Author Archives: admin

Buya: Prihatin Kebersihan Fasilitas Umum

Kebersihan merupakan hal pokok dalam beribadah, sebab kebersihan tak jarang menjadi prasyarat terlaksananya sebuah ibadah juga menjadi tujuan seusai mengerjakan sebabak ibadah, yakni kebersihan hati dan jiwa. Oleh karena itulah mengapa ulama-ulama fikih terdahulu senantiasa memposisikan bab thaharah (bersuci) sebagai permulaan dalam membahas tentang tata cara beribadah.

Demikian disampaikan Buya KH Ja’far Aqil Siroj, pengasuh pesantren Kempek Cirebon saat ditemui oleh kontributor NU Online di tengah-tengah kesibukannya menerima tamu di kediamannya. Selasa. (9/7).

“Terkait dengan datangnya bulan Ramadhan, bulan suci dengan limpahan rahmat, semestinya umat Islam juga menjadikan momentum ini sebagai media untuk memperhatikan kembali soal-soal kebersihan, saya prihatin, sebab di sepanjang jalan, fasilitas-fasilitas umum jarang sekali yang memerhatikan masalah kebersihan,” jelas Buya Ja’far.

Buya Ja’far mencontohkan fasilitas kamar kecil di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dan tempat umum lainnya, kecenderungan menempatkan posisi ember atau bak air yang setara bahkan lebih rendah dari jamban akan berpotensi menjadikan proses bersuci tidak maksimal, hal tersebut adalah satu contoh di antara banyak fasilitas umum lain yang bisa berujung pada tidak sempurnanya nilai ibadah.

“Ini hanya salah satu contoh kasus saja, masih banyak lagi yang lainnya, yang jelas tugas masyarakat muslim yang tak lain adalah konsumen adalah dengan mengingatkan dan menyarankan agar fasilitas-fasilitas tersebut dapat mendukung kita dalam hal beribadah,” tambah Kiai yang juga ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cirebon ini.

 

Liputan Sobih Adnan,  untuk NU Online

 

 

 

Kempek

Puisi Sobih Adnan

 

Purnama telah tumpah,
Menjadi sebaris kaligrafi keramat, di hatiku.
Malam itu.

Siangnya, aku menghadapmu lagi, mengaji kembali.
Pantas saja,
Kangkung, ilalang, semanggen sekalipun, mereka akan berdzikir, jika di tanahmu.

“Alaa laa tanaalul ‘ilma illa bisittatin # Saun biika anmajmuu ihaa bibayaani.
Dzukaaun wa hirsun washthibarun wa bulghatun # Wa irsyaadu ustaadzin wa’thuulu zamaani”.*

 

Inilah sepenggal nadzom yang pernah kucuri, dengan sangat hati-hati, dari dadamu.
Kemudian dengan sangat gugup kuberi sebuah judul
; rindu.

Cirebon, 19 April 2012
* Dikutip dari nadzom kitab Ala Laa Tanalul ‘Ilma karya Muhammad bin Ahmad Nabhan.

 

Puisi ini telah diterbitkan Surat Kabar KOMPAS, tanggal 4 Mei 2012

Sobih Adnan, Alumni Pesantren MTM Kempek Cirebon angkatan 2009, tinggal di Astanajapura Kabupaten Cirebon.

Kiai Musthofa Aqil Ngaji Kitab Bidayatul Hidayah

Ngaji pasaran merupakan tradisi pesantren dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan, satu kitab khusus dibacakan di hadapan santri dan masyarakat umum selama hampir sebulan penuh. Salah satunya pesantren Kempek Cirebon, KH Musthofa Aqil akan membacakan kitab Bidyatul Hidayah karangan Imam Ghazali selama Ramadhan 1434 H ini.

Kiai Musthofa menuturkan bahwa kitab Bidayatul Hidayah menjadi penting untuk dibacakan pada bulan Ramadhan tahun ini, karena kajian di dalamnya memiliki simpulan penting bagi umat Islam agar menjadikan Ramadhan sebagai sarana untuk membersihkan diri.

