar itu sama sekali tak membuatku berdamai dengan kucing. 

Kekesalanku semakin memuncak ketika sampai rumah kudapati kucing itu tengah pulas tertidur di bawah kursi. Aku mengendap-endap masuk ke rumah, mengambil air segayung dari padusan. Kucing itu masih mendengkur halus, lelap dengan tidurnya. Aku siramkan air ke kucing itu dengan geram.

“Byar!!”

Kucing itu sontak terbangun dan lari terbirit-birit keluar rumah dengan tubuh kuyup, bulunya yang putih seperti salju jadi layu dan kusut, ia sempat merandeg di terasan rumah setelah dihadang hujan yang semakin deras. Tubuhnya menggigil kedinginan. Aku yang tak puas hanya membuatnya kedinginan mengejar dengan membawa sapu bersiap melemparkan kearahnya, kucing itu melarikan diri menerobos hujan dan hilang di balik pohon-pohon pisang. Aku masuk ke dalam rumah, menutup pintu dengan kemenangan. 

ESOKNYA, biasanya aku bangun pagi uring-uringan karena suara gaduh kucing, pagi tadi tidak lagi. Kucing itu tidak terlihat lagi di sekitar rumah, aku bangun kesiangan dan gedabrukan berangkat ke pasar. Di dapur banyak tahi-tahi tikus berceceran di lantai menjadi pekerjaan baruku sejak pagi ini. Semalam tikus-tikus itu dengan leluasa menyelinap ke dalam dapur. Kucing yang selama ini membuatku geram telah pergi, mungkin kejadian kemarin benar-benar membuat kucing itu kapok untuk kembali ke rumah ini. Tapi, aku berganti dibuat geram dengan keberadaan tikus-tikus yang mencuri makanan di dapur.

Sampai di pasar, hari benar-benar telah siang, para pembeli telah banyak yang pulang. Aku telat datang, pasar mulai sepi. Aku tetap berjualan meski beberapa penjual lainnya sudah bersiap-siap akan pulang. Penjual sayur memang biasa berangkat pagi-pagi untuk mendapatkan banyak pembeli. Sayur-sayur yang masih segar lebih disukai pembeli daripada sayur yang sudah layu. Karena itulah sayur-sayurku tidak banyak laku dijual, aku pulang dengan membawa sisa-sisa sayur yang masih banyak. Malamnya aku akan rendam sayur-sayur itu dalam air biar tetap segar dan esok bisa aku jual lagi di pasar dicampur dengan sayur-sayur yang baru.

Kucing itu benar-benar tidak pernah tampak lagi di sekitar rumah, aku tidak perlu uring-uringan lagi dengan kucing. Setelah merendam sayur-sayur sisa jualan di pasar aku langsung tidur dengan nyenyak tanpa suara gaduh. Aku harus bisa bangun pagi besoknya kalau tidak mau ketinggalan pembeli lagi. Udara malam yang dingin membuatku cepat terlelap, aku lupa untuk mematikan api di dapur yang masih menyala.

TENGAH MALAM aku terbangun oleh suara kucing yang meraung-raung di depan pintu kamarku. Entah darimana kucing itu bisa masuk rumah, mungkin lewat dapur  atau celah-celah dinding yang menjadi pintu rahasia kucing untuk masuk ke dalam rumah. Aku gusar merasa ada yang mengusik tidurku. Jam dinding yang menunjuk angka 4 pagi: fajar, Aku melangkah gontai membuka pintu kamar berniat akan memukul kucing yang masih bersuara gaduh dan kacau. Pintu terbuka,  api berkobar- kobar dari arah dapur. Aku terkepung dalam api yang berkobar. Kucing itu masih bersuara gaduh dan kacau, diam di dekatku. Ia tak melarikan diri seperti biasanya saat melihatku.

Di tengah ketakutan, aku lekas menangkap sesuatu yang ingin disampaikan kucing itu, ia ingin memberitahu sesuatu; menyelamatkan diri. Aku beranjak keluar kamar mengikuti kucing itu yang melompat diantara api yang membakar. Sampai pintu samping aku melompat keluar bergulingan di rerumputan. Beberapa orang _ampong mulai berdatangan berusaha memadamkan api, aku yang masih digayuti rasa takut hanya bisa terduduk lemas melihat orang _ampong yang berusaha keras memadamkan api. 

Api berhasil padam, menyisakan kayu-kayu yang hangus. Dapur rumah tak berbentuk lagi tinggal puing-puing berserakan dengan abu. Tapi untunglah tidak semua rumahku terbakar, hanya dapur yang perlu di perbaiki karena tidak bisa digunakan lagi. Lebih bersyukur lagi, aku selamat dari kebakaran tengah malam yang menakutkan itu. Suara gaduh kucing itu telah membangunkanku. 

Aku mencari kucing itu, suaranya tak terdengar lagi sejak aku melompat keluar dari kobaran api. Mungkin ia terbakar kobaran api. Aku berjalan menyusuri sisa-sisa kebakaran, mencari-cari sesuatu. Dibawah kayu yang masih mengepulkan asap, aku melihat bangkai kucing yang telah hangus. Kulitnya yang berwarna putih seperti salju itu terbakar dan mungkin telah terbang ke kastil-kastil langit. Sementara raungan gaduhnya yang menyelamatkanku dari kebakaran itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Entah, tiba-tiba saja hatiku perih jika teringat  raungannya yang menyayat saat terusir dari rumahku.

Kempek,2014

 

*Penikmat Sastra yang lahir di Barito Timur 16 September 1989 Kalimantan Tengah.

Lulusan sarjana pendidikan Bahasa Arab di UIN Semarang. Pernah menjadi ketua komunitas sastra di komunitas Beranda Sastra Semarang saat masa-masa kuliah, menerbitkan majalah sastra dan menjadi pengisi sekolah sastra di beberapa sekolah, pernah diundang Institut Ibn Rusyd Lampung. Sesekali membacakan puisi dan cerpen di komunitas beranda sastra Semarang dan teater Beta. Saat ini tinggal dan mengikuti program khusus Kaderisasi Ulama di Kempek.

Email; This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
.