Buya, kami rindu

Oleh : Siroj Achmed

Aku masih sangat hafal subuh itu…
Kala engkau bershalawat, khusyu’
Aku malah tarik guling lanjutkan tidurku
Diiringi lantunan zikirmu yang merdu

Aku masih sangat ingat suara itu…
Pekat malam tak lagi kelam
Petang pun jadi terang
Sunyi sepi berganti syiar kalam ilahi
Melahirkan pagi penh mimpi bagi para santri
Kini, suara itu pun masih sangt melekat erat di telingaku.

Aku masih sangat hafal pagi itu…
Pagi yang selalu menghidangkan ketegangan
Menawarkan kecemasan
Detak jantung pun kian berpacu
Dengan kebodohan yang sangat memilukan
Di ruangan yang tak ubahnya medan perang
Hening…
Bening…
Semua mata dan pikiran fokuskan kitab kuning..
“Qola Muhammadun Huwa ibnu Maliki # Ahmadu Robillaha Khoiro Maliki
Wa Alihil Ghurril Kiromil Baroroh # Wa Sohbihil Muntakhobilal Khiyaroh”
Ya, aku masih sangat hafal nadzoman itu
Kala aku, kita juga Buya mendendangkannya
Penuh semangat setiap hari.

Baru kemarin kita hatamkan bersama
Dan terakhir oleh Buya.

Tuhan, jika saja kini Kau izinkan aku dimakamkan
Dan Kau pertemukan aku dengan Buya
Aku akan berkata padanya :
“Buya, kami sangat merindukanmu”