Author Archives: admin

Bait-Bait Pengganjal Lapar

Mentari sore tersenyum menyeruak. Entah kebahagiaan apa yang ingin dicurahkannya saat ini. Daun-daun padi yang menguning semakin terlihat menguning, menguning keemasan. Buaian mentari tengah berpadu mesrah rupanya. Eantah darimana angin surga ikut campur  bearsama meraeka, menyapu butiran dubu kecil yang sedari tadi rupanya asyik bertengger di atas  hamparan daun padi yang berjejer bak kelompok tari saman berpersonil miliaran. Nyanyian dan lambaiannya merdu nun indah memadu dengan ratusan burung pipit yang asyik berkejaran menuju peraduan penuh kerinduan. Mungkin ini kah yang dinamakan gemah ripah loh jinawi, begitulah orang jawa menyebutnya.

Hari berlalu seperti biasa. Langkah-langkah kecil berlalu-lalang penuh ketenangan. Langkah-lanhkah kecil ditemani sandal jepit murahan yang bertebaran di pedagang-apedagang kelontong pelosok desa. Beberapa dari mereka telanjang kaki, entah siapa yang sampai hati meminjam teman kaki kecil mereka. Buku kecil bertuliskan baita-bait syair arab tampak begitu  lengket di jari-jemari yang agak kurus, buku kecil yang slalu menemani hari mereka. Di kover dalamnya mereka tulis “ingat tujuan dari rumah”.  Kehilangan sepasang sandal tidak apa, asalkan buku kecil tetap setia menemani langkah meniti kehidupan. Setidaknya itu salah satu kalimat yang terasa indah untuk mereka  tulis dalam buku diary. Lamat-lamat bibir mereka mulai komat-kamit, sembari membayangkan susunan syair-syair di buku kecil yang kerap kali mereka intip. Begitu serius mereka menghafalnya. Sesekali mereka membenarkan ikatan sraung yang mulai kendor seiring pijakan kaki yang mulai lelah. Maklum, mamakai sarung nampaknya sedikit susah untuk santri anyar. Bibir bereka masih sibuk berkomat-kamit dengan syair-syair yang begitu asing untuk singgah di kepala mereka, bait-bait syair yang tak dijumpai oleh seorang sarjana sekalipun, apalagi sarjana yang masuk kuilah sore, sering alfa  dan dosennya jarang masuk.

Lamat bibir berkomat-kamit itu masih terus terdengar nyaring, meski semakin lama, semakin tenggelam ditelan senja. Tapi ada yang berbeda disaat seperti ini. Jauh di belaang asrama sana, seorang anak berumur enam belas tahun menatap pesona hamparan kebun hijau berujung gunung biru menawan. Sedang apa ia disana? mengapa menikmati keelokan senja dalam sepi. Jari-jari kecilnya memang sama dengan  yang lain, begitu lengket dengan buku kecil digenggamnya, tapi, mengapa tidak ada guratan keceriaan di dahinya. Buku kecilnya terbasahi oleh tetesan air yang perlahan turun dari  mata yang nampak berkaca-kaca. Tangan kirinya begitu erat mencengkeram perut sisi kiri, seperti ada yang ditahan. Tampak ada duka yang merundu jiwa yang nelangsa di sana.

***

“Usman!, kok kamu nambah kurus aja, uang bestelan Ibu krang ya? Ngomong dong.” Pelukan seorang Ibu erat penuh damai. Setidaknya, itu cukup untuk melipur hati yang lama dirundu rindu, rindu sang buah hati tercinta.
“Enggak kok bu. Uang dari Ibu cukup kok. Malah setiap bulan Usman  biasa nabung.”   Mencoba membantah kehawatiran malaiakat yang selama ini mencurahkan kasih sayang kepadanya.
“Terus, kok kamu nambah kurus aja nak?.” Tuturnya agak menyelidik. Belum percaya dengan jawaban buah hatinya.
“Ia, bu. Bulan-bulan ini Usman lagi belajar puasa senin-kamis. Kata pak Yainya tirakat.” Sekali lagi Usman mencoba meyakinkan Ibunya.
“O, ya udah. Tapi gak usah berlebihan. Kasian dong, nanti anak Ibu sakit.” Rayuan sang Ibu penuh kasih sayang.
“Eh, ia bu. Kalo udah khatam alfiyah nanti, ibu gak usah hawatir soal biaya tasyakurnya. Usman kan udah punya tabungan sendiri.”
“Usman, Ibu bangga punya anak sepertimu.” Sekali lagi, pelukannya erat menebar jutaan rasa sayang. kali ini air mata menetes dari kedua matanya.

***

Entah kata apa yang pas untuk diungkapkan dengan suasana seperti ini. Hari jumat awal bulan halaman pesantren riuh dikunjungi wali santri. Bahkan beberapa dari mereka ada yang repot-repot menyewa mobil bak terbuka hanya untuk bisa berombongan menjenguk buah hatinya dengan beraneka ragam barang bawahan atau hanya sekedar naik kopayu seorang diri untuk mem-bestel-i rupiah seadanya kepada putra-putri mereka yang sedang bmenimbna ilmu di bumi pesantren. Meskipun beberapa wali santri lebih memilih kirim uang melalui ATM saja, biasanya hal ini opsi bagi mereka yang memiliki jarak tempuh yang cukup jauh. Begitulah fasilitas sekarang, lebih modern, cepat dan singkat. Bayangkan wali santri dahulu saat mem-bestel-i anaknya, harus memikul karung berisi beras dari rumah, kadang kalau sawahnya lagi panen ditambah ubi singkong, kebayang-kan repotnya. Itupun sudah mewah saat itu.

