Jalan tengah antara Ilmu dan Iman

Pengetahuan bukan satu-satunya kebenaran,
namun dengan petunjuk Tuhan
pengetahuan bisa mengantarkan manusia
menemui kebenaran .

Dari sudut basyar, manusia sama seperti binatang. Basyar itu adalah mâ ruiya basyaratuhu, (sesuatu yang dilihat kulitnya), berkaitan dengan fisik. Kalau dilihat dari fisik, manusia sama dengan binatang. Manusia punya tangan binatangpun punya, manusia punya mata, binatangpun punya, manusia punya kaki, binatangpun punya. Apa bedanya manusia dan binatang jika dipandang dari fisik? Tidak ada yang membedakan keduanya. Oleh karenanya para pakar mendefiniskan manusia adalah al ĥayawan an nâthiq (binatang yang berpikir). Manusia sama seperti binatang,sifat nâthiq inilah yang membedakannya. Sifat berpikirnya inilah yang membedakan antara keduanya. Bukan hanya sekedar berpikir, tetapi berpikir yang menghantarkannya menangkap kebenaran (baca: iman), karena betapa ia telah hebat berpikir, sebelum ia beriman, sejatinya ia tetaplah binatang.

Itulah mengapa kemudian muncul ungkapan; Pengetahuan bukan satu-satunya kebenaran. Karena pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang tidak menjamin orang tersebut bisa menerima cahaya keimanan, justeru sebaliknya, pengetahuan itu _banyak_malah menjadi penghalang orang tersebut untuk menerima cahaya keimanan, al îmn maĥjŭbun bi al ‘ilmi. Pengetahuan yang dimiliki, ilmu yang dimiliki, dimata Allah SWT justeru menjadikan mereka seperti binatang bahkan lebih sesat dari binatang, bal hum adlal! Kenapa bisa demikian? Jawabnya karena binatang tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan, sementara ‘mereka’ mengetahui namun pengetahuan yang mereka miliki dijadikan penghalang untuk menerima kebenaran; iman.

Sementara iman adalah mutlak hak Allah SWT. Tidak ada seorangpun yang bisa meng-intervensi-Nya, untuk diberikan kepada siapa dan dianugerahkan kepada siapa. Allah SWT tidak bisa disuap, tidak bisa dirayu, apalagi dipaksa, masalah iman murni hak prerogatif Allah SWT. Iman diberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki, laysa ‘alayka hudâhum walakinallâhu yahdî man yasyâ! (Bukanlah kewajibanmu_Muhammad_ menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya).

Inilah salah satu hikmah yang dapat dipetik dari ‘manuver-manuver’ ahli kitab (baca: Yahudi dan Nasrani) sewaktu mendengar seruan Nabi Muhammad Saw. Mereka melakukan itu bukan karena mereka tidak tahu (baca: tidak memiliki ilmu) karena nyatanya mereka mengetahui dari kitab-kitab mereka, mereka melakukan itu karena tujuan politis (baca; sesuatu yang menguntungkan diri mereka sendiri) agar anak-anak mereka tidak terbujuk seruan Nabi Muhamad Saw.

Manuver yang mereka lakukan antara lain dengan merubah al Kitab, (Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka Mengetahui).

Sebagian ahli kitab merubah al Kitab, semestinya A mereka rubah menjadi B, terutama masalah sifat Rasulullah Saw (na’t ar rasŭl). Sifat-sifatnya Nabi Saw dirubah, karena mereka sadar, kalau orang-orang Arab mendengar sifat Nabi_yang sebenarnya_hati mereka pasti bergetar (baca: oleh kebenaran). Oleh karena itu salah satu cara agar orang-orang Arab tidak masuk Islam adalah melarang mereka membaca sifat-sifat Nabi Saw. Lâ tasma’ŭ lihadza al Qur’âni walghaw! Jangan dengarkan al Qur’an, tinggalkan! Sebab kalau kamu mendengar al Qur’an, nantinya kamu akan iman!_maksudnya orang-orang Arab yang memiliki rasa bahasa al Qur’an. Bukan kita yang ‘tidak’ memiliki rasa bahasa al Qur’an_. Begitupula jangan dengar sifat Nabi, kalau kamu dengarkan nantinya kamu iman!

Khalid bin Walid _radliyallâhu ‘anhu_ masuk islam karena keengganannya menyakiti Nabi Saw dalam persitiwa Hudaibiyah. Karena tidak mau menyakiti Nabi Saw_tentunya karena ia mengerti bahwa Nabi Saw memiliki sifat-sifat mulia_ ia mendapatkan keimanan. Seorang Yahudi bernama Ka’ab al Akhbar masuk Islam ketika ‘Umar bin Khattab al Faruq _radliyallâhu ‘anhu_ menjadi khalifah. Sebenarnya Ka’ab al Akhbar mendengar tentang Muhammad (baca: Nabi Saw) yang menyerukan agama Islam sudah lama. Mendengar kabar itu ia tidak masuk Islam, setelah Nabi Saw wafat dan Abu Bakar as shidiq _radliyallâhu ‘anhu_ mengganti (khalîfah) iapun belum masuk Islam. Ia belum mau masuk Islam ingin membuktikan apakah benar kekuasaan Nabi Saw akan sampai ke tanah Syam. Begitu sahabat ‘Umar ibn Khattab al Faruq _radliyallâhu ‘anhu_ menjadi khalifah dan kekuasaanya meliputi tanah Syam_artinya Islam benar-benar sampai ke Syam seperti yang ia dengar_ Ka’ab al Akhbar baru mau masuk Islam.

