Antara Akal Dan Syahwat

Oleh Muhammad Abror

KH. Muh. Musthofa Aqil Siroj mengatakan bahwa ketika manusia lebih mengedepankan akal  daripada syahwatnya, maka ia lebih unggul daripada malaikat. Tapi ketika manusia lebih mengunggulkan syahwat daripada akalnya, maka ia lebih rendah daripada binatang.

Allah memberikan malaikat berupa akal, tanpa syahwat. Sehingga mereka tidak pernah melakukan maksiat, seumur hidup mereka hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. Demikian  karena pendorong maksiat adalah syahwat itu sendiri.

“Ada malailkat yang semasa hidupnya hanya untuk bersujud, mereka tidak pernah membantah perintah Allah. Itu karena mereka tidak memiliki syahwat,” tutur KH. Muh. Musthofa Aqil Siroj.

Hal itu disampaikannya saat Stadium general atau Muhadhoroh ‘Ammah Jum’at lalu. Kegiatan yang sudah rutin dilaksanakann setiap bulannya,
dengan mengkaji kitab ta’lim muta’allim.

Allah memberikan hewan berupa syahwat, tanpa akal. Makannya mereka tidak memiliki rasa malu. Seumur hidup mereka hanya untuk  memuaskan syahwat mereka. Tanpa berpikir maslahat, asal semua terlaksana dan syahwat mereka puas.

“Seekor ayam tidak malu berkejar-kejaran dengan lawan jenisnya di depan umum, malah kadang induknya sendiri yang dikejar-kejar. Apa mereka malu?” Lanjut Pengasuh Ponpes KHAS Kempek Cirebon itu.

Kemudian Allah menganugerahi manusia berupa akal dan syahwat. Dengan adanya keduanya inilah mereka mendapatkan pahala atau malah sebaliknya. Jika mereka menggunakan akal mereka, tanpa campur tangan syahwat, maka pahala yang ia dapat. Tapi sebalikya, jika mereka mendahulukan syahwat daripada akal, maka dosa yang ia peroleh.

“Tidak heran jika malaikat mengabdikan dirinya hanya untuk beribadah, karena memang mereka tidak memilki syahwat. Tapi jika manusia yang demikian, hidupnya hanya untuk beribadah, maka mereka lebih mulia daripada malaikat,” papar ketua majelis dzikir hubbul wathon itu.

Allah berfirman dalam al-qur’an surat al-isra ayat 70 :

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

Seperti biasa, malam stadium general disimak baik oleh ribuan Santri Ponpes KHAS Kempek Cirebon.

Pun tidak heran jika hewan hanya untuk memuaskan maksiat semasa hidupnya, karena memang mereka tidak memiliki akal. Lain halnya ketika manusia yang demikian, hanya hidup untuk memenuhi syahwat, maka mereka lebih rendah daripada binatang.

Allah berfiman dalam al-qur’an surat al-a’raf ayat 179 :

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”

Kta bisa lebih mulia daripada malaikat dan kitapun bisa lebih rendah dari hewan. Apakah kita mampu mandahulukan akal daripada syahwat, atau malah syahwat yang menutupi akal kita.