Category Archives: Puisi

S.A.N.T.R.I.

Langit tipis berawan cerah

Sang surya bersinar penuh gagah

Panas membawa angin gerah

Gapura pesantren yang berdiri megah.

Tak terbantah,

Meski sulit tak kenal kata pasrah

Menarik nafsu tuk mengalah

Dari semua ilmu memberi faedah

Bisu, berdoa walau tak kuasa menengandah.

-Siroj Achmad- Kempek, Juli 2010

PERKENANKAN KAMI MENJADI TITIK DALAM GARISMU

 Jika segenap rasa dapat kami wakilkan dalam sebuah garis,
mungkin kami akan membuat sebuah garis yang sangat panjang
Dan kami tak akan pernah berhenti membuat garis itu
hingga segenap rasa dalam jiwa ini akan mengisi penuh garis itu

Garis itu begitu lurus!
Tak peduli jika garis itu menaiki gunung, menurunu lembah,
melintasi sungai, menyambangi muara,
bahkan mengarungi samudera

Garis itu begitu jelas, nyata dan tak mungkin sirna
karena garis itu begitu membekas dan meresap dalam jiwa
gerak lakumu, desah nafasmu, hingga sorot matamu yang selalu menyala

Garis itu adalah seluruh peristiwa dan kisah yang pernah singgah
yang bercerita tentang seorang lelaki yang tak hanya indah,
tapi juga sederhana namun tetap gagah

Engkaulah garis lurus itu,buya
Garis lurus itu adalah cemeti yang dipenuhi cinta demi mencambuk kesalahanku
Garis lurus itu adalah teriakan yang dipenuhi kesungguhan dapat menampar kesalahanku
Garis lurus itu adalah sorot mata kasih sayangmu yang akan membuat diri kami membeku

Engkaulah garis itu,buya
Garis lurus yang selama ini hanya kupahami sebagai amarahmu
Garis lurus yang selama ini hanya kumengerti sebagai kebencianmu
Garis lurus yang selama ini hanya kusadari sebagai tabiatmu
Ternyata, semua anggapan kami keliru
Betapa semua itu adalah tanda cinta darimu

Engkaulah garis itu, buya
Seperti tongkat yang mendampingi bacaan Al-quran yang selalu kau ajarkan
Seperti terompah yang menemani setiap langkahmu dalam menyulam masa depan
Seperti kopyah yang menungi setiap gundah lalu kau berdiri untuk menuntaskan

Buya,
Jika seluruh rasa kami adalah garis,
Pasti garis yang kami buat akan sangat panjang
Karena melukiskan segenap rasa tentangmu,
tak akan cukup dalam balutan waktu dan ruang
Rasa rindu menanti tatapan matamu
Rasa bahagia melihat senyum sederhanamu
Rasa hanyut mendapati semangat perhatianmu
Rasa haru melukiskan perjuanganmu
Rasa bangga menyaksikan kehebatanmu
Rasa hening mendengarkan bacaan Qur”anmu
Rasa khusyuk menajdi makmum dalam shalatmu
Rasa sepi menantikan bacaan tahlilmu
Dan rasa duka menyadari kepergianmu
Rasanya, suara menggetar darimu masih terasa,
Betapa engkau selalu yakin, seyakin-yakinnya
Seperti keyakinan matahari yang terbit dari timur menebarkan cahaya

Buya,
Mungkin kami tidak akan pernah mampu sepertimu
yang berani bertindak di saat yang lain masih ragu
yang berani berteriak di saat yang lain memilih bungkam
yang berani terus melangkah di saat yang lain menyerah pasrah

Buya,
Engkau bukan hanya mengajari kami tentang kesempurnaa bacaan
Tapi engkau tuntun kami untuk waspada menghadapi kehidupan
Buya,
Engkau bukan hanya melatih kami untuk bersemangat dalam perjuangan
Tapi engkau bimbing kami dalam menekuni kesabaran

Buya,
Engkau bukan hanya meminta kami untuk selalu bersyukur
Tapi engkau antar kami untuk tetap jernih dalam tafakkur
Buya,
engkau bukan hanya membacakan deretan tawasul dan tahlilan
Tapi engkau layani kami agar hidup dalan kerukunan dan keadilan
Buya,
kepada canda dan tawamu, kami akan selalu rindu
kepada hangat penyambutanmu, kami akan selalu rindu
kepada ketulusan dan kasih sayangmu, kami akan selalu rindu
kepada tarhiman yang engkau panjatkan dujung malam, kami akan selalu rindu
Kepada setiap gerak gerik tubuhmu, kami akan selalu rindu
kepada……
garis lurus yang telah engkau guraytkan, kami akan selalu rindu

