Category Archives: KREASI SANTRI

Buya, kami rindu

Oleh : Siroj Achmed

Aku masih sangat hafal subuh itu…
Kala engkau bershalawat, khusyu’
Aku malah tarik guling lanjutkan tidurku
Diiringi lantunan zikirmu yang merdu

Aku masih sangat ingat suara itu…
Pekat malam tak lagi kelam
Petang pun jadi terang
Sunyi sepi berganti syiar kalam ilahi
Melahirkan pagi penh mimpi bagi para santri
Kini, suara itu pun masih sangt melekat erat di telingaku.

Aku masih sangat hafal pagi itu…
Pagi yang selalu menghidangkan ketegangan
Menawarkan kecemasan
Detak jantung pun kian berpacu
Dengan kebodohan yang sangat memilukan
Di ruangan yang tak ubahnya medan perang
Hening…
Bening…
Semua mata dan pikiran fokuskan kitab kuning..
“Qola Muhammadun Huwa ibnu Maliki # Ahmadu Robillaha Khoiro Maliki
Wa Alihil Ghurril Kiromil Baroroh # Wa Sohbihil Muntakhobilal Khiyaroh”
Ya, aku masih sangat hafal nadzoman itu
Kala aku, kita juga Buya mendendangkannya
Penuh semangat setiap hari.

Baru kemarin kita hatamkan bersama
Dan terakhir oleh Buya.

Tuhan, jika saja kini Kau izinkan aku dimakamkan
Dan Kau pertemukan aku dengan Buya
Aku akan berkata padanya :
“Buya, kami sangat merindukanmu”

Tangisan Gembala Tuhan

 

Tuhan

Saat kelam melabu diri yang lemah ini

Menusuk-nusuk iman yang dulu tentram didalam lautan jasad

Meninabobokan angan yang terkumpul dalam barisan-barisan bait positif

Hanya Engkau satu-satunya harapan yang mampu menentramkan

Hati yang selalu digunda gulanakan nafsu syetan yang terkutuk

 

Tuhan

Saat pancaran surya menyinari awal kehidupan dipagi hari

Menyinari alam yang sangat mempesona, yang mampu

Memporakporandakan keinginan tingkat tinggi untuk selalu

Menyanyikan lagu ampun kepada-Mu, namun diri ini lemah

Selalu sajah memanjakan angkara, jauh dari harapan menjadi manusia yang manusia

Hanya rahmat-Mu yang mampu menertibkan kerusakan-kerusakan negatif itu

 

Tuhan

Tapi masikah rahmat-Mu mau menempel pada diri pendosa ini

Masikah Engkau mengizinkan rahmat agung-Mu singgah sebentar

Untuk menjamu hati yang hitam ini

Untuk menyanyi lagu-lagu ampunan bagi manusia yang kerdil ini

 

Tuhan

Izinkan hamba bersimpuh dengan pori-pori-Mu

Merajut asa dzikir yang mampu mengalahkan segala kegundahan dunia

Agar hamba sedikit menjadi manusia yang Engkau anggap manusia

Oleh: Lufaepi

 

 

Ibu

Ibu… Aku bersaksi dan siap menjadi saksi… Engkau perempuan berhati suci jelmaan bidadari surga. Penyayang, penyabar nan tegar. Pengabdianmu terhadap suami tak ada yg dapat menyangsi. Meski ragamu kian merapuh, hatimu senantiasa meneguh. Karna hanya ketulusan dan keridhoan modal panjenengan menjalani kehidupan. Allah aku cinta ibu.sayangi ia di dunia dan di ahirat. Satukan selalu ia dengan ayah didunia dan di ahirat. Amin :’)

Oleh: Aqielah BJ

Buya

Puisi Aqielah BJ

Setiap engkau terbaring di rumah sakit, sesak rasa dada ini, lemas sekujur badan tak terelakkan. Tetapi senyummu, semangatmu yg kau pancarkan itu, selalu menguatkanku. Tuhan, aku sungguh cinta dengan segenap jiwa raga pada sang gagah bersahaja ini. Kuatkan,sabarkan,panjang umurnya untuk terus menuntun langkah hidupku. Amin :’)

Kempek, 12 Januari 2014

Puisi ini di kutip dari akun facebook Aqielah BJ.

Kempek

Puisi Sobih Adnan

 

Purnama telah tumpah,
Menjadi sebaris kaligrafi keramat, di hatiku.
Malam itu.

Siangnya, aku menghadapmu lagi, mengaji kembali.
Pantas saja,
Kangkung, ilalang, semanggen sekalipun, mereka akan berdzikir, jika di tanahmu.

“Alaa laa tanaalul ‘ilma illa bisittatin # Saun biika anmajmuu ihaa bibayaani.
Dzukaaun wa hirsun washthibarun wa bulghatun # Wa irsyaadu ustaadzin wa’thuulu zamaani”.*

 

Inilah sepenggal nadzom yang pernah kucuri, dengan sangat hati-hati, dari dadamu.
Kemudian dengan sangat gugup kuberi sebuah judul
; rindu.

Cirebon, 19 April 2012
* Dikutip dari nadzom kitab Ala Laa Tanalul ‘Ilma karya Muhammad bin Ahmad Nabhan.

 

Puisi ini telah diterbitkan Surat Kabar KOMPAS, tanggal 4 Mei 2012

Sobih Adnan, Alumni Pesantren MTM Kempek Cirebon angkatan 2009, tinggal di Astanajapura Kabupaten Cirebon.

Belajar Mengaji

Saat mengaji kitab nahwu “Qathrunnada wa Ballusshoda” di Masjid Al-Munawwarah Pesantren Ciganjur, Gus Dur bercerita tentang seorang santri yang sedang belajar mengaji Al-Qur’an. Kali ini ia sedang belajar surat Al-Qurais.

Pak Ustadz menyuruhnya membaca. “Ayo dimulai nak…!”

Santri mulai membaca. “Bismillahirrahmanirrahim. Liilafiquraisyin iila fihim rihlatas syitaa’i wasshoifi.”

Pak Ustadz spontan menyurus santri menghentikan bacaannya. “Wasshoifffff,” katanya.

“Wasshoifi,” kata satri.

“Wasshoifff, kalau waqof dimatikan. Wasshoifff,” kata ustadz.

Santri tetap tidak paham. “Wasshoifi”. Masih ada ada bunyi “fi” di belakang.

Akhirnya pak ustadz tidak sabar. Saat santri membaca “Wasshoif,” ia langsung menutup mulut santri dengan tangan kananannya. “Nah begitu, wasshoiff,” katanya.

Tapi, kata Gus Dur, ketika mulut santri itu dilepaskan, tetap saja masih ada bunyi “fi”. (Anam)

Apa Alasan Gus Dur Ziarah Kubur?

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah seorang tokoh yang sering melakukan ziarah kubur. Banyak makam di pelosok-pelosok kampung yang pernah diziarahinya.

Ketika ditanya apa alasan Gus Dur sering berziarah ke makam-makam?

“Karena orang mati tidak memiliki kepentingan,” jawab Gus Dur. (Qomarul Adib)

1 2