Category Archives: FATWA MASYAYIKH

Kempek Pagi

Tidak ada yang berbeda pagi ini. Dengung merdu tarkhiman, Lamat-lamat takbir di speaker subuh memisah sejadah yang mengalig-alingi dari dinginnya lantai asrama, suara berisik kayu-kayu rotan beradu dengan pintu kayu yang tak lagi sempurna menyatu dengan jerumpul-nya. Semua berjalan seperti biasa, lain halnya bagi santri-santri anyar yang begitu labil di subuh pertama mereka di Kempek.

“Pagi hari adalah saat dimana ilmu dan berkah diturunkan, makannya jangan tidur,” demikian wantiwanti Pengasuh Ponpes KHAS Kempek Cirebon KH Muh. Musthofa Aqil Siroj. Nasihat yang singkat, namun begitu luas makna yang tersirat.

Saat subuh tiba, para santri Ponpes KHAS Kempek berbondong-bondong mengambil air wudlu untuk melaksanakan salat berjama’ah di masjid. Tidak hanya itu, pengasuh juga menganjurkan untuk membaca aurod la ilaha illallah, kalimat tahid yang dibaca ratusan kali disaat pikiran masih kosong dari persoalan dunia. Kalimat itulah yang lebih dulu mendekatkan kepada sang pencipta.

Setelah itu para santri mengaji al-qur’an ala kempekan ke mashayikh. Setelah sebelumnya mereka muthola’ah dan cocogan berkali-kali. Betapa berkah pagi mereka.

Tidak lama setelah selesai mengaji al-qur’an, akang-akang santri terlihat ramai menggondol dua kitab besar, tafsir jalalain dan ihyaulumiddin, menuju kediaman Bapak, sapaan akrab pengasuh bagi para santrinya.

Sapa wonge ngaji tafsir jalalin, bakale balik ning umah mulia lan sapa wonge ngaji ihya ‘ulumiddin bakale balik ning umah ‘alim, barang siapa mengaji tafsir jalalain, maka akan mulia dan barang siapa mengaji ihyaulumiddin, maka akan menjadi orang ‘alim,” tutur adik ketua PBNU itu.

Dua kitab itu memang begitu legendaris dikalangan pesantren maupun perguruan tinggi. Tafsir jalalain, kitab yang dikarang oleh dua Imam Suyuthi dan Imam Mahalli, kedua imam yang memiliki karomah besar. Begitupun ihyaulumiddin, kitab yang dikarang oleh hujjatul islam Imam Ghozali, yang terkenal kecerdasannya.

Betapa berkahnya pagi di Kempek. Saat pikiran masih kosong dari persoalan dunia, lebih dahulu para santri dijejali amunisi penuh berkah dan ilmiah. Pagi yang akan terus menemani Kempek, menuntun para santri menuju kemuliaan.

Antara Akal Dan Syahwat

Oleh Muhammad Abror

KH. Muh. Musthofa Aqil Siroj mengatakan bahwa ketika manusia lebih mengedepankan akal  daripada syahwatnya, maka ia lebih unggul daripada malaikat. Tapi ketika manusia lebih mengunggulkan syahwat daripada akalnya, maka ia lebih rendah daripada binatang.

Allah memberikan malaikat berupa akal, tanpa syahwat. Sehingga mereka tidak pernah melakukan maksiat, seumur hidup mereka hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Demikian  karena pendorong maksiat adalah syahwat itu sendiri.

“Ada malailkat yang semasa hidupnya hanya untuk bersujud, mereka tidak pernah membantah perintah Allah. Itu karena mereka tidak memiliki syahwat,” tutur KH. Muh. Musthofa Aqil Siroj.

Hal itu disampaikannya saat Stadium general atau Muhadhoroh ‘Ammah Jum’at lalu. Kegiatan yang sudah rutin dilaksanakann setiap bulannya,
dengan mengkaji kitab ta’lim muta’allim.

