Category Archives: LEMBAGA

Jalan tengah antara Ilmu dan Iman

Pengetahuan bukan satu-satunya kebenaran,
namun dengan petunjuk Tuhan
pengetahuan bisa mengantarkan manusia
menemui kebenaran .

Dari sudut basyar, manusia sama seperti binatang. Basyar itu adalah mâ ruiya basyaratuhu, (sesuatu yang dilihat kulitnya), berkaitan dengan fisik. Kalau dilihat dari fisik, manusia sama dengan binatang. Manusia punya tangan binatangpun punya, manusia punya mata, binatangpun punya, manusia punya kaki, binatangpun punya. Apa bedanya manusia dan binatang jika dipandang dari fisik? Tidak ada yang membedakan keduanya. Oleh karenanya para pakar mendefiniskan manusia adalah al ĥayawan an nâthiq (binatang yang berpikir). Manusia sama seperti binatang,sifat nâthiq inilah yang membedakannya. Sifat berpikirnya inilah yang membedakan antara keduanya. Bukan hanya sekedar berpikir, tetapi berpikir yang menghantarkannya menangkap kebenaran (baca: iman), karena betapa ia telah hebat berpikir, sebelum ia beriman, sejatinya ia tetaplah binatang.

Itulah mengapa kemudian muncul ungkapan; Pengetahuan bukan satu-satunya kebenaran. Karena pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang tidak menjamin orang tersebut bisa menerima cahaya keimanan, justeru sebaliknya, pengetahuan itu _banyak_malah menjadi penghalang orang tersebut untuk menerima cahaya keimanan, al îmn maĥjŭbun bi al ‘ilmi. Pengetahuan yang dimiliki, ilmu yang dimiliki, dimata Allah SWT justeru menjadikan mereka seperti binatang bahkan lebih sesat dari binatang, bal hum adlal! Kenapa bisa demikian? Jawabnya karena binatang tidak mengetahui apa yang mereka kerjakan, sementara ‘mereka’ mengetahui namun pengetahuan yang mereka miliki dijadikan penghalang untuk menerima kebenaran; iman.

Sementara iman adalah mutlak hak Allah SWT. Tidak ada seorangpun yang bisa meng-intervensi-Nya, untuk diberikan kepada siapa dan dianugerahkan kepada siapa. Allah SWT tidak bisa disuap, tidak bisa dirayu, apalagi dipaksa, masalah iman murni hak prerogatif Allah SWT. Iman diberikan kepada siapa saja yang Ia kehendaki, laysa ‘alayka hudâhum walakinallâhu yahdî man yasyâ! (Bukanlah kewajibanmu_Muhammad_ menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya).

Inilah salah satu hikmah yang dapat dipetik dari ‘manuver-manuver’ ahli kitab (baca: Yahudi dan Nasrani) sewaktu mendengar seruan Nabi Muhammad Saw. Mereka melakukan itu bukan karena mereka tidak tahu (baca: tidak memiliki ilmu) karena nyatanya mereka mengetahui dari kitab-kitab mereka, mereka melakukan itu karena tujuan politis (baca; sesuatu yang menguntungkan diri mereka sendiri) agar anak-anak mereka tidak terbujuk seruan Nabi Muhamad Saw.

Manuver yang mereka lakukan antara lain dengan merubah al Kitab, (Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: “Ia (yang dibaca itu datang) dari sisi Allah”, padahal ia bukan dari sisi Allah. mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka Mengetahui).

Sebagian ahli kitab merubah al Kitab, semestinya A mereka rubah menjadi B, terutama masalah sifat Rasulullah Saw (na’t ar rasŭl). Sifat-sifatnya Nabi Saw dirubah, karena mereka sadar, kalau orang-orang Arab mendengar sifat Nabi_yang sebenarnya_hati mereka pasti bergetar (baca: oleh kebenaran). Oleh karena itu salah satu cara agar orang-orang Arab tidak masuk Islam adalah melarang mereka membaca sifat-sifat Nabi Saw. Lâ tasma’ŭ lihadza al Qur’âni walghaw! Jangan dengarkan al Qur’an, tinggalkan! Sebab kalau kamu mendengar al Qur’an, nantinya kamu akan iman!_maksudnya orang-orang Arab yang memiliki rasa bahasa al Qur’an. Bukan kita yang ‘tidak’ memiliki rasa bahasa al Qur’an_. Begitupula jangan dengar sifat Nabi, kalau kamu dengarkan nantinya kamu iman!

Khalid bin Walid _radliyallâhu ‘anhu_ masuk islam karena keengganannya menyakiti Nabi Saw dalam persitiwa Hudaibiyah. Karena tidak mau menyakiti Nabi Saw_tentunya karena ia mengerti bahwa Nabi Saw memiliki sifat-sifat mulia_ ia mendapatkan keimanan. Seorang Yahudi bernama Ka’ab al Akhbar masuk Islam ketika ‘Umar bin Khattab al Faruq _radliyallâhu ‘anhu_ menjadi khalifah. Sebenarnya Ka’ab al Akhbar mendengar tentang Muhammad (baca: Nabi Saw) yang menyerukan agama Islam sudah lama. Mendengar kabar itu ia tidak masuk Islam, setelah Nabi Saw wafat dan Abu Bakar as shidiq _radliyallâhu ‘anhu_ mengganti (khalîfah) iapun belum masuk Islam. Ia belum mau masuk Islam ingin membuktikan apakah benar kekuasaan Nabi Saw akan sampai ke tanah Syam. Begitu sahabat ‘Umar ibn Khattab al Faruq _radliyallâhu ‘anhu_ menjadi khalifah dan kekuasaanya meliputi tanah Syam_artinya Islam benar-benar sampai ke Syam seperti yang ia dengar_ Ka’ab al Akhbar baru mau masuk Islam.

Ketika masuk Islam ia bercerita (baca: tentang Islam sampai ke Syam); ‘Ketika kecil saya diajari Taurat oleh ayah saya kecuali satu lembar. Selembar kertas itu disobek dari kitab Taurat dan dimasukkan ke dalam peti dengan gembok pengunci. Ayah saya sangat galak dan melarang untuk membuka peti itu. Jangan dilihat! Jangan dibaca! Kenapa? Jangan tanya! Apa sebabnya? Jangan tanya! Pokoknya kamu jangan membacanya!