“Ehm-ehm.., kayaknya bakal kenyang serharian nih.” Sindiran berbau gasak-an itu tiba-tiba menghentikan langkah umar. Gasakan yang khas saat ada teman yang baru bestel.
“Oh ia, temen-temen! Ayo kita makan bareng-bareng. Tadi Ibuku  datang, nih bawa banyak makanan. Katanya buat makan bareng temen-temen.” Ramah saja Usman berkata. Itulah karakteristik santri. Punya makanan, pasti bagi-bagi. Santri harus kenyang bersama dan pintar bersama, pokoknya serba bersama deh.
“Nih, ada nasi uduk, bekakak. Eh ia, nih yang doyan sambel, tapi awas pelan-pelan, nanti keselek tulang ayam lagi,” lanjut Usman, sedikit bercanda.
“Hahaha..,” gelagak tawa terasa hangat penuh kebersamaan. Kenagan yang akan selalu mereka ingat suatu saat nanti. Kenangan akang-akang santri.
“Kamu bisa aja mar,” balas Abu, teman Umar satu asrama.
“Sabar ya temen-temen. Nih, pokoknya Umar siapin spesial buat temen-temen,”
Usman sedikit kerepotan mengeluarkan isi keresek besar yang diletakan dilantai. Teman-teman mengamati, tak sabar. Beberapa diantaranya sibuk merapikan lonjoran daun pisang.
Hamparan nasi berhiaskan lauk langka terjejer menggoda iman, eh, menggoda selera siapapun yang melihatnya, apalagi akang santri. Ya, lauk langka. Bagi mereka hanya saat acara tasyakur-an saja bisa menikmati lauk seperti ini, atau pada saat ada wali santri yang kebetulan royal membawakan dari rumah, untuk bestel.
“Eh!, tunggu dulu. kayaknaya ada yang kurang nih,” ucapan yang tiba-tiba saja terdengar serius dari sosok Usman. Sejenak usman berfikir, tatapanya menyelidik kepada teman-temannya.
“O, ia. Ali!, mana Ali. Entar dulu, saya biar cari Ali dulu, kalo Ali udah ketemu, baru kita mulai makannya,” tiba-tiba ia ingat nama Ali. Bergegas Usman mencari sahabat setianya itu. Tumben sekali Ali tidak ada di asrama hari ini. Usman tidak ingin bersenang-senang tanpa teman sejatinya itu.

***

Ali memang teman terbaik Usman. Apapun yang terjadi kami akan selalu bersama, itulah ikrar setia  yang pernah mereka teriakan di atas awan. Bagi usman, Ali adalah pelipur disaat langkahnya tesandung aral kehidupan. Meskipun kadang idenya agak konyol.
Pernah suatu ketika saat usai salat jumat tiba-tiba sandal usman raib, tidak tahu dimana rimbanya. Usman bingung, tidak mungkin Ia jalan kaki sepanjang satu kilo meter dari masjid menuju asrama. Memang para santri tidak melaksanakan salat jumat di masjid pesantren, karena terlalu sempit, jadi ikut gabung di masjid jami’ bersama warga desa setempat.
“Li, gimana nih?!, masa aku harus nyeker. Udah jalanan panas lagi, bisa-bisa kakiku terbakar nih,” Usman mengharapkan solusi  brilian dari sahabat karibnya itu, meskipun Ia sudah setengah menebak, pasti idenya agak konyol. Tapi tidak mengapa, disaat seperti ini memang Ali yang selalu diandalkannya.
“Em.., gimana ya,” Ali terus berjalan kecil mondar mandir, sesekali jari telunjuk kanannya diketuk-ketukan di dahinya, kali ini ia agak susah menemukan solusinya. Bahkan ia bingung mengapa ia terasa begitu sulit mencari solusi, mungkin karena suasana terlalu panas.
“Gini aja, kita gantian pake sandal saya setiap jarak dua puluh langkah, gimana,” entah mengapa ide itu tiba-tiba singgah begitu saja dikepalanya.
“Ya.. percuma, nanti pas yang satu giliran pake sandal, berarti yang sdatunya lagi nyeker panas-panasan dong?!,” protes Usman, namapaknya ide temannya teerdengar kurang sempurna.
“Oke, gini aja. Setiap duapuluh langkah kita gantian pake sandal. Nah, nanti yang dapet giliran pake sandal harus gendong yang lain, kan gak ada lagi yang bakal nyeker tuh,  gimana?,” Ali berharap idenya kali ini bisa diterima.
“Gila kamu li!, berarti kita gantian gendong gitu, kamu ada-ada aja li, gak mau ah, nanti diketawain  oranag-orang lagi,” sekali lagi Usman protes.
“Itu sih kalo mau. Kalo gak mau ya saya pulang duluan. Kamu mau saya tinggal?,” desak Ali.
“Eh.. i..a udah deh. Kamu ini li, ada-ada aja,” Mau tidak mau, Usman harus mengalah.

