Category Archives: KREASI SANTRI

Bait-Bait Pengganjal Lapar

Mentari sore tersenyum menyeruak. Entah kebahagiaan apa yang ingin dicurahkannya saat ini. Daun-daun padi yang menguning semakin terlihat menguning, menguning keemasan. Buaian mentari tengah berpadu mesrah rupanya. Eantah darimana angin surga ikut campur  bearsama meraeka, menyapu butiran dubu kecil yang sedari tadi rupanya asyik bertengger di atas  hamparan daun padi yang berjejer bak kelompok tari saman berpersonil miliaran. Nyanyian dan lambaiannya merdu nun indah memadu dengan ratusan burung pipit yang asyik berkejaran menuju peraduan penuh kerinduan. Mungkin ini kah yang dinamakan gemah ripah loh jinawi, begitulah orang jawa menyebutnya.

Hari berlalu seperti biasa. Langkah-langkah kecil berlalu-lalang penuh ketenangan. Langkah-lanhkah kecil ditemani sandal jepit murahan yang bertebaran di pedagang-apedagang kelontong pelosok desa. Beberapa dari mereka telanjang kaki, entah siapa yang sampai hati meminjam teman kaki kecil mereka. Buku kecil bertuliskan baita-bait syair arab tampak begitu  lengket di jari-jemari yang agak kurus, buku kecil yang slalu menemani hari mereka. Di kover dalamnya mereka tulis “ingat tujuan dari rumah”.  Kehilangan sepasang sandal tidak apa, asalkan buku kecil tetap setia menemani langkah meniti kehidupan. Setidaknya itu salah satu kalimat yang terasa indah untuk mereka  tulis dalam buku diary. Lamat-lamat bibir mereka mulai komat-kamit, sembari membayangkan susunan syair-syair di buku kecil yang kerap kali mereka intip. Begitu serius mereka menghafalnya. Sesekali mereka membenarkan ikatan sraung yang mulai kendor seiring pijakan kaki yang mulai lelah. Maklum, mamakai sarung nampaknya sedikit susah untuk santri anyar. Bibir bereka masih sibuk berkomat-kamit dengan syair-syair yang begitu asing untuk singgah di kepala mereka, bait-bait syair yang tak dijumpai oleh seorang sarjana sekalipun, apalagi sarjana yang masuk kuilah sore, sering alfa  dan dosennya jarang masuk.

Lamat bibir berkomat-kamit itu masih terus terdengar nyaring, meski semakin lama, semakin tenggelam ditelan senja. Tapi ada yang berbeda disaat seperti ini. Jauh di belaang asrama sana, seorang anak berumur enam belas tahun menatap pesona hamparan kebun hijau berujung gunung biru menawan. Sedang apa ia disana? mengapa menikmati keelokan senja dalam sepi. Jari-jari kecilnya memang sama dengan  yang lain, begitu lengket dengan buku kecil digenggamnya, tapi, mengapa tidak ada guratan keceriaan di dahinya. Buku kecilnya terbasahi oleh tetesan air yang perlahan turun dari  mata yang nampak berkaca-kaca. Tangan kirinya begitu erat mencengkeram perut sisi kiri, seperti ada yang ditahan. Tampak ada duka yang merundu jiwa yang nelangsa di sana.

***

“Usman!, kok kamu nambah kurus aja, uang bestelan Ibu krang ya? Ngomong dong.” Pelukan seorang Ibu erat penuh damai. Setidaknya, itu cukup untuk melipur hati yang lama dirundu rindu, rindu sang buah hati tercinta.
“Enggak kok bu. Uang dari Ibu cukup kok. Malah setiap bulan Usman  biasa nabung.”   Mencoba membantah kehawatiran malaiakat yang selama ini mencurahkan kasih sayang kepadanya.
“Terus, kok kamu nambah kurus aja nak?.” Tuturnya agak menyelidik. Belum percaya dengan jawaban buah hatinya.
“Ia, bu. Bulan-bulan ini Usman lagi belajar puasa senin-kamis. Kata pak Yainya tirakat.” Sekali lagi Usman mencoba meyakinkan Ibunya.
“O, ya udah. Tapi gak usah berlebihan. Kasian dong, nanti anak Ibu sakit.” Rayuan sang Ibu penuh kasih sayang.
“Eh, ia bu. Kalo udah khatam alfiyah nanti, ibu gak usah hawatir soal biaya tasyakurnya. Usman kan udah punya tabungan sendiri.”
“Usman, Ibu bangga punya anak sepertimu.” Sekali lagi, pelukannya erat menebar jutaan rasa sayang. kali ini air mata menetes dari kedua matanya.

***

Entah kata apa yang pas untuk diungkapkan dengan suasana seperti ini. Hari jumat awal bulan halaman pesantren riuh dikunjungi wali santri. Bahkan beberapa dari mereka ada yang repot-repot menyewa mobil bak terbuka hanya untuk bisa berombongan menjenguk buah hatinya dengan beraneka ragam barang bawahan atau hanya sekedar naik kopayu seorang diri untuk mem-bestel-i rupiah seadanya kepada putra-putri mereka yang sedang bmenimbna ilmu di bumi pesantren. Meskipun beberapa wali santri lebih memilih kirim uang melalui ATM saja, biasanya hal ini opsi bagi mereka yang memiliki jarak tempuh yang cukup jauh. Begitulah fasilitas sekarang, lebih modern, cepat dan singkat. Bayangkan wali santri dahulu saat mem-bestel-i anaknya, harus memikul karung berisi beras dari rumah, kadang kalau sawahnya lagi panen ditambah ubi singkong, kebayang-kan repotnya. Itupun sudah mewah saat itu.

“Ehm-ehm.., kayaknya bakal kenyang serharian nih.” Sindiran berbau gasak-an itu tiba-tiba menghentikan langkah umar. Gasakan yang khas saat ada teman yang baru bestel.
“Oh ia, temen-temen! Ayo kita makan bareng-bareng. Tadi Ibuku  datang, nih bawa banyak makanan. Katanya buat makan bareng temen-temen.” Ramah saja Usman berkata. Itulah karakteristik santri. Punya makanan, pasti bagi-bagi. Santri harus kenyang bersama dan pintar bersama, pokoknya serba bersama deh.
“Nih, ada nasi uduk, bekakak. Eh ia, nih yang doyan sambel, tapi awas pelan-pelan, nanti keselek tulang ayam lagi,” lanjut Usman, sedikit bercanda.
“Hahaha..,” gelagak tawa terasa hangat penuh kebersamaan. Kenagan yang akan selalu mereka ingat suatu saat nanti. Kenangan akang-akang santri.
“Kamu bisa aja mar,” balas Abu, teman Umar satu asrama.
“Sabar ya temen-temen. Nih, pokoknya Umar siapin spesial buat temen-temen,”
Usman sedikit kerepotan mengeluarkan isi keresek besar yang diletakan dilantai. Teman-teman mengamati, tak sabar. Beberapa diantaranya sibuk merapikan lonjoran daun pisang.
Hamparan nasi berhiaskan lauk langka terjejer menggoda iman, eh, menggoda selera siapapun yang melihatnya, apalagi akang santri. Ya, lauk langka. Bagi mereka hanya saat acara tasyakur-an saja bisa menikmati lauk seperti ini, atau pada saat ada wali santri yang kebetulan royal membawakan dari rumah, untuk bestel.
“Eh!, tunggu dulu. kayaknaya ada yang kurang nih,” ucapan yang tiba-tiba saja terdengar serius dari sosok Usman. Sejenak usman berfikir, tatapanya menyelidik kepada teman-temannya.
“O, ia. Ali!, mana Ali. Entar dulu, saya biar cari Ali dulu, kalo Ali udah ketemu, baru kita mulai makannya,” tiba-tiba ia ingat nama Ali. Bergegas Usman mencari sahabat setianya itu. Tumben sekali Ali tidak ada di asrama hari ini. Usman tidak ingin bersenang-senang tanpa teman sejatinya itu.

***

Ali memang teman terbaik Usman. Apapun yang terjadi kami akan selalu bersama, itulah ikrar setia  yang pernah mereka teriakan di atas awan. Bagi usman, Ali adalah pelipur disaat langkahnya tesandung aral kehidupan. Meskipun kadang idenya agak konyol.
Pernah suatu ketika saat usai salat jumat tiba-tiba sandal usman raib, tidak tahu dimana rimbanya. Usman bingung, tidak mungkin Ia jalan kaki sepanjang satu kilo meter dari masjid menuju asrama. Memang para santri tidak melaksanakan salat jumat di masjid pesantren, karena terlalu sempit, jadi ikut gabung di masjid jami’ bersama warga desa setempat.
“Li, gimana nih?!, masa aku harus nyeker. Udah jalanan panas lagi, bisa-bisa kakiku terbakar nih,” Usman mengharapkan solusi  brilian dari sahabat karibnya itu, meskipun Ia sudah setengah menebak, pasti idenya agak konyol. Tapi tidak mengapa, disaat seperti ini memang Ali yang selalu diandalkannya.
“Em.., gimana ya,” Ali terus berjalan kecil mondar mandir, sesekali jari telunjuk kanannya diketuk-ketukan di dahinya, kali ini ia agak susah menemukan solusinya. Bahkan ia bingung mengapa ia terasa begitu sulit mencari solusi, mungkin karena suasana terlalu panas.
“Gini aja, kita gantian pake sandal saya setiap jarak dua puluh langkah, gimana,” entah mengapa ide itu tiba-tiba singgah begitu saja dikepalanya.
“Ya.. percuma, nanti pas yang satu giliran pake sandal, berarti yang sdatunya lagi nyeker panas-panasan dong?!,” protes Usman, namapaknya ide temannya teerdengar kurang sempurna.
“Oke, gini aja. Setiap duapuluh langkah kita gantian pake sandal. Nah, nanti yang dapet giliran pake sandal harus gendong yang lain, kan gak ada lagi yang bakal nyeker tuh,  gimana?,” Ali berharap idenya kali ini bisa diterima.
“Gila kamu li!, berarti kita gantian gendong gitu, kamu ada-ada aja li, gak mau ah, nanti diketawain  oranag-orang lagi,” sekali lagi Usman protes.
“Itu sih kalo mau. Kalo gak mau ya saya pulang duluan. Kamu mau saya tinggal?,” desak Ali.
“Eh.. i..a udah deh. Kamu ini li, ada-ada aja,” Mau tidak mau, Usman harus mengalah.

