Category Archives: BERITA

PERGAMANAS 2015

Untuk kesekian kalinya Pondok Pesantren kita dipercaya menjadi tuan rumah acara tingkat Nasional, setelah acara Seminar International 2012 dan  Musyawarah Nasional Nahdlatul Ulama (MUNAS NU) tahun 2012, Insya Allah  pada tangga 7-14 Januari 2015 akan diselenggaraan Perkemahan Regu Penggalang Pramuka Ma’arif NU Nasional (Pergamanas).

Dukungan dari segenap Alumni, Wali Santri dan Instansi terkait menjadi salah satu modal utama sukses tidaknya  acara tersebut diatas, oleh karena itu mari kita dukung penuh acara PERGAMANAS di Ponpes KHAS Kempek, Suksesnya acara Kesuksesan Buat kita Semua,

Salam Pramuka.

KUNJUNGAN KAPOLDA JAWA BARAT DI PONDOK PESANTREN KEMPEK CIREBON

Rabu siang (27/08), Madrasah Tahdzibul Mutsaqqofin Pondok Pesantren KHAS Palimanan dikunjungi Bapak Irjen. Pol. Drs. M. Iriawan, S.H., M.M., M.H. (KAPOLDA JABAR) beserta jajarannya dan Bupati Cirebon. Kunjungan ke-2 se-wilayah Cirebon setelah pondok pesantren Gedongan (26/08) ini merupakan tanggapan tegas dari kepolisian Jawa Barat atas kelompok pemberontakan dan doktrin-doktrin ISIS (Islamic state of Iraq and Syiria) terhadap masyarakat sekitar yang marak akhir-akhir ini.

“NKRI harga mati, karena yang membuat Negara adalah kyai”, tegas KH. Musthofa Aqiel Siradj (Pengasuh Pon-Pes KHAS) dalam sambutannya. Bapak KAPOLDA juga meminta dengan sangat kepada Kang Muh (panggilan akrab KH. Musthofa Aqiel, red) agar selalu mengingatkan para santrinya dan masyarakat sekitar untuk berhati-hati terhadap wabah ISIS yang sangat mengancam eksistensi agama Islam sebagai agama rahmatan lil alamin. Pasalnya ISIS dikhawatirkan menyusup ke pesantren-pesantren di wilayah Jawa Barat yang notabene adalah tonggak pendidikan keagamaan salafi.

Menurut Kang Muh, “pihak kepolisian tidak usah khawatir terhadap santri (Kempek), karena santri tidak pernah demo apalagi memberontak, karena santri disini (Kempek) digembleng akhlak.” tegasnya dalam sambutan Pengasuh Pon-pes. “Al-Qur`an menyebutkan sekitar 500 ayat tentang hukum syari`at dan selebihnya menjelaskan tentang akhlak, mereka (ISIS) hanya belajar tentang ayat-ayat hukum saja, akhirnya mereka menjadi kaum ekstrimis”. Lanjut Kang Muh menanggapi kelompok ISIS.

Selain pihak Kepolisian, maraknya ISIS akhir-akhir ini menjadi ancaman juga bagi warga Negara, pasalnya konsep yang ditawarkan oleh ISIS memang sangat kontras dengan semboyan persatuan NKRI, Bhineka Tunggal Ika, dan Pancasila.

“Indonesia adalah negeri berbeda suku, ras, etnis dan budaya, jika berkiblat pada Negara lain yang tidak se-visi dan misi maka bukanlah NKRI.” Tutur Agus Said (22). Selain pesantren Kempek, kepolisian Jawa Barat juga mengunjungi sejumlah pesantren lainnya seperti Gedongan, Buntet dan pon-pes lainnya.

Semoga NKRI tetap menjadi harga mati bagi warganya, seperti yang disampaikan Kang Muh, dan visi misi pesantren selalu memberikan dorongan bagi warga Indonesia agar selalu berakhlakul karimah serta menjunjung tinggi perdamaian. (Ahmad Ali Syauqi)*

*Penulis adalah khadim Madrasah Tahdzibul Mutsaqqofin Pesantren KHAS Palimanan Cirebon.