“Saya memilih untuk membaca kitab Bidayatul Hidayah ini karena inti dari kitab ini adalah tentang pentingnya membersihkan hati, pikiran, dan jiwa. Hal ini sangat berhubungan dengan Ramadhan sebagai sarana untuk membersihkan diri, sudah waktunya kita menyisihkan kehidupan duniawi dan berkonsentrasi selama sebulan penuh untuk mencari ridla Allah Swt,” tutur kiai yang kerap disapa Kang Muh ini.

Pengasuh Ma’had Al-Ghadier Pesantren Kempek Cirebon ini menambahkan, bahwa godaan keduniaan sebelum Ramadhan memang tidak dapat dinilai sederhana, mulai dari tuntutan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, hiruk pikuk politik hingga persoalan-persoalan lain yang terlalu kerap membuat manusia lupa kepada Tuhannya.

“Ramadhan adalah bulan yang dipilih oleh Allah Swt untuk menurunkan pedoman manusia berupa Al-Quran suci,” tambahnya.

Selain itu, juga merupakan bulan khusus untuk menganugerahkan rahmat-Nya secara lebih berlimpah. Maka Ramadhan juga sebagai pilihan terbaik bagi umat manusia untuk kembali kepada Tuhannya.

“Serta bulan yang bisa dijadikan sebagai medan latihan penyeimbangan antara kebutuhan duniawi dan akhirat,” tambah Kiai Musthofa.

Pengajian pasaran Ramadhan kitab Bidayatul Hidayah ini rencananya akan disiarkan langsung di radio NU Online setelah shalat Tarawih. Selain Bidayatul Hidayah, Kiai Musthofa juga membaca kitab Tafsir Jalalain dan Ihya Ulumuddin seusai shalat Shubuh, dan kitab Hujjatu Ahlis Sunnah Wal-Jama’ah rangan Mbah Ali Maksum Krapyak kaseusai shalat Ashar.

 

Liputan Sobih Adnan, Dimuat di NU Online

 

 

 

 

 

 

Ribuan Orang Diijazahi Cucu Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

Sekitar seribu orang yang terdiri dari santri, alumni, dan masyarakat umum dari sekitar Cirebon bahkan luar kota berkumpul untuk menyambut kedatangan Syekh Fadil Al-Jailani, keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang berasal dari Turki. Mereka mulai berkerumun seusai melakukan shalat Jum’at dan bersiap untuk mengikuti ijazah ‘aamah di Ma’had Al-Ghadier pesantren Kempek Cirebon. Jum’at (21/6).

Pengasuh pesantren Kempek Cirebon, KH Musthofa Aqil mengungkapkan bahwa pelaksanaan ijazah ini berisi ijab qabul  yang biasa diberlakukan dalam tradisi pesantren untuk mendapatkan keberkahan.  

“Setelah Syekh Faddhil memberikan sambutan, nanti para hadirin akan mendapatkan ijazah langsung dari Beliau, ijazah ini selain bertujuan untuk mendapatkan keberkahan juga merupakan suatu sarana pengabsahan mengenai kebersambungan sanad untuk memelajari kitab-kitab karangan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, dan ijazah untuk menyambungkan garis keilmuan seperti ini merupakan tradisi pesantren yang baik,” jelas kiai Musthofa.

Pelaksanaan ijazah dibawakan langsung oleh Syekh Fadhil Al-Jailani, pertama-tama keturunan salah satu tokoh besar Islam ini mengajak peserta untuk bertaubat dan beristighfar, kemudian mereka diminta untuk mengangkat tangan kanan dan dilangsungkan sebuah pelafalan ijab dan qabul, hingga kemudian Syekh Fadhil mengucapkan “Ajaztukum!” yang secara serentak dijawab oleh peserta dengan ucapan “Qabilna!” selama tiga kali berturut-turut.

Syekh Fadhil Al-Jailani menghabiskan waktu selama 30 tahun untuk berkeliling dunia dalam rangka menelusuri ribuan manuskrip karya Syekh Abdul Qadir AL-Jailani yang terpencar dan hilang. Kunjungan ke pesantren Kempek Cirebon ini merupakan kali kedua setelah sekitar dua tahun yang lalu melakukan hal yang sama.