***

“Ali.., Ali..,” teriak Usman berkali-kali, tidak mau hal buruk terjadi dengan teman baiknya.
“Dul !, kamu lihat Ali gak?,” ketujuh kalinya Usman menayakan keberadaan Ali yang entah kemana.
“Gak tau man. Dari tadi emang anak ini gak kelihatan batang hidungnya,” jawab Abdul, anak asrama sebelah.
“Terus kemana ya?, saya khawatir Dul, ya udah, makasih ya,”
“Ali.. Ali..,” Usman terus mencari keberadaan temannya.
“Lho, kayak kenal,” Usman mengamati seseorang dari arah belakang jarak lima belas meter dari tempatnya berdiri. Entah siapa, tapi nampaknya ia tidak begitu asing baginya.
“Eh, itu kan Ali,” bergegas Uman menhampirinya. Berharap dugaannya tidak salah.
“Ali.. Ali..,” teriakannya menemanni langkah yang mulai tak sabar menghampiri orang yang ditemuinya.
“Ali, kamu kemana aja, aduh, cewape bewanget Li.., muter-muter cari kamu gak ketemu-ketemu. Eh.. taunya disini,” Usman menepuk pundak orang yang ia temuinya, wajahnya nampak lelah sedikit lega. Temannya ketemu juga.
“Maaf, kang. Ali siapa ya?,” spontan menolehkan wajah ke belakang. Penasaran, siapa yang tiba-tiba menepuk pundaknya dan menyebut-nyebut nama Ali.
“Ups, maaf kang. Saya kira akang ini Ali. Teman saya,” Usman terkejut. Mengapa orang ini begitu mirip dengan Ali.
“Oh, gak apa-apa,” balasnya enteng.
“Astaghfirullah.., kenapa bisa sampe salah orang si!, huff..,” hembusannya mencoba menghilangkan rasa lelah. Sedikit tertunduk. Terus melangkah, langkah yang agak terhuyung. Lelah.
“Lebih baik Aku cari Ali nanti aja deh, ke asrama dulu. Kasian temen-temen udah nugguin. Pasti lagi pada protes. Kenapa Usman lama banget,” gumannya membatin. Langkahnya pelan menuju asrama. Kepalanya menghadap keatas. Sesekali memejamkan mata. Mencoba menenangkan batinnya.
“Aduh !, maaf ya. Gak sengaja. Soalnya tadi aku ngelamun,” Usman terjatuh. Ia tidak senghaja menabrak seseorang yang duduk di belakanag asrama. Lagian sore-sore begini kok nogkrong di belakang asrama sendirian. Tapi ia bingung, kenapa kok orang ini malah bengong. Tidak menjawab paernyataan maafnya.
“Kang, sekali lagi maaf ya. Tadi gak sengaja,” Usman mencoba mengulangi pernyataan maafnya. Barang kali orang itu belum dengar. Kebetulan Usaman jatuh dibelakangya, jadi belum tahu siapa orang yang ia tabrak tadi.
“Eh !, Ali. Kamu lagi ngapain sore-sore di sini sendirian,” Terkejut Usman melihat wajah orang itu. Ia Ali. Yang dari tadi dicaari-carinya. Tapi kedua bibir temannya itu seolah-olah terkena lem plastik, hanyan diam membisu.
“Li, jangan ngelamun..  Sore-sore gini kok ngelamun di belakang asrama. Nanti kesambet lho,” mencoba merayu temannya. Setahu Usman, Ali memang takut dengan kata kesambet, agak penakut gitu. Tapi aneh, apa temanya ini sudah benar-benar kesambet. Kok dari tadi hanya anteng sambil duduk menundukan kepala.
“Li.. Ali,” pelan Usman, mencoba berkomunikasi dengan temannya. Meskipun ia agak sedikit merinding. Gimana kalau temannya ini benar-benar kesambet. Hih.. serem. Tangan kanannya pelan menyentuh pundak kanannya. Mencoba menenangkan temannya yang nampaknya ada masalah. Usman mencoba membuang jauh-jauh dugaan temannya kesambet. Meskipun mulutnya lamat-lamat melafalkan ayat kursi.
“Kamu keenapa? Ada masalah?,” Sekali lagi Usman mencoba berkomunikasi. Kali ini Usman agak menjauh. Hawatir benar-benar kesambet, Merinding.
“Enggak apa-apa kok,” Ali mencoba membunyikan sesuatu.
“Fwuhh..,” Usman menghembuskan nafas. Temannya ternyata tidak kenapa-napa, Lega.
“Li. Kita kan temenan udah lama. Kita udah kayak kakak adek. Kamu gak usah sungkan, kalo ada masalah bilang aja. Apapun yang terjadi, pasti saya bantu,” respon teman sejati mengalir tulus begitu saja.
“Man aku khawatir,” pelan Ali.
“Hawatir kenapa,” spontan Usman. Ada rasa empati yang dalam.
“Sudah dua minggu orang tua saya tidak kirim uang. Padahal Aziz, tetangga saya, orang tuanya sudah kesini sepuluh hari yang lalu,” orang tua Usman biasa menitipkan uang bestel-an anaknya lewat tetangganya yang membesuk anaknya ke paesantren, biasanya pak Madrais, ayah Aziz. Pernah orang tua Usman langsung yang ke pesantren, namun hanya beberapa kali, itupun hanya Ayah seorang diri, belum lagi harus panas-panasan berdesakan di dalam kopayu, mengingat usianya yang sudah sepuh, tujuh puluh tiga tahun. Masaya Allah. Tidak seperti orang tua teman-temannya, yang rutin seriap bulan membawa rombongan, mau besuk anak apa mau ziarah wisata. Maklum, keluarga Ali keluarga pas-pasan.
“bukan masalah uangnya. Tapi saya hawatir terjadi apa-apa dengan keluarga di rumah. Pasti mereka sedang pusing mikirin mau ngutang kemana lagi,” lanjut Ali. Memang, profesi sebagai buruh tani tidak menjamin orang tuanya tercukupi. Belum lagi dua adik Ali memiliki dua orang adik kecil. Yang satu perempuan, kelas dua SD ,membutuhkan biaya sekolah, yang satunya lagi laki-laki, masih balita berumur satu setengah tahun, butuh beli susu dan lain sebagainya.
“Udah, li. Kamu gak usah mikirin yang tidak-tidak. Kita doain aja, semoga mereka gak kenapa-napa,”
Usman masih mencoba menenagkan.
“Amin..,” lirih ali penuh harap.
“Soal uang kamu Li, biar Aku pinjemin dulu. tenang aja, gak usah dipikirin ngembaliinnya kapan,” Usman menawarkan solusi. Solusi yang sedikitpun tak terdengar konyol, seperti saat usai salat jumat kemarin.
“Gak usah Man. Aku gak mau ngerepotin temen, bagaimanapun kondisinya,” Tetap saja Ali adalah Ali. Seorang teman yang tidak mau sedikitpun membebani siapapun temannya.
“Enggak kok. Aku malah bangga bisa bantu temen. Apalagi temen baik kaya kamu,” desak Usman.
“Man, tolong. Kalo kamu anggap Aku adalah teman baik, jangan jadikan teman terbaikmu dibenci oleh Rasulullah. Rasulullah gak suka kalo umatnya punya hutang,” Ali berdalil. Padahal isi hatinya hanya satu; Tidak mau merepotkan temannya.
“ya udah gak apa-apa. Tapi ayo dong kita ke asrama. Tadi Ibuku datang. Bawa banyak makanan. Ayo kita makan bareng temen-temen. Kasian mereka nunggu dari tadi,” Usman mengalah dengan argumen temannya. Meskipun ia sadar, argumen temannya cukup beralasan.
“Makasih Man, Aku udah kenyang. Untuk sekarang aku mau sendiri. Kamu duluan aja ke asrama,” sebenarnya Ali belum makan dari pagi. Rasa khawatir akan keluarganya membuatnya tidak nafsu melakukan apapun, trmasuk nafsu makan. Meski perutnya terasa perih. Perih bagaikan ditusuk sembilu.
“Ya udah. Kalo gitu aku duluan. Kamu baik-baik ya,” dalam keadaan seperti ini memang agak susah membujuk Ali. Nanti saja, kalau sudang bombong. Pikir Usman.