buya
Kami sangat yakin, betapa engkau tak akan pernah pergi
Karena jejak dan karyamu terlihat nyata di setiap sudut ini
Terima kasih, buya
tanpa lelah, tanpa menyerah,
segenap waktumu telah engkau habiskan untuk mengajari kami yang selalu gelisah tanpa kesedihan dan rasa bosan,
sisa usiamu telah engkau sempurnakan dalam memberi uswah tentang pengabdian
buya,
Meskipun langkah kami tertatih-tatih
Kami akan terus menyusuri jalan terjal berliku
Demi menemukan wajahmu, di setiap sudut waktu
buya,
Jika memang masih ada sisa waktu,
Perkenankan kami
menjadi
diantara titik
dalam garis lurusmu…….
(dari anakmu yang selalu merindu)

Untuk Buya Ja’far Shodiq Aqiel

aku saat ini, seperti sembunyi di balik tilam
aku sesak kalam yang terpendam begitu dalam
terlalu dalam dan meram dalam diam

aku karam dalam kenangan, harapan dan mimpi-mimpi malam
semua ingin kuungkap agar hidup tak lagi tenggelam
agar asa ini selalu pagi, bukan lagi senja yang temaram

tapi engkau segera berjalan bersama purnama malam
tak ada yang cepat atau lambat saat udara hening dan diam
yang ada hanya sepi, senyap dan padam

selamat jalan, wahai yang tak lelah membangunkan malam
selamat jalan, wahai lentera yang menyinari hati yang kelam

engkaulah salam
hanya darimu segala salam
hanya kepadamu akan kembali segala salam

maka hidupkan ia dalam salam
tempatkan ia dalam bahagia penuh salam

meski kami masih belum paham,
tegarkan hati kami, laksana pualam

selamat jalan, wahai yang tak lelah membangunkan malam
selamat jalan, wahai lentera yang menyinari hati yang kelam

kami di sini, tak akan lelah untuk berdoa dalam kalam,
dalam diam

dari
Saksi Suket
1/4/14

Untuk Buya

Oleh: Hamied BJ

Alfiyyah yg sakral .
Al-Qur’an yg agung nan mulia .
Jama’ah Sholat Fardlu pembawa kedamaian hati dalam kebersamaan .

Demikian selalu Buya ajarkan, nguruki, menuntun, menyorog secara ‘jeli’ (telaten) dan mempertahankan nilai-nilai ibadah itu semua dgn sannngat SEMAAAAAANGAT ruarrr biasa ..
Buya seakan menghembuskan angin surga berlantunan ayat-ayat Al-Qur’an nan permai yg slalu dilandasi kesabaran, ketulusan dan keteguhan sekaligus menularkan benih-benih pelecut spirit berlipat pada kami, santri beliau.

Sungguh lapang jiwa Buya. Betapa tidak, disamping menaburkan segala jejak-jejak akan arti urgennya etika maupun sopan santun yg terpuji.Buya pun mengalirkan DNA ajaib yg berisi komitmen yg tegas, prinsip yg teguh, disiplin yg cerdas, dan tekad yg saaaaangat bulat, pada kami, santri Buya.

Dan pada akhirnya, Buya mampu melaksanakan disiplin ilmu, menciptakan kader yg mumpuni dan menata pribadi para santri kesayangan agar santri dilumuri ‘mental kenteng’ juga keberanian mengibarkan bendera kemenangan, tak lain dan tak bukan dgn berdasarkan keikhlasan tak terperi, terlukis oleh butiran-butiran do’a pada saban tahajjud malam hari ‘Kanti Istiqomah’ .

Allah …
Mugi-mugi kula diparingi kiat pikiran lan mental ugo jasmanipun kangge menyongsong masa depan ingkang sae ‘amal-ipun lan manfaat ‘ilmu kula. Lajeng mugi-mugi Buya, romo kula diapura dosa-dosa ipun, diparingi tempat ingkang mulya mbesuk teng sandinge panjenengan lan diparingi husnul khotimah . Amiin …

Buya, kami rindu

Oleh : Siroj Achmed

Aku masih sangat hafal subuh itu…
Kala engkau bershalawat, khusyu’
Aku malah tarik guling lanjutkan tidurku
Diiringi lantunan zikirmu yang merdu

Aku masih sangat ingat suara itu…
Pekat malam tak lagi kelam
Petang pun jadi terang
Sunyi sepi berganti syiar kalam ilahi
Melahirkan pagi penh mimpi bagi para santri
Kini, suara itu pun masih sangt melekat erat di telingaku.