Allah memberikan hewan berupa syahwat, tanpa akal. Makannya mereka tidak memiliki rasa malu. Seumur hidup mereka hanya untuk  memuaskan syahwat mereka. Tanpa berpikir maslahat, asal semua terlaksana dan syahwat mereka puas.

“Seekor ayam tidak malu berkejar-kejaran dengan lawan jenisnya di depan umum, malah kadang induknya sendiri yang dikejar-kejar. Apa mereka malu?” Lanjut Pengasuh Ponpes KHAS Kempek Cirebon itu.

Kemudian Allah menganugerahi manusia berupa akal dan syahwat. Dengan adanya keduanya inilah mereka mendapatkan pahala atau malah sebaliknya. Jika mereka menggunakan akal mereka, tanpa campur tangan syahwat, maka pahala yang ia dapat. Tapi sebalikya, jika mereka mendahulukan syahwat daripada akal, maka dosa yang ia peroleh.

“Tidak heran jika malaikat mengabdikan dirinya hanya untuk beribadah, karena memang mereka tidak memilki syahwat. Tapi jika manusia yang demikian, hidupnya hanya untuk beribadah, maka mereka lebih mulia daripada malaikat,” papar ketua majelis dzikir hubbul wathon itu.

Allah berfirman dalam al-qur’an surat al-isra ayat 70 :

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

Seperti biasa, malam stadium general disimak baik oleh ribuan Santri Ponpes KHAS Kempek Cirebon.

Pun tidak heran jika hewan hanya untuk memuaskan maksiat semasa hidupnya, karena memang mereka tidak memiliki akal. Lain halnya ketika manusia yang demikian, hanya hidup untuk memenuhi syahwat, maka mereka lebih rendah daripada binatang.

Allah berfiman dalam al-qur’an surat al-a’raf ayat 179 :

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Kta bisa lebih mulia daripada malaikat dan kitapun bisa lebih rendah dari hewan. Apakah kita mampu mandahulukan akal daripada syahwat, atau malah syahwat yang menutupi akal kita.

Buya: Prihatin Kebersihan Fasilitas Umum

Kebersihan merupakan hal pokok dalam beribadah, sebab kebersihan tak jarang menjadi prasyarat terlaksananya sebuah ibadah juga menjadi tujuan seusai mengerjakan sebabak ibadah, yakni kebersihan hati dan jiwa. Oleh karena itulah mengapa ulama-ulama fikih terdahulu senantiasa memposisikan bab thaharah (bersuci) sebagai permulaan dalam membahas tentang tata cara beribadah.

Demikian disampaikan Buya KH Ja’far Aqil Siroj, pengasuh pesantren Kempek Cirebon saat ditemui oleh kontributor NU Online di tengah-tengah kesibukannya menerima tamu di kediamannya. Selasa. (9/7).

“Terkait dengan datangnya bulan Ramadhan, bulan suci dengan limpahan rahmat, semestinya umat Islam juga menjadikan momentum ini sebagai media untuk memperhatikan kembali soal-soal kebersihan, saya prihatin, sebab di sepanjang jalan, fasilitas-fasilitas umum jarang sekali yang memerhatikan masalah kebersihan,” jelas Buya Ja’far.

Buya Ja’far mencontohkan fasilitas kamar kecil di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan tempat umum lainnya, kecenderungan menempatkan posisi ember atau bak air yang setara bahkan lebih rendah dari jamban akan berpotensi menjadikan proses bersuci tidak maksimal, hal tersebut adalah satu contoh di antara banyak fasilitas umum lain yang bisa berujung pada tidak sempurnanya nilai ibadah.

“Ini hanya salah satu contoh kasus saja, masih banyak lagi yang lainnya, yang jelas tugas masyarakat muslim yang tak lain adalah konsumen adalah dengan mengingatkan dan menyarankan agar fasilitas-fasilitas tersebut dapat mendukung kita dalam hal beribadah,” tambah Kiai yang juga ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cirebon ini.

 

Liputan Sobih Adnan,  untuk NU Online