***

Kini Ali sendiri. Sendiri bersama kemelut gundah yang menyelimuti. Tak ada siapa atau apa yang mampu mengucurkan setetes kedamaian dalam perasaan yang sedang tertohok oleh sembilu, sembilu yang mencabik-cabik tak kenal siapa yang dihajarnya. Sakit. Lebih sakit dari ribuan kata sakit.

Mata yang selalu membawa keceriaan kini tak mampu menghibur siapapun, bahkan menghibur dirinya sendiri. Matanya berkaca-kaca menatap kosong. Hamparan hijau dihadapannya sedikitpun tak memercikan secercah kesujkan dalam jiwa. Gunung biru nun elok di hadapannya tak ubahnya bongkahan batu besar yang terlihat membosankan. Entah apa pikirnya. Tiba-tiba tangan kanannya merogoh saku baju kokonya, seperti ada yang dicari. Ternyata ia mengeluarkan buku kecil yang mulai lusuh, sisi-sisinya tak terlihat lagi menyisi. Di atas sampul lusuh itu tertulis “Khulasoh alfiyah Ibnu Malik”, dalam bahasa arab. Meskipun huruf terakhirnya sudah tak terbaca lagi. Inilah yang biasa ia lakukan Ali saat seperti ini. Disaat siapapun tak mampu menyentuhnya. Baginya buku kecil inilah yang paling setia menemaninya. Lebih setia daripada teman paling setia. Bahkan Usman sekalipun. Jemarinya gemetar saat sampul pertama dibukanya. Dek !. ada sesuatu saat ia mendapati tulisan pada halaman pertama, “Ingat tujuan dari rumah”, sebuah kalimat yang tak asing bagi seorang santri. Tulisan itu biasa ditulis dimaana saja; di pintu lemari, buku pelajaran, pintu kamar dan termasuk buku kecil yang selalu menemanni mereka. Kalimat itu Ali tulis saat pertama kali membeli buku kecil yang digenggamnya. Mudah-mudahan mampu menyemangati langkah di tanah penuh berkah, pikirnya saat itu. Bahkan pertama kili Ia tulis kalimat itu di lemari barunya, lemari saat Ayah baru mendaftarkannya di pesantren. Terngiang dalam lamunan, saat-saat sang ayah mendaftarkannya di pesantren. Matanya semakin berkaca-kaca, batinnya berdecak dahsyat, jemarinya gemetar tak terkendali saat mencoba melanjutkan halaman selanjutnya. Air mata keluar begitu saja dari matanya, menetes, membasahi buku kecilnya. Hanya tertegun, ia mendapati tulisan “li, meski Ibu dan Bapak setiap hari harus panas perih di sawah, susah payah mencari nafkah. Kamu gak usah khawatir. Yang penting kamu dan adik-adikmu bisa jadi orang sukses”, semakin deras derai air mata menyusuri pipinya, jatuh berhamburan membasahi buku kecilnya. Cegukan tangis menemani kesedihan. Tangan kirinya erat mencengkeram perut sisi kirinya. Rasa lapar tak kalah dahsyat menghajar bersama dengan kegalauan.
“Ibu, Bapak. Ali berjanji, Ali akan menjadi apa yang kalian harapkan, Ali bersumpah, Ali akan membanggakan Kalian,” teriaknya tak sampai. Janji yang akan ia pegang selamanya.

***

“Berita panggilan, kepada saudara Ali, ditunggu kedatangannya di kantor madrasah, karena sudah dituggu orang tuannya, sekian terima kasih,” terdengar jelas suara toa menggema. Ini biasa dilakukan ketika ada seseorang ingin bertemu santri. Dan kali ini pasti Ayah Ali datang untukl bestel. Dengan penuh rasa penasaran Ia berlari menuju sumber suara.
“Bapak !. bapak sehat pak?, di rumah, Ibu dan keluarga baik-baik kan pak?, enggak ada apa-apa kan pak?,” hujaman tanya penuh penasaran tiba-tiba nyeplos begitu saja dari mulutnya. Setelah sebelumnnya ia cium tangan Bapak tercinta dengan penuh takzim.
“Ali. Bapak, Ibu dan kedua adik kamu baik-baik saja. Soal Bapak yang telat kirim uang, bapak minta maaf. Soalnya dua minggu ini Bapak dan Ibu sibuk ngurusin persiapan buat umroh,” jelas Bapak Ali, dengan penuh rasa syukur.
“Umroh?!. Uang dari mana pak?,” Tanya Ali sedikit tidak percaya.
“Gini. Bapak punya teman lama, namanya pak Yanto. Kebetulan ia lagi punya uang banyak. Sawahnya ada yang melelang sebesar limaratus juta. Katanya itung-itung balas budi sama bapak. Dulu waktu ia terjatuh di selokan sendirian gak ada orang, bapak yang nolongin. Katanya kalau waktu itu gak ada bapak, entah apa jadinya,” jelasnya.
“Alhamdulilllah.., akhirnya Bapak dan Ibu bisa umroh. Terimakasih ya Allah,” tiba-tiba hatinya terasa lega. Penuh rasa syukur. Alhamdulilllah.

Oleh Muhammad Abror

Buya Ja’far, Kempek, dan Pendidikan Antikorupsi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh Sobih Adnan

Ketika penulis masih mengabdi di NU Online, sowan ke kiai memiliki dua fungsi; memungut berkah, memburu berita.

Yang paling rutin, tentu kepada guru sendiri; Allah yarham Abuya KH Ja’far Aqil Siroj. Dan sekali waktu, pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Jawa Barat itu ‘menjebak’ penulis dengan sebuah pertanyaan, “Kamu mau sowan, atau wawancara?”

Kaget bukan kepalang. Posisi masih di pintu ‘ndalem. Sementara Buya Ja’far, sudah berbalik menuju kursi tamu.

“Dua-duanya, Buya,” jawab penulis, sembari cengar-cengir.

Namun lega rasanya, ketika sang guru dan narasumber tunggal itu memersilakan duduk, seraya menyuguhkan senyum.

Profesionalitas

Berstatus sebagai santri, bukan jaminan mendapatkan kemudahan berjumpa Buya Ja’far. Di kala gesang, Buya Ja’far berikhtiar keras membagi porsi waktu sebagai pengasuh pesantren, juga terhadap tanggungjawabnya sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cirebon.

Tapi, bukan Buya Ja’far namanya, jika sedang memiliki waktu luang kemudian lebih memilih untuk berleha-leha ketimbang menyambut siapa yang datang.

“Jawabanmu, bagus. Ya sowan, ya wawancara,” kata Buya Ja’far.

Penulis tak punya pilihan selain diam. Di samping bagian dari unggah-ungguh tatakrama, sejatinya amat penasaran, pesan apa yang akan dilontarkan untuk mengomentari jawaban nyeleneh santrinya yang baru setahun-dua meninggalkan pesantren itu.

“Pertanyaanku juga bagus,” lanjutnya. Lalu, Buya Ja’far menjelaskan, jawaban “dua-duanya” memberi semacam simbol bahwa penulis sama sekali tidak menanggalkan status kesantriannya, sekalipun ia tengah menjalankan tugasnya sebagai wartawan.

Pilihan “sowan atau wawancara” dalam pertanyaan itu pun diakui Buya Ja’far sebagai bagian dari pesan keprofesionalitasan. Tidak selamanya dua perkara atau lebih boleh dicampur aduk. Tak melulu pula, pepatah “sekali dayung dua pulau terlampaui” itu benar.

“Kamu harus tahu, di posisi mana kamu sedang berdiri,” kata Buya Ja’far.

Kesadaran terhadap posisi akan memulihkan rasa tanggung jawab. Apa dan kepada siapa akan dipersembahkan atas hasil yang diperoleh dalam kadar waktu tertentu, menjadi amat penting.

“Islam hanya mengenal amanat tengah-tengah. Tidak setengah-setengah,” terang Buya Ja’far.

Menghargai tanggung jawab menjadi benteng diri di tengah segala bujuk rayu dunia. Lantas, Buya Ja’far mencontohkan maraknya perilaku koruptif di Indonesia.

“Selain tak punya iman, korupsi disebabkan nihilnya rasa tanggung jawab,” kata Buya Ja’far.

Kepercayaan

Pesan-pesan Buya Ja’far, sebagian besar masih penulis hafal. Pun kesan-kesan yang ditangkap kala masih mengaji dan mengabdi di pesantren yang terletak di ujung barat Kota Wali itu.

Meskipun sudah barang tentu, misalnya, tradisi sorogan diadopsi juga di banyak pesantren Indonesia, tapi di Kempek seolah menanamkan arti tersendiri.

Ada dua kurikulum yang memakai teknik klasik ini, yakni pengajian Alquran dan hafalan nazam Alfiyah ibn Malik. Ketika memasuki tingkat akhir, santri dituntut menyempurnakan dua kewajiban pelajaran tersebut langsung di bawah bimbingan Buya Ja’far.

Untuk Alquran, biasanya dua sampai tiga orang bergiliran menghadap dan melafalkan ayat suci itu di hadapan beliau. Uniknya, Buya Ja’far yang cuma seorang diri itu mampu menelaah mana yang benar, mana yang salah, di saat santri di hadapannya membaca berbarengan.