***

“Ali.., Ali..,” teriak Usman berkali-kali, tidak mau hal buruk terjadi dengan teman baiknya.
“Dul !, kamu lihat Ali gak?,” ketujuh kalinya Usman menayakan keberadaan Ali yang entah kemana.
“Gak tau man. Dari tadi emang anak ini gak kelihatan batang hidungnya,” jawab Abdul, anak asrama sebelah.
“Terus kemana ya?, saya khawatir Dul, ya udah, makasih ya,”
“Ali.. Ali..,” Usman terus mencari keberadaan temannya.
“Lho, kayak kenal,” Usman mengamati seseorang dari arah belakang jarak lima belas meter dari tempatnya berdiri. Entah siapa, tapi nampaknya ia tidak begitu asing baginya.
“Eh, itu kan Ali,” bergegas Uman menhampirinya. Berharap dugaannya tidak salah.
“Ali.. Ali..,” teriakannya menemanni langkah yang mulai tak sabar menghampiri orang yang ditemuinya.
“Ali, kamu kemana aja, aduh, cewape bewanget Li.., muter-muter cari kamu gak ketemu-ketemu. Eh.. taunya disini,” Usman menepuk pundak orang yang ia temuinya, wajahnya nampak lelah sedikit lega. Temannya ketemu juga.
“Maaf, kang. Ali siapa ya?,” spontan menolehkan wajah ke belakang. Penasaran, siapa yang tiba-tiba menepuk pundaknya dan menyebut-nyebut nama Ali.
“Ups, maaf kang. Saya kira akang ini Ali. Teman saya,” Usman terkejut. Mengapa orang ini begitu mirip dengan Ali.
“Oh, gak apa-apa,” balasnya enteng.
“Astaghfirullah.., kenapa bisa sampe salah orang si!, huff..,” hembusannya mencoba menghilangkan rasa lelah. Sedikit tertunduk. Terus melangkah, langkah yang agak terhuyung. Lelah.
“Lebih baik Aku cari Ali nanti aja deh, ke asrama dulu. Kasian temen-temen udah nugguin. Pasti lagi pada protes. Kenapa Usman lama banget,” gumannya membatin. Langkahnya pelan menuju asrama. Kepalanya menghadap keatas. Sesekali memejamkan mata. Mencoba menenangkan batinnya.
“Aduh !, maaf ya. Gak sengaja. Soalnya tadi aku ngelamun,” Usman terjatuh. Ia tidak senghaja menabrak seseorang yang duduk di belakanag asrama. Lagian sore-sore begini kok nogkrong di belakang asrama sendirian. Tapi ia bingung, kenapa kok orang ini malah bengong. Tidak menjawab paernyataan maafnya.
“Kang, sekali lagi maaf ya. Tadi gak sengaja,” Usman mencoba mengulangi pernyataan maafnya. Barang kali orang itu belum dengar. Kebetulan Usaman jatuh dibelakangya, jadi belum tahu siapa orang yang ia tabrak tadi.
“Eh !, Ali. Kamu lagi ngapain sore-sore di sini sendirian,” Terkejut Usman melihat wajah orang itu. Ia Ali. Yang dari tadi dicaari-carinya. Tapi kedua bibir temannya itu seolah-olah terkena lem plastik, hanyan diam membisu.
“Li, jangan ngelamun..  Sore-sore gini kok ngelamun di belakang asrama. Nanti kesambet lho,” mencoba merayu temannya. Setahu Usman, Ali memang takut dengan kata kesambet, agak penakut gitu. Tapi aneh, apa temanya ini sudah benar-benar kesambet. Kok dari tadi hanya anteng sambil duduk menundukan kepala.
“Li.. Ali,” pelan Usman, mencoba berkomunikasi dengan temannya. Meskipun ia agak sedikit merinding. Gimana kalau temannya ini benar-benar kesambet. Hih.. serem. Tangan kanannya pelan menyentuh pundak kanannya. Mencoba menenangkan temannya yang nampaknya ada masalah. Usman mencoba membuang jauh-jauh dugaan temannya kesambet. Meskipun mulutnya lamat-lamat melafalkan ayat kursi.
“Kamu keenapa? Ada masalah?,” Sekali lagi Usman mencoba berkomunikasi. Kali ini Usman agak menjauh. Hawatir benar-benar kesambet, Merinding.
“Enggak apa-apa kok,” Ali mencoba membunyikan sesuatu.
“Fwuhh..,” Usman menghembuskan nafas. Temannya ternyata tidak kenapa-napa, Lega.
“Li. Kita kan temenan udah lama. Kita udah kayak kakak adek. Kamu gak usah sungkan, kalo ada masalah bilang aja. Apapun yang terjadi, pasti saya bantu,” respon teman sejati mengalir tulus begitu saja.
“Man aku khawatir,” pelan Ali.
“Hawatir kenapa,” spontan Usman. Ada rasa empati yang dalam.
“Sudah dua minggu orang tua saya tidak kirim uang. Padahal Aziz, tetangga saya, orang tuanya sudah kesini sepuluh hari yang lalu,” orang tua Usman biasa menitipkan uang bestel-an anaknya lewat tetangganya yang membesuk anaknya ke paesantren, biasanya pak Madrais, ayah Aziz. Pernah orang tua Usman langsung yang ke pesantren, namun hanya beberapa kali, itupun hanya Ayah seorang diri, belum lagi harus panas-panasan berdesakan di dalam kopayu, mengingat usianya yang sudah sepuh, tujuh puluh tiga tahun. Masaya Allah. Tidak seperti orang tua teman-temannya, yang rutin seriap bulan membawa rombongan, mau besuk anak apa mau ziarah wisata. Maklum, keluarga Ali keluarga pas-pasan.
“bukan masalah uangnya. Tapi saya hawatir terjadi apa-apa dengan keluarga di rumah. Pasti mereka sedang pusing mikirin mau ngutang kemana lagi,” lanjut Ali. Memang, profesi sebagai buruh tani tidak menjamin orang tuanya tercukupi. Belum lagi dua adik Ali memiliki dua orang adik kecil. Yang satu perempuan, kelas dua SD ,membutuhkan biaya sekolah, yang satunya lagi laki-laki, masih balita berumur satu setengah tahun, butuh beli susu dan lain sebagainya.
“Udah, li. Kamu gak usah mikirin yang tidak-tidak. Kita doain aja, semoga mereka gak kenapa-napa,”
Usman masih mencoba menenagkan.
“Amin..,” lirih ali penuh harap.
“Soal uang kamu Li, biar Aku pinjemin dulu. tenang aja, gak usah dipikirin ngembaliinnya kapan,” Usman menawarkan solusi. Solusi yang sedikitpun tak terdengar konyol, seperti saat usai salat jumat kemarin.
“Gak usah Man. Aku gak mau ngerepotin temen, bagaimanapun kondisinya,” Tetap saja Ali adalah Ali. Seorang teman yang tidak mau sedikitpun membebani siapapun temannya.
“Enggak kok. Aku malah bangga bisa bantu temen. Apalagi temen baik kaya kamu,” desak Usman.
“Man, tolong. Kalo kamu anggap Aku adalah teman baik, jangan jadikan teman terbaikmu dibenci oleh Rasulullah. Rasulullah gak suka kalo umatnya punya hutang,” Ali berdalil. Padahal isi hatinya hanya satu; Tidak mau merepotkan temannya.
“ya udah gak apa-apa. Tapi ayo dong kita ke asrama. Tadi Ibuku datang. Bawa banyak makanan. Ayo kita makan bareng temen-temen. Kasian mereka nunggu dari tadi,” Usman mengalah dengan argumen temannya. Meskipun ia sadar, argumen temannya cukup beralasan.
“Makasih Man, Aku udah kenyang. Untuk sekarang aku mau sendiri. Kamu duluan aja ke asrama,” sebenarnya Ali belum makan dari pagi. Rasa khawatir akan keluarganya membuatnya tidak nafsu melakukan apapun, trmasuk nafsu makan. Meski perutnya terasa perih. Perih bagaikan ditusuk sembilu.
“Ya udah. Kalo gitu aku duluan. Kamu baik-baik ya,” dalam keadaan seperti ini memang agak susah membujuk Ali. Nanti saja, kalau sudang bombong. Pikir Usman.