Halal Bihalal, Mengurai Kekusutan Persaudaraan

Istilah halal bihalal banyak digunakan masyarakat Indonesia saat berkumpul dengan sanak saudara dan kerabat seusai perayaan Idul Fitri. Meskipun mengandung unsur bahasa Arab, kata halal bihalal tidak ditemukan dalam kamus Arab modern maupun klasik.

“Halal bihalal hanya merupakan penyebutan khusus terhadap sebuah tradisi yang dikembangkan secara mandiri  oleh masyarakat muslim Indonesia, dengan makna menguraikan kekusutan tali persaudaraan,” ungkap KH Niamillah Aqil, pengasuh Pondok Pesantren Kyai Haji Aqiel Siroj (Khas) Kempek Cirebon pada acara Halal Bihalal Ke-9 Ikatan Santri dan Alumni Astanajapura (Istajap) di Halaman Madrasah Diniyah Wathoniyah Desa Rawaurip Kecamatan Pangenan Kabupaten Cirebon, Sabtu (2/8) malam.

Kiai Niam melanjutkan, kata halal bihalal bisa disasarkan pada asal bahasa halla-yahallu-hallan, dengan makna terurai atau terlepas. Dengan arti, halal bihalal merupakan sebuah media untuk mengurai kekusutan hubungan persaudaraan dengan saling memaafkan pada saat hari raya Idul Fitri.

“Misal saja, selama setahun sebelum Idul Fitri di tengah-tengah kita terjadi kesalahpahaman, atau banyak kesalahan-kesalahan lain yang dilakukan secara sengaja maupun tidak di antara sesama, maka halal bihalal ini adalah waktu untuk menguraikan keruwetan yang tentu mengganjal hati tersebut. Dengan cara meminta maaf dan juga memaafkan,” jelasnya.

Sedangkan mengapa istilah halal bihalal hanya berlaku setelah Idul Fitri, Kiai Niam menambahkan, hal tersebuut juga karena memiliki hubungan kuat dengan makna lafal Idul Fitri, yakni perayaan kembalinya manusia pada kesucian.

“Idun berarti suatu perayaan yang diulang-ulang, sedangkan fitri bermakna suci. Maka Idul Fitri merupakan perayaan kembalinya manusia terhadap kesucian yang itu hanya bisa diraih dengan memperoleh ampunan dari Allah swt, dan mendapatkan maaf dari sesama manusia,” ujar Kiai Niam.

Selain Kiai Niam,  hadir pula KH Muhammad Bin ja’far yang menyampaikan sambutan atas nama Pimpinan Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon. Menurut Obid Qobidurrizki, Ketua Panitia, acara yang dihadiri ratusan santri, alumni dan warga setempat ini merupakan sebuah wahana siaturrahmi sekaligus media syiar kepesantrenan secara langsung di tengah-tengah masyarakat. (Sobih Adnan/ NU Online)

 

Mudik dan Arus Balik Tradisi yang Baik

Jika bertumpu pada tujuan utama untuk memperkuat  tali silaturahim, kegiatan mudik yang banyak dilakoni masyarakat Indonesia jelang hari raya Idul Fitri merupakan tradisi yang baik dan patut dipertahankan. Hal ini mengacu pada semangat Islam sebagai agama persaudaraan sekaligus ajaran sosial yang baik.

Demikian disampaikan KH Muhammad Bin Ja’far dalam sambutannya atas nama Pimpinan Pondok Pesantren Kyai Haji Aqiel Siroj (Khas) Kempek Cirebon pada acara Halal Bihalal Ke-9 Ikatan Santri dan Alumni Astanajapura (Istajap) di halaman Madrasah Diniyah Wathoniyah Desa Rawaurip Kecamatan Pangenan Kabupaten Cirebon, Sabtu (2/8) malam.