 

Liputan Sobih Adnan, Dimuat di NU Online

 

 

 

 

 

 

Pesantren Kempek Sambut Kehadiran Cucu Syekh Abdul Qadir Jailani

Keluarga besar pesantren Kempek Cirebon menyambut kunjungan salah satu cucu Syekh Abdul Qadir Jailani yang berasal dari Turki, Syekh Fadhil Al-Jailani. Kehadiran cucu salah satu tokoh sufi terbesar sepanjang sejarah Islam tersebut juga disambut oleh ribuan santri yang berkumpul untuk mendengarkan ceramah dan mengikuti ijazah ‘Aamah yang akan dipimpin Syekh Fadhil secara langsung di Ma’had Al-Ghadier Pesantren Kempek Cirebon. Jum’at (21/6).

Dalam sambutannya, KH Musthofa Aqil, pengasuh Ma’had Al-Ghadier pesantren Kempek Cirebon menerangkan bahwa Syekh Fadhil merupakan salah satu dari ribuan keturunan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, namun dia adalah satu-satunya keturunan yang diamanati untuk menjaga sekaligus menelusuri karya-karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang telah hilang.

“Syekh Abdul Qadir Al-Jailani memiliki keturunan yang banyak, bahkan ribuan, tersebar ke seluruh dunia, Timur Tengah, Eropa, dan beberapa tersebar di Asia, namun Syekh Fadhil Al-Jailani ini merupakan satu-satunya cucu (keturunan) yang mendapatkan amanat untuk menelusuri karya-karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang hilang,” terang kiai Musthofa.

Kiai Musthofa melanjutkan bahwa karya-karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani sangatlah banyak, dari 7000 kitab yang ada baru 114 yang terbaca oleh masyarakat umum, dan 34 jilid yang tercetak ulang dengan rapi.

“Sebenarnya banyak sekali karya Syekh Abdul Qadir yang tidak kita ketahui, jumlahnya hingga puluhan ribu, yang tercetak dan terbaca hanya beberapa, jika dikelompokkan di bidang pembahasan tafsir hanya 6 jilid, hadits 10 jilid, dan fiqih 20 jilid. Belum lagi akibat pergolakan di Suriah kemarin, 20.000 manuskrip karya agung tersebut hancur, dan yang terselamatkan hanya 41 buah,” lanjut kiai Musthofa.

Syekh Fadhil Al-Jailani telah mengabdikan usianya selama 30 tahun untuk menelusuri karya dan manuskrip yang ditulis oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jailani yang terpencar bahkan hilang. Kehadirannya di pesantren Kempek Cirebon ini merupakan kali kedua setelah tahun 2011 yang lalu melakukan kunjungan yang sama dalam rangka melakukan penelusuran naskah di Indonesia dan menggelar ijazah bagi masyarakat pesantren.

 

Liputan Sobih Adnan, Dimuat di NU Online

 

 

 

 

 

 

Belajar Mengaji

Saat mengaji kitab nahwu “Qathrunnada wa Ballusshoda” di Masjid Al-Munawwarah Pesantren Ciganjur, Gus Dur bercerita tentang seorang santri yang sedang belajar mengaji Al-Qur’an. Kali ini ia sedang belajar surat Al-Qurais.

Pak Ustadz menyuruhnya membaca. “Ayo dimulai nak…!”

Santri mulai membaca. “Bismillahirrahmanirrahim. Liilafiquraisyin iila fihim rihlatas syitaa’i wasshoifi.”

Pak Ustadz spontan menyurus santri menghentikan bacaannya. “Wasshoifffff,” katanya.

“Wasshoifi,” kata satri.

“Wasshoifff, kalau waqof dimatikan. Wasshoifff,” kata ustadz.

Santri tetap tidak paham. “Wasshoifi”. Masih ada ada bunyi “fi” di belakang.

Akhirnya pak ustadz tidak sabar. Saat santri membaca “Wasshoif,” ia langsung menutup mulut santri dengan tangan kananannya. “Nah begitu, wasshoiff,” katanya.

Tapi, kata Gus Dur, ketika mulut santri itu dilepaskan, tetap saja masih ada bunyi “fi”. (Anam)

Apa Alasan Gus Dur Ziarah Kubur?

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah seorang tokoh yang sering melakukan ziarah kubur. Banyak makam di pelosok-pelosok kampung yang pernah diziarahinya.

Ketika ditanya apa alasan Gus Dur sering berziarah ke makam-makam?

“Karena orang mati tidak memiliki kepentingan,” jawab Gus Dur. (Qomarul Adib)

1 12 13 14