Sifat alami manusia, kalau dilarang akan semakin menimbulkan penasaran. Oleh karena itu masih mudah menyuruh orang berbuat baik (amar ma’rŭf) daripada mencegah berbuat buruk (nahyu ‘an al munkar). Nabi Adam as ketika berada di dalam syurga itu yang tidak tahan_sehingga membuatnya terusir_ adalah larangan untuk berbuat buruk, yakni larangan agar tidak mendekati pohon apel yang terlarang. Yang terberat itu adalah mencegah berbuat munkar, di Indonesia yang namanya perintah untuk berbuat baik sudah sangat tumpah ruah banyaknya, muballigh di tv-tv yang ‘pencilakan’ juga banyak. Itu hanya sebatas amar ma’rŭf, sementara nahy ‘an al munkar-nya belum ada (baca: belum tersentuh).

Ka’ab al Akhbar dilarang membuka peti tersebut, karena dilarang, ia semakin penasaran apa isi lembaran dari kitab Taurat itu? Kenapa harus dilarang? Kalau tidak dilarang mungkin Ka’ab tidak akan penasaran. Akhirnya sang ayah meninggal, setelah ayahnya meninggal ia membuka peti dan membaca lembaran terlarang tersebut yang ternyata isinya tentang sejarah Nabi akhir zaman_sifat-sifat dan biografi beliau Saw_, mawliduhŭ bi makkah, wa hijratuhŭ bi al madînah, wa sulthânuhŭ bi as syâm. Karena itulah ia dilarang membacanya, karena ayahnya tahu kalau ia membaca cerita Nabi Saw ia akan beriman. Orang yang membaca cerita tentang Nabi Saw merasakan ‘getaran ruhani’ (baca: getaran keimanan). Disinilah rekayasa-rekayasa yang dilakukan ahli kitab

Mereka merubah kalimat-kalimat dari yang semestinya, yuĥarrifŭna al kalima ‘an mawâdli’ih. Dan yang mereka rubah adalah kitab Allah SWT yakni Taurat. Kenapa mereka merubah kitab Allah SWT, tidak membuat kitab sendiri sesuai yang mereka inginkan? Bukankah dengan membuat kitab sendiri justru mereka lebih leluasa menuangkan segala isi hati dan pikiran-pikiran mereka? Jawabnya karena kitab Taurat memiliki legitimasi (baca: pengakuan) dari Allah SWT, hadzâ min ‘indillâh wamâ huwa min ‘indillâh!.Pengakuan itu memiliki nilai tersendiri, walaupun sebenarnya Taurat yang telah mereka rubah itu tidak lagi dari Allah SWT, gubahan-gubahan mereka dimasukkan dengan ‘mendompleng’ legitimasi Allah SWT agar laku dan dipercaya oleh orang-orang Arab.

Walhasil, pengetahuan yang dimiliki seseorang harus dibarengi upaya untuk menerima kebenaran, bukan justeru sebaliknya menjadikannya penghalang untuk menerima kebenaran. Khalid bin Walid menerima kebenaran karena ia mengetahui dengan detail sifat-sifat Nabi Saw yang begitu mulia, ketidaktegaannya menyakiti Nabi Saw inilah kemudian yang mengantarkannya menerima cahaya iman. Sementara orang-orang ahli kitab justeru menjadikan pengetahuan mereka sebagai penghalang masuknya cahaya keimanan hanya karena tujuan politis praktis (baca: tidak ada lagi kaum yang memberikan hadiah terhadap mereka, dan beralih kepada Muhammad). Semoga Allah SWT membuka hati kita untuk menerima kebenaran-kebenaran-Nya. Dan semoga kita dimasukkan ke dalam golongan orang yang beriman. Wallâhu a’lam bisshawâb.[]

Kempek, 23 Maret 2015

oleh: Yusuf Ilyas. NH

KHITOBAH; MELATIH MENTALITAS SANTRI DIDEPAN UMUM

Ikhsan Hasanudin, santri KHAS Kempek asal Kuningan ini begitu enerjik dalam menyampaikan isi pidatonya dalam acara rutinitas marhabanan di asrama Madinah at-Tholabah, Pesantren KHAS Kempek Cirebon. Kamis (20/3) malam.

Dalam pidatonya, ia sedikit memaparkan tentang kemuliaan seseorang yang mempunyai ilmu. Menurutnya,  Allah memberikan kemulian kepada manusia karena mempunyai ilmu. Dengan gayanya yang khas seperti KH. Zaenuddin MZ, kontan membuat para santri begitu antusias mendengarkan setiap kata yang dipaparkan olehnya. “Rahasia Nabi Adam dihormati Malaikat karena Nabi Adam punya ilmu” jelas Ikhsan, yang mengaku baru 5 bulan nyantri di KHAS Kempek.

Agenda marhabanan ini sendiri merupakan program yang telah lama dijalankan di Pesantren KHAS Kempek. Dengan dibacakannya riwayat nabi dalam kitab al-Barzanji atau ad-Diba’i dan setelahnya diisi dengan acara latihan pidato, MC, qiro dan shalawat.

Di samping memberi kajian-kajian yang bersifat esensial dalam islam yang dikemas dalam kitab kuning, KHAS Kempek juga melatih mentalitas santri-santrinya dengan belajar pidato. Hal ini bertujaun agar keluaran pesantren KHAS tidak canggung ketika pada saatnya terjun dan berdakwah di tengah masyarakat.

Menurut KH. Muhammad BJ, agenda semacam ini terlihat sepele dan biasa-biasa saja. Namun jika dilakukan secara rutin, sekecil apapun agendanya akan terasa membekas pada mental seorang santri yang tidak hanya paham tentang kitab kuning, tapi seorang santri juga dituntut agar bisa menyampaikan keilmuannya dengan benar.

 Sudah saatnya seorang santri tidak lagi minder ketika berbicara di depan umum, dan melihat begitu mudahnya seseorang bisa dianggap ustadz dan berceramah di televisi hanya karena piawai dalam hal penyampaiannya. Maka santri yang kaya akan kajian islamnnya diharapkan sebagian bisa ambil bagian berdakwah di dunia per-televisi-an indonesia.

 

Oleh : Sirojudin Achmed

Filosofi basmalah, konsep tasawuf tentang ilmu, akhirat dan peran ulama sebagai pewaris para Nabi

Filosofi basmalah

Lafadz Bismillâhirraĥmânirraĥîm mengandung isyarah memberikan pelajaran tentang tawassul, kita belum bisa langsung billâh melainkan harus bismillâh. Itupun harus melalui  syarat, yakni kha, ĥa dan jim.

