KH. Muh Musthofa Aqil : Hari Santri Sebagai Wujud Syukur Kepada Allah SWT

Dahulu para Ulama beristikhoroh saat memperjuangkan bangsa ini. Hingga akhirnya menghasilkan poin-poin kesepakatan yang dinamakan resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945.

Dengan resolusi jihad itulah, semangat para kiai, santri dan masyarakat Indonesia berkobar. Hingga akhirnya tercetuslah perang besar pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya yang membebaskan bangsa Indonesia dari tangan penjajah secara utuh.

Ini artinya, setelah 17 Agustus 1945 masih ada rongrongan dari para penjajah. Oleh karena itu dapat kita pahami bahwa, kalau tidak ada peristiwa 22 Oktober 1945, tidak akan ada peristiwa 10 November dan kalau tidak ada para ulama dan santri maka tidak akan ada 22 Oktober. Betapa besar jasa para ulama dan santri.

 

Kalau tidak ada peristiwa 22 Oktober 1945, tidak akan ada peristiwa 10 November dan kalau tidak ada para ulama dan santri maka tidak akan ada 22 Oktober.

Kita wajib mengenang hari bersejarah ini sebagai bentuk sykur kita kepada Allah. Dulu ketika Rasulullah SAW. mi’roj, beliau diperintah untuk salat dua rakaat di suatu tempat. Lalu Beliau bertanya kepada Jibril, “Kenapa saya disuruh salat di sini, tempat apa ini?,” nabi penasaran. Lalu Jibril menjawab, “haza bait al lazi wulida fihi isa alaihi al salam,” ini adalah tempat dimana Nabi Isa as. dilahirkan.

Dari kisah di atas dapat dipetik hikmah bahwa, kita disuruh menghormati tempat atau waktu saat terjadi hal luar biasa, meskipun telah berlalu. Begitupun peringatan nuzulul qur’an, maulid nabi dan lain sebagainya.

“Peringatan hari santri adalah bentuk syukur kita terhadap Allah SWT. Dengan menghormati hari kebebasan bangsa Indonesia. Bebas bernegara, bebas beribadah, bebas berkarya dan bebas bermuamalah secara syar’i dan diridai Allah Swt,” tutur Pengasuh Ponpes KHAS Kempek Cirebon KH. Muh. Musthofa Aqil Siroj dalam upacara pengibaran bendera merah putih di Ponpes KHAS Kempek Cirebon, dalam rangka memperingati hari santri nasional.

Allah berfirman dalam surat yasin ayat dua belas, وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ, yang artinya “Akan kami catat apa-apa yang yang telah mereka perjuangkan.

Kita tahu Kiai Harun, Kiai Aqil Siroj dan Buya Ja’far dalam membangun Pesantren Kempek. Jasa-jasa mereka begitu besar hingga saat ini masih kita rasakan.

Begitupun para ulama dan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Harus kita kenang dan kita abadikan.

Kita kenang jasa mereka dengan meningkatkan peran santri dalam membangun bangsa ini dalam segi ilmu dan akhlaqul karimah. Kita memiliki dua tugas yakni; menjaga bangsa ini dan menyelamatkan aqidah alusunnah wal jama’ah.

“Dengan adanya perjuangan para ulama kita dan para santri maka, kita para santri harus gede ati, sing bangga dadi santri,” pungkas ketua majelis zikir hubbul wathon itu.