Filosofi basmalah, konsep tasawuf tentang ilmu, akhirat dan peran ulama sebagai pewaris para Nabi

Filosofi basmalah

Lafadz Bismillâhirraĥmânirraĥîm mengandung isyarah memberikan pelajaran tentang tawassul, kita belum bisa langsung billâh melainkan harus bismillâh. Itupun harus melalui  syarat, yakni kha, ĥa dan jim.

Kha adalah isyarah dari takhalliy ‘an as shifât al madzmŭmât (menghilangkan  sifat-sifat tercela) seperti takabur, ‘ujub, riya, iri dengki, putus asa. Semua sifat tercela harus dibuang, salah satunya yang paling mendasar dan merupakan dosa pertama kepada Allah SWT adalah takabbur; “Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”

Sifat mendasar manusia adalah mencintai dirinya sendiri, karena terlalu mencintai dirinya sendiri manusia selalu ingin tampil sempurna dari ujung rambut sampai ujung kaki. Nah, ketika manusia sibuk mengurusi dirinya sendiri, apakah urusannya akan tuntas? Jawabannya tidak, urusannya tidak akan habis, justru akan semakin bertambah. Kemudian kalau urusannya tidak pernah habis dan dirinya sibuk mengurusi urusannya dirinya sendiri, apakah ia mau mengurusi urusan orang lain? Tentulah ia enggan. Sikap enggan memperdulikan orang lain ini adalah sifat takabbur.

Satu-satunya yang memiliki raĥmat li al ‘âlamîn (rasa kasih sayang kepada seluruh alam) adalah Rasulullah SAW, artinya beliau SAW mengorbankan dirinya sendiri. Sementara kita  jarang bisa memberikan apa tapi yang banyak kita mendapatkan apa.

Suatu ketika Rasulullah SAW melaksanakan shalat isya’, kemudian selesai shalat beliau SAW buru-buru masuk ke dalam rumah dan lama tidak keluar-keluar. Begitu keluar, para sahabat saling bertanya. Apa yang terjadi dengan Rasulullah SAW? Beliau SAW bersabda: Saya terburu-buru masuk rumah karena teringat masih ada emas di dalam rumah, saya tidak mau ada emas bermalam di rumah saya. Subĥnallâh!

Itulah beliau Rasulullah SAW yang tidak mau menyimpan emas di dalam rumahnya dan buru-buru membagikan kepada para fakir. Beliau SAW mendahulukan kepentingan orang lain, urusan orang lain daripada urusan dan kepentingan pribadi beliau SAW sendiri. Hidup beliau SAW untuk orang lain! Karena itulah beliau SAW mendapatkan kedudukan yang mulia disisi-Nya dan di kalangan para sahabat. Kalau kita ingin hidup mulia hiduplah untuk orang lain, kalau tidak bisa semuanya separuh saja, kalau tidak bisa seperempat, kalau tidak bisa seperlima, lima persen saja ada untuk orang lain, disitulah pada hakikatnya letak kemuliaanmu. Khayr an nâs anfa’uhum li an nâs!

Sifat takabbur membuat orang buta akan kebenaran. Nikmatnya ibadah dan indahnya taqarrub tidak akan terlihat karena terhalang sifat takabbur. Salah satu sifat takabur selain yang telah disinggung di atas adalah melihat sesuatu pertama kali diukur dengan dirinya sendiri. Ketika Allah SWT bertanya kepada iblis, apakah yang menghalanginya untuk bersujud (kepada Adam) sewaktu diperintah? Iblis menjawab: ana khayrun minhu. (Saya lebih baik daripadanya). Kalimat ana adalah nadzr li an nafs, memandang dirinya sendiri; saya lebih baik dari anda. Dari kalimat saya inilah muncul takabbur. Dari dahulu iblis serba menggunakan saya; qâla ana khayrun minhu, khalaqtanî min nâr wa khalaqtahu min at thîn (saya lebih baik dari dia, saya Engkau ciptakan dari api dan dia Engkau ciptakan dari tanah). Filosofinya, kobaran api (asal penciptaan iblis) selalu ke atas, sementara tanah (asal penciptaan Adam) selalu terbenam dalam dataran. Iblis menduga api lebih mulia daripada tanah, padahal sejatinya tidak. Justru kalau kita tinjau lebih detaill, tanah lebih mulia daripada api karena tanah mengandung berbagai macam sumber kehidupan.

Sifat takabur ini digambarkan dengan huruf alief (ا), bi [i]smillah. Huruf Alief selama-lamanya tetap tegak tak bergeming (baca: tidak mau menerima kebaikan dan kebenaran). Aliefnya harus dibuang, itu adalah isyarah takhalliy.