***

Kini Ali sendiri. Sendiri bersama kemelut gundah yang menyelimuti. Tak ada siapa atau apa yang mampu mengucurkan setetes kedamaian dalam perasaan yang sedang tertohok oleh sembilu, sembilu yang mencabik-cabik tak kenal siapa yang dihajarnya. Sakit. Lebih sakit dari ribuan kata sakit.

Mata yang selalu membawa keceriaan kini tak mampu menghibur siapapun, bahkan menghibur dirinya sendiri. Matanya berkaca-kaca menatap kosong. Hamparan hijau dihadapannya sedikitpun tak memercikan secercah kesujkan dalam jiwa. Gunung biru nun elok di hadapannya tak ubahnya bongkahan batu besar yang terlihat membosankan. Entah apa pikirnya. Tiba-tiba tangan kanannya merogoh saku baju kokonya, seperti ada yang dicari. Ternyata ia mengeluarkan buku kecil yang mulai lusuh, sisi-sisinya tak terlihat lagi menyisi. Di atas sampul lusuh itu tertulis “Khulasoh alfiyah Ibnu Malik”, dalam bahasa arab. Meskipun huruf terakhirnya sudah tak terbaca lagi. Inilah yang biasa ia lakukan Ali saat seperti ini. Disaat siapapun tak mampu menyentuhnya. Baginya buku kecil inilah yang paling setia menemaninya. Lebih setia daripada teman paling setia. Bahkan Usman sekalipun. Jemarinya gemetar saat sampul pertama dibukanya. Dek !. ada sesuatu saat ia mendapati tulisan pada halaman pertama, “Ingat tujuan dari rumah”, sebuah kalimat yang tak asing bagi seorang santri. Tulisan itu biasa ditulis dimaana saja; di pintu lemari, buku pelajaran, pintu kamar dan termasuk buku kecil yang selalu menemanni mereka. Kalimat itu Ali tulis saat pertama kali membeli buku kecil yang digenggamnya. Mudah-mudahan mampu menyemangati langkah di tanah penuh berkah, pikirnya saat itu. Bahkan pertama kili Ia tulis kalimat itu di lemari barunya, lemari saat Ayah baru mendaftarkannya di pesantren. Terngiang dalam lamunan, saat-saat sang ayah mendaftarkannya di pesantren. Matanya semakin berkaca-kaca, batinnya berdecak dahsyat, jemarinya gemetar tak terkendali saat mencoba melanjutkan halaman selanjutnya. Air mata keluar begitu saja dari matanya, menetes, membasahi buku kecilnya. Hanya tertegun, ia mendapati tulisan “li, meski Ibu dan Bapak setiap hari harus panas perih di sawah, susah payah mencari nafkah. Kamu gak usah khawatir. Yang penting kamu dan adik-adikmu bisa jadi orang sukses”, semakin deras derai air mata menyusuri pipinya, jatuh berhamburan membasahi buku kecilnya. Cegukan tangis menemani kesedihan. Tangan kirinya erat mencengkeram perut sisi kirinya. Rasa lapar tak kalah dahsyat menghajar bersama dengan kegalauan.
“Ibu, Bapak. Ali berjanji, Ali akan menjadi apa yang kalian harapkan, Ali bersumpah, Ali akan membanggakan Kalian,” teriaknya tak sampai. Janji yang akan ia pegang selamanya.

