Category Archives: Seputar Kempek

Semangat Santri Untuk Menjadi Wisudawan Alfiyah Ibnu Malik

Semangat Santri Untuk Menjadi Wisudawan Alfiyah Ibnu Malik

Kempek- “Selesailah sudah menimba ilmu di pesantren tercinta ini (MTM Pon-pes Kempek)’’ tutur salahsatu calon wisudawan Alfiyah ibnu malik tahun 2013 yang perhelatannya akan berlangsung tanggal 14 Desember 2013 itu.

Mengaji kitab Alfiyah ibnu malik sampai finish merupakan dambaan para santri MTM Kempek Cirebon, meskipun ditengah – tengah perjalanan mitosnya tak lepas dari godaan, dan memang jarang pada zaman globalisasi ini ditemukan santri-santri yang sampai lulus mengaji kitab yang sangat masyhur ini, di MTM pondok pesantren Kempek mengaji kitab Alfiyah ibnu malik sangat unik, pengajian kitab tersebut harus melalui jenjang dibawahnya terlebih dahulu yaitu: At-tamhidiyah, Al-‘Awamil, Al’Ajurumiyah, Al’imrithi, Mutammimah dan Alfiyah ibnu Malik.

Pengajian Alfiyah ibnu Malik di MTM kempek langsung ditangani oleh pengasuh pesantren yaitu Abuya H. Ja’far Shodiq ‘Aqiel Siroj, sosok ulama yang selalu mengedepankan kedisiplinan, Kyai yang akrab dipanggil Abuya ini juga sangat tegas dalam mendidik santri-santrinya terutama anak-anak Alfiyah, “Tak jarang dipengajian kami diwejangi amanat oleh beliau untuk mengaji yang rajin, mema’nai kitab yang lengkap, hidup yang bersih, dan lainnya’’ cetus kang Lufaepi (salah satu pujangga Alfiyah ibnu malik angkatan 1435 H ini).

Tak kalah hebat, di pesantren yang pernah menjadi tempat perhelatan MUNAS (Musyawaroh Nasional) dan KONBES (Konferensi Besar) Nahdlatul Ulama 2012 ini, pengajian Alfiyah ibnu Malik selain harus memahami dalam setiap babnya juga wajib hafal nadhom alfiyah 1002 bait, yang merupakan syarat setiap santri yang akan diwisuda.

Tepatnya tanggal 02 Desember 2013, santri-santri didikan Abuya Ja’far ini yang berjumlah 35 santri yaitu : Lufaefi Bin K. Abdul Mu’thi, Ahmad Marzuqi Bin Slamet (Alm), Muh. Arwani Bin Ali Mazhar, Hayat Saefurrohman Bin Sadori , Asep Rudi Bin Udi, Ridlwan Bin Raswad, Muh. ‘Ashim Bin Mukri, Imam Sibaweh Bin H. Ibnu Abbas, Muh. Zarnubi Bin Thoyib, Jamaludin Bin Darji, Muh. Shofy Bin Shodiqin, Muh. Habibi Bin H. Muhyidin, Rahmat Bin Akib, Khoirul Rohmat Bin Rajan, Fathul Anwar Bin Danuri Mahali, Muh. Nasichin Bin Robach Asyari, Ahmad Pangestu Bin Hasanudin, Abdul Hamid Bin Shidiq, Azmi Nurus Syamsi Bin Nasori, Muh. Ibrohim Bin Abdul Qohar, Maman Nuryaman Bin Abdul Fattah (Alm), A. Abdul Aziez Al Amien Bin Muh. Fathin, Sholahul Mu’minin Bin H. Muhammad, Asqolani Bin Mukromin, Muh.Nurrofiq Bin Abdul Ghofur,  Izzudin Bin H. Annas (Alm), Muh. Fahmil Ilmi Bin Sholahudin, Imaduddin Bin H. Zaenuddin (Alm), Abdul Roqib Bin Dasut, Ahmad Syauqi Alfahmi Bin Zaelani, Muh. Nurul Afkar Bin Ahmad Khariri, Hendra Apriliyana Bin H. Sirojul Munirmuh, Asrori Bin Tsabit, Sirojudin Bin Abdul Hadi Dan Sirojudin Achmad Bin Achmad Rochimin telah menghatamkan kitab Alfiyah ibnu Malik,