Setelah takhalliy harus ĥa, yang merupakan singkatan dari taĥalliy bi as shifât al maĥmŭdât  (menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji) seperti tawadlu’, maĥabbah, sabar, syukur, ridla. Semua sifat terpuji dimasukkan, salah satunya yang paling dasar dan merupakan antonim dari takabur yakni tawadlu, maka dibuatlah huruf ba (بِ). Huruf ba titiknya berada di bawah dan selama-lamanya dibaca kasrah (bi), ini merupakan isyarah tawadlu (baca: merendahkan diri). Sifat ini tercermin dalam kehidupan baginda Rasulullah SAW; sehingga Syeikh ‘Abdul Qadir al Jilaniy menyebutkan; Muĥammad nuqthatu bai al basmalah (Muhammad SAW adalah titiknya huruf ba basmalah).

Tidak mungkin seseorang langsung kepada Allah SWT, tanpa melalui ba (baca: tawadlu). Allah SWT berfirman; Wasjud waqtarib, dengan sujud meletakkan anggota tubuh yang paling mulia ke tanah (sebagai bentuk tawadlu’) justru dekat dengan Allah SWT.

Setelah seseorang mampu takhalliy yakni menghilangkan semua sifat-sifat terceladan taĥalliy yakni mengisinya dengan sifat-sifat terpuji barulah ia mampu ‘kontak’ dengan Allah SWT  bismilâh itulah yang disebut tajalliy.

Falammâ tajallâ rabbuhŭ li al jabali ja’alahŭ dakkan wa kharra mŭsa sha’iqâ (Tatkala Rab-nya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa AS pun jatuh pingsan).

Ketika  mencapai tajalli, melihat kebesaran Allah SWT  kita  menjadi fana, hancur, tidak eksis. Kita ini tidak ada, yang ada hanyalah Allah SWT! Pada maqam ini, apapun yang dilihat, apapun yang kita rasakan adalah Allah SWT! Terlepas tentang polemik teori fana atau teori waĥdah al wujŭd, yang jelas ketika sampai maqam tajalliy kita tidak berarti apa-apa. Sehingga digambarkan ketika Allah SWT ‘tajalliy’, gunung-gunung hancur luluh dan Musa AS pingsan, artinya selain Allah SWT itu fana, selain Allah SWT itu hancur, selain Allah SWT itu tidak ada tinggallah Allah SWT yang ada.

Konsep tasawwuf tentang ilmu

Allah SWT memerintah tazkiyat an nafs (menyucikan jiwa) terlebih dahulu sebelum mengisinya dengan ilmu. Ilmu itu laksana air, sementara hati atau jiwa itu laksana bejana; Sebening apapun air jika bejananya kotor maka airnya akan menjadi kotor. Sebanyak apapun ilmu, kalau hatinya tidak bersih, kalau jiwanya tidak suci, maka ilmunya tidak akan bermanfaat. Oleh karena itulah al Qur’an menuturkan; “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”. Dalam ayat tersebut Allah SWT memerintah pensucian diri (wa yuzakkîhim) lebih dulu, kemudian  pengajaran ilmu pengetahuan (wa yu’allimuhum).

Persoalan pertama bagi orang yang ingin berbicara tasawwuf, wushŭl ilallâh (‘kontak’ dengan Allah SWT), adalah masalah tentang tazkyat an nafs. Bagaimana bisa melakukan ‘kontak’ dengan Allah SWT yang Maha Suci sementara  diri kita maha kotor?

Dalam setiap kitab yang membahas tentang kajian tasawwuf  dan berkaitan dengan hati selalu dimulai dengan bab taubat. Karena taubat adalah cara membersihkan hati, bahkan lebih dari itu, taubat adalah  kalimat pertama yang diturunkan Allah SWT kepada manusia untuk bisa wushul dengan-Nya.

Ketika Adam AS diusir dari syurga karena terbujuk rayuan iblis memakan buah apel terlarang dan Adam as ingin kembali ke syurga, Allah SWT memberikan kalimat; “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”Para mufassir menafsiri kalimat tersebut adalah; rabbanâ dzalamnâ angfusanâ wa inllam taghfirlanâ wa tarĥamnâ lanakŭnanna min al khâsirîn (Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi). Kalimat tersebut tidak lain adalah permohonan taubat, tazkiyat an nafs, ingin agar dirinya dibersihkan dari dosa dan dosa-dosanya dihilangkan. Inilah yang pertama kali harus diketahui oleh orang yang ingin mendalami tasawwuf.

Tercatat dalam sirah, sebelum Rasulullah SAW menerima wahyu dada beliau SAW dibedah dan dihilangkan semua sifat-sifat tercelanya. Setelah itu beliau SAW memiliki rutinitas taĥannuts (beribadah menyendiri di tempat terpencil yang tidak diketahui orang dan kontaminasi persoalan-persoalan duniawi) di gua hira.

