BERITA DUKA, MBAH YAI H.AMIN SIROJ GEDONGAN

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un…albaqo lillah… Telah pulang ke rahmatullah.. *KH. AMIN SIRADJ* sesepuh pesantren Gedongan Cirebon, semoga Husnul Khotimah..

إِنَّا لِلّهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ
اعظم اللّٰه اجركم و احسن عزاكم

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْه وَعَافِه وَاعْفُ عَنْه، وَأَكْرِمْ نُزُوْلَهُ، وَوَسِّعْ مَدْخَلَه، وَاغْسِلْه بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ، وَنَقِّه مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ اْلأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِه، وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِه، وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِه، وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ، وَأَعِذْه مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِوَعَذَابِ النَّارِ.

اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلاَ تَفْتِنّا بَعْدَه وَاغْفِرْلَنَا وَلَهُ وَاجْعَلِ الْجَنَّةَ مَأْوَاه

آمِـيْن يَا رَبَّ العَالَمِين
…..له الفاتحة….َ

Segenap Keluarga Besar Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, turut berduka cita yang sedalam-dalamnya……

Buya Ja’far, Kempek, dan Pendidikan Antikorupsi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh Sobih Adnan

Ketika penulis masih mengabdi di NU Online, sowan ke kiai memiliki dua fungsi; memungut berkah, memburu berita.

Yang paling rutin, tentu kepada guru sendiri; Allah yarham Abuya KH Ja’far Aqil Siroj. Dan sekali waktu, pengasuh Pondok Pesantren KHAS Kempek Cirebon, Jawa Barat itu ‘menjebak’ penulis dengan sebuah pertanyaan, “Kamu mau sowan, atau wawancara?”

Kaget bukan kepalang. Posisi masih di pintu ‘ndalem. Sementara Buya Ja’far, sudah berbalik menuju kursi tamu.

“Dua-duanya, Buya,” jawab penulis, sembari cengar-cengir.

Namun lega rasanya, ketika sang guru dan narasumber tunggal itu memersilakan duduk, seraya menyuguhkan senyum.

Profesionalitas

Berstatus sebagai santri, bukan jaminan mendapatkan kemudahan berjumpa Buya Ja’far. Di kala gesang, Buya Ja’far berikhtiar keras membagi porsi waktu sebagai pengasuh pesantren, juga terhadap tanggungjawabnya sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Cirebon.

Tapi, bukan Buya Ja’far namanya, jika sedang memiliki waktu luang kemudian lebih memilih untuk berleha-leha ketimbang menyambut siapa yang datang.

“Jawabanmu, bagus. Ya sowan, ya wawancara,” kata Buya Ja’far.

Penulis tak punya pilihan selain diam. Di samping bagian dari unggah-ungguh tatakrama, sejatinya amat penasaran, pesan apa yang akan dilontarkan untuk mengomentari jawaban nyeleneh santrinya yang baru setahun-dua meninggalkan pesantren itu.

“Pertanyaanku juga bagus,” lanjutnya. Lalu, Buya Ja’far menjelaskan, jawaban “dua-duanya” memberi semacam simbol bahwa penulis sama sekali tidak menanggalkan status kesantriannya, sekalipun ia tengah menjalankan tugasnya sebagai wartawan.

Pilihan “sowan atau wawancara” dalam pertanyaan itu pun diakui Buya Ja’far sebagai bagian dari pesan keprofesionalitasan. Tidak selamanya dua perkara atau lebih boleh dicampur aduk. Tak melulu pula, pepatah “sekali dayung dua pulau terlampaui” itu benar.

“Kamu harus tahu, di posisi mana kamu sedang berdiri,” kata Buya Ja’far.

Kesadaran terhadap posisi akan memulihkan rasa tanggung jawab. Apa dan kepada siapa akan dipersembahkan atas hasil yang diperoleh dalam kadar waktu tertentu, menjadi amat penting.

“Islam hanya mengenal amanat tengah-tengah. Tidak setengah-setengah,” terang Buya Ja’far.