Buya Ja’far tak pernah menandai batasan sampai mana si A atau si B berhasil menuntaskan setoran. Anehnya, tak ada yang berani melompati kewajiban surat yang ia baca di keesokan hari. Padahal, siapa menjamin Buya Ja’far tahu, jika si anu melewati barang satu atau dua surat demi lekas tuntas dan turut khataman.

Begitu juga dalam kewajiban menghafal sebanyak 1002 nazam Alfiyah. Meski ada teknik yang sedikit berbeda.

Ketika masuk masa setoran, Buya Ja’far meminta santrinya yang sekelas terdiri dari 35 orang itu saling berhadapan dan bergantian membunyikan hafalan. Ya, paling-paling, jika kehadiran santri sekelas penuh, akan ada yang kena sial satu orang. Ambil misal, sudah terbagi menjadi 17 kelompok, risikonya, satu orang langsung berhadapan dengan Buya Ja’far.

Di pengujung masa pengajian kelas Alfiyah, penulis termasuk santri yang lalai terhadap hafalan. Ketika lebih dari separuh kawan sekelasnya sudah tuntas menyetorkan nazam kepada Buya Ja’far, ia tertinggal di barisan akhir bersama lima sampai enam orang.

Setoran pertama, gagal. Kedua, ditolak. Ketiga, gugup. Sepekan diberi toleransi waktu untuk melancarkan hafalan nyaris tak berpengaruh. Buya Ja’far, kabarnya tak lagi memberikan peluang.

Modal nekat, di malam khataman, penulis sowan ke hadapan Buya Ja’far. Baik dan lembut benar hati sang guru. Dipersilakannya masuk, dan membolehkan santrinya bersusah payah menuntaskan hafalan.

“Selamat, ya, akhirnya khatam juga. Jangan sekali-kali menyepelekan kepercayaan,” pesan Buya Ja’far.

Pengajaran Alquran dan Alfiyah, rupanya dijadikan media bagi Buya Ja’far untuk menanamkan kejujuran. Sebuah sikap mahal yang jarang dijumpai penulis, di kemudian hari.

Rendah hati

Mengapa “Buya”? Bukan Kiai, atau Ustaz Ja’far.

Tak ada salahnya juga pertanyaan itu terlontar. Sebab, hampir tak ada satu pun santri Pesantren Kempek yang menyapa kakak kandung Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj itu dengan sapaan Kiai Ja’far.

Lagi pula, di Jawa cuma ada “kiai”. Sebab, sebutan “buya” idealnya untuk sosok berdarah keturunan Minangkabau atau sekitaran Sumatra Barat. Buya Ja’far, tentu tak seperti Buya Hamka yang memang lahir di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam.

Buya Ja’far yang asli Cirebon, tidak ada juga yang menyapa “ajengan” seperti dalam tradisi Sunda. Apalagi, “teuku” yang dikhususkan bagi tokoh-tokoh Aceh, “syekh” di Tapanuli, “tuan guru” di Nusa Tenggara Barat (NTB), atau “nun” atau “bendara” di Tanah Madura.

Namun, ihwal persapaan Buya Ja’far ini, penulis pernah mendapat keterangan dari kakak yang sudah lebih dulu merampungkan pendidikan di Pesantren Kempek, Saeful Adnan.

Menurutnya, tiada lain, sebutan “buya” adalah bentuk kerendah-hatian Buya Ja’far. Beliau, tak ingin disebut kiai, guru, apalagi ustaz.

Sebagaimana lazim diceritakan dalam asal-usul kata, abuya, berasal dari kata abun (bapak), dan ya mutakallim.

Makna sederhananya, bapakku. Menurut Saeful, dengan penuh kerendah-hatian dan kasih sayang, Buya Ja’far lebih ingin menganggap santri-santrinya sebagai anak, bukan yang lain-lain.

Mengingat keterangan itu, lagi-lagi terkenang sebabak pesan dari sosok yang penuh ketegasan itu. Buya Ja’far pernah bilang, “Optimisme, penting. Tapi, kerendah-hatian tak kalah perlu demi memelihara kejujuran.”

Namun kini, Buya Ja’far sudah lama berpulang. Santri-santrinya pun melulu dilanda rindu. Maka, tak ayal, sebagian besar santri Kempek hari ini menyapa Kiai Said dengan sebutan buya.

Pas benar, apalagi, ketika Buya Said memasang dada demi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), “Nahdlatul Ulama (NU) sudah ada kesepakatan dengan KPK untuk jihad melawan korupsi,” katanya, dalam sepenggal wawancara yang marak diberitakan, pertengahan Juli lalu.

Kempek, selalu melahirkan buya. Sosok penuh inspirasi demi santri antikorupsi.
Penulis adalah Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni PP KHAS Kempek (Ikhwan KHAS). Bekerja sebagai content editor di Metro TV.

Lelaki pilihan ibu

Lelaki pilihan ibu

Oleh: Yusuf. E. Purnomo*

           

            PAGI, hari anyar baru akan dimulai. Kabut sisa jejak peri semalaman masih tersisa di lereng Lawu membatasi jarak pandang. Daun-daun tertindih embun basah,  mendaulat alam menjadi gelaran permadani hijau yang menyejukan. Sepagi itu Dini tengah duduk di bangku pelataran rumah seorang diri, kertas kanvas dengan seraut wajah yang belum selesai di gambar tergeletak disampingnya bersama kuas, cat yang berserakan teranggurkan. Pandangannya menerawang memikirkan lelaki yang semalam hadir kembali dalam mimpinya. Lelaki itu telah mengusik hatinya, benar-benar mengusik, membuatnya tak dapat berpaling.

            Ia jadi suka menyendiri, mengingat wajah lelaki itu untuk dilukis. Perasaannya mendesak, hatinya memberontak meminta pelampiasan. Pikiran dan perasaanya yang kalut itu tercurahkan dalam lukisan-lukisan. Serautwajah yang belum ia rampungkan pagi ini, adalah lukisan kesekian kalinya yang semuanya tidak pernah sanggup ia rampung.

            “Kenapa, Ni?” Tanya ibunya yang tiba-tiba telah hadir disampingnya.

            “Em, cuma ingin melukis matahari lawu, bu.” Jawabnya berbohong.

            Ibunya melangkah ke depan berusaha melihat lukisan Dini, namun dengan cepat Dini menghalangi langkah ibunya sambil menunduk.

            “Lukisannya belum jadi, bu.” Ucapnya pelan tidak berani menatap wajah ibunya.

            Ibunya tersenyum penuh arti. Ia mengusap pundak Dini sambil berbalik pergi.

            Ia tidak mungkin bercerita jujur tentang lelaki yang kerap hadir dalam mimpinya. Selama ini tabu baginya memikirkan lelaki, meskipun usianya sudah tidak muda lagi, ia masih belum terpikirkan tentang lelaki. Beberapa kali ibunya berusaha membujuk untuk segera menikah, menjaga omongan orang luaran yang mulai mempertanyakan Dini yang masih suka hidup sendiri. Tapi ia menolak bujukan ibu, termasuk lelaki-lelaki tetangga yang datang meminangnya.

            Namun, entah apa yang tengah menimpanya, beberapa hari ini hatinya terusik oleh lelaki dalam mimpi. Awalnya ia menganggap sebagai bunga tidur saja, atau mungkin pikirannya yang sedang  tak karuan karena dipaksa segera nikah oleh ibu. Namun mimpi ini berbeda, mimpi ini terus terjadi dengan seorang yang sama. Seorang lelaki yang menawan hatinya. Kehadirannya membawa rasa indah yang tak bisa ia pungkiri lagi, jujur, ia kerap menanti untuk bertemu dengan lelaki itu, tidak di dunia mimpi, namun dalam dunia yang nyata, dunia yang sebenarnya. Ia tak mengerti darimana asal lelaki itu, tetapi dalam mimpi dengan jelas ia memanggil Aryo Pengarep.

            “Uhf,” desahnya berusaha melupakan keanehan yang ia alami beberapa malam terkahir ini.

            Tanpa setahu Dini yang masih termenung, ibunya memperhatikan tingkah puteri semata wayangnya itu dari balik jendela. Ia mengangguk-angguk pelan, seperti telah mengerti semua yang tengah terjadi.

            KAMAR Dini masih tertutup, entah apa yang ia lakukan di dalam sana. Orang-orang resah menunggu di luaran karena sebentar lagi mempelai pria akan datang. Tak ada seorangpun yang berani mengetuk pintu, mereka hanya menatap nanar ke arah pintu sambil menduga-duga apa yang sedang terjadi. Yang mereka tahu, seperti permintaan Dini; ia ingin berdo’a seorang diri sebelum melepas kehidupan lajangnya. Ia perlu menit-menit terakhir untuk memantapkan hati hidup bersama pria pilihan orang tuanya dan menjadi seorang isteri. Sudah satu jam-an ia masuk ke dalam kamar, orang-orang semakin resah. Padahal hari baru dimulai, namun gerah dalam ruangan itu seperti saat siang hari, keringat membulir di kening para keluarga dan tamu. Bayangan pernikahan akan batal  begitu jelas terbersit di benak.

            “Cerita Siti Nurbaya kembali berulang,”  ucap para tamu berbisik.