Kha adalah isyarah dari takhalliy ‘an as shifât al madzmŭmât (menghilangkan  sifat-sifat tercela) seperti takabur, ‘ujub, riya, iri dengki, putus asa. Semua sifat tercela harus dibuang, salah satunya yang paling mendasar dan merupakan dosa pertama kepada Allah SWT adalah takabbur; “Dan (Ingatlah) ketika kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.”

Sifat mendasar manusia adalah mencintai dirinya sendiri, karena terlalu mencintai dirinya sendiri manusia selalu ingin tampil sempurna dari ujung rambut sampai ujung kaki. Nah, ketika manusia sibuk mengurusi dirinya sendiri, apakah urusannya akan tuntas? Jawabannya tidak, urusannya tidak akan habis, justru akan semakin bertambah. Kemudian kalau urusannya tidak pernah habis dan dirinya sibuk mengurusi urusannya dirinya sendiri, apakah ia mau mengurusi urusan orang lain? Tentulah ia enggan. Sikap enggan memperdulikan orang lain ini adalah sifat takabbur.

Satu-satunya yang memiliki raĥmat li al ‘âlamîn (rasa kasih sayang kepada seluruh alam) adalah Rasulullah SAW, artinya beliau SAW mengorbankan dirinya sendiri. Sementara kita  jarang bisa memberikan apa tapi yang banyak kita mendapatkan apa.

Suatu ketika Rasulullah SAW melaksanakan shalat isya’, kemudian selesai shalat beliau SAW buru-buru masuk ke dalam rumah dan lama tidak keluar-keluar. Begitu keluar, para sahabat saling bertanya. Apa yang terjadi dengan Rasulullah SAW? Beliau SAW bersabda: Saya terburu-buru masuk rumah karena teringat masih ada emas di dalam rumah, saya tidak mau ada emas bermalam di rumah saya. Subĥnallâh!

Itulah beliau Rasulullah SAW yang tidak mau menyimpan emas di dalam rumahnya dan buru-buru membagikan kepada para fakir. Beliau SAW mendahulukan kepentingan orang lain, urusan orang lain daripada urusan dan kepentingan pribadi beliau SAW sendiri. Hidup beliau SAW untuk orang lain! Karena itulah beliau SAW mendapatkan kedudukan yang mulia disisi-Nya dan di kalangan para sahabat. Kalau kita ingin hidup mulia hiduplah untuk orang lain, kalau tidak bisa semuanya separuh saja, kalau tidak bisa seperempat, kalau tidak bisa seperlima, lima persen saja ada untuk orang lain, disitulah pada hakikatnya letak kemuliaanmu. Khayr an nâs anfa’uhum li an nâs!

Sifat takabbur membuat orang buta akan kebenaran. Nikmatnya ibadah dan indahnya taqarrub tidak akan terlihat karena terhalang sifat takabbur. Salah satu sifat takabur selain yang telah disinggung di atas adalah melihat sesuatu pertama kali diukur dengan dirinya sendiri. Ketika Allah SWT bertanya kepada iblis, apakah yang menghalanginya untuk bersujud (kepada Adam) sewaktu diperintah? Iblis menjawab: ana khayrun minhu. (Saya lebih baik daripadanya). Kalimat ana adalah nadzr li an nafs, memandang dirinya sendiri; saya lebih baik dari anda. Dari kalimat saya inilah muncul takabbur. Dari dahulu iblis serba menggunakan saya; qâla ana khayrun minhu, khalaqtanî min nâr wa khalaqtahu min at thîn (saya lebih baik dari dia, saya Engkau ciptakan dari api dan dia Engkau ciptakan dari tanah). Filosofinya, kobaran api (asal penciptaan iblis) selalu ke atas, sementara tanah (asal penciptaan Adam) selalu terbenam dalam dataran. Iblis menduga api lebih mulia daripada tanah, padahal sejatinya tidak. Justru kalau kita tinjau lebih detaill, tanah lebih mulia daripada api karena tanah mengandung berbagai macam sumber kehidupan.

Sifat takabur ini digambarkan dengan huruf alief (ا), bi [i]smillah. Huruf Alief selama-lamanya tetap tegak tak bergeming (baca: tidak mau menerima kebaikan dan kebenaran). Aliefnya harus dibuang, itu adalah isyarah takhalliy.

Setelah takhalliy harus ĥa, yang merupakan singkatan dari taĥalliy bi as shifât al maĥmŭdât  (menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji) seperti tawadlu’, maĥabbah, sabar, syukur, ridla. Semua sifat terpuji dimasukkan, salah satunya yang paling dasar dan merupakan antonim dari takabur yakni tawadlu, maka dibuatlah huruf ba (بِ). Huruf ba titiknya berada di bawah dan selama-lamanya dibaca kasrah (bi), ini merupakan isyarah tawadlu (baca: merendahkan diri). Sifat ini tercermin dalam kehidupan baginda Rasulullah SAW; sehingga Syeikh ‘Abdul Qadir al Jilaniy menyebutkan; Muĥammad nuqthatu bai al basmalah (Muhammad SAW adalah titiknya huruf ba basmalah).

Tidak mungkin seseorang langsung kepada Allah SWT, tanpa melalui ba (baca: tawadlu). Allah SWT berfirman; Wasjud waqtarib, dengan sujud meletakkan anggota tubuh yang paling mulia ke tanah (sebagai bentuk tawadlu’) justru dekat dengan Allah SWT.

Setelah seseorang mampu takhalliy yakni menghilangkan semua sifat-sifat terceladan taĥalliy yakni mengisinya dengan sifat-sifat terpuji barulah ia mampu ‘kontak’ dengan Allah SWT  bismilâh itulah yang disebut tajalliy.

Falammâ tajallâ rabbuhŭ li al jabali ja’alahŭ dakkan wa kharra mŭsa sha’iqâ (Tatkala Rab-nya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa AS pun jatuh pingsan).

Ketika  mencapai tajalli, melihat kebesaran Allah SWT  kita  menjadi fana, hancur, tidak eksis. Kita ini tidak ada, yang ada hanyalah Allah SWT! Pada maqam ini, apapun yang dilihat, apapun yang kita rasakan adalah Allah SWT! Terlepas tentang polemik teori fana atau teori waĥdah al wujŭd, yang jelas ketika sampai maqam tajalliy kita tidak berarti apa-apa. Sehingga digambarkan ketika Allah SWT ‘tajalliy’, gunung-gunung hancur luluh dan Musa AS pingsan, artinya selain Allah SWT itu fana, selain Allah SWT itu hancur, selain Allah SWT itu tidak ada tinggallah Allah SWT yang ada.