Menghargai tanggung jawab menjadi benteng diri di tengah segala bujuk rayu dunia. Lantas, Buya Ja’far mencontohkan maraknya perilaku koruptif di Indonesia.

“Selain tak punya iman, korupsi disebabkan nihilnya rasa tanggung jawab,” kata Buya Ja’far.

Kepercayaan

Pesan-pesan Buya Ja’far, sebagian besar masih penulis hafal. Pun kesan-kesan yang ditangkap kala masih mengaji dan mengabdi di pesantren yang terletak di ujung barat Kota Wali itu.

Meskipun sudah barang tentu, misalnya, tradisi sorogan diadopsi juga di banyak pesantren Indonesia, tapi di Kempek seolah menanamkan arti tersendiri.

Ada dua kurikulum yang memakai teknik klasik ini, yakni pengajian Alquran dan hafalan nazam Alfiyah ibn Malik. Ketika memasuki tingkat akhir, santri dituntut menyempurnakan dua kewajiban pelajaran tersebut langsung di bawah bimbingan Buya Ja’far.

Untuk Alquran, biasanya dua sampai tiga orang bergiliran menghadap dan melafalkan ayat suci itu di hadapan beliau. Uniknya, Buya Ja’far yang cuma seorang diri itu mampu menelaah mana yang benar, mana yang salah, di saat santri di hadapannya membaca berbarengan.

Buya Ja’far tak pernah menandai batasan sampai mana si A atau si B berhasil menuntaskan setoran. Anehnya, tak ada yang berani melompati kewajiban surat yang ia baca di keesokan hari. Padahal, siapa menjamin Buya Ja’far tahu, jika si anu melewati barang satu atau dua surat demi lekas tuntas dan turut khataman.

Begitu juga dalam kewajiban menghafal sebanyak 1002 nazam Alfiyah. Meski ada teknik yang sedikit berbeda.

Ketika masuk masa setoran, Buya Ja’far meminta santrinya yang sekelas terdiri dari 35 orang itu saling berhadapan dan bergantian membunyikan hafalan. Ya, paling-paling, jika kehadiran santri sekelas penuh, akan ada yang kena sial satu orang. Ambil misal, sudah terbagi menjadi 17 kelompok, risikonya, satu orang langsung berhadapan dengan Buya Ja’far.

Di pengujung masa pengajian kelas Alfiyah, penulis termasuk santri yang lalai terhadap hafalan. Ketika lebih dari separuh kawan sekelasnya sudah tuntas menyetorkan nazam kepada Buya Ja’far, ia tertinggal di barisan akhir bersama lima sampai enam orang.

Setoran pertama, gagal. Kedua, ditolak. Ketiga, gugup. Sepekan diberi toleransi waktu untuk melancarkan hafalan nyaris tak berpengaruh. Buya Ja’far, kabarnya tak lagi memberikan peluang.

Modal nekat, di malam khataman, penulis sowan ke hadapan Buya Ja’far. Baik dan lembut benar hati sang guru. Dipersilakannya masuk, dan membolehkan santrinya bersusah payah menuntaskan hafalan.

“Selamat, ya, akhirnya khatam juga. Jangan sekali-kali menyepelekan kepercayaan,” pesan Buya Ja’far.

Pengajaran Alquran dan Alfiyah, rupanya dijadikan media bagi Buya Ja’far untuk menanamkan kejujuran. Sebuah sikap mahal yang jarang dijumpai penulis, di kemudian hari.

Rendah hati

Mengapa “Buya”? Bukan Kiai, atau Ustaz Ja’far.

Tak ada salahnya juga pertanyaan itu terlontar. Sebab, hampir tak ada satu pun santri Pesantren Kempek yang menyapa kakak kandung Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj itu dengan sapaan Kiai Ja’far.

Lagi pula, di Jawa cuma ada “kiai”. Sebab, sebutan “buya” idealnya untuk sosok berdarah keturunan Minangkabau atau sekitaran Sumatra Barat. Buya Ja’far, tentu tak seperti Buya Hamka yang memang lahir di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam.