             ROMBONGAN pengantin pria telah tiba diiringi musik pesta pernikahan. Orang-orang di luar semakin bertambah resah, namun mereka tidak ada yang berani mengetuk pintu. Di dalam kamar Dinitengah berbaring di atas ranjang, berusaha terlelap. Ia merasa harus pamitan dengan lelaki dalam mimpinya. Sekarang adalah kesempatan terakhirnya untuk bertemu lelaki itu sebelum ia menjadi isteri orang lain. Ia tidak bisa menolak terus menerus lamaran orang yang datang, usianya sudah pantas untuk nikah, orang tuanya resah kalau ia jadi omongan tetangga sebagai perawan tua. Ia sebenarnya tak pernah menginginkan itu terjadi, namun, ia tidak mampu. Ia telah terpaut dengan lelaki yang kerap hadir dalam mimpinya, sehingga hatinya menolak semua pinangan lelaki.

            …Orang-orang ramai berada di rumahnya. Janur-janur terpasang di depan gerbang layaknya acara pernikahan. Ia baru saja sampai rumah, setelah libur sebulan entah pergi kemana. Ada yang aneh, ia adalah anak tunggal di rumah ini, tapi sama sekali ia tidak mengerti acara pernikahan ini. Siapakah yang sedang melansungkan pernikahan? Apakah ibunya menikah? Bukankah masih ada ayah?

Di depan rumah ramai oleh para tamu undangan, Dini masuk rumah melalui jalan belakang. Ada jalan setapak kecil menuju belakang rumahnya yang biasa di gunakan jalan orang, ia memalui jalan itu. Baru membuka pintu, Ibunya  yang tengah menangis memeluknya erat,

“Sekeluarga telah lama menanti, Ni,” ibunya berucap demikian membuatnya bingung.

Seisi ruangan gembira dengan kedatangannya. Ia masuk ke dalam kamar yang telah penuh hiasan kembang-kembang. Juru rias menggandengnya ke bangku dan menyuruhnya segera berganti baju.  Ibunya datang dengan beberapa perempuan yang telah siap menjadi dayang-dayang. Dini heran, bungkam tak bisa berbicara.

“Penghulu dan pengantin pria sudah lama menunggu di luar, cepat dandan!” seru ibunya. Dayang-dayang yang ia tatap tersenyum mengiyakan. Ia pasrah saat Juru rias menyapukan bedak ke wajahnya, mulai merias seperti seorang putri yang cantik. Ia mematut wajah di depan cermin, ia masih kenal dengan wajahnya sendiri; sepasang alis yang tajam menghias mata yang bundar, bibir tipis membingkai barisan gigi yang rapi juga sepasang lesung di pipi. Tapi tingkah orang-orang di sekelilingnya membuatnya asing.

“Aryo…cepat kemari…” bisik Dini  dalam hati.

“Aku akan jadi pengantin, akan jadi isteri orang. Bawa aku kabur dan kita berdua bersama ke telaga itu. Aku hanya ingin bersamamu Aryo!”  jeritannya pilu. Tak ada orang yang mendengar. Ibunya ia lihat tengah menyiapkan baju pengantin yang akan ia kenakan, putih warna baju itu bertaburan bunga melati wangi semerbak.

Pintu kamar di buka, ayah masuk memberi isyarat untuk segera keluar. Dini menatap wajah ayah, meminta keadilan. Lelaki itu adalah pilihan ayah, bukan pilihannya. Ia tidak mengenal lelaki yang akan menjadi suaminya seumur hidup, ini tidak adil.

Riasan telah rampung. Dini menatap bayangannya di depan cermin. Cantik, apalagi saat ia berusaha tersenyum. Ia berusaha keras agar tak terisak meski hatinya hancur.

“Kenapa semendadak ini, bu,” ucap Dini meminta pengertian.

“Bukan mendadak, Ni. Kamu sendiri yang ingin cepat menikah dengan lelaki itu. Tak kira bapak sama ibu cuma menuruti permintaan kamu saja,” ucap ibunya.

“Hidup sendiri itu tidak enak, Ni. Butuh teman untuk tempat keluh kesah, senang, bahagia dan duka di rasakan bersama. Ibu tahu, kamu akhir-akhir ini kerap murung. Perempuan seusiamu butuh lelaki Ni, biar tenang.”

“I…ya, tapi bukan begini caranya, bu. Dini tidak kenal lelaki itu, mana mungkin Dini bisa hidup bahagia!”

“Lho, bukankah ini pilihan keras hatimu sendiri?” Ibunyaberucap demikian mulai tak sabar.

 Dini patuh ketika ibunya menarik tangannya untuk menuju ruang tamu. Disana telah banyak orang menanti kedatangannya. Pertama kali yang ia tuju adalah lelaki di depan penghulu. Pandangannya menatap lekat lelaki itu. Ia tidakdapat dengan jelas,wajahnya samar tertutup selendang pengantin. Dini terpaksaduduk di samping lelaki sambil menahan isak tangis.

Berdekatan dengan lelaki itu, Dini merasakan keakraban yang tiba-tiba membuatnya tercekat, hatinya menduga-duga. Ia berusaha mengingat keakraban itu berasal darimana dan tentang siapa. Belum sempat berpikir ia terkejut oleh ucap penghulu.

“Aryo, siap?”

“Siap…”

Mendengar jawabanbergetar yang selama ini sangat akrab itu Dini terkesiap. Ia menatap tubuh di sampingnya sambil mengintip dari celah selendang. Ia amati wajah lelaki  itu.

“Aryo…” ucapnya tergetar seperti orang berbisik.

Lelaki disampingnya berpaling memberi senyum. Ini seperti mimpi. Kejutan yang di berikan Aryo membuatnya terhenyak. Bukankah Aryo, lelaki yang selama ini telah memikah hatinya hanya hadir di dalam mimpi?

“Tok….tok….tok.” Ketukan pintu membuat Dini terbangun.

“Keluar nak, para tamu semakin resah menunggu,” suara ibunya terdengar dari luar.

“Iya, bu.” Ucapnya sambil merapikan baju pengantin.

PINTU kamar terbuka, orang-orang bernafas lega, terutamanyacalon pengantin pria. Dini melangkah keluar, yang pertama ia tuju adalah lelaki  gagah yang tengah duduk di hadapan penghulu.

Hatinya berdebar kencang, bibirnya bergetar, kelu tak mampu berucap setelah melihat ternyata lelaki yang selalu menjadi bunga tidurnya itu tengah sama menatap ke arahnya. Dini tertegun beberapa detik mengartikan sesuatu yang berdesir dalam hati; ternyata lelaki pilihan ibu itu adalah lelaki yang kerap hadir dalam mimpi.

Semarang, 2011

*Penikmat Sastra yang lahir di Barito Timur 16 September 1989 Kalimantan Tengah. Lulusan sarjana pendidikan Bahasa Arab di UIN Semarang. Pernah menjadi ketua komunitas sastra saat masa-masa kuliah, menerbitkan majalah sastra dan menjadi pengisi sekolah sastra di beberapa sekolah, pernah diundang Institut Ibn Rusyd Lampung. Sesekali membacakan puisi dan cerpen di komunitas beranda sastra Semarang dan teater Beta. Saat ini tinggal dan mengikuti program khusus Kaderisasi Ulama di Kempek. Email; This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
.

 

 

 

 

 

 

 

 

KIAMAT BAINAL SUGRO WAL KUBRO

Cerita ini diangkat dari kisah nyata. Cocogan kitab (membaca kitab dengan disimak teman) merupakan tradisi yang masih eksis khususnya di daerah pesantren, kegiatan ini bisanya dilakukan ba’da musyawarah (pembahasan pelajaran ngaji  dengan system diskusi) yang bertepatan pukul  22.30 WIB.

Di salah satu asrama tardengar begitu ramai para santri cocogan kitab, kebetulan kali ini ketua asrama langsung yang menyimak, kegiatan ini nampaknya sudah berlangsung cukup lama, biasanya bagi anak yang tidak bisa –mungkin karena malas belajar- akan dikasih sangsi langsung dari ketua asrama. Dan nyata saja kali ini ada empat anak yang tidak bisa, ke empat anak ini memang sudah langganan, kontan saja hal ini membuat ketua asrama naik pitam, tanpa basa- basi  “ hukuman kalian sekarang nyebokin kucing !”, tegas ketua asrama. Spontan ke empat anak langsung berpencar mencari kucing.

Singkat cerita masing-masing dari mereka berhasil mendapatkan satu kucing walau gelapnya malam cukup menyulitkan, tampak empat kucing itu gemuk-gemuk dan kuku serta taringnya  tampak panjang-panjang yang menandakan kucing pemburu liar, entah dengan cara apa anak-anak itu tangkap, tapi tampak dari raut wajah mereka  yang begitu kelelahan. Sebelum kucing2 itu diceboki terlebih dahulu diperlihatkan kepada ketua asrama. Di asrama yang agak luas terdapat para santri sedang beristirahat, tak disangka ke empat kucing lepas begitu saja, dan melakukan pertarungan yang sengit, sehinngga kiamat sugro bainal kubropun tak bisa dihindari, semua santri panik, sampe-sampe ada yang naik diatas lemari, ada yang lari tunggang langgang dan ada hanya berputar-putar sambil menjeri-jerit kepanikan. Ditengah-tengah kacau bulau pemicu galau ketua asrama berteriak, “kalau ke empat kucing itu tertangkap akan kami panggang buat mayoran anak-anak se-asrama !

oleh: M. Abror

 

Syaghaf

kencintaan yang teramat sangat membuatku takut untuk kehilangan. Bagai rambu-rambu kehidupan, perjalan cintaku tak selalu mulus. kadangkala seperti  lampu hijau, kemudian kuning bahkan berwarna merah. Seperti saat ini, cintaku tengah  bereda diposisi rambu-rambu  berwarna merah. Sulit dinyana

dalam logikaku. cinta yang sudah terbentuk sejak  tujuh tahun silam,kini harus berubah petaka. Entah apa masalahnya? Namun yang jelas bukan dari pihak ketiga, keempat  ataupun kelima. Ini murni dari diri diri masing –masing.