“Asalkan tetap pada tujuan yang baik, yakni memperkuat silaturrahmi setelah setahun lamanya terpisah dengan keluarga dan kerabat di kampung,” katanya.

Kiai Muhammad melanjutkan, patut diakui bahwa tradisi mudik dan arus balik tidak ditekankan secara tekstual dalam ajaran agama Islam. Tradisi tersebut, tambah putra almarhum Buya Ja’far ini, hanya merupakan adat dan tradisi yang banyak dilakukan oleh masyarakat muslim Asia Tenggara, terutama di Indonesia.

“Di Timur Tengah sendiri, atau di Mekkah yang notabene merupakan pusat sejarah Islam tidak ditemukan tradisi mudik maupun arus balik. Meskipun begitu, ini tetap dikatakan sebagai tradisi yang baik, dengan catatan dilakukan dengan niat, tujuan dan cara yang baik,” pungkasnya.

Selain Kiai Muhammad, hadir pula KH Niamillah Aqil Siroj menyampaikan ceramah keagamaan. Menurut Obid Qobidurrizki, Ketua Panitia, acara yang dihadiri ratusan santri, alumni dan warga setempat ini merupakan sebuah wahana siaturrahmi sekaligus media syiar kepesantrenan secara langsung di tengah-tengah masyarakat.

(Sobih Adnan/NU Online)

 

PENGUMUMAN

PENGUMUMAN

Assalamu’alaikum,Wr,Wb.

Segenap Pengurus Web Yayasan KHAS Kempek, Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri Mohon Maaf Lahir dan Bathin, Semoga Amal Ibadah kita semua diterima Oleh Allah SWT dan semoga kita semua bisa dipertenukan dengan Bulan Ramadhan tahun depan,Amiiin Ya Rabbal ‘Alamiin,
dengan ini kami umumkan bahwa masa liburan Syawal 1435 H akan berakhir pada hari Selasa Tanggal 5 Agustus 2014, oleh karena itu bagi seluruh Santri Putra maupun Putri diharap berangkat dan datang di Pondok tepat waktu,
Demikian Pengumuman ini kami sampaikan,

Atas Perhatiannya kami sampaikan Terima Kasih.

 Wassalam,Wr,Wb.

BERSAMA PEDULI MEMBANGUN INDONESIA (KHUTBAH IDUL FITRI)

BERSAMA PEDULI MEMBANGUN INDONESIA (KHUTBAH IDUL FITRI)

Oleh: Prof. DR. KH. Said Aqil Siroj, MA.

بسم الله الرحمن الرحيم

الخطبة الأولى لعيد الفطر

الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر.

الحمد لله الذى عاد علينا نعمه فى كل نفس ولمحات وأسبغ علينا ظاهرة وباطنة فى الجلوات والخلوات. وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له الذى امتن علينا لنشكره بأنواع الذكر والطاعات. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله سيد الأنبياء والمرسلين وسائر البريات. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه أهل الفضل والكمالات.

الله أكبر أما بعد : أيها الحاضرون ! هذا يوم العيد. هذا يوم الفرح. فرح المسلمون لتوفيق الله إياهم باستكمال بلاء ربهم بفرض الصيام مع الترويحات فرح المسلمون بوعد ربهم بغفران ما اجترحوا من السيئات واستحلال بعضهم من بعض فى الحقوق والواجبات.

إخوانى الكرام ! فى هذا اليوم حرم الله علينا الصيام بعد أن فرضه علينا جميع الشهر وأخبر أنه فرضه لنكون من المتقين. فمن هذا اليوم ينبغى لنا أن نبعث فى أنفسنا بارتقائها على مراتب التقوى ونهتم بدين ربنا حتى ننال ما وعدنا ربنا حقا.