Buya Ja’far yang asli Cirebon, tidak ada juga yang menyapa “ajengan” seperti dalam tradisi Sunda. Apalagi, “teuku” yang dikhususkan bagi tokoh-tokoh Aceh, “syekh” di Tapanuli, “tuan guru” di Nusa Tenggara Barat (NTB), atau “nun” atau “bendara” di Tanah Madura.

Namun, ihwal persapaan Buya Ja’far ini, penulis pernah mendapat keterangan dari kakak yang sudah lebih dulu merampungkan pendidikan di Pesantren Kempek, Saeful Adnan.

Menurutnya, tiada lain, sebutan “buya” adalah bentuk kerendah-hatian Buya Ja’far. Beliau, tak ingin disebut kiai, guru, apalagi ustaz.

Sebagaimana lazim diceritakan dalam asal-usul kata, abuya, berasal dari kata abun (bapak), dan ya mutakallim.

Makna sederhananya, bapakku. Menurut Saeful, dengan penuh kerendah-hatian dan kasih sayang, Buya Ja’far lebih ingin menganggap santri-santrinya sebagai anak, bukan yang lain-lain.

Mengingat keterangan itu, lagi-lagi terkenang sebabak pesan dari sosok yang penuh ketegasan itu. Buya Ja’far pernah bilang, “Optimisme, penting. Tapi, kerendah-hatian tak kalah perlu demi memelihara kejujuran.”

Namun kini, Buya Ja’far sudah lama berpulang. Santri-santrinya pun melulu dilanda rindu. Maka, tak ayal, sebagian besar santri Kempek hari ini menyapa Kiai Said dengan sebutan buya.

Pas benar, apalagi, ketika Buya Said memasang dada demi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), “Nahdlatul Ulama (NU) sudah ada kesepakatan dengan KPK untuk jihad melawan korupsi,” katanya, dalam sepenggal wawancara yang marak diberitakan, pertengahan Juli lalu.

Kempek, selalu melahirkan buya. Sosok penuh inspirasi demi santri antikorupsi.
Penulis adalah Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni PP KHAS Kempek (Ikhwan KHAS). Bekerja sebagai content editor di Metro TV.

KHAS KEMPEK MEMANGGIL ANDA

Kepada Teman-teman, kami memanggil anda menjadi bagian dari Yayasan KHAS Kempek Cirebon untuk menjadi Dosen dan Karyawan STIKES KHAS Kempek,

Hubungi Admin Web, FB @Khaskempek, SMS/WA pak Arif An Najah No HP (0877 1039 3339) Pak Upid Abdul Mufid (0822 4083 3999) atau Pak Nurkholik Tawan(0856 2494 8007) 

Terima kasih. Sebarkan info ini seluas-luasnya kepada teman dan kerabat.Terima Kasih

Pengumuman Kelas XII MA KHAS Kempek

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Diberitahukan kepada siswa-siswi kelas XII MA KHAS Kempek Palimanan Kab. Cirebon Tahun Pelajaran 2014/2015 bahwa:

  1. Pengumuman Kelulusan Siswa (Siswa Dinyatakan Lulus) Berdasarkan Rapat Seluruh Dewan Guru MA KHAS Kempek yang akan dilaksanakan setelah pengumuman hasil Ujian Nasional (UN);
    2. Lulus Ujian Nasional (UN) tidak menjamin siswa Lulus Sekolah karena Kelulusan Siswa ditetapakn berdasarkan Rapat Seluruh Dewan Guru MA KHAS Kempek (seperti pada diktum 1)
    3. Pengumuman Kelulusan Siswa Bertepatan dengan Perpisahan Kelas XII MA KHAS Kempek hari Senin, 25 Mei 2015 dari pukul 09.00 s.d. 15.00 WIB.
    4. Bagi yang membaca dan mengetahui pengumuman ini mohon disebar luaskan kepada yang berkepentingan.

Demikian, mohon perhatian dan mohon maklum.
Wassalam.

Palimanan, 13 Mei 2015
Kepala Madrasah,

ttd.

XII IPS 1AHMAD ZAENI DAHLAN, Lc., M.Phil.