Salman, lelaki lugu yang dulu pernah berhasil mencuri serpihan-serpihan hatiku yang sengaja ku tabur dalam jurang cinta. Kini Dia ubahnya lelaki dewasa yang suka membingungkan. Kadang ku berpikir apakah Dia sudah mulai jenuh menghadapiku? Tapi …… sejauh perjalan cinta ini, rasa Aku belum pernah membuat skandal dengan hubungan kami, bahkan Aku cenderung menjaganya dengan sangat baik. Aku rasa pula, bukan karena Aku sudah tak telihat menarik lagi dimatanya. Aku belum tua, dan Aku masih single karena masih terus dalam penantian. Menunggunya yang kelak akan mempertemukan ku pada kehidupan yang lebih lengkap. Ya, Dia tak main-main dengan hubungan  ini.

Namun, senyuman yang  dulu kurindukan kini terasa mahal untuk terus tersungging dihapanku. Huft, kenapa Aku terus diperlakukan begini?  apa yang senarnya kini ada dalam benaknya?

“Salman………”, panggilku pada suatu hari saat Aku nekat berkunjung kerumahnya.dia hanya menatapku tanpa seulas senyum seinci pun. Aku membenarkan cadarku yang bergerak-gerak terkena angin.

Cuaca mendung menghiasi siang ini yang terasa semu. Aku berdiri agak jauh semester darinya , diatas yang terletak tak jauh dari rumahnya. Disinilah dulu cinta ini bermula. Saat Aku menunggu ayahku pulang dari pelayaran. Yah, ayahku memang seorang pelaut. Meski Aku sendiri tak tahu pasti apa yang tengah dicari oleh ayahku dilaut yang luas itu. Ikankah? Atau mungkin mutiara-mutiara kerang didasar laut. Tapiku yakin ayah takkan seceroboh itu untuk menenggelam diri demi sebuah kerang mutiara.karena kutahu ayah tak punya kostum penyelam hanya saja ayah pandai berenang. Itulah yang membuat ku kagum padanya.

Cinta itu bermula persis saat aku pun tengah  berdiri disini menanti ayahku yang akan berlabuh usai pelayaran yang panjang dan Dia yang saat itu tiba-tiba mengahampiriku. Mungkin Dia agak heran karena melihat  penampilanku yang seperti orang arab. Bercadar dan alas penutup tangan dan telapak kaki hingga nyaris sekujur tubuhku tak dapat terlihat kecuali kelopak mataku yang berhiaskan celak warna hitam yang sesekali terlihat berkedip.

Namun setelah Ia menyadari aku asli setanah air, maka Dia pun memberanikan diri untuk menyapaku dan mengajakku berbicara. Saat itu Aku sangat malu-malu sekali menjawab setiap pertanyaan yang selalu Dia ajukan. Namun dari situlah komunikasi  bermula dan untuk pertemuan yang kedua kami pun mulai merajut hubungan ini. Sampai sekarang.

Angin semilir kembali menerpa cadarku yang mau tak mau harus terkibar karenanya. Sesekali kulirik Dia yang tatapanya tak pernah lepas dari kapal-kapal yang tengah berlabuh. Sesekali kudengar Dia menghela napas dalam-dalam. Kami pun masih terdiam.

“Bagaimana dengan hubungan ini?”, Tanyaku membuka percakapan. Ia beralih manatapku namun sesaat. Aku pun menunudukan wajahku. Cuaca yang mendung membuat raut wajahnya terlihat seakan dingin dan sayu.

“bagaimana menerutmu?”, ujarnya balik bertanya. Aku terperangah mendengar ucapannya yang seakan acuh tak acuh menangggapinya.

“Aku lelah jika terus menanti. Kau selalu mendiamkanku……..,”  ucapku kemudian. Dia tersenyum namun terlihat masam.

“cinta kita itu seperti i’rob, Zahra. Terkadang Dia seprti khofad yang sewaktu-waktu bisa berubah karena melemahnya cinta dan menerunya rasa kepercaan pada masing-masing pihak. Akan tetapi, terkadang cinta itu seperti nasob yang berada dipuncaknya maghligai  saat cinta itu begitu besar dan meluap sehingga suasana itu begitu terasa indah dan menggebu. Begitupun dengan rofa’, Kau tau makna dlomah yang bepijak diatas lam fi’il?”, Tanya salman. Aku menggeleng

“dlomah itu diartikan sebagai sebuah masalah yang begitu suka. Masalah yang sepele namun sulit dipecahkan. Itulah cinta kita saat ini. Coba saja Kau perhatikan dan pahami bentuk dlomah iitu….,” ujarnya. Aku menekan batin ku yang seakan terasa semakin sesak. “namun, Aku tak pernah menghendaki cinta kita itu dijazemkan atau mati tak bernafas …..,” ucapnya lagi. Kali ini Aku sudah benar-benar tak dapat mengendalikan perasaanku lagi.

“ Stop Salman…..”,sangkalku. “ kau selalu menyamakan cinta dengan nahwu dan shorofmu. Apa

Kau tak menggerti bahwa ku selama ini seperti maf’ul mu yang terkadang tidak kau butuhkan? Apakah ini yang namanya cinta? Saat ragaku mulai letih menanti, namun kau tak kunjung memberi kepastian padaku .  Aku  bukan amil ma’nawimu  yang hanya  bisa  Kau rasakan namun tak pernah terlihat oleh matamu. Aku dzohir salman. Ada!”,segahku deanga segenap gejolak dalam hatiku. Hingga kurasakan bibirku bergetar saat mengatakan kalimat itu. Suara halilintar terdengar saling bersautan bertan hujan akan segera turun.

“Zahra, Kau adalah jawab bagi syaratku, khobar bagi mubtadaku, dan takan kubiarkan amil-amil nawasih mengusik hubungan kita. Apa Kau tak percaya bahwa Aku setia da Aku benar-bener bersunggu menjalani hubungan ini? Diam ku bukan berarti munfashil bagi cintamu, akan tetapi muttashil. Hatiku selalu melekat dengan hatimu. Ini cinta yang haqiqi. Syaghaf …..,” tegas salman yang kali ini menatap ku lekat-lekat. Hujan mulai turun dengan sangat derasnya, namun kami tak berusaha untuk manghindari, kami tepap berdiam disini. Diatas demaga yamg seolah menjadi saksi atas percakapan kami. Aku tertegun mendengar  ucapanya yang meneduhkan. Ku tatap lekat-lekat wajahnya ynag mulai basah oleh air hujan.

“…..dan kau adalah fa’il bagi fi’ilku. Saat Kau tiada maka apa artinya diririku. Dan takan pernah naibul fa’il yang mampuh mengganitikanmu dalam hatiku,” ucapku. “begitupiun maf’ul min ajlih lainnya….”, ujarku lagi

Kini Aku semakin semakin yakin akan penantianku. Salman, kekasihku. Masih teguh dengan cintanya Dia hanya ingin waktu ruang untuk menata kembali  ruang hatinya, namun Dia tak pernah mencoba  berpaling. Inilah cintaku dan cintanya yang mendalam. Hanya bisa terukir oleh tinta-tinta kesetiaan yang mampu menjadi benteng bagi cinta kami.      

 Sekian

Oleh: Tisya avrila

 

S.A.N.T.R.I.

Langit tipis berawan cerah

Sang surya bersinar penuh gagah

Panas membawa angin gerah

Gapura pesantren yang berdiri megah.

Tak terbantah,

Meski sulit tak kenal kata pasrah

Menarik nafsu tuk mengalah

Dari semua ilmu memberi faedah

Bisu, berdoa walau tak kuasa menengandah.

-Siroj Achmad- Kempek, Juli 2010

Kucing

Kucing 

Oleh: Yusuf. E.Purnomo*

 

HUJAN seperti jalin jemalin tidak putus-putus sejak semalam, selokan-selokan _ampong tidak sanggup lagi menampung air, jadinya tumpah mengisi dataran-dataran rendah jalanan _ampong. Aku menatap rintik hujan yang masih riwis dari balik kaca jendela. Mendung gelap masih bergayut di langit menandakan hujan masih akan terus turun. Beberapa anak berangkat sekolah membawa _ampon, berkejar-kejaran dengan aliran air yang menuju genangan-genangan. Ibu-ibu mengenakan baju _ampong dan topi-topi pandan hendak ke pasar menaiki sepeda onthel menyusuri jalanan _ampong, berleret-leret seperti jamur-jamur raksasa yang merekah di musim hujan. Atap atap rumah penduduk yang terbuat dari genting merah tanah, dipadu tempias hujan yang disapukan angin seperti lukisan indah di kanvas perkampungan yang damai. Angin berhembus membaui aroma tanah yang khas.

“Brak!” suara ember jatuh membuyarkan lamunanku.

“Kucing!” ucapku menahan geram.

