Bait-Bait Pengganjal Lapar

Mentari sore tersenyum menyeruak. Entah kebahagiaan apa yang ingin dicurahkannya saat ini. Daun-daun padi yang menguning semakin terlihat menguning, menguning keemasan. Buaian mentari tengah berpadu mesrah rupanya. Eantah darimana angin surga ikut campur  bearsama meraeka, menyapu butiran dubu kecil yang sedari tadi rupanya asyik bertengger di atas  hamparan daun padi yang berjejer bak kelompok tari saman berpersonil miliaran. Nyanyian dan lambaiannya merdu nun indah memadu dengan ratusan burung pipit yang asyik berkejaran menuju peraduan penuh kerinduan. Mungkin ini kah yang dinamakan gemah ripah loh jinawi, begitulah orang jawa menyebutnya.

Hari berlalu seperti biasa. Langkah-langkah kecil berlalu-lalang penuh ketenangan. Langkah-lanhkah kecil ditemani sandal jepit murahan yang bertebaran di pedagang-apedagang kelontong pelosok desa. Beberapa dari mereka telanjang kaki, entah siapa yang sampai hati meminjam teman kaki kecil mereka. Buku kecil bertuliskan baita-bait syair arab tampak begitu  lengket di jari-jemari yang agak kurus, buku kecil yang slalu menemani hari mereka. Di kover dalamnya mereka tulis “ingat tujuan dari rumah”.  Kehilangan sepasang sandal tidak apa, asalkan buku kecil tetap setia menemani langkah meniti kehidupan. Setidaknya itu salah satu kalimat yang terasa indah untuk mereka  tulis dalam buku diary. Lamat-lamat bibir mereka mulai komat-kamit, sembari membayangkan susunan syair-syair di buku kecil yang kerap kali mereka intip. Begitu serius mereka menghafalnya. Sesekali mereka membenarkan ikatan sraung yang mulai kendor seiring pijakan kaki yang mulai lelah. Maklum, mamakai sarung nampaknya sedikit susah untuk santri anyar. Bibir bereka masih sibuk berkomat-kamit dengan syair-syair yang begitu asing untuk singgah di kepala mereka, bait-bait syair yang tak dijumpai oleh seorang sarjana sekalipun, apalagi sarjana yang masuk kuilah sore, sering alfa  dan dosennya jarang masuk.

Lamat bibir berkomat-kamit itu masih terus terdengar nyaring, meski semakin lama, semakin tenggelam ditelan senja. Tapi ada yang berbeda disaat seperti ini. Jauh di belaang asrama sana, seorang anak berumur enam belas tahun menatap pesona hamparan kebun hijau berujung gunung biru menawan. Sedang apa ia disana? mengapa menikmati keelokan senja dalam sepi. Jari-jari kecilnya memang sama dengan  yang lain, begitu lengket dengan buku kecil digenggamnya, tapi, mengapa tidak ada guratan keceriaan di dahinya. Buku kecilnya terbasahi oleh tetesan air yang perlahan turun dari  mata yang nampak berkaca-kaca. Tangan kirinya begitu erat mencengkeram perut sisi kiri, seperti ada yang ditahan. Tampak ada duka yang merundu jiwa yang nelangsa di sana.

***

“Usman!, kok kamu nambah kurus aja, uang bestelan Ibu krang ya? Ngomong dong.” Pelukan seorang Ibu erat penuh damai. Setidaknya, itu cukup untuk melipur hati yang lama dirundu rindu, rindu sang buah hati tercinta.
“Enggak kok bu. Uang dari Ibu cukup kok. Malah setiap bulan Usman  biasa nabung.”   Mencoba membantah kehawatiran malaiakat yang selama ini mencurahkan kasih sayang kepadanya.
“Terus, kok kamu nambah kurus aja nak?.” Tuturnya agak menyelidik. Belum percaya dengan jawaban buah hatinya.
“Ia, bu. Bulan-bulan ini Usman lagi belajar puasa senin-kamis. Kata pak Yainya tirakat.” Sekali lagi Usman mencoba meyakinkan Ibunya.
“O, ya udah. Tapi gak usah berlebihan. Kasian dong, nanti anak Ibu sakit.” Rayuan sang Ibu penuh kasih sayang.
“Eh, ia bu. Kalo udah khatam alfiyah nanti, ibu gak usah hawatir soal biaya tasyakurnya. Usman kan udah punya tabungan sendiri.”
“Usman, Ibu bangga punya anak sepertimu.” Sekali lagi, pelukannya erat menebar jutaan rasa sayang. kali ini air mata menetes dari kedua matanya.