Konsep tasawwuf tentang ilmu

Allah SWT memerintah tazkiyat an nafs (menyucikan jiwa) terlebih dahulu sebelum mengisinya dengan ilmu. Ilmu itu laksana air, sementara hati atau jiwa itu laksana bejana; Sebening apapun air jika bejananya kotor maka airnya akan menjadi kotor. Sebanyak apapun ilmu, kalau hatinya tidak bersih, kalau jiwanya tidak suci, maka ilmunya tidak akan bermanfaat. Oleh karena itulah al Qur’an menuturkan; “Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”. Dalam ayat tersebut Allah SWT memerintah pensucian diri (wa yuzakkîhim) lebih dulu, kemudian  pengajaran ilmu pengetahuan (wa yu’allimuhum).

Persoalan pertama bagi orang yang ingin berbicara tasawwuf, wushŭl ilallâh (‘kontak’ dengan Allah SWT), adalah masalah tentang tazkyat an nafs. Bagaimana bisa melakukan ‘kontak’ dengan Allah SWT yang Maha Suci sementara  diri kita maha kotor?

Dalam setiap kitab yang membahas tentang kajian tasawwuf  dan berkaitan dengan hati selalu dimulai dengan bab taubat. Karena taubat adalah cara membersihkan hati, bahkan lebih dari itu, taubat adalah  kalimat pertama yang diturunkan Allah SWT kepada manusia untuk bisa wushul dengan-Nya.

Ketika Adam AS diusir dari syurga karena terbujuk rayuan iblis memakan buah apel terlarang dan Adam as ingin kembali ke syurga, Allah SWT memberikan kalimat; “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”Para mufassir menafsiri kalimat tersebut adalah; rabbanâ dzalamnâ angfusanâ wa inllam taghfirlanâ wa tarĥamnâ lanakŭnanna min al khâsirîn (Keduanya berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi). Kalimat tersebut tidak lain adalah permohonan taubat, tazkiyat an nafs, ingin agar dirinya dibersihkan dari dosa dan dosa-dosanya dihilangkan. Inilah yang pertama kali harus diketahui oleh orang yang ingin mendalami tasawwuf.

Tercatat dalam sirah, sebelum Rasulullah SAW menerima wahyu dada beliau SAW dibedah dan dihilangkan semua sifat-sifat tercelanya. Setelah itu beliau SAW memiliki rutinitas taĥannuts (beribadah menyendiri di tempat terpencil yang tidak diketahui orang dan kontaminasi persoalan-persoalan duniawi) di gua hira.

Itulah metode yang dilakukan seorang kyai dalam mendidik santrinya dalam pondok pesantren. Zaman dulu, pondok pesantren Kempek setiap santri baru wajib plontos, sehingga banyak santri yang tidak jadi mondok untuk menghindari plontos. Ternyata peraturan wajib plontos itu memiliki faedah supaya santri tidak memikirkan persolan luar, karena mau keluar dari pondok pesantren malu. Itulah tahapan taĥnnuts, dilarang keluar, tidak kenal dari orang dan menyepi dari keramaian. Tidak hanya itu, di dalam pondok pesantren diperintah untuk menyapu, membersihkan halaman, roan (istiah untuk kerja bakti dalam kalangan santri), mengolah sawah milik kyai, menimba air untuk mengisi bak mandi, semua itu adalah bentuk tazkiyat an nafs (meskipun disayangkan_dan mungkin sebuah kritikan_kini rutinitas itu tidak ditemukan lagi di pondok pesantren).

Walhasil, dari kacamata tasawwuf, tazkiyat an nafs lebih didahulukan dari ta’lîm. Membersihkan bejana dari segala kotoran lebih didahulukan daripada mengisikan air ke dalam bejana yang kotor. Belakangan pakar pendidikan di negara kita mengganti kurikulum 2013 dengan kurikulum berbasis karakter. Wujud dari pelaksanaan kurikulum itu adalah ditambahkannya waktu jam pelajaran agama di sekolah-sekolah negeri. Harapannya  agar menyeleraskan antara pengetahuan dan agama (baca: karakter) kemudian menghasilkan output atau lulusan yang tidak hanya benar akan tetapi baik dan indah. Meskipun mindset tersebut terhitung telat, kita harus tetap mengacungi jempul dan salut, semoga apa yang diharapkan bisa menjadi kenyataan.

Konsep tasawwuf tentang akhirat

Orang sering menganggap akhirat itu jauh, sangat  lama sehingga sering mengatakan; nanti di akhirat, kelak di akhirat.  Padahal akhirat tidak jauh, akhirat itu dekat, akhirat berada di hadapan kita.  Dalam kajian tasawwuf akhirat dibahasakan  al âkhirat muqbilah (akhirat berada di depan) sementara ad dunya mudbirah (dunia berada di belakang). Artinya setiap detik, setiap menit, setiap jam kita hidup di dunia ini menghadap akhirat (baca: mendekati akhirat) dan membelakangi dunia (baca: semakin jauh dengan akhirat).

Tetapi falsafah kita kadang-kadang terbalik; dunia di depan dan akhirat di belakang. Sehingga maksud ungkapan; ‘masa depan’ yang gemilang, menurut kita (baca: kebanyakan kita) adalah hidup sukses di dunia bukan sukses di akhirat. Padahal yang namanya masa depan itu pasti berada hadapan kita bukan sesuatu yang berada di belakang kita (alangkah menggelikan kalau memaknai masa depan adalah masa yang ada di belakang kita (baca: dunia)),  sejatinya yang berada di hadapan kita dan menjadi masa depan kita adalah akhirat.

Lantas, yang benar akhirat di depan atau di belakang? Jawabnya, tergantung bagaimana engkau menghadap. Kalau engkau menuju akhirat berarti akhirat berada di depan, kalau engkau menuju dunia berarti  dunia berada di depan. Itu hanyalah pilihan yang tentunya memiliki konsekuensi masing-masing.

Yang sukar adalah menuju akhirat dan menganggap akhirat sebagai masa depan kita. Kita terlampau sibuk dengan urusan dunia, menganggap dunia adalah masa depan kita dan ketika kita menganggap dunia ada di hadapan kita maka akhirat ada di belakang kita.