***

“Berita panggilan, kepada saudara Ali, ditunggu kedatangannya di kantor madrasah, karena sudah dituggu orang tuannya, sekian terima kasih,” terdengar jelas suara toa menggema. Ini biasa dilakukan ketika ada seseorang ingin bertemu santri. Dan kali ini pasti Ayah Ali datang untukl bestel. Dengan penuh rasa penasaran Ia berlari menuju sumber suara.
“Bapak !. bapak sehat pak?, di rumah, Ibu dan keluarga baik-baik kan pak?, enggak ada apa-apa kan pak?,” hujaman tanya penuh penasaran tiba-tiba nyeplos begitu saja dari mulutnya. Setelah sebelumnnya ia cium tangan Bapak tercinta dengan penuh takzim.
“Ali. Bapak, Ibu dan kedua adik kamu baik-baik saja. Soal Bapak yang telat kirim uang, bapak minta maaf. Soalnya dua minggu ini Bapak dan Ibu sibuk ngurusin persiapan buat umroh,” jelas Bapak Ali, dengan penuh rasa syukur.
“Umroh?!. Uang dari mana pak?,” Tanya Ali sedikit tidak percaya.
“Gini. Bapak punya teman lama, namanya pak Yanto. Kebetulan ia lagi punya uang banyak. Sawahnya ada yang melelang sebesar limaratus juta. Katanya itung-itung balas budi sama bapak. Dulu waktu ia terjatuh di selokan sendirian gak ada orang, bapak yang nolongin. Katanya kalau waktu itu gak ada bapak, entah apa jadinya,” jelasnya.
“Alhamdulilllah.., akhirnya Bapak dan Ibu bisa umroh. Terimakasih ya Allah,” tiba-tiba hatinya terasa lega. Penuh rasa syukur. Alhamdulilllah.

Oleh Muhammad Abror

Kempek Pagi

Tidak ada yang berbeda pagi ini. Dengung merdu tarkhiman, Lamat-lamat takbir di speaker subuh memisah sejadah yang mengalig-alingi dari dinginnya lantai asrama, suara berisik kayu-kayu rotan beradu dengan pintu kayu yang tak lagi sempurna menyatu dengan jerumpul-nya. Semua berjalan seperti biasa, lain halnya bagi santri-santri anyar yang begitu labil di subuh pertama mereka di Kempek.

“Pagi hari adalah saat dimana ilmu dan berkah diturunkan, makannya jangan tidur,” demikian wantiwanti Pengasuh Ponpes KHAS Kempek Cirebon KH Muh. Musthofa Aqil Siroj. Nasihat yang singkat, namun begitu luas makna yang tersirat.

Saat subuh tiba, para santri Ponpes KHAS Kempek berbondong-bondong mengambil air wudlu untuk melaksanakan salat berjama’ah di masjid. Tidak hanya itu, pengasuh juga menganjurkan untuk membaca aurod la ilaha illallah, kalimat tahid yang dibaca ratusan kali disaat pikiran masih kosong dari persoalan dunia. Kalimat itulah yang lebih dulu mendekatkan kepada sang pencipta.

Setelah itu para santri mengaji al-qur’an ala kempekan ke mashayikh. Setelah sebelumnya mereka muthola’ah dan cocogan berkali-kali. Betapa berkah pagi mereka.

Tidak lama setelah selesai mengaji al-qur’an, akang-akang santri terlihat ramai menggondol dua kitab besar, tafsir jalalain dan ihyaulumiddin, menuju kediaman Bapak, sapaan akrab pengasuh bagi para santrinya.

Sapa wonge ngaji tafsir jalalin, bakale balik ning umah mulia lan sapa wonge ngaji ihya ‘ulumiddin bakale balik ning umah ‘alim, barang siapa mengaji tafsir jalalain, maka akan mulia dan barang siapa mengaji ihyaulumiddin, maka akan menjadi orang ‘alim,” tutur adik ketua PBNU itu.

Dua kitab itu memang begitu legendaris dikalangan pesantren maupun perguruan tinggi. Tafsir jalalain, kitab yang dikarang oleh dua Imam Suyuthi dan Imam Mahalli, kedua imam yang memiliki karomah besar. Begitupun ihyaulumiddin, kitab yang dikarang oleh hujjatul islam Imam Ghozali, yang terkenal kecerdasannya.

Betapa berkahnya pagi di Kempek. Saat pikiran masih kosong dari persoalan dunia, lebih dahulu para santri dijejali amunisi penuh berkah dan ilmiah. Pagi yang akan terus menemani Kempek, menuntun para santri menuju kemuliaan.

KH. Muh Musthofa Aqil : Hari Santri Sebagai Wujud Syukur Kepada Allah SWT

Dahulu para Ulama beristikhoroh saat memperjuangkan bangsa ini. Hingga akhirnya menghasilkan poin-poin kesepakatan yang dinamakan resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945.

Dengan resolusi jihad itulah, semangat para kiai, santri dan masyarakat Indonesia berkobar. Hingga akhirnya tercetuslah perang besar pada tanggal 10 November 1945 di Surabaya yang membebaskan bangsa Indonesia dari tangan penjajah secara utuh.

Ini artinya, setelah 17 Agustus 1945 masih ada rongrongan dari para penjajah. Oleh karena itu dapat kita pahami bahwa, kalau tidak ada peristiwa 22 Oktober 1945, tidak akan ada peristiwa 10 November dan kalau tidak ada para ulama dan santri maka tidak akan ada 22 Oktober. Betapa besar jasa para ulama dan santri.

 

Kalau tidak ada peristiwa 22 Oktober 1945, tidak akan ada peristiwa 10 November dan kalau tidak ada para ulama dan santri maka tidak akan ada 22 Oktober.

Kita wajib mengenang hari bersejarah ini sebagai bentuk sykur kita kepada Allah. Dulu ketika Rasulullah SAW. mi’roj, beliau diperintah untuk salat dua rakaat di suatu tempat. Lalu Beliau bertanya kepada Jibril, “Kenapa saya disuruh salat di sini, tempat apa ini?,” nabi penasaran. Lalu Jibril menjawab, “haza bait al lazi wulida fihi isa alaihi al salam,” ini adalah tempat dimana Nabi Isa as. dilahirkan.