الله أكبر ! إخوانى الكرام ! إن الله شرع لنا هذا العيد لنعود الى السمع والطاعة. ونعمل بكتابه بالجد والإجتهاد والقوة. ونبتعد عن التقصير والأعمال كما وقع فى أعوامنا الماضية.

الله أكبر. وقال تعالى : ومن أظلم ممن ذكر بأيات ربه فأعرض عنها ونسى ما قدمت يداه. إنا جعلنا على قلوبهم أكنة أن يفقهوه وفى أذانهم وقرا وإن تدعهم إلى الهدى فلن يهتدوا إذن أبدا.

الله أكبر, إخوانى الكرام ! إعلموا أن الله تعالى قد طالبنا فى إقرارنا أن نطيع ونسمع. فقال تعالى ألم ياءن للذين أمنوا أن تخشع قلوبهم لذكر الله وما نزل من الحق ولا يكونوا كالذين أوتوا الكتاب من قبل فطال عليهم الأمد فقست قلوبهم وكثير منهم فاسقون.

الله أكبر. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم. بادروا بالأعمال قبل ان تظهر فتنا كقطع الليل المظلم يصبح الرجل مؤمنا ويمسى كافرا ويمسى مؤمنا ويصبح كافرا. يبيع أحدهم دينه بعرض قليل من الدنيا. رواه مسلم عن أبى هريرة

Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah. Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan puja kehadirat Allah Swt. karena pada pagi hari ini kita masih diberikan karunia untuk melakukan shalat Ied, setelah sebelumnya kita diberi kesempatan untuk menunaikan ibadah puasa. Mudah-mudahan kita dapat mensyukuri karunia ini dengan sungguh-sungguh, khususnya karunia kesehatan dan kebahagiaan.

Hari ini kita masuk ke bulan Syawal dan merayakan Idul Fitri. Hari ini kita kembali kepada fitrah yang suci, kembali kepada lembaran yang bersih. Semuanya ini dalam rangka meningkatkan takwa kita. Membersihkan hati kita ini semata-mata hanyalah ibadah kepada Allah Swt. Dalam sebuah kata-kata hikmah dikatakan: “Laisa al-‘id li man yalbasu al-jadid, wa innama al-‘id li man taqwahu yazid”, yang berarti bukanlah disebut hari raya itu hanya untuk orang yang berpakaian baru saja, atau alat perabot rumah tangga yang baru saja. Tapi, yang dinamakan hari raya itu adalah bagi orang yang bertambah taatnya kepada Allah Swt. Selain melestarikan hablun minallah, Idul Fitri ini juga berfungsi sebagai sarana hablun minan nas.

Menghayati inti ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. dan menyadari persoalan bangsa yang pada saat ini serta memperhatikan bagaimana perjuangan Rasulullah dalam membangun masyarakat yang damai dan sejahtera melalui ajaran Islam (Islam tamaddun), maka dalam suasana Idul Fitri ini akan tepat kiranya jika kita gunakan sebagai momentum untuk membangun Indonesia ke depan yang lebih cerah. Puasa dan Idul Fitri sudah seharusnya dijadikan sebagai momentum untuk membangun gerakan kebangkitan bangsa ke depan, bukan sekedar ritual atau banalitas tahunan bagi umat Islam.

Puasa dan Idul Fitri seyogyanya mampu melahirkan persepsi dan kesadaran yang benar terhadap persoalan bangsa yang sesungguhnya. Persoalan bangsa Indonesia yang kita hadapi sekarang ini sesungguhnya, bukanlah sebatas menyangkut satu bidang misalnya masalah ekonomi atau seperti yang dilontarkan banyak pengamat, kita tengah mengalami krisis enerji dan pangan, melainkan lebih mendasar dan luas dari sebatas itu. “Laisa minna ma lam yahtamma bi amril muslimin”, bahwa tidak termasuk umatku mereka yang tidak peduli terhadap urusan umat Islam.

