FALSAFAT TASHRIFAN MENURUT KYAI MUSTHOFA AQIEL

Ilmu tashrif adalah satu fan ilmu gramatika bahasa arab yang tidaklah asing di mata para santri yang sedang mendalami agama islam melalui Turats-turats atau pemahaman kitab kuning. Namun sayangnya turats sendiri menggunakan bahasa arab dan bertolak belakang dengan bahasa yang digunakan sehari-hari di indonesia. oleh sabab itu, pelajar di indonesia tidaklah gampang untuk memahami Turats jika tidak bisa bahasa arab dan menguasai gramatikanya yang ada enam: Nahwu, Mantiq, Balaghoh, Bayan, Badi’ begitu juga Shorof atau Tashrif. Dengan artian, ke-enam fan ilmu tersebut sangatlah mutlak bagi pelajar atau santri yang ingin bisa memahami kitab kuning seperti Tafsir, Hadits, Ushul Fiqh dsb.

Akan tetapi tashif juga memiliki falsafat tersendiri, seperti yang dipaparkan oleh KH. M. MUSTHOFA AQIEL SIROJ, selaku Pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek cirebon dalam acara Muhadlarah ‘Ammah (pengajian umum) yang bertempat di halaman komplek al-Jadied Pondok Pesantren KHAS Kempek Desa Kempek Kecamatan Palimanan Kabupaten Cirebon. Kamis (26/02/2015) malam.

فعل يفعل فعلا,yang pertama adalah harus mampu dan berani berbuat, beramal dan berkarya. “Akan tetapi itu semuanya melalui pertolongan Allah dan bimbingan dari para guru. Makanya نصَر ينصُر نصرا” ungkap Kyai Musthofa menjelaskan di depan ribuan santri yang memadati tempat acara.

Kyai Musthofa melanjutkan,kebayakan dikalangan pemuda lebih suka belajar agama di media social seperti google, youtube dsb, yang jelas tidak ada gurunya. Yang dikhawatirkan menjadi pemikiran radikal sampai-sampai berani membunuh orang lain yang tidak sepaham dengannyadan sedang marak terjadi belakangan ini. Karena itu semua dapat mencoreng kesucian nama islam di mata dunia.

“disamping itu,ضرباضرَب يضرِبorang harus berusaha, menghafal, nderes, lalaran,dan rela dihukum ketika salah. jika sudah demikian, makaفتحافتَح يفتَحAllah akan membukkan pintu hidayah-Nyadan memberi ilmu untuk kita yang artinya علماعلِم يعلَم.” Jelasnya.

Ketika hidayah Allah sudah terbuka dan  mendapat ilmu, semuanya akan tertata indah, perilakunya baik, tutur katanya sopan dan bagus budi pekertinya. Dengan arti orang yang demikian seperti bab yang ke-5 atauحسناحسُن يحسُن.Barulah orang tersebut akan diperhitungkan atauحسباناحسِب يحسِب.

“orang yang berilmu tidak diperhitungkan karena orang tua ataupun nasabnya. Tapi dari diri sendiri” tegas Kyai Musthofa.

Dan diakhir ceramahnya, beliau menutup dengan syi’iran:

“ليس الفتى من يقول هذا أبى * ولكن الفتى من يقول هاأناذا”

Bukanlah seorang pemuda yang mengatakan : “inilah ayahku”, tetapi pemuda yang sebenarnya adalah yang mengatakan “inilah aku”.

Acara Muhadlarah ‘Ammah sendiri merupakan agenda bulanan pesantren yang disenggarakan pada malam jum’at terakhir setiap bulan masehi.Dalam setiap pengajian rutin itu sendiri, selalu dibacakannya Kitab Ta’lim Muta’allim oleh pengasuh dan disimak oleh ribuan santri yang selalu membanjiri tempat acara.

Pada setiap pengajiannya, pengasuh selalu memberikan motivasi-motivasi segar, trik menghafal cepat, amaliyyah, adab sorang santri dsb. Dengan harapan agar lebih meningkatkan dalam hal ngaji dan prestasi para santri dan ajang silaturrahmi Kyai, Pengurus pondok dan Santri Khas pada umumnya.(Siroj Achmad).