Dari kisah di atas dapat dipetik hikmah bahwa, kita disuruh menghormati tempat atau waktu saat terjadi hal luar biasa, meskipun telah berlalu. Begitupun peringatan nuzulul qur’an, maulid nabi dan lain sebagainya.

“Peringatan hari santri adalah bentuk syukur kita terhadap Allah SWT. Dengan menghormati hari kebebasan bangsa Indonesia. Bebas bernegara, bebas beribadah, bebas berkarya dan bebas bermuamalah secara syar’i dan diridai Allah Swt,” tutur Pengasuh Ponpes KHAS Kempek Cirebon KH. Muh. Musthofa Aqil Siroj dalam upacara pengibaran bendera merah putih di Ponpes KHAS Kempek Cirebon, dalam rangka memperingati hari santri nasional.

Allah berfirman dalam surat yasin ayat dua belas, وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثَارَهُمْ, yang artinya “Akan kami catat apa-apa yang yang telah mereka perjuangkan.

Kita tahu Kiai Harun, Kiai Aqil Siroj dan Buya Ja’far dalam membangun Pesantren Kempek. Jasa-jasa mereka begitu besar hingga saat ini masih kita rasakan.

Begitupun para ulama dan santri dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini. Harus kita kenang dan kita abadikan.

Kita kenang jasa mereka dengan meningkatkan peran santri dalam membangun bangsa ini dalam segi ilmu dan akhlaqul karimah. Kita memiliki dua tugas yakni; menjaga bangsa ini dan menyelamatkan aqidah alusunnah wal jama’ah.

“Dengan adanya perjuangan para ulama kita dan para santri maka, kita para santri harus gede ati, sing bangga dadi santri,” pungkas ketua majelis zikir hubbul wathon itu.

Antara Akal Dan Syahwat

Oleh Muhammad Abror

KH. Muh. Musthofa Aqil Siroj mengatakan bahwa ketika manusia lebih mengedepankan akal  daripada syahwatnya, maka ia lebih unggul daripada malaikat. Tapi ketika manusia lebih mengunggulkan syahwat daripada akalnya, maka ia lebih rendah daripada binatang.

Allah memberikan malaikat berupa akal, tanpa syahwat. Sehingga mereka tidak pernah melakukan maksiat, seumur hidup mereka hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Demikian  karena pendorong maksiat adalah syahwat itu sendiri.

“Ada malailkat yang semasa hidupnya hanya untuk bersujud, mereka tidak pernah membantah perintah Allah. Itu karena mereka tidak memiliki syahwat,” tutur KH. Muh. Musthofa Aqil Siroj.

Hal itu disampaikannya saat Stadium general atau Muhadhoroh ‘Ammah Jum’at lalu. Kegiatan yang sudah rutin dilaksanakann setiap bulannya,
dengan mengkaji kitab ta’lim muta’allim.

Allah memberikan hewan berupa syahwat, tanpa akal. Makannya mereka tidak memiliki rasa malu. Seumur hidup mereka hanya untuk  memuaskan syahwat mereka. Tanpa berpikir maslahat, asal semua terlaksana dan syahwat mereka puas.

“Seekor ayam tidak malu berkejar-kejaran dengan lawan jenisnya di depan umum, malah kadang induknya sendiri yang dikejar-kejar. Apa mereka malu?” Lanjut Pengasuh Ponpes KHAS Kempek Cirebon itu.

Kemudian Allah menganugerahi manusia berupa akal dan syahwat. Dengan adanya keduanya inilah mereka mendapatkan pahala atau malah sebaliknya. Jika mereka menggunakan akal mereka, tanpa campur tangan syahwat, maka pahala yang ia dapat. Tapi sebalikya, jika mereka mendahulukan syahwat daripada akal, maka dosa yang ia peroleh.

“Tidak heran jika malaikat mengabdikan dirinya hanya untuk beribadah, karena memang mereka tidak memilki syahwat. Tapi jika manusia yang demikian, hidupnya hanya untuk beribadah, maka mereka lebih mulia daripada malaikat,” papar ketua majelis dzikir hubbul wathon itu.

Allah berfirman dalam al-qur’an surat al-isra ayat 70 :

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

Seperti biasa, malam stadium general disimak baik oleh ribuan Santri Ponpes KHAS Kempek Cirebon.

Pun tidak heran jika hewan hanya untuk memuaskan maksiat semasa hidupnya, karena memang mereka tidak memiliki akal. Lain halnya ketika manusia yang demikian, hanya hidup untuk memenuhi syahwat, maka mereka lebih rendah daripada binatang.

Allah berfiman dalam al-qur’an surat al-a’raf ayat 179 :

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Kta bisa lebih mulia daripada malaikat dan kitapun bisa lebih rendah dari hewan. Apakah kita mampu mandahulukan akal daripada syahwat, atau malah syahwat yang menutupi akal kita.

BERITA DUKA, MBAH YAI H.AMIN SIROJ GEDONGAN

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…albaqo lillah… Telah pulang ke rahmatullah.. *KH. AMIN SIRADJ* sesepuh pesantren Gedongan Cirebon, semoga Husnul Khotimah..

إِنَّا لِلّهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
اعظم اللّٰه اجركم و احسن عزاكم

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْه وَعَافِه وَاعْفُ عَنْه، وَأَكْرِمْ نُزُوْلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَه، وَاغْسِلْه بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّه مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِه، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِه، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِه، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْه مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِوَعَذَابِ النَّارِ.

اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنّا بَعْدَه وَاغْفِرْلَنَا وَلَهُ وَاجْعَلِ الْجَنَّةَ مَأْوَاه

آمِـيْن يَا رَبَّ العَالَمِين
…..له الفاتحة….َ

Segenap Keluarga Besar Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, turut berduka cita yang sedalam-dalamnya……

Buya Ja’far, Kempek, dan Pendidikan Antikorupsi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh Sobih Adnan

Ketika penulis masih mengabdi di NU Online, sowan ke kiai memiliki dua fungsi; memungut berkah, memburu berita.

Yang paling rutin, tentu kepada guru sendiri; Allah yarham Abuya KH Ja’far Aqil Siroj. Dan sekali waktu, pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Jawa Barat itu ‘menjebak’ penulis dengan sebuah pertanyaan, “Kamu mau sowan, atau wawancara?”

Kaget bukan kepalang. Posisi masih di pintu ‘ndalem. Sementara Buya Ja’far, sudah berbalik menuju kursi tamu.

“Dua-duanya, Buya,” jawab penulis, sembari cengar-cengir.

Namun lega rasanya, ketika sang guru dan narasumber tunggal itu memersilakan duduk, seraya menyuguhkan senyum.

Profesionalitas

Berstatus sebagai santri, bukan jaminan mendapatkan kemudahan berjumpa Buya Ja’far. Di kala gesang, Buya Ja’far berikhtiar keras membagi porsi waktu sebagai pengasuh pesantren, juga terhadap tanggungjawabnya sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cirebon.

Tapi, bukan Buya Ja’far namanya, jika sedang memiliki waktu luang kemudian lebih memilih untuk berleha-leha ketimbang menyambut siapa yang datang.

“Jawabanmu, bagus. Ya sowan, ya wawancara,” kata Buya Ja’far.

Penulis tak punya pilihan selain diam. Di samping bagian dari unggah-ungguh tatakrama, sejatinya amat penasaran, pesan apa yang akan dilontarkan untuk mengomentari jawaban nyeleneh santrinya yang baru setahun-dua meninggalkan pesantren itu.

“Pertanyaanku juga bagus,” lanjutnya. Lalu, Buya Ja’far menjelaskan, jawaban “dua-duanya” memberi semacam simbol bahwa penulis sama sekali tidak menanggalkan status kesantriannya, sekalipun ia tengah menjalankan tugasnya sebagai wartawan.

Pilihan “sowan atau wawancara” dalam pertanyaan itu pun diakui Buya Ja’far sebagai bagian dari pesan keprofesionalitasan. Tidak selamanya dua perkara atau lebih boleh dicampur aduk. Tak melulu pula, pepatah “sekali dayung dua pulau terlampaui” itu benar.

“Kamu harus tahu, di posisi mana kamu sedang berdiri,” kata Buya Ja’far.

Kesadaran terhadap posisi akan memulihkan rasa tanggung jawab. Apa dan kepada siapa akan dipersembahkan atas hasil yang diperoleh dalam kadar waktu tertentu, menjadi amat penting.

“Islam hanya mengenal amanat tengah-tengah. Tidak setengah-setengah,” terang Buya Ja’far.

Menghargai tanggung jawab menjadi benteng diri di tengah segala bujuk rayu dunia. Lantas, Buya Ja’far mencontohkan maraknya perilaku koruptif di Indonesia.

“Selain tak punya iman, korupsi disebabkan nihilnya rasa tanggung jawab,” kata Buya Ja’far.

Kepercayaan

Pesan-pesan Buya Ja’far, sebagian besar masih penulis hafal. Pun kesan-kesan yang ditangkap kala masih mengaji dan mengabdi di pesantren yang terletak di ujung barat Kota Wali itu.

Meskipun sudah barang tentu, misalnya, tradisi sorogan diadopsi juga di banyak pesantren Indonesia, tapi di Kempek seolah menanamkan arti tersendiri.

Ada dua kurikulum yang memakai teknik klasik ini, yakni pengajian Alquran dan hafalan nazam Alfiyah ibn Malik. Ketika memasuki tingkat akhir, santri dituntut menyempurnakan dua kewajiban pelajaran tersebut langsung di bawah bimbingan Buya Ja’far.

Untuk Alquran, biasanya dua sampai tiga orang bergiliran menghadap dan melafalkan ayat suci itu di hadapan beliau. Uniknya, Buya Ja’far yang cuma seorang diri itu mampu menelaah mana yang benar, mana yang salah, di saat santri di hadapannya membaca berbarengan.

Buya Ja’far tak pernah menandai batasan sampai mana si A atau si B berhasil menuntaskan setoran. Anehnya, tak ada yang berani melompati kewajiban surat yang ia baca di keesokan hari. Padahal, siapa menjamin Buya Ja’far tahu, jika si anu melewati barang satu atau dua surat demi lekas tuntas dan turut khataman.

Begitu juga dalam kewajiban menghafal sebanyak 1002 nazam Alfiyah. Meski ada teknik yang sedikit berbeda.

Ketika masuk masa setoran, Buya Ja’far meminta santrinya yang sekelas terdiri dari 35 orang itu saling berhadapan dan bergantian membunyikan hafalan. Ya, paling-paling, jika kehadiran santri sekelas penuh, akan ada yang kena sial satu orang. Ambil misal, sudah terbagi menjadi 17 kelompok, risikonya, satu orang langsung berhadapan dengan Buya Ja’far.

Di pengujung masa pengajian kelas Alfiyah, penulis termasuk santri yang lalai terhadap hafalan. Ketika lebih dari separuh kawan sekelasnya sudah tuntas menyetorkan nazam kepada Buya Ja’far, ia tertinggal di barisan akhir bersama lima sampai enam orang.