***

Entah kata apa yang pas untuk diungkapkan dengan suasana seperti ini. Hari jumat awal bulan halaman pesantren riuh dikunjungi wali santri. Bahkan beberapa dari mereka ada yang repot-repot menyewa mobil bak terbuka hanya untuk bisa berombongan menjenguk buah hatinya dengan beraneka ragam barang bawahan atau hanya sekedar naik kopayu seorang diri untuk mem-bestel-i rupiah seadanya kepada putra-putri mereka yang sedang bmenimbna ilmu di bumi pesantren. Meskipun beberapa wali santri lebih memilih kirim uang melalui ATM saja, biasanya hal ini opsi bagi mereka yang memiliki jarak tempuh yang cukup jauh. Begitulah fasilitas sekarang, lebih modern, cepat dan singkat. Bayangkan wali santri dahulu saat mem-bestel-i anaknya, harus memikul karung berisi beras dari rumah, kadang kalau sawahnya lagi panen ditambah ubi singkong, kebayang-kan repotnya. Itupun sudah mewah saat itu.

“Ehm-ehm.., kayaknya bakal kenyang serharian nih.” Sindiran berbau gasak-an itu tiba-tiba menghentikan langkah umar. Gasakan yang khas saat ada teman yang baru bestel.
“Oh ia, temen-temen! Ayo kita makan bareng-bareng. Tadi Ibuku  datang, nih bawa banyak makanan. Katanya buat makan bareng temen-temen.” Ramah saja Usman berkata. Itulah karakteristik santri. Punya makanan, pasti bagi-bagi. Santri harus kenyang bersama dan pintar bersama, pokoknya serba bersama deh.
“Nih, ada nasi uduk, bekakak. Eh ia, nih yang doyan sambel, tapi awas pelan-pelan, nanti keselek tulang ayam lagi,” lanjut Usman, sedikit bercanda.
“Hahaha..,” gelagak tawa terasa hangat penuh kebersamaan. Kenagan yang akan selalu mereka ingat suatu saat nanti. Kenangan akang-akang santri.
“Kamu bisa aja mar,” balas Abu, teman Umar satu asrama.
“Sabar ya temen-temen. Nih, pokoknya Umar siapin spesial buat temen-temen,”
Usman sedikit kerepotan mengeluarkan isi keresek besar yang diletakan dilantai. Teman-teman mengamati, tak sabar. Beberapa diantaranya sibuk merapikan lonjoran daun pisang.
Hamparan nasi berhiaskan lauk langka terjejer menggoda iman, eh, menggoda selera siapapun yang melihatnya, apalagi akang santri. Ya, lauk langka. Bagi mereka hanya saat acara tasyakur-an saja bisa menikmati lauk seperti ini, atau pada saat ada wali santri yang kebetulan royal membawakan dari rumah, untuk bestel.
“Eh!, tunggu dulu. kayaknaya ada yang kurang nih,” ucapan yang tiba-tiba saja terdengar serius dari sosok Usman. Sejenak usman berfikir, tatapanya menyelidik kepada teman-temannya.
“O, ia. Ali!, mana Ali. Entar dulu, saya biar cari Ali dulu, kalo Ali udah ketemu, baru kita mulai makannya,” tiba-tiba ia ingat nama Ali. Bergegas Usman mencari sahabat setianya itu. Tumben sekali Ali tidak ada di asrama hari ini. Usman tidak ingin bersenang-senang tanpa teman sejatinya itu.