Rasanya tak ada kebahagiaan di pesantren Kempek selain telah menghatamkan kitab karangan Syekh Abu Abdillah bin Muhammad bin Malik Al andalusy ini. Berbagai bentuk syukuran telah banyak diprosesikan oleh anak-anak alfiyah, dari mulai Ziaroh qubur ke makam pendiri MTM Kempek KH. Aqiel Siroj, kemudian ke ulama kharismatik Syekh Abdul Lathif  Plumbon (ulama yang pertama kali melaksanakan ibadah haji untuk  kabupaten Cirebon) dan Syekh Jatira (Pendiri salah satu pesantren yang ada di kabupaten Cirebon), yang unik ziaroh ini dilakukan oleh para calon khotimin dengan berjalan kaki dari mulai tanah pesantren menuju kecamatan plumbon yang jaraknya sekitar 20 km dan dilakukan dimalam hari yang tujuannya agar mendapatkan karomah dari ulama – ulama yang telah masyhur di kota Cirebon ini .

Berbagai latihanpun telah dilaksanakan oleh calon khotimin alfiyah ibnu malik tersebut agar dalam prosesi kajian alfiyah ibnu malik berjalan dengan lancar yang akan berlangsung pada tanggal 14 desember 2013 bertempat di komplek yayasan KH. Aqil Siroj Kempek – Palimanan – Cirebon .

Dalam acara yang akan dihadiri oleh ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini, nantinya setiap wisudawan Alfiyah ibnu malik dan wisudawan al-Qur’an akan mendapatkan syahadah (ijazah) dan piagam penghargaan penghatam nadzom alfiyah 1002 bait sebagai bentuk real mereka telah finish mengaji Al-Quran ala kempekan dan mengaji kitab alfiyah ibnu malik .

*Publhiser: KHOTIMAINI (Kang Lufaepi & Kang Anwar).

Haul Ke-24 dan Tasyakkur Ke-39 (Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien) Pondok Pesantren Kempek Cirebon

Haul Ke-24 dan Tasyakkur Ke-39 (Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien) Pondok Pesantren Kempek Cirebon

Normal
0

false
false
false

EN-US
X-NONE
X-NONE

Cirebon- Dalam memperingati Haul Almarhumin KH. ‘Aqiel Siroj, Pendiri Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM) Kempek, KH. Nashir Abu Bakar dan Nyai Hj. Afifah Harun (Istri KH. ‘Aqiel Siroj) Masyayikh-masyayikh MTM Pondok Pesantren Kempek dan panitia mengundang Bapak/Ibu/Saudara/I, Alumni dan seluruh masyarakat untuk hadir dalam peringatan tersebut, yang insya Allah acara tersebut akan berlangsung pada hari Sabtu malam Minggu, tanggal 14 Desember 2013 M/ 11-12 Shofar 1435 H, acara yang setiap tahun berjalan ini akan bertempat di Gelanggang Olah Raga (GOR) MTM Pondok pesantren Kempek Palimanan-Cirebon-Jawa Barat.

Dalam perhelatan tersebut akan diisi beberapa agenda, yaitu: Prosesi khataman Al-Quran Kempek dan Gelar kajian Alfiyah Ibnu Malik yang disajikan oleh santri-santri putra yang telah menyelesikan pembelajaran Al-Qur’an ala kempekan yang tahun ini berjumlah 39 khotimin Alqur’an dan pembelajaran kitab yang sangat masyhur yaitu kitab Alfiyah ibnu Malik dan telah menghatamkan Nadhom Alfiyah ibnu Malik 1002 bait bil ghoib, yang telah diselesaikan oleh 35 khotimin tersebut, pembelajaran tersebut langsung ditangani oleh putra tertua Pendiri Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM) Kempek yaitu: Abuya H. Ja’far Shodiq ‘Aqiel Siroj, beliau yang juga sebagai ketua MUI (Majlis Ulama Indonesia) Kabupaten Cirebon ini telah mengajarkan Al-quran kempekan dan Alfiyah ibnu Malik sudah bertahun-tahun.