Memang membangun ekonomi adalah penting, akan tetapi bukanlah segala-galanya. Bangsa yang berperadaban tinggi selalu dibangun di atas dasar keyakinan, jiwa atau spritualitas yang dalam serta akhlak yang luhur. Keadaan ekonomi yang kurang baik, di tengah-tengah negeri yang subur seperti Indonesia, sesungguhnya merupakan akibat dari lemahnya iman, spritualitas, keterbatasan ilmu dan akhlak yang disandangnya. Betapa pentingnya aspek-aspek ini untuk membangun peradaban, maka ayat-ayat al-Quran pada fase awal yang diterimakan kepada Rasulullah adalah menyangkut ilmu pengetahuan (yakni dalam bentuk perintah membaca, Iqra’), larangan berbuat angkara murka dan sebaliknya, beliau diperintah untuk membangun akhlaq yang mulia (bu’itstu li utammima makarimal akhlaq). Dikatakan bahwa “ad-dinu husnul khulq” bahwa agama identik dengan kebaikan budi pekerti.

Puasa dan Idul Fitri harus mampu membangkitkan jiwa optimisme yang kuat terhadap kehidupan hari esok yang lebih baik. Akhir-akhir, muncul dari kalangan luas rasa pesimisme yang berkelebihan terhadap keadaan negeri ini. Barangkat dari suasana pesimisme itu, bangsa ini dilabeli dengan identitas yang sedemikian rendah, seperti disebutnya sebagai bangsa yang terpuruk, bangsa korup, bangsa yang carut marut, bangsa yang berada pada titik nadir dan istilah-istilah lain yang kurang sedap. Istilah-istilah seperti itu bisa jadi akan melahirkan mental bangsa yang inferior, (‘adamu ats-tsiqah) tidak percaya diri dan selalu berharap pada uluran pertolongan bangsa lain. Bangsa Indonesia sesungguhnya tidak semalang itu.

Sebaliknya, bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang beruntung, memiliki tanah kepulauan yang luas lagi subur, samudera dan lautan yang luas, aneka tambang, serta penduduk berjumlah besar. Semua itu adalah karunia Allah, yang seharusnya selalu disyukuri dan dijadikan modal untuk membangun kemakmuran bersama.

Puasa dan Idul Fitri agar bermakna terhadap upaya menjadikan Indonesia bangkit, harus mampu melahirkan sikap solidaritas sosial atau kemauan berjuang dan berkorban yang tinggi. Membangun bangsa tidak akan berhasil jika tidak terdapat orang-orang yang rela berjuang dan berkorban. Sejarah bangsa ini membuktikan secara jelas tentang hal itu. Indonesia berhasil meraih kemerdekaan dari penjajah, adalah sebagai buah dari adanya kesediaan para pejuang termasuk di garda depan adalah peran para ulama-ulama kita yang ikhlas mengorbankan apa saja yang ada padanya. Demikian pula, Rasulullah Muhammad Saw. tidak akan mampu mengubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat madani yang damai dan berperadaban jika tidak ditempuh melalui perjuangan dan pengorbanan yang berat.

Dan selaras dinamika yang ada, pemerintah sudah seharusnya untuk terus menerus memegang teguh pada prinsip memperjuangkan kemakmuran dan kemahslahatan rakyat. Dalam kaidah fikih dikatakan, “tasharruf al-imam ‘ala ar-ra’iyyah manuthun bi al-mashlahah,” bahwa kebijakan pemerintah wajib ditaati selama kebijakan tersebut berpijak pada kebijakan yang memberikan kebaikan bagi banyak rakyat. Imam Syafi’i menggambarkan hubungan rakyat dan penguasa ibarat hubungan wali dengan anak yatim.