***

Ali memang teman terbaik Usman. Apapun yang terjadi kami akan selalu bersama, itulah ikrar setia  yang pernah mereka teriakan di atas awan. Bagi usman, Ali adalah pelipur disaat langkahnya tesandung aral kehidupan. Meskipun kadang idenya agak konyol.
Pernah suatu ketika saat usai salat jumat tiba-tiba sandal usman raib, tidak tahu dimana rimbanya. Usman bingung, tidak mungkin Ia jalan kaki sepanjang satu kilo meter dari masjid menuju asrama. Memang para santri tidak melaksanakan salat jumat di masjid pesantren, karena terlalu sempit, jadi ikut gabung di masjid jami’ bersama warga desa setempat.
“Li, gimana nih?!, masa aku harus nyeker. Udah jalanan panas lagi, bisa-bisa kakiku terbakar nih,” Usman mengharapkan solusi  brilian dari sahabat karibnya itu, meskipun Ia sudah setengah menebak, pasti idenya agak konyol. Tapi tidak mengapa, disaat seperti ini memang Ali yang selalu diandalkannya.
“Em.., gimana ya,” Ali terus berjalan kecil mondar mandir, sesekali jari telunjuk kanannya diketuk-ketukan di dahinya, kali ini ia agak susah menemukan solusinya. Bahkan ia bingung mengapa ia terasa begitu sulit mencari solusi, mungkin karena suasana terlalu panas.
“Gini aja, kita gantian pake sandal saya setiap jarak dua puluh langkah, gimana,” entah mengapa ide itu tiba-tiba singgah begitu saja dikepalanya.
“Ya.. percuma, nanti pas yang satu giliran pake sandal, berarti yang sdatunya lagi nyeker panas-panasan dong?!,” protes Usman, namapaknya ide temannya teerdengar kurang sempurna.
“Oke, gini aja. Setiap duapuluh langkah kita gantian pake sandal. Nah, nanti yang dapet giliran pake sandal harus gendong yang lain, kan gak ada lagi yang bakal nyeker tuh,  gimana?,” Ali berharap idenya kali ini bisa diterima.
“Gila kamu li!, berarti kita gantian gendong gitu, kamu ada-ada aja li, gak mau ah, nanti diketawain  oranag-orang lagi,” sekali lagi Usman protes.
“Itu sih kalo mau. Kalo gak mau ya saya pulang duluan. Kamu mau saya tinggal?,” desak Ali.
“Eh.. i..a udah deh. Kamu ini li, ada-ada aja,” Mau tidak mau, Usman harus mengalah.