Dalam perhelatan tersebut juga tak kalah menarik akan diisi dengan kreasi-kreasi santri, diantaranya PASKIBRAKA (Pasukan Pengibar Bendera),  tari shaman, seni hadlroh dan dan seni angklung, yang semuanya akan diprosesikan oleh santri-santri MTM pondok pesantren Kempek sendiri

Peringatan yang di ketuai oleh menantu pengasuh MTM Pondok Pesantren Kempek, KH. Ahmad Zaeni Dahlan Lc, M. Phil juga insya Allah akan dihadiri oleh Habib Umar Mutohhar dari Semarang, dan juga akan dihadiri oleh ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Alama (PBNU) Prof. Dr. KH. Sa’id Aqiel Siroj yang juga merupakan putra kedua KH. ‘Aqiel Siroj, Pendiri Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM) Kempek ini, bukan hanya itu, beberapa menteri pun akan hadir dalam perhelatan tersebut, diantara: Ir. H. Muhammad Hatta Rajasa (Menteri Perekonomian RI), H. Djan Farid (Menteri Perumahan RI) dan Menteri-menteri lainnya.

Lufaefi. @Lufaefi

Kiai Musthofa Aqil Ngaji Kitab Bidayatul Hidayah

Ngaji pasaran merupakan tradisi pesantren dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, satu kitab khusus dibacakan di hadapan santri dan masyarakat umum selama hampir sebulan penuh. Salah satunya pesantren Kempek Cirebon, KH Musthofa Aqil akan membacakan kitab Bidyatul Hidayah karangan Imam Ghazali selama Ramadhan 1434 H ini.

Kiai Musthofa menuturkan bahwa kitab Bidayatul Hidayah menjadi penting untuk dibacakan pada bulan Ramadhan tahun ini, karena kajian di dalamnya memiliki simpulan penting bagi umat Islam agar menjadikan Ramadhan sebagai sarana untuk membersihkan diri.

“Saya memilih untuk membaca kitab Bidayatul Hidayah ini karena inti dari kitab ini adalah tentang pentingnya membersihkan hati, pikiran, dan jiwa. Hal ini sangat berhubungan dengan Ramadhan sebagai sarana untuk membersihkan diri, sudah waktunya kita menyisihkan kehidupan duniawi dan berkonsentrasi selama sebulan penuh untuk mencari ridla Allah Swt,” tutur kiai yang kerap disapa Kang Muh ini.

Pengasuh Ma’had Al-Ghadier Pesantren Kempek Cirebon ini menambahkan, bahwa godaan keduniaan sebelum Ramadhan memang tidak dapat dinilai sederhana, mulai dari tuntutan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, hiruk pikuk politik hingga persoalan-persoalan lain yang terlalu kerap membuat manusia lupa kepada Tuhannya.

“Ramadhan adalah bulan yang dipilih oleh Allah Swt untuk menurunkan pedoman manusia berupa Al-Quran suci,” tambahnya.

Selain itu, juga merupakan bulan khusus untuk menganugerahkan rahmat-Nya secara lebih berlimpah. Maka Ramadhan juga sebagai pilihan terbaik bagi umat manusia untuk kembali kepada Tuhannya.

“Serta bulan yang bisa dijadikan sebagai medan latihan penyeimbangan antara kebutuhan duniawi dan akhirat,” tambah Kiai Musthofa.

Pengajian pasaran Ramadhan kitab Bidayatul Hidayah ini rencananya akan disiarkan langsung di radio NU Online setelah shalat Tarawih. Selain Bidayatul Hidayah, Kiai Musthofa juga membaca kitab Tafsir Jalalain dan Ihya Ulumuddin seusai shalat Shubuh, dan kitab Hujjatu Ahlis Sunnah Wal-Jama’ah rangan Mbah Ali Maksum Krapyak kaseusai shalat Ashar.

 

Liputan Sobih Adnan, Dimuat di NU Online

 

 

 

 

 

 

Ribuan Orang Diijazahi Cucu Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Sekitar seribu orang yang terdiri dari santri, alumni, dan masyarakat umum dari sekitar Cirebon bahkan luar kota berkumpul untuk menyambut kedatangan Syekh Fadil Al-Jailani, keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang berasal dari Turki. Mereka mulai berkerumun seusai melakukan shalat Jum’at dan bersiap untuk mengikuti ijazah ‘aamah di Ma’had Al-Ghadier pesantren Kempek Cirebon. Jum’at (21/6).

Pengasuh pesantren Kempek Cirebon, KH Musthofa Aqil mengungkapkan bahwa pelaksanaan ijazah ini berisi ijab qabul  yang biasa diberlakukan dalam tradisi pesantren untuk mendapatkan keberkahan.  