Itulah metode yang dilakukan seorang kyai dalam mendidik santrinya dalam pondok pesantren. Zaman dulu, pondok pesantren Kempek setiap santri baru wajib plontos, sehingga banyak santri yang tidak jadi mondok untuk menghindari plontos. Ternyata peraturan wajib plontos itu memiliki faedah supaya santri tidak memikirkan persolan luar, karena mau keluar dari pondok pesantren malu. Itulah tahapan taĥnnuts, dilarang keluar, tidak kenal dari orang dan menyepi dari keramaian. Tidak hanya itu, di dalam pondok pesantren diperintah untuk menyapu, membersihkan halaman, roan (istiah untuk kerja bakti dalam kalangan santri), mengolah sawah milik kyai, menimba air untuk mengisi bak mandi, semua itu adalah bentuk tazkiyat an nafs (meskipun disayangkan_dan mungkin sebuah kritikan_kini rutinitas itu tidak ditemukan lagi di pondok pesantren).

Walhasil, dari kacamata tasawwuf, tazkiyat an nafs lebih didahulukan dari ta’lîm. Membersihkan bejana dari segala kotoran lebih didahulukan daripada mengisikan air ke dalam bejana yang kotor. Belakangan pakar pendidikan di negara kita mengganti kurikulum 2013 dengan kurikulum berbasis karakter. Wujud dari pelaksanaan kurikulum itu adalah ditambahkannya waktu jam pelajaran agama di sekolah-sekolah negeri. Harapannya  agar menyeleraskan antara pengetahuan dan agama (baca: karakter) kemudian menghasilkan output atau lulusan yang tidak hanya benar akan tetapi baik dan indah. Meskipun mindset tersebut terhitung telat, kita harus tetap mengacungi jempul dan salut, semoga apa yang diharapkan bisa menjadi kenyataan.

Konsep tasawwuf tentang akhirat

Orang sering menganggap akhirat itu jauh, sangat  lama sehingga sering mengatakan; nanti di akhirat, kelak di akhirat.  Padahal akhirat tidak jauh, akhirat itu dekat, akhirat berada di hadapan kita.  Dalam kajian tasawwuf akhirat dibahasakan  al âkhirat muqbilah (akhirat berada di depan) sementara ad dunya mudbirah (dunia berada di belakang). Artinya setiap detik, setiap menit, setiap jam kita hidup di dunia ini menghadap akhirat (baca: mendekati akhirat) dan membelakangi dunia (baca: semakin jauh dengan akhirat).

Tetapi falsafah kita kadang-kadang terbalik; dunia di depan dan akhirat di belakang. Sehingga maksud ungkapan; ‘masa depan’ yang gemilang, menurut kita (baca: kebanyakan kita) adalah hidup sukses di dunia bukan sukses di akhirat. Padahal yang namanya masa depan itu pasti berada hadapan kita bukan sesuatu yang berada di belakang kita (alangkah menggelikan kalau memaknai masa depan adalah masa yang ada di belakang kita (baca: dunia)),  sejatinya yang berada di hadapan kita dan menjadi masa depan kita adalah akhirat.

Lantas, yang benar akhirat di depan atau di belakang? Jawabnya, tergantung bagaimana engkau menghadap. Kalau engkau menuju akhirat berarti akhirat berada di depan, kalau engkau menuju dunia berarti  dunia berada di depan. Itu hanyalah pilihan yang tentunya memiliki konsekuensi masing-masing.

Yang sukar adalah menuju akhirat dan menganggap akhirat sebagai masa depan kita. Kita terlampau sibuk dengan urusan dunia, menganggap dunia adalah masa depan kita dan ketika kita menganggap dunia ada di hadapan kita maka akhirat ada di belakang kita.

Peran ulama sebagai pewaris para Nabi

Ilmu dan amal yang tidak untuk Allah SWT (khâlish lillâh) tertolak. Sebanyak apapun ilmu, sebanyak apapun amal yang tidak untuk Allah SWT tidak memiliki makna ta’abbud (penghambaan kepada Allah SWT). Tidak mendapatkan apa di akhirat. Sebagai contoh, Albert Einstein yang dianggap semua orang sebagai orang jenius di dunia ini, semua orang mengetahui teori relativismenya, bagaimanakah akhir hidupnya? Ia mati bunuh diri! Ini sangat ironi, karena antara ilmu dan mati bunuh diri itu terpisah sangat jauh. Orang sejenius Einstein mati bunuh diri, bunuh diri itu perilakunya orang bodoh. Jika ada orang sejenius dia bunuh diri maka ia termasuk orang bodoh! (huwa wal jâhilu sawâ).