***

“Ali.., Ali..,” teriak Usman berkali-kali, tidak mau hal buruk terjadi dengan teman baiknya.
“Dul !, kamu lihat Ali gak?,” ketujuh kalinya Usman menayakan keberadaan Ali yang entah kemana.
“Gak tau man. Dari tadi emang anak ini gak kelihatan batang hidungnya,” jawab Abdul, anak asrama sebelah.
“Terus kemana ya?, saya khawatir Dul, ya udah, makasih ya,”
“Ali.. Ali..,” Usman terus mencari keberadaan temannya.
“Lho, kayak kenal,” Usman mengamati seseorang dari arah belakang jarak lima belas meter dari tempatnya berdiri. Entah siapa, tapi nampaknya ia tidak begitu asing baginya.
“Eh, itu kan Ali,” bergegas Uman menhampirinya. Berharap dugaannya tidak salah.
“Ali.. Ali..,” teriakannya menemanni langkah yang mulai tak sabar menghampiri orang yang ditemuinya.
“Ali, kamu kemana aja, aduh, cewape bewanget Li.., muter-muter cari kamu gak ketemu-ketemu. Eh.. taunya disini,” Usman menepuk pundak orang yang ia temuinya, wajahnya nampak lelah sedikit lega. Temannya ketemu juga.
“Maaf, kang. Ali siapa ya?,” spontan menolehkan wajah ke belakang. Penasaran, siapa yang tiba-tiba menepuk pundaknya dan menyebut-nyebut nama Ali.
“Ups, maaf kang. Saya kira akang ini Ali. Teman saya,” Usman terkejut. Mengapa orang ini begitu mirip dengan Ali.
“Oh, gak apa-apa,” balasnya enteng.
“Astaghfirullah.., kenapa bisa sampe salah orang si!, huff..,” hembusannya mencoba menghilangkan rasa lelah. Sedikit tertunduk. Terus melangkah, langkah yang agak terhuyung. Lelah.
“Lebih baik Aku cari Ali nanti aja deh, ke asrama dulu. Kasian temen-temen udah nugguin. Pasti lagi pada protes. Kenapa Usman lama banget,” gumannya membatin. Langkahnya pelan menuju asrama. Kepalanya menghadap keatas. Sesekali memejamkan mata. Mencoba menenangkan batinnya.
“Aduh !, maaf ya. Gak sengaja. Soalnya tadi aku ngelamun,” Usman terjatuh. Ia tidak senghaja menabrak seseorang yang duduk di belakanag asrama. Lagian sore-sore begini kok nogkrong di belakang asrama sendirian. Tapi ia bingung, kenapa kok orang ini malah bengong. Tidak menjawab paernyataan maafnya.
“Kang, sekali lagi maaf ya. Tadi gak sengaja,” Usman mencoba mengulangi pernyataan maafnya. Barang kali orang itu belum dengar. Kebetulan Usaman jatuh dibelakangya, jadi belum tahu siapa orang yang ia tabrak tadi.
“Eh !, Ali. Kamu lagi ngapain sore-sore di sini sendirian,” Terkejut Usman melihat wajah orang itu. Ia Ali. Yang dari tadi dicaari-carinya. Tapi kedua bibir temannya itu seolah-olah terkena lem plastik, hanyan diam membisu.
“Li, jangan ngelamun..  Sore-sore gini kok ngelamun di belakang asrama. Nanti kesambet lho,” mencoba merayu temannya. Setahu Usman, Ali memang takut dengan kata kesambet, agak penakut gitu. Tapi aneh, apa temanya ini sudah benar-benar kesambet. Kok dari tadi hanya anteng sambil duduk menundukan kepala.
“Li.. Ali,” pelan Usman, mencoba berkomunikasi dengan temannya. Meskipun ia agak sedikit merinding. Gimana kalau temannya ini benar-benar kesambet. Hih.. serem. Tangan kanannya pelan menyentuh pundak kanannya. Mencoba menenangkan temannya yang nampaknya ada masalah. Usman mencoba membuang jauh-jauh dugaan temannya kesambet. Meskipun mulutnya lamat-lamat melafalkan ayat kursi.