Peran ulama sebagai pewaris para Nabi

Ilmu dan amal yang tidak untuk Allah SWT (khâlish lillâh) tertolak. Sebanyak apapun ilmu, sebanyak apapun amal yang tidak untuk Allah SWT tidak memiliki makna ta’abbud (penghambaan kepada Allah SWT). Tidak mendapatkan apa di akhirat. Sebagai contoh, Albert Einstein yang dianggap semua orang sebagai orang jenius di dunia ini, semua orang mengetahui teori relativismenya, bagaimanakah akhir hidupnya? Ia mati bunuh diri! Ini sangat ironi, karena antara ilmu dan mati bunuh diri itu terpisah sangat jauh. Orang sejenius Einstein mati bunuh diri, bunuh diri itu perilakunya orang bodoh. Jika ada orang sejenius dia bunuh diri maka ia termasuk orang bodoh! (huwa wal jâhilu sawâ).

Ini memberikan kita perhatian bahwa ilmu tidak menjadikan seseorang sadar dan benar, bahkan terkadang al’amal wa al îmân maĥjŭb bi al ‘ilmi (perbuatan dan iman terhalangi oleh pengetahuan). Disinilah dibutuhkan peran ‘ulama, syeikh, mursyid, kyai selaku pewaris para Nabi, karena tanpa mereka semua akan sangat menyukarkan mengarungi kehidupan di dunia yang penuh dengan godaan yang menggiurkan.

al ‘ulamâ waratsat al anbiyâ (‘ulama adalah pewaris para Nabi). Redaksi yang digunakan adalah redaksi plural (anbiyâ) bukan bentuk singular (nabiy) ini memberikan pengertian bahwa ulama adalah pewaris para Nabi bukan hanya satu Nabi. Rasulullah SAW bersabda; ‘Ulamanya umatku seperti para Nabi bani Israil. Nabi itu macam-macam, ada Nabi yang kaya seperti Nabi Sulaiman as, jadi kalau ada kyai yang kaya berarti mewarisi Nabi Sulaiman as. Kalau ada kyai yang miskin berarti mewarisi Nabi Isa as. Bahkan ada Nabi yang ‘rewel’ seperti Nabi Musa as, jadi kalau ada kyai yang suka rewel berarti mewarisi Nabi Musa as. Mereka semua adalah para Nabi yang diperintahkan oleh Allah SWT menyampaikan risalah kerasulan kepada kaumnya untuk memeluk agama tauhid.

Namun sayangnya zaman sekarang_bukan lagi sebagai fenomena tetapi sudah menjadi rahasia umum_  para ulama yang disebut sebagai pewaris para Nabi itu ‘hampir punah’ _kalau tidak mau disebut tidak ada_, kecuali pakaian saja, tinggal orang-orang yang pura-pura menjadi ‘ulama, berpenampilan seperti ‘ulama (mutarassimŭn). Banyak orang yang mementingkan kulit tetapi lupa akan isi. Tanpa mengesampingkan kulit, pakaian juga penting, penampilan juga perlu diperhatikan tetapi jangan sampai melupakan isi, esensi dan tanggungjawab seorang ulama. Tidak hanya tanggungjawab terhadap diri sendiri tetapi juga tanggungjawab terhadap Allah SWT. Bukankah Rasulullah Saw telah bersabda; “Siksa yang paling pedih di hari kiyamat akan menimpa orang alim yang ilmunya tidak manfaat.”? Ilmu yang tidak manfaat itu adalah ilmu yang tidak diamalkan, apa yang  diucapkan hanya sebatas retorika dan teori belaka, tidak pernah diamalkan dan diimplementasikan, persis seperti sifat orang munafik yang lidah mereka mengaku iman tetapi hati mereka berpaling dan kufur.

Semua tergoda dengan kesenangan sementara, dan kepentingan sesaat.       Ilmu akhirat dan ilmu yang digeluti para ulama salaf seperti tauhid, ushul, fiqih, hikmah, rusyd, ilmu-ilmu yang mendekatkan diri kepada Allah SWT tidak pernah dilirik lagi, keberadaannya telah dilupakan (nasyan mansiyya).  Sehingga mereka membalikkan persoalan yang baik menjadi buruk dan buruk menjadi baik sesuai dengan pemesannya. Sehingga keluhuran agama dipenjuru dunia tenggelam dalam kehinaan. Sehingga ketika semuanya telah campur baur, bekecamuk antara kepentingan, ilmu pengetahuan, juga kebodohan, fatwa yang dilegalkan oleh penegak hukum dan dijadikan peraturan adalah fatwa al ĥukŭmah (keputusan pemerintah)bukan lagi ilmu ‘ulamâ’ (ilmu para ulama).

Para ‘ulama, syeikh, mursyid, kyai, yang terlepas dari kepentingan sesaat itulah yang menjadi pewaris para Nabi  dan menuntukan kita semua kepada kebenaran, merekalah yang menjadi penghubung mata rantai kita kepada Rasulullah SAW. Merekalah ‘ulama yang menerapkan konsep kha, ha, lantas jim, yakni senantiasa menjauhi sifat-sifat tercela, mengisinya dengan sifat-sifat terpuji agar bisa wushŭl  kepada Allah SWT. Semoga kita bisa tetap berada di jalan kebenaran dengan berpegang teguh terhadap tuntunan mereka semua yang merupakan pewaris para Nabi. Inysaallah. Wallâhu a’lam bisshawâb.[] Indramayu, 15 Maret 2015

Yusuf Ilyas NH*
* Peserta Program kaderisasi ‘Ulama ma’had al Ghazier, Kempek

OSIS MA KHAS ADAKAN BAKSOS BERSAMA KEMENSOS

Cirebon- Jumat, 6/2/2015 Gandeng Kemeneterian Sosial Provinsi Jawa Barat Wilayah Kabuapten Cirebon Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) MA KHAS Kempek Palimanan Kabupaten Cirebon adakan kegiatan Bakti Sosial (Baksos) bersama puluhan fakir miskin, anak yatim, anak jalanan, dan pemulung di salah satu titik pemukiman keluarga tidak mampu dari enam titik binaan Kementerian Sosia Jalan Dukuh Semar Gang Merah Anggrek Sekitar Terminal Harjamukti Kota Cirebon.

Di pemukiman ini merupakan pemukiman pembinaan yang paling bersih dan paling berhasil menjalankan program-program Kementerian Sosial seperti penanggulangan anak putus sekolah, kebersihan lingkungan, dan kesadaran masyarakat dalam mencari pekerjaan yang pantas.