Aku melempar kucing itu dengan sapu, luput, kucing itu telah mengerti kebiasaan majikan barunya. Kucing itu berlari dan menghilang di kolongan sempit rumah. Aku menumpahkan kegeraman dengan membereskan ember yang dijatuhkan dengan menggerutu. Entah sudah keberapa kalinya kucing itu membuatku geram dengan ulahnya, karena memburu tikus biasanya ia menabrak peralatan dapur dan membuatnya berantakan. Aku hanya bisa menggerutu dan esoknya kucing itu  berbuat demikian lagi. Setiap bangun pagi aku selalu diberi pekerjaan membereskan dapur yang berantakan setelah semalam di obrak-abrik kucing. 

Kucing itu telah lama tinggal di rumah yang baru beberapa bulan aku beli. Warnanya putih, sekujur tubuhnya putih seperti serakan salju. Ke empat kakinya berwarna hitam tersepuh cokelat, sekilas dilihat seperti mengenakan kaus kaki. Orang banyak menyebutnya kucing kaus kaki. Sepasang matanya biru lazuardi dan tajam menunjukkan kejantanan sebagai petarung. Suaranya sangat akrab ditelingaku karena _ampon setiap pagi kucing itu mengganggu tidurku.

Kata pemilik rumah sebelumnya, kucing itu seperti penjaga rumah bagi mereka, selain menjaga tikus-tikus yang berkeliaran saat malam hari, juga bersuara gaduh dan kacau saat ada orang mencurigakan disekitar rumah. Satu hal yang membuat kucing itu istimewa adalah selalu membangunkan saat pagi hari dengan suaranya yang khas. Cerita pemilik rumah bahwa kucing itu pernah menyelamatkan rumah dari maling menurutku hanya kebetulan saja, aku tidak pernah mau berdamai dengan kucing itu yang telah merepotkanku.

“Apapun caranya, aku harus bisa mengusir kucing sialan itu,” kataku dalam hati.

“Dia tahu jalan ke rumah ini, percuma saja di buang.” Ucap hatiku lagi.

“Aku bisa membunuhnya,” ucap hatiku ketus.

“Itu tidak akan aku lakukan. Dosa. Aku teringat cerita sunan kalijaga yang menangis tersedu-sedu ketika tanpa sengaja mencabut rumput saat ia terjatuh. Katanya mencabut rumput tanpa digunakan adalah perbuatan sia-sia dan berdosa. Rumput itu mendoakan kedamaian bagi manusia, begitu juga dengan hewan-hewan.” Ucap hatiku lagi.

“Tapi aku tidak betah.” Ucapku sebal.

PAGI baru dimulai, sementara di luaran semakin gelap oleh mendung tebal yang menggelayut, gerimis mulai menitik. Sepi semakin menggayut ketika hujan mendera bumi. Bunyi gelegar sesekali terdengar di langit dibarengi cambukan api yang membuat suasana _ampong sebentar terang kemudian kembali gelap setelah cahaya api itu lenyap. Suasana di pasar terlihat berbeda; ibu-ibu tengah asyik bercengkrama sambil menunggu hujan reda.

“Kemarin kang Karim kecelakaan,” ucap yu Leha.

“Iya, beritanya sudah nyebar dimana-mana.” Ucap yang lain menimpali.

Aku yang memang juga telah mendengar berita kecelakaan kang Karim itu diam dan hanya menyimak.

“Tapi ada berita yang tidak diketahui oleh banyak orang,” ucap yu Leha.

“Apa?” Tanya yang lainnya antusias.

“Seminggu sebelumnya saat kang Karim pulang dari kulakan beras di kecamatan, ia nabrak kucing.” Ucapnya bercerita dengan _ampo serius.

“Terus?”

“Kucing itu terlindas truknya dan mati dengan usus terburai.”

Yu Leha semakin semangat bercerita dan membuat kami penasaran.

“Kucing itu hewan yang blarati,  biasanya orang yang nabrak kucing esok atau lusanya akan mengalami kecelakaan.” Ucapnya lagi.

“Sebagian orang malah percaya kucing itu akrab dengan tukang sihir, sebagai pengantar sihir. Sepasang matanya saja menakutkan saat malam hari, seperti mata hantu.” Ucap perempuan lain.

“Setahuku kucing itu hewan kesayangan nabi,” ucap yang lainnya menimpali

Aku masih terdiam, teringat kucing di rumahku. Aku hanya mengerti bahwa kucing itu telah membuatku uring-uringan selama ini. Merusak perabotan rumah dan mengganggu tidurku. Cerita ibu-ibu di pasar itu sama sekali tak membuatku berdamai dengan kucing. 

Kekesalanku semakin memuncak ketika sampai rumah kudapati kucing itu tengah pulas tertidur di bawah kursi. Aku mengendap-endap masuk ke rumah, mengambil air segayung dari padusan. Kucing itu masih mendengkur halus, lelap dengan tidurnya. Aku siramkan air ke kucing itu dengan geram.

“Byar!!”

Kucing itu sontak terbangun dan lari terbirit-birit keluar rumah dengan tubuh kuyup, bulunya yang putih seperti salju jadi layu dan kusut, ia sempat merandeg di terasan rumah setelah dihadang hujan yang semakin deras. Tubuhnya menggigil kedinginan. Aku yang tak puas hanya membuatnya kedinginan mengejar dengan membawa sapu bersiap melemparkan kearahnya, kucing itu melarikan diri menerobos hujan dan hilang di balik pohon-pohon pisang. Aku masuk ke dalam rumah, menutup pintu dengan kemenangan. 

ESOKNYA, biasanya aku bangun pagi uring-uringan karena suara gaduh kucing, pagi tadi tidak lagi. Kucing itu tidak terlihat lagi di sekitar rumah, aku bangun kesiangan dan gedabrukan berangkat ke pasar. Di dapur banyak tahi-tahi tikus berceceran di lantai menjadi pekerjaan baruku sejak pagi ini. Semalam tikus-tikus itu dengan leluasa menyelinap ke dalam dapur. Kucing yang selama ini membuatku geram telah pergi, mungkin kejadian kemarin benar-benar membuat kucing itu kapok untuk kembali ke rumah ini. Tapi, aku berganti dibuat geram dengan keberadaan tikus-tikus yang mencuri makanan di dapur.

Sampai di pasar, hari benar-benar telah siang, para pembeli telah banyak yang pulang. Aku telat datang, pasar mulai sepi. Aku tetap berjualan meski beberapa penjual lainnya sudah bersiap-siap akan pulang. Penjual sayur memang biasa berangkat pagi-pagi untuk mendapatkan banyak pembeli. Sayur-sayur yang masih segar lebih disukai pembeli daripada sayur yang sudah layu. Karena itulah sayur-sayurku tidak banyak laku dijual, aku pulang dengan membawa sisa-sisa sayur yang masih banyak. Malamnya aku akan rendam sayur-sayur itu dalam air biar tetap segar dan esok bisa aku jual lagi di pasar dicampur dengan sayur-sayur yang baru.

Kucing itu benar-benar tidak pernah tampak lagi di sekitar rumah, aku tidak perlu uring-uringan lagi dengan kucing. Setelah merendam sayur-sayur sisa jualan di pasar aku langsung tidur dengan nyenyak tanpa suara gaduh. Aku harus bisa bangun pagi besoknya kalau tidak mau ketinggalan pembeli lagi. Udara malam yang dingin membuatku cepat terlelap, aku lupa untuk mematikan api di dapur yang masih menyala.

TENGAH MALAM aku terbangun oleh suara kucing yang meraung-raung di depan pintu kamarku. Entah darimana kucing itu bisa masuk rumah, mungkin lewat dapur  atau celah-celah dinding yang menjadi pintu rahasia kucing untuk masuk ke dalam rumah. Aku gusar merasa ada yang mengusik tidurku. Jam dinding yang menunjuk angka 4 pagi: fajar, Aku melangkah gontai membuka pintu kamar berniat akan memukul kucing yang masih bersuara gaduh dan kacau. Pintu terbuka,  api berkobar- kobar dari arah dapur. Aku terkepung dalam api yang berkobar. Kucing itu masih bersuara gaduh dan kacau, diam di dekatku. Ia tak melarikan diri seperti biasanya saat melihatku.

Di tengah ketakutan, aku lekas menangkap sesuatu yang ingin disampaikan kucing itu, ia ingin memberitahu sesuatu; menyelamatkan diri. Aku beranjak keluar kamar mengikuti kucing itu yang melompat diantara api yang membakar. Sampai pintu samping aku melompat keluar bergulingan di rerumputan. Beberapa orang _ampong mulai berdatangan berusaha memadamkan api, aku yang masih digayuti rasa takut hanya bisa terduduk lemas melihat orang _ampong yang berusaha keras memadamkan api. 

Api berhasil padam, menyisakan kayu-kayu yang hangus. Dapur rumah tak berbentuk lagi tinggal puing-puing berserakan dengan abu. Tapi untunglah tidak semua rumahku terbakar, hanya dapur yang perlu di perbaiki karena tidak bisa digunakan lagi. Lebih bersyukur lagi, aku selamat dari kebakaran tengah malam yang menakutkan itu. Suara gaduh kucing itu telah membangunkanku. 