“Kamu keenapa? Ada masalah?,” Sekali lagi Usman mencoba berkomunikasi. Kali ini Usman agak menjauh. Hawatir benar-benar kesambet, Merinding.
“Enggak apa-apa kok,” Ali mencoba membunyikan sesuatu.
“Fwuhh..,” Usman menghembuskan nafas. Temannya ternyata tidak kenapa-napa, Lega.
“Li. Kita kan temenan udah lama. Kita udah kayak kakak adek. Kamu gak usah sungkan, kalo ada masalah bilang aja. Apapun yang terjadi, pasti saya bantu,” respon teman sejati mengalir tulus begitu saja.
“Man aku khawatir,” pelan Ali.
“Hawatir kenapa,” spontan Usman. Ada rasa empati yang dalam.
“Sudah dua minggu orang tua saya tidak kirim uang. Padahal Aziz, tetangga saya, orang tuanya sudah kesini sepuluh hari yang lalu,” orang tua Usman biasa menitipkan uang bestel-an anaknya lewat tetangganya yang membesuk anaknya ke paesantren, biasanya pak Madrais, ayah Aziz. Pernah orang tua Usman langsung yang ke pesantren, namun hanya beberapa kali, itupun hanya Ayah seorang diri, belum lagi harus panas-panasan berdesakan di dalam kopayu, mengingat usianya yang sudah sepuh, tujuh puluh tiga tahun. Masaya Allah. Tidak seperti orang tua teman-temannya, yang rutin seriap bulan membawa rombongan, mau besuk anak apa mau ziarah wisata. Maklum, keluarga Ali keluarga pas-pasan.
“bukan masalah uangnya. Tapi saya hawatir terjadi apa-apa dengan keluarga di rumah. Pasti mereka sedang pusing mikirin mau ngutang kemana lagi,” lanjut Ali. Memang, profesi sebagai buruh tani tidak menjamin orang tuanya tercukupi. Belum lagi dua adik Ali memiliki dua orang adik kecil. Yang satu perempuan, kelas dua SD ,membutuhkan biaya sekolah, yang satunya lagi laki-laki, masih balita berumur satu setengah tahun, butuh beli susu dan lain sebagainya.
“Udah, li. Kamu gak usah mikirin yang tidak-tidak. Kita doain aja, semoga mereka gak kenapa-napa,”
Usman masih mencoba menenagkan.
“Amin..,” lirih ali penuh harap.
“Soal uang kamu Li, biar Aku pinjemin dulu. tenang aja, gak usah dipikirin ngembaliinnya kapan,” Usman menawarkan solusi. Solusi yang sedikitpun tak terdengar konyol, seperti saat usai salat jumat kemarin.
“Gak usah Man. Aku gak mau ngerepotin temen, bagaimanapun kondisinya,” Tetap saja Ali adalah Ali. Seorang teman yang tidak mau sedikitpun membebani siapapun temannya.
“Enggak kok. Aku malah bangga bisa bantu temen. Apalagi temen baik kaya kamu,” desak Usman.
“Man, tolong. Kalo kamu anggap Aku adalah teman baik, jangan jadikan teman terbaikmu dibenci oleh Rasulullah. Rasulullah gak suka kalo umatnya punya hutang,” Ali berdalil. Padahal isi hatinya hanya satu; Tidak mau merepotkan temannya.
“ya udah gak apa-apa. Tapi ayo dong kita ke asrama. Tadi Ibuku datang. Bawa banyak makanan. Ayo kita makan bareng temen-temen. Kasian mereka nunggu dari tadi,” Usman mengalah dengan argumen temannya. Meskipun ia sadar, argumen temannya cukup beralasan.
“Makasih Man, Aku udah kenyang. Untuk sekarang aku mau sendiri. Kamu duluan aja ke asrama,” sebenarnya Ali belum makan dari pagi. Rasa khawatir akan keluarganya membuatnya tidak nafsu melakukan apapun, trmasuk nafsu makan. Meski perutnya terasa perih. Perih bagaikan ditusuk sembilu.
“Ya udah. Kalo gitu aku duluan. Kamu baik-baik ya,” dalam keadaan seperti ini memang agak susah membujuk Ali. Nanti saja, kalau sudang bombong. Pikir Usman.