Ketika masuk Islam ia bercerita (baca: tentang Islam sampai ke Syam); ‘Ketika kecil saya diajari Taurat oleh ayah saya kecuali satu lembar. Selembar kertas itu disobek dari kitab Taurat dan dimasukkan ke dalam peti dengan gembok pengunci. Ayah saya sangat galak dan melarang untuk membuka peti itu. Jangan dilihat! Jangan dibaca! Kenapa? Jangan tanya! Apa sebabnya? Jangan tanya! Pokoknya kamu jangan membacanya!

Sifat alami manusia, kalau dilarang akan semakin menimbulkan penasaran. Oleh karena itu masih mudah menyuruh orang berbuat baik (amar ma’rŭf) daripada mencegah berbuat buruk (nahyu ‘an al munkar). Nabi Adam as ketika berada di dalam syurga itu yang tidak tahan_sehingga membuatnya terusir_ adalah larangan untuk berbuat buruk, yakni larangan agar tidak mendekati pohon apel yang terlarang. Yang terberat itu adalah mencegah berbuat munkar, di Indonesia yang namanya perintah untuk berbuat baik sudah sangat tumpah ruah banyaknya, muballigh di tv-tv yang ‘pencilakan’ juga banyak. Itu hanya sebatas amar ma’rŭf, sementara nahy ‘an al munkar-nya belum ada (baca: belum tersentuh).

Ka’ab al Akhbar dilarang membuka peti tersebut, karena dilarang, ia semakin penasaran apa isi lembaran dari kitab Taurat itu? Kenapa harus dilarang? Kalau tidak dilarang mungkin Ka’ab tidak akan penasaran. Akhirnya sang ayah meninggal, setelah ayahnya meninggal ia membuka peti dan membaca lembaran terlarang tersebut yang ternyata isinya tentang sejarah Nabi akhir zaman_sifat-sifat dan biografi beliau Saw_, mawliduhŭ bi makkah, wa hijratuhŭ bi al madînah, wa sulthânuhŭ bi as syâm. Karena itulah ia dilarang membacanya, karena ayahnya tahu kalau ia membaca cerita Nabi Saw ia akan beriman. Orang yang membaca cerita tentang Nabi Saw merasakan ‘getaran ruhani’ (baca: getaran keimanan). Disinilah rekayasa-rekayasa yang dilakukan ahli kitab

Mereka merubah kalimat-kalimat dari yang semestinya, yuĥarrifŭna al kalima ‘an mawâdli’ih. Dan yang mereka rubah adalah kitab Allah SWT yakni Taurat. Kenapa mereka merubah kitab Allah SWT, tidak membuat kitab sendiri sesuai yang mereka inginkan? Bukankah dengan membuat kitab sendiri justru mereka lebih leluasa menuangkan segala isi hati dan pikiran-pikiran mereka? Jawabnya karena kitab Taurat memiliki legitimasi (baca: pengakuan) dari Allah SWT, hadzâ min ‘indillâh wamâ huwa min ‘indillâh!.Pengakuan itu memiliki nilai tersendiri, walaupun sebenarnya Taurat yang telah mereka rubah itu tidak lagi dari Allah SWT, gubahan-gubahan mereka dimasukkan dengan ‘mendompleng’ legitimasi Allah SWT agar laku dan dipercaya oleh orang-orang Arab.

Walhasil, pengetahuan yang dimiliki seseorang harus dibarengi upaya untuk menerima kebenaran, bukan justeru sebaliknya menjadikannya penghalang untuk menerima kebenaran. Khalid bin Walid menerima kebenaran karena ia mengetahui dengan detail sifat-sifat Nabi Saw yang begitu mulia, ketidaktegaannya menyakiti Nabi Saw inilah kemudian yang mengantarkannya menerima cahaya iman. Sementara orang-orang ahli kitab justeru menjadikan pengetahuan mereka sebagai penghalang masuknya cahaya keimanan hanya karena tujuan politis praktis (baca: tidak ada lagi kaum yang memberikan hadiah terhadap mereka, dan beralih kepada Muhammad). Semoga Allah SWT membuka hati kita untuk menerima kebenaran-kebenaran-Nya. Dan semoga kita dimasukkan ke dalam golongan orang yang beriman. Wallâhu a’lam bisshawâb.[]

Kempek, 23 Maret 2015

oleh: Yusuf Ilyas. NH