Syaikh Fadhil Jilani, Ziarohi Kang Ahsin

Belum kering air maSyaikh Fadil bersama Kg Mu Syaikh Fadil berziaroh di Makbaroh KH.Ahsin Syifa Aqiel SIrojta ini karena ditinggal Guru tercinta KH.Ahsin Syifa Aqiel Siroj (Wafat, 12 April 2015), kini kita harus menangis terharu karena Keturunan Syaikh Abdul Qodir Al Jilani yakni Sayyid.Prof.Dr.M.Fadhil Al Jilani al Hasani dari Istanbul Turki menyempatkan diri berziaroh di makbaroh KH.Ahsin Syifa Aqiel Siroj Kempek Cirebon pagi ini (08/05/15) dalam sambutannya beliau mengatakan “Saya datang jauh-jauh dari Istanbul Turki ke Indonesia hanya untuk bertakziah dan berziarah ke makam Waliyullah Ahsin” sungguh penghormatan luar biasa; Ulama Internasional keturunan Sayyidul Aulia, menyebut Kang Ahsin sebagai Wali, padahal semasa hidupnya beliau jarang bergaul dengan banyak orang, mobilitasnya hanya Mengaji, Berjama’ah dan Ziaroh. namun hari ini kita menyaksikan bahwa, beliau (KH.Ahsin Syifa Aqiel Siroj) adalah Waliyullah seperti yang dikatakan oleh beliau Syaikh Fadil al Jilani…
Dengan berita ini, semoga kita semua menjadi lebih bangga menjadi santrinya, bisa meneladani dan melaksanakan semua amanatnya serta meneruskan perjuangan dakwah beliau,,,Amiiin,,
(Berikut Foto Syaikh Fadil Al Jilani sedang berziaroh didepan makbaroh KH.Ahsin Syifa Aqil bersama KH.M.Musthofa Aqiel Siroj dan para santri)

KUNJUNGAN MAHASISWA UIN BANDUNG

Ratusan MaIMG_0201hasiswa UIN Bandung berduyun-duyun mendatangi ponpes KHAS Kempek, Cirebon (25/4). Tujuan Mereka adalah untuk studi banding sekaligus bersilaturahmi.

Dalam kunjungannya tersebut disambut hangat oleh pengasuh Ponpes KHAS Kempek, K.H. Muhammad Mushtofa aqiel siradj. Bahkan pengasuh merasa senang dengan kunjungan tersebut, karena beliau bisa berbagiilmu kepapa para mahasiswa mengenai apa dan bagaimana pesantren.

“Pesantren tidak hanya mendidik para santrinya untuk pintar, tapi juga untuk berahlaq”, tutur K.H. Muhammad Mushtofa aqil.

Dalam studi banding tersebut diisi dengan muhadarah amah, ceramah umum yang disampaikan langsung oleh pengasuh Ponpes KHAS Kempek. Mereka -Mahasiswa- terlihat begitu khusyu saat mendengarkan ceramah beliau, bahkan sesekali mereka bertepuk tangan karena kekaguman terhadap sebuah pesantren yang dipaparkan oleh Pengasuh.

“Mahasiswa dan mahasiswi kalau bayar ongkos naik mobil hanya separuh, tapi kalau santri bayar penuh. Ini namanya diskriminasi, padahal sama, santri juga bayar pajak. lantas pernahkah anda mendengar ada santri demo?” lanjut adik Prof Dr K.H. Said aqiel siradj itu.

Para mahasiswa semakin terkagum-kagum akan pribadi seorang santri, bagaimana seorang santri begitu taatnya kepada kyainya, dan hal itulah yang membuat santri tidak bertindak anarkis.

“Santri itu nurut apa kata Kyainya, kata kyainya NKRI itu yang membuat hidup kita para santri dan kyai tentram, sehingga santri tidak bertindak anarkis” lanjut K.H. Muhammad Mushtofa aqiel.

 

Oleh; M. Abror.