Setoran pertama, gagal. Kedua, ditolak. Ketiga, gugup. Sepekan diberi toleransi waktu untuk melancarkan hafalan nyaris tak berpengaruh. Buya Ja’far, kabarnya tak lagi memberikan peluang.

Modal nekat, di malam khataman, penulis sowan ke hadapan Buya Ja’far. Baik dan lembut benar hati sang guru. Dipersilakannya masuk, dan membolehkan santrinya bersusah payah menuntaskan hafalan.

“Selamat, ya, akhirnya khatam juga. Jangan sekali-kali menyepelekan kepercayaan,” pesan Buya Ja’far.

Pengajaran Alquran dan Alfiyah, rupanya dijadikan media bagi Buya Ja’far untuk menanamkan kejujuran. Sebuah sikap mahal yang jarang dijumpai penulis, di kemudian hari.

Rendah hati

Mengapa “Buya”? Bukan Kiai, atau Ustaz Ja’far.

Tak ada salahnya juga pertanyaan itu terlontar. Sebab, hampir tak ada satu pun santri Pesantren Kempek yang menyapa kakak kandung Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj itu dengan sapaan Kiai Ja’far.

Lagi pula, di Jawa cuma ada “kiai”. Sebab, sebutan “buya” idealnya untuk sosok berdarah keturunan Minangkabau atau sekitaran Sumatra Barat. Buya Ja’far, tentu tak seperti Buya Hamka yang memang lahir di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam.

Buya Ja’far yang asli Cirebon, tidak ada juga yang menyapa “ajengan” seperti dalam tradisi Sunda. Apalagi, “teuku” yang dikhususkan bagi tokoh-tokoh Aceh, “syekh” di Tapanuli, “tuan guru” di Nusa Tenggara Barat (NTB), atau “nun” atau “bendara” di Tanah Madura.

Namun, ihwal persapaan Buya Ja’far ini, penulis pernah mendapat keterangan dari kakak yang sudah lebih dulu merampungkan pendidikan di Pesantren Kempek, Saeful Adnan.

Menurutnya, tiada lain, sebutan “buya” adalah bentuk kerendah-hatian Buya Ja’far. Beliau, tak ingin disebut kiai, guru, apalagi ustaz.

Sebagaimana lazim diceritakan dalam asal-usul kata, abuya, berasal dari kata abun (bapak), dan ya mutakallim.

Makna sederhananya, bapakku. Menurut Saeful, dengan penuh kerendah-hatian dan kasih sayang, Buya Ja’far lebih ingin menganggap santri-santrinya sebagai anak, bukan yang lain-lain.

Mengingat keterangan itu, lagi-lagi terkenang sebabak pesan dari sosok yang penuh ketegasan itu. Buya Ja’far pernah bilang, “Optimisme, penting. Tapi, kerendah-hatian tak kalah perlu demi memelihara kejujuran.”

Namun kini, Buya Ja’far sudah lama berpulang. Santri-santrinya pun melulu dilanda rindu. Maka, tak ayal, sebagian besar santri Kempek hari ini menyapa Kiai Said dengan sebutan buya.

Pas benar, apalagi, ketika Buya Said memasang dada demi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), “Nahdlatul Ulama (NU) sudah ada kesepakatan dengan KPK untuk jihad melawan korupsi,” katanya, dalam sepenggal wawancara yang marak diberitakan, pertengahan Juli lalu.

Kempek, selalu melahirkan buya. Sosok penuh inspirasi demi santri antikorupsi.
Penulis adalah Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni PP KHAS Kempek (Ikhwan KHAS). Bekerja sebagai content editor di Metro TV.

Lomba Kitab Kuning, PP.KHAS Juara Umum

Pondok Pesantren Kia Haji Aqil Siraj (KHAS) Kempek berhasil meraih juara umum dibabak penyisihan Musabaqoh Kitab Kuning (MKK) sewilayah tiga Cirebon yang diselenggarakan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dalam rangka melestarikan budaya NU, pada hari Minggu (16/04/17) di aula Radar Cirebon.

Muhammad Idrus selaku pengurus ponpest KHAS Kempek menyambut baik capaian santri KHAS yang berhasil menjadi juara di tigacabang lomba berbeda.Ia menilai semua itu berkat usaha dan doa kiai Kempek. “Masing-masing meraih juara di lomba baca kitab Fathul Qorib, Alfiah, dan Ihya Ulumuddin,”jelasnya saat dikonfirmasi via Whats App.

Sebelumnya, kata Idrus, pengurus menyeleksi perwakilan dari tiap kelas. Santri yang siap mewakili MKK PKB ini yang kami delegasikan. “Penyeleksian ini merupakan bagian dari ijtihad untuk mengharumkan nama ponpest KHAS Kempek,” tutur pria asal Tegal ini.

Lebih lanjut, Idrus menjelaskan bahwa santri yang juara akan mewakili Kabupaten Cirebon di tingkat provinsi. Ia berharap santri KHAS Kempek mampu meraih juara lagi. “Saya meminta doa semua pihak agar santri Kempek bisa lolos ketingkat nasional,” harapnya.

Dalam MKK tersebut, delegasi ponpest KHAS Kempek berhasil meraih juara satu (Jamalulel) dan juara tiga (Alwi Jamalulel) Fathul Qorib, Juara satu (Ibnu Aqil) dan juara dua (Muhammad Idrus) Ihya Ulumuddin, serta juara satu (Panjat) dan juara dua (Muhammad Ghozi) Alfiah.

Kontributor : King Pantura (Sh)

1 2 3 14