Dana yang diperoleh oleh sembilan belas anggota OSIS adalah  dari sumbangsih sukarela ratusan siswa MA KHAS Kempek ditambah bantuan dana dari yayasan dan sekolah untuk dibelikan sembako seperti beras, mie instan, makanan ringan, dan minuman ringan serta ditambah beberapa dus besar berisi pakaian bekas yang dikumpulkan dari  santri-santri Pondok Pesantren Kyai Haji Aqiel Siroj (KHAS) Kempek Cirebon yang sudah tidak terpakai.

“Mereka sangat kreatif dengan mengusung kegiatan yang bertema Tali Kasih mengumpulkan dana dari ratusan siswa MA KHAS Kempek yang kemudian dibelikan sembako seperti beras, mie instan, makanan ringan, minuman ringan, dan lebih mengagumkannya lagi mereka juga mengumpulkan pakian bekas dari para santri Pondok Pesantren KHAS Kempek kemudian dicuci, disetrika serta dilipat dan dimasukkan dalam dus dengan sangat rapi,” ungkap Pembina OSIS Akromi, S.Hi., S.Pd.I.

Akromi juga memaparkan bahwa kegiatan ini diprakarsai oleh aktivis di bidang sosial Kementerian Sosial yang juga salah satu guru di MA KHAS Kempek Ibu Siti Fatimah, A.Ks. sebagai salah satu kegiatan tahunan OSIS di bidang bakti sosial.

Disamping itu, kegiatan yang baru pertama kali diadakan ini juga untuk memberikan pelajaran kepada mereka bahwa pentingnya kebersamaan dan berbagi tanpa membedakan-bedakan antara orang kaya dan miskin atau status sosial, serta mudah-mudahan rasa kasih sayang mereka kepada sesama akan lebih tinggi serta berharap akan berlangsung minimal satu tahun sekali, tegas guru yang juga menjabat sebagai Kesiswaan ini.

Dengan mengakhiri pembicaraan, pesan dan harapan terbesar darinya yang mendampingi OSIS saat kegiatan berlangsung adalah kegiatan ini sangat baik, sehingga ke depan akan lebih mendapatkan dukungan dari berbagai pihak terutama tambahan dana yang lebih besar dari yayasan dan sekolah serta semoga kegiatan ini akan diikuti oleh sekolah-sekolah lain dilingkungan Kabuapten Cirebon. (Saqiya_96)

 

JELANG UN DAN UAMBN SISWA KELAS XII MA KHAS KEMPEK IKUTI PRA UN DAN PRA UAMBN

Kempek- Kamis, 26/2 merupakan hari terakhir siswa kelas XII MA KHAS Kempek Palimanan Kabupaten Cirebon melaksanakan kegiatan Pra ujian nasional (UN) dan Pra ujian akhir madrasah berstandar nasional (UAMBN) yang telah dimulai sejak Minggu 22/2.

Jumlah total peserta yang mengikuti kegiatan tersebut adalah 302 siswa dari jumlah seharusnya 303 siswa. Ada satu siswa yang tidak bisa mengikuti kegiatan penting tersebut.

Pada saat dikonfirmasi,  “satu orang tidak bisa mengikuti kegiatan tersebut karena yang bersangkutan sedang sakit dan nanti setelah sembuh yang bersangkutan akan mengikuti susulan,” ungkap Kepala Tata Usaha (TU) Nurkholik.

Nurkholik juga menambahkan bahwa peserta ujian nasional tahun pelajaran 2014/2015 mengalamai kenaikan dari jumlah peserta tahun sebelumnya 248 siswa.

Menurut Waka Ur. Kurikulum kegiatan ini bertujuan untuk melatih kesiapan siswa menghadapi UAMBN yang akan dilaksanakan pada tanggal 9 – 14 Maret 2015 dan UN mulai tanggal 13-15 April 2015.

Bukan hanya itu, menurut pria yang akrab dipanggil Madrohim juga menegaskan kegiatan ini sebagai tolok ukur kemampuan siswa kelas XII mengerjakan soal-soal yang bobotnya sama dengan soal-soal UN dan UAMBN.

“Pra UN dan Pra UAMBN juga sangat perlu dilaksanakan agar siswa terbiasa mengisi identitas diri dalam lembar jawaban sehingga siswa tidak ada yang salah dan lupa pada  saat mengsi identitas diri, seperti hari kemarin masih ada beberapa siswa yang salah menuliskan tanggal ujian,” ungkap salah satu pengawas ujian Setyanto. (saqiya_96)

 

 

Siswa SMP KHAS Kempek Belajar Demokrasi Melalui Pemilihan Ketua OSIS

Palimanan – Pembelajaran demokrasi sangat penting sekali bagi warga Negara Indonesia untuk mewujudkan Negara yang damai, dan dalam berdemokrasi tidak memandang usia. Sebagaimana yang dilakukan oleh siswa-siswi SMP KHAS Kempek mewujudkan demokrasi melalui pemilihan ketua OSIS (20/10/14).

Pesta demokrasi ini diikuti oleh seluruh siswa-siswi SMP KHAS Kempek dengan 6 calon ketua masing-masing putra dan putri yaitu Heri chaIla Gustiawan, Ibadillah, FeriHeryadi, Mansur Maulana, M. Faiq Zamzami, dan Wahyu Agung. Sedangkan untuk calon ketua OSIS Putri adalah Nailul Hana, Umi Isrohati, Aenun Koriah, Habibati Sayidatu, Lana Fauziyah, dan Muntakhobah. Pemilihan ini layaknya pemilihan umum (Pemilu), seperti kampanye untuk mengenalkan diri, memaparkan visi dan misinya, dan tanya jawab dengan audiens.

Dalam kegiatan ini turut dimeriahkan oleh Marching Band Gita Cakrabuanadari SDN 1 Kebonturi yang mengiring para kandidat bersama siswa-siswi mengelilingi yayasan.

Ketua panitia pemilihan ketua OSIS Seprudin Juhri menerangkan, dengan adanya pemilihan ini diharapkan siswa-siswi menyadari pentingnya demokrasi. Proses pemilihan ketua OSIS itu untuk mengajarkan para pelajar menanamkan sifat demokrasi kepada para pelajar. Sehingga nantinya kalau mereka sudah memiliki hak pilih dalam pemilu maka diharapkan kesadaran untuk memberikan hak suaranya lebih tinggi sehingga menekan angka golput. “Itu adalah pengalaman baru buat pelajar yang duduk di kelas VII mereka diajarkan untuk berpartisipasi di sekolah” paparnya. Senada denganJuhri, kepala sekolah melalui wakasek humas, Najhah Barnamij mengatakan bahwa pemilihan jangan dianggap main-main. “Pemilihan ketua OSIS ini dari, oleh, dan untuk siswa, oleh karena itu tidak boleh blangko” ujarnya.Sekitar 626 siswa-siswi ikut ambil bagian memberikan aspirasinya.