Puasa dan hari raya Idul Fitri selayaknya melahirkan sifat-sifat profektif, seperti amanah, ‘adalah, istiqamah dan salam. Sifat-sifat itu sangat diperlukan untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan maju. Lebih daripada itu, puasa dan Idul Fitri seharusnya berhasil melahirkan suasana batin yang pandai bersyukur, ikhlas, tawakkal dan istiqamah. Di sinilah, pentingnya memahami dan meresapi kata-kata “ad-dinu huwa an-nashihah lillahi wa li rasulihi wa lil mu’minin”, bahwa agama ada nasehat.

Kaum Muslimin yang Dimuliakan Allah. Akhirnya, melalui momentum Idul Fitri ini, marilah kita bersama-sama menyadari betapa pentingnya semua komponen bangsa ini bersigap dan bertekad untuk ikut berpartisipasi secara aktif dalam membangun bangsa. Demikian juga, NU sebagai organisasi Islam terbesar di negeri ini, yang diakui telah memberikan corak bagi khazanah keberagamaan, sosial, politik dan budaya di Indonesia, tentu saja akan berupaya semaksimal mungkin untuk turut memikirkan dan menindaki dalam rangka membangun Indonesia yang lebih maju dan beradap. NU menyadari sepenuhnya bahwa upaya membangun bangsa bukan sekedar memakmurkan secara fisik, melainkan yang terpenting adalah membangun peradaban (tsaqafah wa al-hadharah). Hal ini demi terwujudnya impian Indonesia menjadi “negeri yang berperadaban adiluhung” (madinah al-fadhilah).

بارك الله لى ولكم فى القرآن العظيم ونفعنى وإياكم بفهمه إنه هو البر الرحيم

الخطبة الثانية لعيد الفطر

الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر, الله أكبر.

الحمد لله أفاض نعمه علينا وأعظم. وإن تعدوا نعمة الله لا تحصوها, أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له. أسبغ نعمه علينا ظاهرها وباطنها وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. رسول اصطفاه على جميع البريات. ملكهاوإنسها وجنّها. اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى أله وأصحابه أهل الكمال فى بقاع الأرض بدوها وقراها, بلدانها وهدنها.

الله أكبر أما بعد : إخوانى الكرام ! استعدوا لجواب ربكم متى تخشع لذكر الله متى نعمل بكتاب الله ؟ قال تعالى ياأيها الذين أمنوا استجيبوا لله ولرسوله إذا دعاكم لما يحييكم واعلموا أن الله يحول بين المرء وقلبه وأنه إليه تخشرون.

الله أكبر. اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أل سيدنا محمد. كما صليت على إبراهيم وعلى أل إبراهيم, وبارك على محمد وعلى أل محمد, كماباركت على إبراهيم وعلى أل إبراهيم فى العالمين إنك حميد مجيد.

الله أكبر. اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات. إنك سميع قريب مجيب الدعوات وقاضى الحاجات. اللهم وفقنا لعمل صالح يبقى نفعه على ممر الدهور. وجنبنا من النواهى وأعمال هى تبور. اللهم أصلح ولاة أمورنا. وبارك لنا فى علومنا وأعمالنا. اللهم ألف بين قلوبنا وأصلح ذات بيننا. اللهم اجعلنا نعظم شكرك. ونتبع ذكرك ووصيتك. ربنا أتنا فى الدنيا حسنة وفى الأخرة حسنة وقنا عذاب النار. ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب.

الله أكبر. عباد الله ! إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذى القربى وينهى عن الفحشاء والمنكر. يعذكم لعلكم تذكرون. فاذكروا الله يذكركم واشكروا على نعمه يشكركم. ولذكر الله أكبر

(Sumber: NU-Online)

http://pustakamuhibbin.blogspot.com/2014/07/bersama-peduli-membangun-indonesia_91.html

 

Tiga Ratus Lima Puluh Santri Khatamkan Juz ‘Amma Kempekan

Sebagai acara penutup dari kegiatan ahir sanah Pesantren KHAS (Kyai Haji Aqiel Siroj), pesantren yang juga merupakan asuhan ketua umum PBNU ini ajangkan agenda Muwaada’ah (perpisahan), ikhtitam al-kutubil muqorroroh (telah selesainya pengajian kitab-kitab klasik) dan khataman juz ‘amma, pada hari Rabu (23/06/14), yang digelar di halaman Al-Ghadzier Pesantren KHAS Kempek, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat.