***

Kini Ali sendiri. Sendiri bersama kemelut gundah yang menyelimuti. Tak ada siapa atau apa yang mampu mengucurkan setetes kedamaian dalam perasaan yang sedang tertohok oleh sembilu, sembilu yang mencabik-cabik tak kenal siapa yang dihajarnya. Sakit. Lebih sakit dari ribuan kata sakit.

Mata yang selalu membawa keceriaan kini tak mampu menghibur siapapun, bahkan menghibur dirinya sendiri. Matanya berkaca-kaca menatap kosong. Hamparan hijau dihadapannya sedikitpun tak memercikan secercah kesujkan dalam jiwa. Gunung biru nun elok di hadapannya tak ubahnya bongkahan batu besar yang terlihat membosankan. Entah apa pikirnya. Tiba-tiba tangan kanannya merogoh saku baju kokonya, seperti ada yang dicari. Ternyata ia mengeluarkan buku kecil yang mulai lusuh, sisi-sisinya tak terlihat lagi menyisi. Di atas sampul lusuh itu tertulis “Khulasoh alfiyah Ibnu Malik”, dalam bahasa arab. Meskipun huruf terakhirnya sudah tak terbaca lagi. Inilah yang biasa ia lakukan Ali saat seperti ini. Disaat siapapun tak mampu menyentuhnya. Baginya buku kecil inilah yang paling setia menemaninya. Lebih setia daripada teman paling setia. Bahkan Usman sekalipun. Jemarinya gemetar saat sampul pertama dibukanya. Dek !. ada sesuatu saat ia mendapati tulisan pada halaman pertama, “Ingat tujuan dari rumah”, sebuah kalimat yang tak asing bagi seorang santri. Tulisan itu biasa ditulis dimaana saja; di pintu lemari, buku pelajaran, pintu kamar dan termasuk buku kecil yang selalu menemanni mereka. Kalimat itu Ali tulis saat pertama kali membeli buku kecil yang digenggamnya. Mudah-mudahan mampu menyemangati langkah di tanah penuh berkah, pikirnya saat itu. Bahkan pertama kili Ia tulis kalimat itu di lemari barunya, lemari saat Ayah baru mendaftarkannya di pesantren. Terngiang dalam lamunan, saat-saat sang ayah mendaftarkannya di pesantren. Matanya semakin berkaca-kaca, batinnya berdecak dahsyat, jemarinya gemetar tak terkendali saat mencoba melanjutkan halaman selanjutnya. Air mata keluar begitu saja dari matanya, menetes, membasahi buku kecilnya. Hanya tertegun, ia mendapati tulisan “li, meski Ibu dan Bapak setiap hari harus panas perih di sawah, susah payah mencari nafkah. Kamu gak usah khawatir. Yang penting kamu dan adik-adikmu bisa jadi orang sukses”, semakin deras derai air mata menyusuri pipinya, jatuh berhamburan membasahi buku kecilnya. Cegukan tangis menemani kesedihan. Tangan kirinya erat mencengkeram perut sisi kirinya. Rasa lapar tak kalah dahsyat menghajar bersama dengan kegalauan.
“Ibu, Bapak. Ali berjanji, Ali akan menjadi apa yang kalian harapkan, Ali bersumpah, Ali akan membanggakan Kalian,” teriaknya tak sampai. Janji yang akan ia pegang selamanya.

***

“Berita panggilan, kepada saudara Ali, ditunggu kedatangannya di kantor madrasah, karena sudah dituggu orang tuannya, sekian terima kasih,” terdengar jelas suara toa menggema. Ini biasa dilakukan ketika ada seseorang ingin bertemu santri. Dan kali ini pasti Ayah Ali datang untukl bestel. Dengan penuh rasa penasaran Ia berlari menuju sumber suara.
“Bapak !. bapak sehat pak?, di rumah, Ibu dan keluarga baik-baik kan pak?, enggak ada apa-apa kan pak?,” hujaman tanya penuh penasaran tiba-tiba nyeplos begitu saja dari mulutnya. Setelah sebelumnnya ia cium tangan Bapak tercinta dengan penuh takzim.
“Ali. Bapak, Ibu dan kedua adik kamu baik-baik saja. Soal Bapak yang telat kirim uang, bapak minta maaf. Soalnya dua minggu ini Bapak dan Ibu sibuk ngurusin persiapan buat umroh,” jelas Bapak Ali, dengan penuh rasa syukur.
“Umroh?!. Uang dari mana pak?,” Tanya Ali sedikit tidak percaya.
“Gini. Bapak punya teman lama, namanya pak Yanto. Kebetulan ia lagi punya uang banyak. Sawahnya ada yang melelang sebesar limaratus juta. Katanya itung-itung balas budi sama bapak. Dulu waktu ia terjatuh di selokan sendirian gak ada orang, bapak yang nolongin. Katanya kalau waktu itu gak ada bapak, entah apa jadinya,” jelasnya.
“Alhamdulilllah.., akhirnya Bapak dan Ibu bisa umroh. Terimakasih ya Allah,” tiba-tiba hatinya terasa lega. Penuh rasa syukur. Alhamdulilllah.

Oleh Muhammad Abror