Dalam hasil pemilihan tersebut Lana Fauziyah berhasil menang telak dengan memperoleh 91 suara dan berhak menjadi ketua OSIS putri. Sedangkan untuk putra dimenangkan oleh M. Faiq Zamzami dengan memperoleh 77 suara. Sementara surat suara yang blangko sebanyak 29 suara.

Muhammad Tsana

MA KHAS Kempek : Berkabung

Innalilahi Wa Inna Ilaihi Rojiun, Kullu nafsin dzaaikotul mauut..

SEGENAP KELUARGA BESAR
MA KHAS KEMPEK PALIMANAN CIREBON
MENGUCAPKAN BELA SUNGKAWA YANG SEDALAM DALAMNYA
ATAS BERPULANGNYA BAPAK SUPRIYONO, S.Pd KE HARIBAAN ALLAH SWT.
PADA HARI KAMIS, 09 OKTOBER 2014.
(GURU MAN MODEL BABAKAN CIWARINGIN DAN GURU SEBIOR di MA KHAS KEMPEK PALIMANAN CIREBON)

SEMOGA AMAL IBADAH DAN PENGABDIAN BELIAU DI DUNIA PENDIDIKAN
MENDAPATKAN RIDLO DAN TEMPAT YANG PALING LAYAK DISISI ALLAH SWT.

SEMOGA KELUARGA YANG DITINGGALKAN DIBERI KEKUATAN DAN KESABARAN. AMIN….

DARI KAMI WAHAI BAPAK GURU
“ALLAHUMMAGHFIRLAHU WARHAMHU WA’AFIHI WA’FUANHU”

AMINN….

KEPALA MADRASAH,

TTD

H. AHMAD ZAENI DAHLAN, Lc., M.Phil.

PILSIS MA KHAS Kempek 2014-2015

Dari Rakyat, oleh Rakyat untuk Rakyat, kata-kata ini mungkin sudah tidak asing lagi ditelinga kita,ya,, itulah salah satu arti Demokrasi yang digembar gemborkan oleh Abraham Lincold, (Presiden Amerika ke 16) , Demokrasi pada substansinya adalah sebuah proses pemilihan yang melibatkan banyak orang untuk mengangkat seseorang yang berhak memimpin dan mengurus tata kehidupan komunal mereka. Dan tentu saja yang akan mereka angkat atau pilih hanyalah orang yang mereka sukai. Mereka (pemilih)  tidak boleh dipaksa untuk memilih suatu sistem tertentu yang tidak mereka kenal atau tidak mereka sukai. Mereka berhak mengontrol dan mengevaluasi pemimpin yang melakukan kesalahan, berhak mencopot dan menggantinya dengan orang lain jika menyimpang

Belajar Demokrasi

Dengan tujuan belajar berdemokrasi inilah yang membuat OSIS MA KHAS menggelar pemilihan langsung Ketua dan wakil ketua OSIS periode 2014-2015 M (PILSIS 1415)  Akromi, SH.I, S.Pd.I. selaku Waka urusan Kesiswaan sekaligus sebagai Pembina OSIS 2014-2015 Akromi menegaskan bahwa pemilihan Ketua dan Wakil ketua OSIS sekarang ada delapan calon, “Alhamdulillah Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS kali ini cukup ramai karena kita memiliki Delapan Calon, empat Calon dari Putra dan Empat Calon dari Putri, dari pemilihan ini nanti akan menghasilkan dua ketua OSIS yaitu Ketua OSIS Putra dan Putri, karena di Madrasah Aliyah KHAS ini OSIS putra dan Putri dipisahkan”

Layaknya pemilihan yang berlaku pada umumnya, PILSIS di MA KHAS juga digelar dengan dua tahap, hari pertama yaitu tanggal 24 September digelar kampanye dari para calon,dalam kesempatan ini semua calon harus berani tampil kampanye naik ke atas panggung dengan memaparkan Visi Misi, Program kerja lengkap dengan strategi yang akan dilakukan, setelah selesai pemaparan maka semua pemilih berhak untuk mengajukan pertanyaan kepada salah satu atau semua calon, antusias dari para calon dan pemilih membuat acara kampanye ini berlangsung meriah baik di Putra maupun Putri, “PILSIS kali ini akan dilaksanakan selama dua hari, hari pertama yaitu tanggal 24 September untuk Kampanye dan Hari kedua 25 September untuk Pencoblosan”  ujar Afifah selaku Ketua OSIS sekaligus Ketua Panitia masih menurut Siswi asal Palembang tersebut PILSIS kali ini memiliki durasi yang sangat cukup dari PILSIS sebelumnya “Patut disyukuri bahwa PILSIS kali digelar dengan waktu yang cukup, mudah mudahan ini menjadi pertanda bahwa OSIS dicintai oleh Kepala Madrasah, Dewan Guru dan Warga MA KHAS secara umum.” Harapnya.

Hari kedua (25 September 2014) adalah hari pemilihan, dimana pemilih atau Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak  1.250 memilih salah satu calon yang telah dinyatakan lulus oleh panitia , tidak hanya Siswa saja yang berhak mencoblos tetapi dewan guru dan TU juga memiliki hak suara yang ditujukan kepada salah satu calon baik di OSIS Putra maupun Putri.

Acara yang akan di gelar di Lapangan Madrasah Aliyah KHAS dari Pukul. 13.00 – 16.00. WIB ini akan dimulai dengan sambutan dari Kepala Madrasah  Bapak H.Ahmad Zaeni dahlan Lc,M.Phil.

Oleh : Lela Nurmalasari

Siswi Kelas XII IPA 3 / Wakil Ketua OSIS 2013-2014

 

 

MA KHAS Kempek Sambut Kurikulum Baru

Memasuki Tahun Pelajaran Baru 2014-2015, Madrasah ‘Aliyah (MA) KHAS Kempek mengadakan Acara In House Training (IHT) dengan tema “Mampukah Kurikulum 2013 menjawab tantangan peningkatan kompetensi guru”, IHT ini diselenggarakan selama dua hari dimulai dari tanggal 08 sampai 09 Agustus 2014 dan bertempat di Kampus MA KHAS Kempek.

Tujuan utama dari kegiatan diatas mensosialisasikan kepada tenaga pendidik yang ada di MA KHAS Kempek agar memahami Kurikulum 2013 (Kurtilas) sehingga amanah dari Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional bisa terwujud di Sekolah yang sudah 11 tahun berdiri ini.