Aku mencari kucing itu, suaranya tak terdengar lagi sejak aku melompat keluar dari kobaran api. Mungkin ia terbakar kobaran api. Aku berjalan menyusuri sisa-sisa kebakaran, mencari-cari sesuatu. Dibawah kayu yang masih mengepulkan asap, aku melihat bangkai kucing yang telah hangus. Kulitnya yang berwarna putih seperti salju itu terbakar dan mungkin telah terbang ke kastil-kastil langit. Sementara raungan gaduhnya yang menyelamatkanku dari kebakaran itu masih terngiang-ngiang di telingaku. Entah, tiba-tiba saja hatiku perih jika teringat  raungannya yang menyayat saat terusir dari rumahku.

Kempek,2014

 

*Penikmat Sastra yang lahir di Barito Timur 16 September 1989 Kalimantan Tengah.

Lulusan sarjana pendidikan Bahasa Arab di UIN Semarang. Pernah menjadi ketua komunitas sastra di komunitas Beranda Sastra Semarang saat masa-masa kuliah, menerbitkan majalah sastra dan menjadi pengisi sekolah sastra di beberapa sekolah, pernah diundang Institut Ibn Rusyd Lampung. Sesekali membacakan puisi dan cerpen di komunitas beranda sastra Semarang dan teater Beta. Saat ini tinggal dan mengikuti program khusus Kaderisasi Ulama di Kempek.

Email; This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
.

 

PERKENANKAN KAMI MENJADI TITIK DALAM GARISMU

 Jika segenap rasa dapat kami wakilkan dalam sebuah garis,
mungkin kami akan membuat sebuah garis yang sangat panjang
Dan kami tak akan pernah berhenti membuat garis itu
hingga segenap rasa dalam jiwa ini akan mengisi penuh garis itu

Garis itu begitu lurus!
Tak peduli jika garis itu menaiki gunung, menurunu lembah,
melintasi sungai, menyambangi muara,
bahkan mengarungi samudera

Garis itu begitu jelas, nyata dan tak mungkin sirna
karena garis itu begitu membekas dan meresap dalam jiwa
gerak lakumu, desah nafasmu, hingga sorot matamu yang selalu menyala

Garis itu adalah seluruh peristiwa dan kisah yang pernah singgah
yang bercerita tentang seorang lelaki yang tak hanya indah,
tapi juga sederhana namun tetap gagah

Engkaulah garis lurus itu,buya
Garis lurus itu adalah cemeti yang dipenuhi cinta demi mencambuk kesalahanku
Garis lurus itu adalah teriakan yang dipenuhi kesungguhan dapat menampar kesalahanku
Garis lurus itu adalah sorot mata kasih sayangmu yang akan membuat diri kami membeku

Engkaulah garis itu,buya
Garis lurus yang selama ini hanya kupahami sebagai amarahmu
Garis lurus yang selama ini hanya kumengerti sebagai kebencianmu
Garis lurus yang selama ini hanya kusadari sebagai tabiatmu
Ternyata, semua anggapan kami keliru
Betapa semua itu adalah tanda cinta darimu

Engkaulah garis itu, buya
Seperti tongkat yang mendampingi bacaan Al-quran yang selalu kau ajarkan
Seperti terompah yang menemani setiap langkahmu dalam menyulam masa depan
Seperti kopyah yang menungi setiap gundah lalu kau berdiri untuk menuntaskan

Buya,
Jika seluruh rasa kami adalah garis,
Pasti garis yang kami buat akan sangat panjang
Karena melukiskan segenap rasa tentangmu,
tak akan cukup dalam balutan waktu dan ruang
Rasa rindu menanti tatapan matamu
Rasa bahagia melihat senyum sederhanamu
Rasa hanyut mendapati semangat perhatianmu
Rasa haru melukiskan perjuanganmu
Rasa bangga menyaksikan kehebatanmu
Rasa hening mendengarkan bacaan Qur”anmu
Rasa khusyuk menajdi makmum dalam shalatmu
Rasa sepi menantikan bacaan tahlilmu
Dan rasa duka menyadari kepergianmu
Rasanya, suara menggetar darimu masih terasa,
Betapa engkau selalu yakin, seyakin-yakinnya
Seperti keyakinan matahari yang terbit dari timur menebarkan cahaya

Buya,
Mungkin kami tidak akan pernah mampu sepertimu
yang berani bertindak di saat yang lain masih ragu
yang berani berteriak di saat yang lain memilih bungkam
yang berani terus melangkah di saat yang lain menyerah pasrah

Buya,
Engkau bukan hanya mengajari kami tentang kesempurnaa bacaan
Tapi engkau tuntun kami untuk waspada menghadapi kehidupan
Buya,
Engkau bukan hanya melatih kami untuk bersemangat dalam perjuangan
Tapi engkau bimbing kami dalam menekuni kesabaran

Buya,
Engkau bukan hanya meminta kami untuk selalu bersyukur
Tapi engkau antar kami untuk tetap jernih dalam tafakkur
Buya,
engkau bukan hanya membacakan deretan tawasul dan tahlilan
Tapi engkau layani kami agar hidup dalan kerukunan dan keadilan
Buya,
kepada canda dan tawamu, kami akan selalu rindu
kepada hangat penyambutanmu, kami akan selalu rindu
kepada ketulusan dan kasih sayangmu, kami akan selalu rindu
kepada tarhiman yang engkau panjatkan dujung malam, kami akan selalu rindu
Kepada setiap gerak gerik tubuhmu, kami akan selalu rindu
kepada……
garis lurus yang telah engkau guraytkan, kami akan selalu rindu

buya
Kami sangat yakin, betapa engkau tak akan pernah pergi
Karena jejak dan karyamu terlihat nyata di setiap sudut ini
Terima kasih, buya
tanpa lelah, tanpa menyerah,
segenap waktumu telah engkau habiskan untuk mengajari kami yang selalu gelisah tanpa kesedihan dan rasa bosan,
sisa usiamu telah engkau sempurnakan dalam memberi uswah tentang pengabdian
buya,
Meskipun langkah kami tertatih-tatih
Kami akan terus menyusuri jalan terjal berliku
Demi menemukan wajahmu, di setiap sudut waktu
buya,
Jika memang masih ada sisa waktu,
Perkenankan kami
menjadi
diantara titik
dalam garis lurusmu…….
(dari anakmu yang selalu merindu)

Untuk Buya Ja’far Shodiq Aqiel

aku saat ini, seperti sembunyi di balik tilam
aku sesak kalam yang terpendam begitu dalam
terlalu dalam dan meram dalam diam

aku karam dalam kenangan, harapan dan mimpi-mimpi malam
semua ingin kuungkap agar hidup tak lagi tenggelam
agar asa ini selalu pagi, bukan lagi senja yang temaram

tapi engkau segera berjalan bersama purnama malam
tak ada yang cepat atau lambat saat udara hening dan diam
yang ada hanya sepi, senyap dan padam

selamat jalan, wahai yang tak lelah membangunkan malam
selamat jalan, wahai lentera yang menyinari hati yang kelam

engkaulah salam
hanya darimu segala salam
hanya kepadamu akan kembali segala salam

maka hidupkan ia dalam salam
tempatkan ia dalam bahagia penuh salam

meski kami masih belum paham,
tegarkan hati kami, laksana pualam

selamat jalan, wahai yang tak lelah membangunkan malam
selamat jalan, wahai lentera yang menyinari hati yang kelam

kami di sini, tak akan lelah untuk berdoa dalam kalam,
dalam diam

dari
Saksi Suket
1/4/14

Untuk Buya

Oleh: Hamied BJ

Alfiyyah yg sakral .
Al-Qur’an yg agung nan mulia .
Jama’ah Sholat Fardlu pembawa kedamaian hati dalam kebersamaan .

Demikian selalu Buya ajarkan, nguruki, menuntun, menyorog secara ‘jeli’ (telaten) dan mempertahankan nilai-nilai ibadah itu semua dgn sannngat SEMAAAAAANGAT ruarrr biasa ..
Buya seakan menghembuskan angin surga berlantunan ayat-ayat Al-Qur’an nan permai yg slalu dilandasi kesabaran, ketulusan dan keteguhan sekaligus menularkan benih-benih pelecut spirit berlipat pada kami, santri beliau.

Sungguh lapang jiwa Buya. Betapa tidak, disamping menaburkan segala jejak-jejak akan arti urgennya etika maupun sopan santun yg terpuji.Buya pun mengalirkan DNA ajaib yg berisi komitmen yg tegas, prinsip yg teguh, disiplin yg cerdas, dan tekad yg saaaaangat bulat, pada kami, santri Buya.

Dan pada akhirnya, Buya mampu melaksanakan disiplin ilmu, menciptakan kader yg mumpuni dan menata pribadi para santri kesayangan agar santri dilumuri ‘mental kenteng’ juga keberanian mengibarkan bendera kemenangan, tak lain dan tak bukan dgn berdasarkan keikhlasan tak terperi, terlukis oleh butiran-butiran do’a pada saban tahajjud malam hari ‘Kanti Istiqomah’ .

Allah …
Mugi-mugi kula diparingi kiat pikiran lan mental ugo jasmanipun kangge menyongsong masa depan ingkang sae ‘amal-ipun lan manfaat ‘ilmu kula. Lajeng mugi-mugi Buya, romo kula diapura dosa-dosa ipun, diparingi tempat ingkang mulya mbesuk teng sandinge panjenengan lan diparingi husnul khotimah . Amiin …

1 2