 

Dalam acara yang dihadiri ribuan warga dan santri tersebut, 350 santri diwisuda sebagai tanda mereka telah menyelesaikan satu juz dari al-qur’an, yani juz ‘amma ala kempekan. Cukup meriah dari beberapa agenda yang dipaparkan dalam acara tersebut, salah satunya saat prosesi khataman juz amma 350 santri dipentaskan.

 

’’ sebelum acara ini berlangsung, seminggu yang lalu kami telah mengadakan musabaqoh-musabaqoh, yang tujuannya untuk mengasah santri akan ilmu yang mereka dapatkan selama setahun’’.Tutur Kang Lukman Hakim, yang merupakan panitia acara, sembari sekalian mengumumkan pemenang pemenang musabaqoh.

 

KH Musthofa Aqiel Siroj, yang merupakan pengasuh pesantren KHAS, dalam sambutannya sempat memaparkan tentang al-quran bacaan ala kempekan, beliau mengatakan bahwa, ‘’Saya pernah ada seseorang yang menjelek-jelekan al quran bacaan kempek karena bacaannya, washolan, waqofnya tidak umum,  saya sebagai Kyia kempek langsung berkomentar, Tujuan bacaan alquran kempek adalah bukan untuk musabaqoh atau qiro’ah lagu, tapi untuk pembelajaran supaya makhorijul huruf atau ma’na yang terkandung dalam al quran tidak rancu, sebagai contoh Qul a’uudzubirobbinnasi malikinnaasi ilaahh, ilaahinnas…, didalam bacaan kempek dalam kata ilaah berhenti, sebab dengan berhenti kita tau dan benar cara pengucapan huruf HA yaitu di dada kita terasa getaran, jik tidak berhenti, dengan dibaca Qul a’uudzubirobbinnasi malikinnaasi ilaahhilaahinnas, maka kita tidak tau dan tidak benar dalam makhorijul huruf HA, begitupun semua bacaan, washolan, waqof dan lainnya dalam bacaan al quran kempek mempunyai maksud yang sangat harus setiap orang pelajari’’.

 

Kang Muh, sapaan akrab Kyai Musthofa berhararap agar wali khotimin bersykur kepada Allah, karena anak-anaknya bias menghatamkan juz amma kempekan, sebab tidak mudah orang belajar lagu kempekkan.

 

Dalam agenda ahir pondok tersebut, pengurus pondok pesantren KHAS Kempek memohon maaf kepada kyai, dzurriyah, wali santri dan seluruh santri, apabila selama satu tahun belakang kepengurusan mempunyai banyak kekurangan dalam mengurus santri atau lainnya.

 

Oleh: Lufaepi.

 

Prabowo Hadiri Halaqoh Se-Jabar di Pesantren KHAS Kempek

Capres dari koalisi merah putih hadir dalam halaqoh warga nahdliyyin se-jabar, pada hari jum’at (27/06/14), di pondok pesantren KHAS Kempek, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat.

 

Di pesantren yang merupakan milik keluarga Prof Dr KH Said Aqil ini, Prabowo hadir didampingi segenap pengurus partai koalisi Merah Putih. Tak ketinggalan, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, ketua umum partai golkar jawa barat, Yance,  juga hadir mendampingi kedatangan Capres nomor urut satu itu.

 

Acara yang dihadiri tidak kurang dari 10.000 warga nahdliyin tersebut, beragendakan beberapa sambutan, dari mulai sambutan pengasuh pesantren atas nama tuan rumah, KH Musthofa Aqiel Siroj, sambutan Ketua PBNU, KH Said Aqiel Siroj, sambutan Prabowo Subianto, dan tausiyah oleh Habib Luthfi.