Ini memberikan kita perhatian bahwa ilmu tidak menjadikan seseorang sadar dan benar, bahkan terkadang al’amal wa al îmân maĥjŭb bi al ‘ilmi (perbuatan dan iman terhalangi oleh pengetahuan). Disinilah dibutuhkan peran ‘ulama, syeikh, mursyid, kyai selaku pewaris para Nabi, karena tanpa mereka semua akan sangat menyukarkan mengarungi kehidupan di dunia yang penuh dengan godaan yang menggiurkan.

al ‘ulamâ waratsat al anbiyâ (‘ulama adalah pewaris para Nabi). Redaksi yang digunakan adalah redaksi plural (anbiyâ) bukan bentuk singular (nabiy) ini memberikan pengertian bahwa ulama adalah pewaris para Nabi bukan hanya satu Nabi. Rasulullah SAW bersabda; ‘Ulamanya umatku seperti para Nabi bani Israil. Nabi itu macam-macam, ada Nabi yang kaya seperti Nabi Sulaiman as, jadi kalau ada kyai yang kaya berarti mewarisi Nabi Sulaiman as. Kalau ada kyai yang miskin berarti mewarisi Nabi Isa as. Bahkan ada Nabi yang ‘rewel’ seperti Nabi Musa as, jadi kalau ada kyai yang suka rewel berarti mewarisi Nabi Musa as. Mereka semua adalah para Nabi yang diperintahkan oleh Allah SWT menyampaikan risalah kerasulan kepada kaumnya untuk memeluk agama tauhid.

Namun sayangnya zaman sekarang_bukan lagi sebagai fenomena tetapi sudah menjadi rahasia umum_  para ulama yang disebut sebagai pewaris para Nabi itu ‘hampir punah’ _kalau tidak mau disebut tidak ada_, kecuali pakaian saja, tinggal orang-orang yang pura-pura menjadi ‘ulama, berpenampilan seperti ‘ulama (mutarassimŭn). Banyak orang yang mementingkan kulit tetapi lupa akan isi. Tanpa mengesampingkan kulit, pakaian juga penting, penampilan juga perlu diperhatikan tetapi jangan sampai melupakan isi, esensi dan tanggungjawab seorang ulama. Tidak hanya tanggungjawab terhadap diri sendiri tetapi juga tanggungjawab terhadap Allah SWT. Bukankah Rasulullah Saw telah bersabda; “Siksa yang paling pedih di hari kiyamat akan menimpa orang alim yang ilmunya tidak manfaat.”? Ilmu yang tidak manfaat itu adalah ilmu yang tidak diamalkan, apa yang  diucapkan hanya sebatas retorika dan teori belaka, tidak pernah diamalkan dan diimplementasikan, persis seperti sifat orang munafik yang lidah mereka mengaku iman tetapi hati mereka berpaling dan kufur.

Semua tergoda dengan kesenangan sementara, dan kepentingan sesaat.       Ilmu akhirat dan ilmu yang digeluti para ulama salaf seperti tauhid, ushul, fiqih, hikmah, rusyd, ilmu-ilmu yang mendekatkan diri kepada Allah SWT tidak pernah dilirik lagi, keberadaannya telah dilupakan (nasyan mansiyya).  Sehingga mereka membalikkan persoalan yang baik menjadi buruk dan buruk menjadi baik sesuai dengan pemesannya. Sehingga keluhuran agama dipenjuru dunia tenggelam dalam kehinaan. Sehingga ketika semuanya telah campur baur, bekecamuk antara kepentingan, ilmu pengetahuan, juga kebodohan, fatwa yang dilegalkan oleh penegak hukum dan dijadikan peraturan adalah fatwa al ĥukŭmah (keputusan pemerintah)bukan lagi ilmu ‘ulamâ’ (ilmu para ulama).

Para ‘ulama, syeikh, mursyid, kyai, yang terlepas dari kepentingan sesaat itulah yang menjadi pewaris para Nabi  dan menuntukan kita semua kepada kebenaran, merekalah yang menjadi penghubung mata rantai kita kepada Rasulullah SAW. Merekalah ‘ulama yang menerapkan konsep kha, ha, lantas jim, yakni senantiasa menjauhi sifat-sifat tercela, mengisinya dengan sifat-sifat terpuji agar bisa wushŭl  kepada Allah SWT. Semoga kita bisa tetap berada di jalan kebenaran dengan berpegang teguh terhadap tuntunan mereka semua yang merupakan pewaris para Nabi. Inysaallah. Wallâhu a’lam bisshawâb.[] Indramayu, 15 Maret 2015

Yusuf Ilyas NH*
* Peserta Program kaderisasi ‘Ulama ma’had al Ghazier, Kempek