Aku masih sangat hafal pagi itu…
Pagi yang selalu menghidangkan ketegangan
Menawarkan kecemasan
Detak jantung pun kian berpacu
Dengan kebodohan yang sangat memilukan
Di ruangan yang tak ubahnya medan perang
Hening…
Bening…
Semua mata dan pikiran fokuskan kitab kuning..
“Qola Muhammadun Huwa ibnu Maliki # Ahmadu Robillaha Khoiro Maliki
Wa Alihil Ghurril Kiromil Baroroh # Wa Sohbihil Muntakhobilal Khiyaroh”
Ya, aku masih sangat hafal nadzoman itu
Kala aku, kita juga Buya mendendangkannya
Penuh semangat setiap hari.

Baru kemarin kita hatamkan bersama
Dan terakhir oleh Buya.

Tuhan, jika saja kini Kau izinkan aku dimakamkan
Dan Kau pertemukan aku dengan Buya
Aku akan berkata padanya :
“Buya, kami sangat merindukanmu”

Tangisan Gembala Tuhan

 

Tuhan

Saat kelam melabu diri yang lemah ini

Menusuk-nusuk iman yang dulu tentram didalam lautan jasad

Meninabobokan angan yang terkumpul dalam barisan-barisan bait positif

Hanya Engkau satu-satunya harapan yang mampu menentramkan

Hati yang selalu digunda gulanakan nafsu syetan yang terkutuk

 

Tuhan

Saat pancaran surya menyinari awal kehidupan dipagi hari

Menyinari alam yang sangat mempesona, yang mampu

Memporakporandakan keinginan tingkat tinggi untuk selalu

Menyanyikan lagu ampun kepada-Mu, namun diri ini lemah

Selalu sajah memanjakan angkara, jauh dari harapan menjadi manusia yang manusia

Hanya rahmat-Mu yang mampu menertibkan kerusakan-kerusakan negatif itu

 

Tuhan

Tapi masikah rahmat-Mu mau menempel pada diri pendosa ini

Masikah Engkau mengizinkan rahmat agung-Mu singgah sebentar

Untuk menjamu hati yang hitam ini

Untuk menyanyi lagu-lagu ampunan bagi manusia yang kerdil ini

 

Tuhan

Izinkan hamba bersimpuh dengan pori-pori-Mu

Merajut asa dzikir yang mampu mengalahkan segala kegundahan dunia

Agar hamba sedikit menjadi manusia yang Engkau anggap manusia

Oleh: Lufaepi

 

 

Ibu

Ibu… Aku bersaksi dan siap menjadi saksi… Engkau perempuan berhati suci jelmaan bidadari surga. Penyayang, penyabar nan tegar. Pengabdianmu terhadap suami tak ada yg dapat menyangsi. Meski ragamu kian merapuh, hatimu senantiasa meneguh. Karna hanya ketulusan dan keridhoan modal panjenengan menjalani kehidupan. Allah aku cinta ibu.sayangi ia di dunia dan di ahirat. Satukan selalu ia dengan ayah didunia dan di ahirat. Amin :’)

Oleh: Aqielah BJ

Buya

Puisi Aqielah BJ

Setiap engkau terbaring di rumah sakit, sesak rasa dada ini, lemas sekujur badan tak terelakkan. Tetapi senyummu, semangatmu yg kau pancarkan itu, selalu menguatkanku. Tuhan, aku sungguh cinta dengan segenap jiwa raga pada sang gagah bersahaja ini. Kuatkan,sabarkan,panjang umurnya untuk terus menuntun langkah hidupku. Amin :’)

Kempek, 12 Januari 2014

Puisi ini di kutip dari akun facebook Aqielah BJ.

Kempek

Puisi Sobih Adnan

 

Purnama telah tumpah,
Menjadi sebaris kaligrafi keramat, di hatiku.
Malam itu.

Siangnya, aku menghadapmu lagi, mengaji kembali.
Pantas saja,
Kangkung, ilalang, semanggen sekalipun, mereka akan berdzikir, jika di tanahmu.

“Alaa laa tanaalul ‘ilma illa bisittatin # Saun biika anmajmuu ihaa bibayaani.
Dzukaaun wa hirsun washthibarun wa bulghatun # Wa irsyaadu ustaadzin wa’thuulu zamaani”.*

 

Inilah sepenggal nadzom yang pernah kucuri, dengan sangat hati-hati, dari dadamu.
Kemudian dengan sangat gugup kuberi sebuah judul
; rindu.

Cirebon, 19 April 2012
* Dikutip dari nadzom kitab Ala Laa Tanalul ‘Ilma karya Muhammad bin Ahmad Nabhan.

 

Puisi ini telah diterbitkan Surat Kabar KOMPAS, tanggal 4 Mei 2012

Sobih Adnan, Alumni Pesantren MTM Kempek Cirebon angkatan 2009, tinggal di Astanajapura Kabupaten Cirebon.