Narasumber di hari pertama diisi oleh Drs.H.KHUMAEDI, M.Pd (Kepala Madrasah MAN 1 Kabupaten Cirebon) beserta TIM, dengan materi yang beliau suguhkan yaitu “Implementasi Kurikulum 2013″ dan dihari kedua diisi oleh Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon Drs.Shobirin Tajam,M.Pd.I.

Acara yang dimulai tepat pukul 13.00 dan berakhir Pukul 17.00 WIB ini terbilang sukses, dari 61 jumlah tenaga pendidik di MA KHAS Kempek hampir semuanya hadir dan mengikuti jalannya acara sampai selesai ” Alhamdulillah, Acara ini berjalan lancar dan sukses, setelah acara ini selesai, kami rekap jumlah kehadiran guru dan ternyata 89% teman-teman guru mengikuti acara ini.” Ujar Madrohim, S.Pd Selaku Ketua Panitia dan Waka Kurikulum.

pernyataan guru yang masih melajang tersebut pun di perkuat oleh Nur Kholik, S.Pd.I selaku Bendahara Acara ” Acara IHT tahun ini meriah karena hampir semua guru hadir, yaa mungkin karena Dewan Guru ingin tahu betul mengenai kurikulum baru yang diwajibkan pemerintah ini” begitu komentarnya.

Peserta pun merasakan betul manfaat dari acara tahunan ini, sebut saja Supriono, S.Pd. salah satu guru MA KHAS Kempek yang mengikuti acara dari awal sampai Akhir begitu memahami dan mengerti betul tujuan, isi dan maksud dari Kurtilas ” Pada dasarnya ada tiga hal yang harus diperhatikan , Pertama : Bagi tenaga pendidik harus mempersiapkan diri menyambut Kurtilas yang berbeda dengan KTSP, Kedua : Bagi Lembaga agar mempersiapkan Administrasi dan Super Visi baik Pengawas Kemenag Kabupaten ataupun Kemenag Provinsi, Ketiga : Bagi siswa diharapkan bisa menjalani proses belajar menyenangkan dan memadukan dengan tren yang ada di masyarakat”  begitu salah satu kesan yang beliau ungkapkan selesai mengikuti acara yang di buka dan ditutup oleh Kepala Madrasah H. Ahmad Zaeni Dahlan, Lc.M.Phil ini.

Ukir Kreasi Santri Melalui Haflah Muhadloroh

Dari beberapa agenda akhir sanah Pondok Pesantren KHAS (Kyai Haji Aqiel Siroj), diantaranya adalah Haflah Tasyakkur Binihaayatil Muhadloroh (Peringatan dan Tasyakkur telah usainya pendidikan di muhadloroh/madrasah) tahun ajaran 1434-1435 H, pada hari sabtu (14/06/14), yang digelar di Gelanggang Olah Raga (GOR) MUNAS, Kempek, Palimanan, Cirebon. Kegiatan tersebut dipanitiai oleh anggota pengajian Alfiyah Tsaniyah.

Acara yang bisa dibilang selalu ditunggu-tunggu oleh setiap santri yang mondok di pesantren KHAS itu, dihadiri masyayikh/kyai, ustadz-ustadz, keamanan pondok dan seluruh santri yang notabene santri pesantren KHAS.

Kang Sholahuddin Al-Ayyubi, selaku ketua panitia menegaskan bahwa, ‘’haflah tahun ini insya Allah merupakan haflah yang cukup meriah karena, saya dan seluruh teman-teman panitia telah mencanangkan agenda-agenda yang menarik, yaitu kreasi-kreasi santri pesantren KHAS yang sangat unik, yaitu berupa MC bahasa kromo dan sunda, puisi berantai, puisi biasa dan drama’’.

KH Muhammad BJ, selaku ketua umum Muhadloroh, dalam sambutannya mengatakan,’’ Alhamdulillah, kita telah selesai melalui tahun ajaran 1434-1435 H di pesantren tercinta, dengan mempelajari pelajaran yang diadakan di muhadloroh, melaksanakan muhafadzoh (hafalan nadzom), taftisyul kutub (koreksian kitab) dan ikhtibar tsani (semester dua), kalian harus bersyukur bisa belajar di pesantren kempek, di sini kita diunggulkan mengaji Al-Qur’an, nahwu shorof dan lainnya, disamping pula kita mengikuti pendidikan umum MTs, SMP, dan MA. Kita boleh berbangga karena telah mengikuti agenda satu tahun ini namun, kita harus pula siap untuk mengikuti jenjang yang lebih tinggi lagi, tidak boleh kendor atau yang lainnya’’.

Kang Muh, sapaan akrab pengasuh pesantren KHAS Kempek menyatakan dalam sambutan terakhir bahwa, ‘’Setelah kepergian almarhum Buya Ja’far, kita kehilangan sosok yang sangat langka, almarhum adalah sosok yang tegas dalam membimbing kita sebagai santrinya, pun beliau yang telah membesarkan pesantren kita ini, namun kita tidak boleh hilang semangat setelah perginya kang ja’far, kita harus tetap semangat menggali ilmu di pesantren tercint ini seperti saat beliau masih ada’’.

KH Musthofa Aqiel Siroj, dalam sela-sela sambutanya sembari meresmikan pergantian nama pesantren tinggalan Kyai Aqiel dan buya ja’far itu, yang tadinya bernama MTM (Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien) yang artinya tempat duduk/belajar pelajar yang masih dini, diganti dengan nama Pondok Pesantren KHAS Kempek, sedangkan untuk pendidikan muhadloroh diresmikan dengan nama baru pula, yaitu MTM (Madrasah Tahdzibul Mutsaqqofiin).

Kang Muh juga ingin selalu dekat dengan santri-santrinya, meladeni santri, terbukti beliau saat ibadah umroh yang tidak lama dilaksanakannya, beliau berdoa yang pertama agar bisa membimbing santri dengan baik, soan ke Mbah Maimun Zubair (pengasuh pesantren Al-Anwar Sarang) dan dengan bergandeng dengan Syekh Fadhil Al-Jailany (meminta didoakan oleh cucu ke-25 syekh abdul qodiq al-jailany).

Selain sebagai tanda perpisahan dan rasa syukur atas selesainya satu tahun belajar dari tiap pengajian, haflah muhadloroh juga untuk mengukir kreasi-kreasi santri atas bakat yang mereka punyai.

Oleh: Lufaepi.

 

1 2 3