“Setelah Syekh Faddhil memberikan sambutan, nanti para hadirin akan mendapatkan ijazah langsung dari Beliau, ijazah ini selain bertujuan untuk mendapatkan keberkahan juga merupakan suatu sarana pengabsahan mengenai kebersambungan sanad untuk memelajari kitab-kitab karangan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, dan ijazah untuk menyambungkan garis keilmuan seperti ini merupakan tradisi pesantren yang baik,” jelas kiai Musthofa.

Pelaksanaan ijazah dibawakan langsung oleh Syekh Fadhil Al-Jailani, pertama-tama keturunan salah satu tokoh besar Islam ini mengajak peserta untuk bertaubat dan beristighfar, kemudian mereka diminta untuk mengangkat tangan kanan dan dilangsungkan sebuah pelafalan ijab dan qabul, hingga kemudian Syekh Fadhil mengucapkan “Ajaztukum!” yang secara serentak dijawab oleh peserta dengan ucapan “Qabilna!” selama tiga kali berturut-turut.

Syekh Fadhil Al-Jailani menghabiskan waktu selama 30 tahun untuk berkeliling dunia dalam rangka menelusuri ribuan manuskrip karya Syekh Abdul Qadir AL-Jailani yang terpencar dan hilang. Kunjungan ke pesantren Kempek Cirebon ini merupakan kali kedua setelah sekitar dua tahun yang lalu melakukan hal yang sama.

 

Liputan Sobih Adnan, Dimuat di NU Online

 

 

 

 

 

 

Pesantren Kempek Sambut Kehadiran Cucu Syekh Abdul Qadir Jailani

Keluarga besar pesantren Kempek Cirebon menyambut kunjungan salah satu cucu Syekh Abdul Qadir Jailani yang berasal dari Turki, Syekh Fadhil Al-Jailani. Kehadiran cucu salah satu tokoh sufi terbesar sepanjang sejarah Islam tersebut juga disambut oleh ribuan santri yang berkumpul untuk mendengarkan ceramah dan mengikuti ijazah ‘Aamah yang akan dipimpin Syekh Fadhil secara langsung di Ma’had Al-Ghadier Pesantren Kempek Cirebon. Jum’at (21/6).

Dalam sambutannya, KH Musthofa Aqil, pengasuh Ma’had Al-Ghadier pesantren Kempek Cirebon menerangkan bahwa Syekh Fadhil merupakan salah satu dari ribuan keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, namun dia adalah satu-satunya keturunan yang diamanati untuk menjaga sekaligus menelusuri karya-karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang telah hilang.

“Syekh Abdul Qadir Al-Jailani memiliki keturunan yang banyak, bahkan ribuan, tersebar ke seluruh dunia, Timur Tengah, Eropa, dan beberapa tersebar di Asia, namun Syekh Fadhil Al-Jailani ini merupakan satu-satunya cucu (keturunan) yang mendapatkan amanat untuk menelusuri karya-karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang hilang,” terang kiai Musthofa.

Kiai Musthofa melanjutkan bahwa karya-karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani sangatlah banyak, dari 7000 kitab yang ada baru 114 yang terbaca oleh masyarakat umum, dan 34 jilid yang tercetak ulang dengan rapi.

“Sebenarnya banyak sekali karya Syekh Abdul Qadir yang tidak kita ketahui, jumlahnya hingga puluhan ribu, yang tercetak dan terbaca hanya beberapa, jika dikelompokkan di bidang pembahasan tafsir hanya 6 jilid, hadits 10 jilid, dan fiqih 20 jilid. Belum lagi akibat pergolakan di Suriah kemarin, 20.000 manuskrip karya agung tersebut hancur, dan yang terselamatkan hanya 41 buah,” lanjut kiai Musthofa.

Syekh Fadhil Al-Jailani telah mengabdikan usianya selama 30 tahun untuk menelusuri karya dan manuskrip yang ditulis oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang terpencar bahkan hilang. Kehadirannya di pesantren Kempek Cirebon ini merupakan kali kedua setelah tahun 2011 yang lalu melakukan kunjungan yang sama dalam rangka melakukan penelusuran naskah di Indonesia dan menggelar ijazah bagi masyarakat pesantren.

 

Liputan Sobih Adnan, Dimuat di NU Online

 

 

 

 

 

 

1 5 6 7