PESANTREN KHAS BERDUKA ATAS WAFATNYA KH. AHSIN SYIFA AQIEL SIROJ

“Kullu nafsin dzaiqotul maut tsumma ilaina turja’un”. Pesantren KHAS Kempek Cirebon DSC_0043kembali berduka, karena salah satu pengasuhnya kembali dipanggil Sang Khaliq. Beliau adalah KH. AHSIN SYIFA AQIEL SIROJ ( putra ke-4 dari KH. AQIEL SIROJ) yang tak lain adik kandung Kang Said (Ketum PBNU) di kediamannya, Pesantren KHAS Kempek, desa Kempek kecamatan Gempol kabupaten Cirebon. 12/4/15. Jam 4 pagi.

Pada mulanya ketika hari jum’at (10/4) pagi, Kiai Ahsin mengontrol sawahnya yang sedang dipanen oleh para santri di komplek al-Jadied. Sepulangnya dari sawah, kondisi kesehatan Kiai Ahsin turun dan pihak keluarga menyarankan agar tidak usah melaksanakan shalat jum’at di masjid, namun Kiai menolak dan bersikukuh untuk tetap melaksanakan shalat jum’at. “ke sawah berangkat, masa jum’atan tidak berangkat. Saya malu dengan Allah” dan wafatnya pun dengan niat hendak melakukan jamaah shalat shubuh dengan para santri” jelas  KH. MUSTHOFA AQIEL dalam isyhad jenazah sambil meneteskan air mata mengenang ucapan Kiai Ahsin.

KH.SAID AQIEL SIROJ juga sedikit bercerita bahwa dari kelima anak Kiai Aqiel yang tidak mondok ke mana-mana hanya Kiai Ahsin. Ilmu beliau murni dari ayahanda Kiai Aqiel. “tapi tidak jarang justru saya kakak-kakaknya yang selalu bertanya padanya. Beliau sangat teliti dan cerdas”. Jelas Kang Said di depan ribuan pentakziah, alumni dan santri.

Kang Said juga memberikan penyaksian tentang pribadi Kiai Ahsin yang menurutnya tidak punya dosa. Betapa tidak, dalam benak Kiai Ahsin tidak pernah terbesit untuk kaya, dan selalu merasa cukup dan selalu bersyukur atas semua yang telah Allah berikan padanya.

Keseharian Kiai Ahsin hanya mengajar dan berjamaah dengan para santri dan jarang bepergian keluar rumah, “kalau pun ada (dosa), itu paling (dosa) yang tidak disengaja dan yang saya kagumi darinya adalah keistiqomahannya dalam beribadah dan mengajar para santri” ujarnya.

:: KH.Ahsin Syifa Aqiel Siroj wafat dalam usia 55 tahun, meninggalkan seorang istri bernama Nyai Hj. Iin Muhsinah dan dua orang putri bernama Aniqoh Dina dan Dzikro.

Sungguh kita sangat kehilangan figur guru seperti Kiai Ahsin yang selalu istiqomah dan tak kenal lelah mengajarkan para santri tentang arti kesederhanaan dan keikhlasan.

 

Oleh: Siroj Achmad

Lomba Kitab Kuning, PP.KHAS Juara Umum

Pondok Pesantren Kia Haji Aqil Siraj (KHAS) Kempek berhasil meraih juara umum dibabak penyisihan Musabaqoh Kitab Kuning (MKK) sewilayah tiga Cirebon yang diselenggarakan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dalam rangka melestarikan budaya NU, pada hari Minggu (16/04/17) di aula Radar Cirebon.

Muhammad Idrus selaku pengurus ponpest KHAS Kempek menyambut baik capaian santri KHAS yang berhasil menjadi juara di tigacabang lomba berbeda.Ia menilai semua itu berkat usaha dan doa kiai Kempek. “Masing-masing meraih juara di lomba baca kitab Fathul Qorib, Alfiah, dan Ihya Ulumuddin,”jelasnya saat dikonfirmasi via Whats App.