 

Kang Muh, sapaan akrab KH Musthofa Aqiel Siroj menegaskan bahwa, ‘’kita saat ini butuh pemimpin yang cerdas, pemimpin yang tegas untuk menjunjung tinggi martabat bangsa ini, pemimpin Indonesia harus pemimpin yang sergap saat ada masalah dalam negeri ini, tanpa menunggu nunggu membuat panitia segala, yang ahir-ahirnya hilanglah hukum yang akan dijalankan’’.

 

“Saya selaku pribadi mengatakan Prabowo-Hatta pilihan para kiai, habaib, para sesepuh NU. Sudah jelas, tidak ada keraguan lagi, ditambahkan pula, kiprah Prabowo selama ini sejalan dengan semangat perjuangan NU, yang mengayomi seluruh kelompok masyarakat dalam ranah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)” tegas Kang Said.

 

Menyinggung profil Hatta Rajasa, Said Aqil menyatakan keluarga besar mantan Menteri Koordinator Perekonomian ini bukan muhammadiyah, justru nahdliyin. Hatta belakangan dipercaya menjadi Ketua Umum PAN, partai yang lahir di lingkungan Muhammadiyah. 

 

“Begitu pula (Ketua Tim Pemenangan Prabowo-Hatta Wilayah Jabar) Pak Ahmad Heryawan, dulu nyantrinya di pesantren NU. Beliau tokoh Persatuan Ummat Islam, PUI, yang juga sangat sejalan dengan semangat NU,” papar Ketua PBNU, yang sambutannya diselingi canda khas nahdliyin.

 

Sementara itu, di depan ribuan kalangan dan ulama Nahdlatul Ulama se-Jawa Barat, calon presiden nomor urut 1, Prabowo Subianto menyatakan bahwa bahwa istana Merdeka akan selalu terbuka untuk kalangan Nahdliyin jika nanti dia memimpin.Dia bahkan minta selalu diingatkan para kyai NU dalam memimpin negara ini.

 

“Hari ini saya besar hati dan dapat dorongan luar biasa. Saya merasa tidak akan gentar hadapi apapun. Kalau Insya Allah saya menerima mandat dari rakyat, jangan segan untuk undang saya ke sini lagi. Dan juga, yakinlah kyai-kyai NU akan selalu punya tempat di Istana Merdeka,” Tutur mantan jendral kopassus itu.

 

Dia berbicara kepada massa NU di kempek tidak lama, sekitar 30 menit saja. Di ujung pidato politiknya itu, dia mengungkap rahasia yang dia simpan selama ini. 

 

“Saya kira saya buka saja ya rahasia ini… toch sudah waktunya saya buka,” kata calon presiden nomor urut 1, Prabowo Subianto, di depan ribuan nahdliyin. Ya, Prabowo membuka rahasia yang selama ini dia simpan dari podium di pondok pesantren asuhan kyai musthofa itu. “Waktu saya baru maju dan tidak ada bayanang siapa wakil presiden, orang yang pertama saya dekati adalah KH Said Agil Siradj. Tapi beliau tolak sampai tiga kali saya minta,” kata Prabowo. Sementara Kang said hanya tersenyum di depan panggung saat ungkapan tersebut dituturkan.

 

“Tapi beliau konsekuen karena sudah punya komitmen ketua umum PBNU tidak berpolitik praktis.  Saya hanya ceritakan, saya belajar pada saat itu, oh begini jadi negarawan, pemimpin itu harus menerima semua jabatan,” katanya. 

 

Massa NU dari berbagai kawasan di seputaran Cirebon dan Kuningan bergemuruh memberi tepuk tangan meriah. 

Acara yang gelar saat pesantren liburan tersebut, sangat meriah dengan dihadiri warga nahdliyin dari berbagai kecamatan di jawa barat.

 

Oleh: Lufaepi

 

1 2 3 4 5 7