Sebelumnya, kata Idrus, pengurus menyeleksi perwakilan dari tiap kelas. Santri yang siap mewakili MKK PKB ini yang kami delegasikan. “Penyeleksian ini merupakan bagian dari ijtihad untuk mengharumkan nama ponpest KHAS Kempek,” tutur pria asal Tegal ini.

Lebih lanjut, Idrus menjelaskan bahwa santri yang juara akan mewakili Kabupaten Cirebon di tingkat provinsi. Ia berharap santri KHAS Kempek mampu meraih juara lagi. “Saya meminta doa semua pihak agar santri Kempek bisa lolos ketingkat nasional,” harapnya.

Dalam MKK tersebut, delegasi ponpest KHAS Kempek berhasil meraih juara satu (Jamalulel) dan juara tiga (Alwi Jamalulel) Fathul Qorib, Juara satu (Ibnu Aqil) dan juara dua (Muhammad Idrus) Ihya Ulumuddin, serta juara satu (Panjat) dan juara dua (Muhammad Ghozi) Alfiah.

Kontributor : King Pantura (Sh)

HAUL KE-2 BUYA JA’FAR, PARA SANTRI ZIARAHI MAQBARAH

ZIAROH

INFORMASI PENDAFTARAN SANTRI BARU 2016-2017

Jum’at, 10/03/16 bertepatan dengan tanggal 1 Jumadil Akhir 1437 H adalah hari dimana Buya Ja’far S.Aqiel Siroj wafat, untuk mengenang perjuangan dan mendoakan Almarhum semua santri diajak Ziaroh bersama di Maqbaroh beliau dalam rangka Haul ke 2 Almarhum.

Sekitar Pukul 08.00 Wib KH.Muhammad BJ, Putra Pertama Almarhum memimpin Tahlil dengan membaca kalimat thoyyibah dibantu oleh adik beliau Ustadz H.Ahmad Nahdli BJ yang memandu santri membaca Al Quran sampai Lima kali Khataman,

Tahlil dan membaca Al Quran 30 Juz merupakan kegiatan yang tidak asing bagi santri kempek,  karena santri sudah terbiasa dengan didikan mendoakan segenap Guru, Orang tua dan sesama muslim yang telah mendahuli bertemu sang ilahi, disetiap pagi Jum’at semua santri diajak berziarah (berkunjung ke Maqbarah) hal ini dimaksudkan agar ziarah tertanam dalam diri santri, meskipun mendoakan tidak mesti berkunjung ke kuburan namun mendoakan Almarhum dengan berkunjung langsung ke Maqbarah adalah didikan Sesepuh Pendiri Pesantren Kempek.

Masih dari rangkaian acara Haul ke-2 Almarhum Buya Ja’far S.Aqiel Siroj, Bertempat di Kediaman Almarhum, Malamnya (Ba’da Sholat Isya) digelar acara Tahlil bersama Warga Desa Kempek, tidak kurang 300 orang menghadiri dan turut berdoa bersama untuk Almarhum, diawali sambutan dari Keluarga diwakili KH.Niamillah Aqiel Siroj, acara inipun berakhir pukul 21.00 WIB.

Buya H.Ja’far S.Aqiel Siroj merupakan putra  pertama dari KH.Aqiel Siroj (Muassis Pondok Pesantren KHAS Kempek, yang sebelumnya bernama Majlis Tarbiyatul Mubtadi-ien (MTM), Beliau Wafat pada tanggal 01 April 2014, di RSPAD (Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat) Gatot Subroto Jakarta dan dikebumikan beriringan dengan Ayahanda, Ibunda dan adik beliau KH.Ahsin Syifa Aqiel Siroj di Komplek Pesarean Keluarga Pesantren Kempek.

Semoga segala kebaikan tercurahkan kepada kita semua, bil Khusus Guru kita, pembimbing ruh Buya.H.Jafar S.Aqiel Siroj.

Kepada segenap Alumni, Muhibbin dan Alumni yang tidak sempat hadir, mari kita selalu mendoakan beliau dengan menghadiahi surat Al fatihah, setiap selesai Sholat Maktubah, sesuai dengan ajaran Almarhum.

Oleh: Muhamad Abror

1 2 3 13